Bangunan Bersejarah di Pandeglang


Humas – Pandeglang (10/03)

“Bangunan Bersejarah di Pandeglang”

Eks Pendopo sekarang Bale Budaya

Bagi yang belum mengenal tentang bangunan-bangunan bersejarah di Pandeglang berikut ini kami tampilkan beberapa profil tempat bersejarah di Pandeglang :

1. GEDUNG LEMBAGA PEMASYARAKATAN PANDEGLANG

LEMBAGA PEMASYARAKATAN PANDEGLANG

Sebelum tahun 1917 di Indonesia belum mengenal adanya pidana kurungan. Sistem ini diambil oleh pemerintah kolonial Belanda dari negara induknya, yakni Belanda. Hal ini sebenarnya merupakan cara pandang kaum liberalis sebagai perwujudan Revolusi Perancis yang sebelumnya memberlakukan hukuman pidana mati, potong tangan, dipukul, ditusuk dengan besi panas dan pidana buangan.

Terletak di Jalan Letnan Bolang, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang, dengan jarak tempuh dari Ibu Kota Provinsi Banten berkisar 23 km.

2. GEDUNG EKS SIPIR BELANDA DI MENES

Eks Gedung Sipir Belanda

Di antara bangunan bangunan kuno di sekitar Alun-Alun Menes, bekas gedung Sipir Belanda ini tampak unik dibandingkan bangunan yang sezaman. Bangunan ini termasuk bagian dari bangunan-bangunan kolonial yang masih tersisa yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1848. Sisa-sisa dari keseluruhan bangunan masih dapat dilihat di bagian belakang yang masih luas ke belakang.
Kepurbakalaan ini berbentuk bujur sangkar dengan luas 20 m x 12 m. Pada bagian muka terdapat dua jendela dan satu buah pintu masuk. Kedua jendela mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, yakni berbentuk persegi panjang dengan bentuk lubang angin seperti setengah lingkaran, yang terletak tepat di atas jendela dan di atas pintu masuk. Jendela diberi jeruji vertikal dan lubang angin berbentuk huruf “V” dan berbentuk setengah lingkaran.

 Terdapat dua tiang semu (pilaster) pada sudut bangunan dan dua pilaster yang mengapit bagian pintu. Pilaster ini memiliki hiasan berupa pelipit-pelipit. Pilaster bentuknya mirip pilar sebenarnya, hanya keletakannya yang menyatu dan menjadi bagian dari dinding. Atap bangunan ditutup genting. Terdapat semacam canopy yang menaungi pintu. Bangunan ini berada di Jalan Alun-Alun Barat Menes, Kelurahan Purwaraja, Kecamatan Menes dengan jarak tempuh sekitar 51 km dari Ibu Kota Provinsi, atau kurang lebih 28 km apabila ditempuh dari Kota Pandeglang.

4. Eks Gedung Kewedanaan Labuan

Gedung Kewedanaan Labuan

Bangunan Gedung Kewedanaan Labuan terletak di Jalan Pegadean, Kelurahan Labuan, Kecamatan Labuan. Berbentuk bujur sangkar, yang merupakan salah satu ciri arsitektur masa kolonial, sehingga bila terlihat tampak muka, simetris yang kokoh. Denah simetris ini memberikan kemudahan untuk melakukan penambahan pada samping bangunan. Bentuk bangunan ini berbentuk sederhana bergaya joglo dan memiliki sudut lancip di tengahnya. Penutup atap terbuat dari genteng. Pada bagian badan terdapat jendela dan pintu berukuran besar. Pada setiap dua jendela kaca terdapat daun jendela yang terbuat dari susunan kayu horisontal (jalosie window) sebanyak 4 buah pada masing-masing sisi bangunan. Tiga perempat daun pintu berbentuk jalosie window, sementara seperempat bagian bawah dihias motif panel persegi empat.

Bangunan ini berdiri di atas lahan ± 1000 m2. Luas bangunan 20 m x 22 m.  Fungsinya sekarang adalah sebagai gedung serbaguna. Jarak tempuh untuk mencapai ke lokasi sekitar 64 km dari pusat Ibu Kota Provinsi dan hanya ditempuh 41 km dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang.

5. Gedung Pendopo Kecamatan Menes

Gedung Pendopo Kecamatan Menes

Bangunan ini berfungsi sebagai gedung dinas Camat kecamatan Menes. Mempunyai kesamaan bentuk dan arsitektur yang terdapat pada gedung Pendopo Kecamatan Pandeglang, gedung pendopo Kawedanaan Menes dan gedung Pendopo Kecamatan Saketi. Luas kawasan Kecamatan Menes ini ± 500 m2. Terletak di Jalan Alun-alun Timur, Kelurahan Purwaraja, Kecamatan Menes.

