Berkunjung ketempat pembuatan Bedug


Berkunjung ketempat pembuatan Bedug di Parung Sentul Pandeglang.

Kata “bedug” sudah tidak asing lagi bagi telinga bangsa Indonesia. Bedug  terdapat di hampir setiap masjid, sebagai alat atau media informasi datangnya  waktu shalat wajib 5 waktu. Demikian juga dengan seni bedug semacam ngabedug atau ngadulag sudah akrab di telinga  bangsa kita, khususnya lagi  bagi telinga kaum muslimin. Rampak bedug hanya terdapat di daerah Banten sebagai ciri khas seni-budaya Banten. Kata “Rampak” mengandung arti “Serempak”. Jadi “Rampak Bedug” adalah seni bedug dengan menggunakan waditra berupa “banyak” bedug dan ditabuh secara “serempak” sehingga menghasilkan irama khas yang enak didengar.

Kali ini saya ditemani oleh teman-teman media mencoba mengunjungi tempat pembuatan Bedug yang terletak di Kampung Parung Sentul Kelurahan Karaton Kecamatan/Kabupaten Pandeglang.

Bapak Diding Suj’ai demikian nama pembuat bedug di daerah ini, saat kita berkunjung kesanggarnya, menurut keterangan mantunya (Tata Wijaya), kondisi Pak Diding sedang sakit. Akhirnya kami memutuskan untuk membuka obrolan ini dengannya, disanggar tempat Pak Diding membuat Bedug. Kami diantar oleh Tata menuju sanggar yang tepat berada dibelakang rumahnya. Sanggar yang dibangun dengan dinding bambu ini, sehari-harinya adalah tempat pembuatan Bedug ujar Tata diawal pembicaraan kami. “Bapak sudah merintis usaha ini sejak tahun 1980, dari usahanya ini bapak telah bisa menjual produknya ke beberapa sanggar yang ada di Kabupaten Pandeglang. Meski produk yang dihasilkan bapak ini tidak tiap hari berproduksi, tetapi beliau selalu berusaha mempertahankan usaha ini apapun situasianya. Kecintaan bapak terhadap kesenian ini sungguh sangat luar biasa” lanjut Tata.

Selang beberapa menit  berbincang dengan Tata akhirnya, Pak Diding Suja’i menghampiri kami, kedatangannya membuat kami tertegun, ditengah-tengah kondisinya yang sedang sakit, ia menguatkan dirinya untuk menemui kami, inilah bukti bahwa ia sangat mencintai kesenian ini. Setelah kami memberikan ia kesempatan untuk rehat kami melanjutkan perbincangan ini.

“Awalnya saya adalah seorang pemain dogdog atau reog, karena itu saya dipercaya oleh masyarakat disini untuk memelihara perangkat bedug yang dimiliki oleh masyarakat. Kerusakan-kerusakan yang terdapat pada bedug-bedug ini awalnya saya perbaiki, dari sinilah kemudian saya mencintai kesenian ini. Mula-mula saya mencoba membuat beberapa buah bedug untuk dipakai sendiri dan akhirnya saya putuskan untuk membentuk sebuah sanggar tersendiri” ujar Diding.

Bedug yang saya buat, awalnya adalah bedug-bedug untuk keperluan pementasan kesenian Rampak Bedug dilingkungannya. Tapi tidak jarang saya juga membuat bedug untuk kebutuhan mesjid atau mushola lanjutnya. Bedug-bedug yang dibuat  rata-rata panjangnya sekitar 1,5 sampai dengan 2 meter, kulitnya dibuat dari kulit sapi atau kerbau. Dulu pada awal-awal pembuatannya, saya sering membuatnya dari bahan kayu-kayu besar seperti Mahoni, Karoya dan Rambutan ujarnya. Tapi seiring dengan sulitnya mencari bahan kayu, akhirnya saya membuatnya dari Batang Pohon Kelapa. Satu batang pohon kelapa ini, ia peroleh dengan membelinya seharga 200 ribu perbatang. Kulitnya ia peroleh dengan cara memesan dari Cipeucang atau Batubantar, kulit yang ia peroleh biasanya dibeli dengan kiloan. Untuk satu kilo kulit ia peroleh dengan harga 40 ribu.

“Sebuah bedug biasanya saya selesaikan dalam waktu 2 sampai dengan 3 hari, saat kondisi badan saya  masih kuat. Tapi sekarang, seiring dengan bertambahnya usia, saya hanya bisa mengandalkan orang-orang yang saya percaya untuk menyelesaikan pekerjaan. Saya terkadang dibantu oleh anak buah yang saat ini berjumlah 3 orang“ ujar Diding.