Di depan bangunan utama terdapat sebuah bangunan berbentuk joglo bertiang dua belas buah tiang kecil. Bangunan ini tidak berdinding penuh, dinding terdapat pada tiap sudut bangunan yang masing-masing menempel pada tiga tiang. Sementara bangunan utama mempunyai empat persegi dan pada puncaknya terdapat limas. Bangunan ini mempunyai dinding pada setiap sisinya. Sebagian dinding bagian bawahnya diberi lapisan batu andesit. Sampai  saat ini tanggal pendirian bangunan belum diketahui, karena belum ada sumber-sumber yang memadai. Tetapi diperkirakan sekitar tahun 1848, sezaman dengan bangunan pemerintahan kolonial yang ada di wilayah Menes.

Jarak tempuh untuk mencapai ke lokasi ini sekitar 64 km dari pusat Ibu Kota provinsi atau 28 km dari Ibu Kota kabupaten.

6. Gedung Pendopo Kecamatan Menes

Gedung Pendopo Kewedanaan Menes


Bangunan yang terletak di JalanAlun-alun Timur Menes, Kelurahan Purwaraja, Kecamatan menes Pandeglang ini sekarang berfungsi sebagai gedung serba guna. Peruntukkan awal bangunan ini adalah untuk persiapan gedung dinas Bupati Caringin. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan tua yang masih tersisa dari beberapa bangunan kolonial yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1848.

Arsitektur bangunan bekas Kewedanaan Menes ini merupakan gabungan antara arsitektur lokal berupa bangunan pendopo dan arsitektur kolonial yang diwakili oleh tembok-tembok berukuran tebal dan tinggi. Bangunan ini memiliki ukuran luas 20 m x 22 m. Arsitektur lokal terlihat pada bentuk atapnya yang memanjang, yang biasa disebut dengan istilah limasan. Bentuk atap seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan berarsitektur jawa. Terdapat dua bangunan tambahan pada bagian depan, yakni bangunan serambi, dan yang kedua menyerupai bantuk seperti koridor dan menyatu dengan bangunan utama. bangunan ini didirikan pada pondasi yang kokoh dan masif, terdapat tiga terap tangga untuk naik ke bangunan ini. Sisi-sisi atap diberi lisplang yang berfungsi sebagai penutup tiris berbentuk mata tombak. Beberapa tiang ukuran kecil menopang atap bangunan.

Untuk menuju ke lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum, dengan jarak dari Ibu Kota Provinsi Banten sekitar 51 km atau hanya sekitar 28 km dari Ibu Kota Kabupaten pandeglang.

7. Gedung Kodim 0601 Pandeglang

Gedung Kodim

Adapun ciri-ciri arsitektural kolonial yang dapat ditemui pada bangunan ini yang sudah menjadi ciri umum bangunan masa kolonial antara lain: model atap yang rendah, dengan satu buah pintu masuk depan dan komposisi vertikal.

Bangunan ini mempunyai denah bujur sangkar dengan 4 terap anak tangga dan pondasi yang masif. Atap bangunan ini berbentuk atap limasan, namun iirisan gambar atapnya memiliki sudut lancip pada bagian atas dan luas atap hanya sedikit luas jika dibandingkan dengan luas dinding. Terdapat semacam atap tambahan yang menaungi bagian teras dan beberapa jendela, diduga bagian ini berfungsi sebagai pelindung dari tempias hujan. Pada bagian depan bangunan terdapat 4 buah pilar yan bergaya tuscan. di keempat sudut bangunan luar terdapat 4 pilar penopang. Secara umum dapat dikatakan bahwa bangunan ini bergaya arsitektur neo-klasik.

8. Eks Gedung Pendopo Kecamatan Saketi

Eks Gedung Pendopo Kecamatan Saketi

Bentuk atap bangunan ini menyerupai bentuk atap gedung bekas pendopo Kecamatan Pandeglang, yaitu atap limasan. Bangunan ini dulu berfungsi sebagai kantor Kecamatan yang kini menghuni gedung baru. Gedung ini beralamat di Jalan Raya Labuan, Kelurahan Purwasari, Kecamatan Saketi. Jarak tempuh dari Ibu Kota Provinsi sekitar 42 km, sementara jarak tempuh dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang ± 19 km. Keadaan bangunan ini sudah tidak terawat dan sebagian sudah mulai mengalami kerusakan. Luas bangunan sekitar 12 m x 18 m persegi.

Sebagai bangunan yang memiliki gaya yang khas pada masanya, bangunan ini menjadi penting artinya bagi ilmu pengetahuan. Tampaknya bentuk atap limasan pernah menjadi model arsitektur atap rumah pada sekitar tahun 1847-an, hal ini mungkin disesuaikan dengan keadaan iklim di Indonesia.

9. Eks Rumah Dinas Komisaris Polisi

Eks Rumah Dinas Komisaris Polisi

Rumah ini terletak di jalan Alun-alun Barat Menes, Kelurahan Purwareja, Kecamatan Menes. Semula berfungsi sebagai rumahDinas Komisaris Polisi pada masa pemerintahan kolonial. Diperkirakan bangunan ini didirikan pada tahun 1848-an. Bangunan ini merupakan living monument dengan kondisi pemeliharaan cukup baik, sejak dibangun hingga sekarang belum mengalami perubahan maupun pemugaran yang sifatnya mendasar.

Luas tanah yang ditempati oleh bangunan ini seluas ± 400 m2. Sementara luas bangunan 14 m x 12 m. Sekarang bangunan ini masih dipergunakan untuk rumah tinggal Kepala POLSEK Kecamatan Menes.  Bentuk denah bangunan ini bujur sangkar, dengan bentuk atap limasan. Pada bagian belakang terdapat beberapa bangunan tambahan yang tampaknya merupakan bangunan pelengkap. Jarak tempuh dari pusat Ibu Kota Provinsi sekitar 51 km atau 28 km dari Ibu Kota kabupaten Pandeglang.

10. Eks Gedung Pendopo Kecamatan Pandeglang

Gedung Pendopo Kecamatan Pandeglang

Bangunan yang langka dan unik ini merupakan bangunan pendopo Kecamatan Pandeglang. Terletak di Jalan Letnan Bolang, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang.

Bangunan ini tampak menonjol dibandingkan dengan bangunan lain yang ada disekitarnya. Keunikan yang menonjol tampak dari bentuk atap bangunan yang berbentuk limasan dan mempunyai ukuran cukup besar. Bentuk atap seperti ini dipengaruhi oleh arsitektur venakular Jawa. Di bagian depan terdapat bangunan tambahan yang disangga oleh dua tiang polos. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 500 meter persegi dengan luas bangunan ± 12 m x 18 m ini dibangun sekitar tahun 1848 dengan peruntukkan awal sebagai gedung dinas camat, sekarang dimanfaatkan sebagai kantor Dinas PU Pandeglang Bidang Kebersihan.

Keadaan bangunan relatif cukup baik dan terpelihara karena masih terus dipergunakan. Dari pusat Ibu Kota Provinsi Banten untuk ke lokasi ini harus menempuh jarak sekitar 23 km, sedangkan jarak tempuh dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang 0,5 km.

11. Eks Gedung Pendopo Kewedanaan Pandeglang

Eks Gdg Pendopo Kewedanaan Pdg Sekarang Bale Budaya

Semula gedung ini digunakan sebagai gedung dinas wedana. Berdiri di atas lahan seluas ± 1500 m2 dengan luas bangunan ± 20 m x 10 m.  Ditopang oleh pondasimasif setinggi 40 cm yang terbuat dari batu bata. Atap bangunan berbentuk limasan, terdapat bagian mirip entablatur di bagian atas. Pada bagian muka terdapat selasar yang diberi atap tambahan. Daun jendela dandaun pintu gedung ini berukuran besar dengan engsel dorong. Bangunan ini diperkirakan berdiri sekitar tahun 1848. Kini gedung yang telah direhabilitasi pada tahun 2004 berada dalam lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pandeglang beralih pusat sebagai Bale Budaya.

Letak gedung ini di jalan KH. Abdul Halim, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang tepat di pusat Kota Pandeglang, yang berjarak sekitar 23 km dari Pusat Ibu Kota Provinsi Banten.

11. Masjid Carita

Masjid Carita

Ruang utama masjid ini dibatasi dinding pada keempat sisinya. Pintu terdapat pada sisi timur, utara dan selatan yang menghubungkan ruang utama dengan ruang serambi di sisi timur. Pada dinding sisi barat terdapat mihrab yang di sisi kanannya terdapat mimbar. Masjid Carita memiliki bentuk atap bertingkat atau tumpang yang berjumlah empat tingkatan. Atap tingkat keekmpat memiliki pagar langkan pada keempat sisinya. Puncak atap Masjid Carita ditutupi oleh sebuah mustoko. Seluruh kerangka atap ditutup oleh genting dan pada bagian lisplangnya terdapat deretan hiasan motif tumpal. Masjid Carita memiliki serambi pada keempat sisinya, yaitu serambi timur, utara dan selatan (serambi terbuka), sisi barat dan utara (serambi terbuka).

12. Masjid Salafiah Caringin

Click untuk memperbesar

Click untuk memperbesar

Didirikan sekitar tahun 1884 oleh penduduk Caringin secara bergotong royong yang dipimpin oleh Ulama Syekh Asnawi. Tidak jauh dari Masjid Caringin terdapat makam KH. Muhammad Asnawi (Syekh Asnawi bin Abdul Rohman) yang wafat pada tahun 1356 H (1937 M) yang terletak di tepi pantai, Desa Caringin , Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.

Dari Ibukota Privinsi Banten berjarak sekitar 66 km atau 43 km dari kota Pandeglang.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

15 Balasan ke Bangunan Bersejarah di Pandeglang

  1. ruli berkata:

    JAS MERAH (jangan Melupakan Sejarah), akhirnya ketemu juga sama orang yang peduli Sejarah Pandeglang! cayo, ditungggu informasi selanjutnya!

  2. djoko sd berkata:

    Terima kasih… Langkah awal yang bagus sekali, kita tunggu tulisan Pandeglang Tempo Doloe lainnya…

  3. cyara berkata:

    saya sebagai masyarakat kota pandeglang, sangatbangga skali, ataz bangunan” yg da d kota pandeglang,
    sya berharap ch, teruz di tingkat kan lagi cpya kota pandeglang, lbh maju lgi kedepannya nanti..

  4. Bungaran Timothy berkata:

    Gw heran deh sama INDONESIA, dimana2 banyak gedung2 / rumah2 LANDHUIS bekas Belanda yg rata2 udh ngak diurus bahkan sudah dirubuhkan.
    Bayangkan kalo dari Sabang sampai Merauke? Berapa banyak bangunan sejarah yg sebnarnya ada di Indonesia? Belum lagi Peninggalan dari umat Hindu dan Chinese dan Jepang.
    INDONESIA sudah terlalu banyak yang KORUPSI sih sehingga tidak mampu membiayai untuk merenovasi bangunan 2 bersejarah…..
    Apakah sebenarnya Pemerintah PEDULI terhadap bangunan cagar budaya?
    Atau sudah lupa karena MODERNISASI?
    Seharusnya INDONESIA harus melirik ke Luar Negeri, bukan maksud saya untuk membanggakan Luar Negeri, tp coba lihat, mereka mau merawat bangunan cagar budaya bahkan digunakan untuk tempat tinggal atau sebagai Museum. Toh itu juga kan bisa berguna untuk INCOME bagi negara mereka. SEHARUSNYA Indonesia seperti itu.
    Memang diakui bangunan2 peninggalan Belanda yg sudah lama tidak ditempati terkesan Menyeramkan, tetapi kan dibalik itu semua, orang2 bisa melihat, ternyata seperti ini ya Arsitektur Bangunan pada jaman Kolonial. Lebih Kuat dibandingkan kualitas Bangunan jaman sekarang.

  5. agus hidayat berkata:

    pandeglang indahhhhhhhhhhhh…………….saya bangga tinggal di pandeglang…!!!

  6. maman berkata:

    saya harap semua lapisan masyarakat di pandeglang ikut melestraikan dan merawat bangunan bersejarah yang mulai lapuk oleh zaman agar anak cucu kita khususnya orang pandeglang. bangga jadi orang Pandeglang. tulisannya dilengkapi lagi terutama mengenai masa pemerintahan banten barat yang beribukota di caringin

  7. Pedje berkata:

    Terima kasih atas informasinya yang menarik. Mudah-mudahan tetap semangat untuk berbagi info mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat dan sejarah Pandeglang.

  8. rohaendi berkata:

    salut… harus banyak yang peduli terhadap peninggalan seperti ini, walau kadang. pemerintah sendiri seperti tdk acuh. Hayu ah kita jaga dan manfaatkan gedung-gedung ini dengan baik.

  9. heri berkata:

    Pandeglang tempat saya lahir,skarang saya tinggal di luar negri,bersama anak dan istri untuk masa yang lama,tapi suatu saat nanti Insyaallah saya akan kembali ke Pandeglang,dan smogha banggunan-bangunan bersejarah itu tetap utuh dan mendapat perhatian dari pemerintah setempat.kami merindukanmu Pandeglang

  10. agus yunus mencari kawan berkata:

    Apakah kalian tahu tahun berapakah alun-alun pandeglang di dirikan? ^_^

    kirim lewat fb ku pliss buat tugas sekolah
    anpasuler@gmail.com

    I wait for the answer

  11. sudirman berkata:

    harus dirawat bangunan nya ,buat bukti anak cucu kita dijajah belanda,sayang bupatinya tidak ngerti sejarah ya ,mulai dari dimiyati sama erwan sama aja,,,,,,,,,,,kasihan deh pandeglang ku ,

  12. rizcky muhammad kurniawan berkata:

    pengen liat alun-alun tempo dulu?

  13. qe wonk abina azriel berkata:

    alhamdullilah aakhirnya saya tahu peninggalan sejarah pandeglang lebih mendetaillll…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s