Bedug yang ia hasilkan biasanya ia jual dalam satu set, tapi terkadang ia juga menerima pembelian untuk satuan. Satu set bedug dengan jumlah 6 buah ini ia jual dengan harga 10 juta dan untuk satuan terkadang ia jual dengan harga antara 750 ribu sampai dengan 2 juta tergantung diameter yang dipesan oleh pembeli. Satu set bedug ini biasanya disebut dengan Bedug Gubrag, karena menurut Diding dalam perangkat bedug ini tidak ada intonasi khusus yang membedakan satu bedug dengan yang lainnya, terkecuali bedug-bedug pangiring yang lebih kecil yang disebut Tingtit. Perangkat Tingtit biasanya terdiri dari 5 instrumen yaitu Tilingtit, Anting, Ketuk dan Dologdog.

Jika tidak ada pesanan, biasanya sanggar ini saya pakai untuk sarana latihan bagi anak-anak SD dilingkungannya. Dalam satu minggu biasanya mereka latihan 2 kali, hari Rabu atau Minggu, sedang yang melatihnya ia percayakan kepada anaknya yang bernama Taufik Hidayat. Sanggar yang ia bimbing ini ia beri nama Putera Medal, banyak even-even yang telah diikuti oleh sanggar ini.

“Kejayaan Kesenian ini adalah saat Kabupaten Pandeglang dipimpin oleh Bupati Suyaman. Tak jarang ia mengundang sanggar-sanggar tradisional Bedug untuk mentas pada kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. Kecintaan beliau terhadap kesenian ini terkadang membuat kami termotivasi dan lebih semangat pak. Saat kami akan pentas, ia selalu memberikan perhatian lebih untuk sanggar-sanggar ini” ujarnya.

“Tapi kini setelah beberapa Bupati berganti, sanggar-sanggar kami mulai tidak diperhatikan, Hidup segan Mati pun tidak, itulah kehidupan sanggar-sanggar bedug saat ini. Dan keprihatinan kamipun semakin dalam seiring dengan semakin banyaknya sanggar-sanggar bedug yang menampilkan kreasi-kreasi baru yang terkadang sering meninggalkan ciri khas kesenian rampak bedug itu sendiri, contohnya adalah dari mulai pakaian atau kostum, cara memukul bedug, lagu atau irama dan terkadang sampai dengan penampilannya. Dulu yang membuat kami khas itu adalah dari pemukul yang digunakan, pada awalnya rampak bedug hanya menggunakan satu pemukul, sekarang banyak sanggar yang menggunakan dua pemukul, disamping itu pada awal pementasan biasanya kami sering menampilkan kesenian pencak silat tapi sekarang digantikan dengan tarian. Kesenian memang harus dikemas dan dikreasi agar menarik, tapi tidak sampai menghilangkan ciri khasnya” ujarnya.

“Satu hal yang membuat kami prihatin juga adalah dari sisi kesempatan kami berpentas, kami sangat mengharapkan Dinas Pariwisata baik kabupaten maupun provinsi  memberikan kami kesempatan untuk mentas pada event-event yang dilaksanakan di Tingkat Kabupaten maupun Provinsi. Jangan hanya sanggar-sanggar Bedug Modern yang mereka undang, tapi tolong perhatikan sanggar-sanggar kami yang tetap mempertahankan ciri khas kesenian rampak bedug tradisional”keluhnya. ***

KILASAN KESENIAN RAMPAK BEDUG

“Rampak Bedug” dapat dikatakan sebagai pengembangan dari seni bedug atau ngadulag. Bila ngabedug dapat dimainkan oleh siapa saja, maka “Rampak Bedug” hanya bisa dimainkan oleh para pemain profesional. Rampak bedug bukan hanya dimainkan di bulan Ramadhan, tapi dimainkan juga secara profesional pada acara-acara hajatan (hitanan, pernikahan) dan hari-hari peringatan kedaerahan bahkan nasional. Rampak bedug merupakan pengiring Takbiran, Ruwatan, Marhabaan, Shalawatan (Shalawat Badar), dan lagu-lagu bernuansa religi lainnya.

Rampak bedug pertama kali dimaksudkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan, persis seperti seni ngabedug atau ngadulag. Tapi karena merupakan suatu kreasi seni yang genial dan mengundang perhatian penonton, maka seni rampak bedug ini berubah menjadi suatu seni yang layak jual, sama dengan seni-seni musik komersial lainnya. Walau para pencetus dan pemainnya lebih didasari oleh motivasi religi, tapi masyarakat seniman dan pencipta seni memandang seni rampak bedug sebagai sebuah karya seni yang patut dihargai.

Rampak bedug selain berfungsi religi, yakni menyemarakan bulan suci Ramadhan dengan alat-alat yang memang dirancang para ulama pewaris Nabi , juga memiliki fungsi rekreasi/hiburan. Tentu saja berbeda dengan ngabedug, rampak bedug memiliki fungsi ekonomis, yakni suatu karya seni yang layak jual. Masyarakat pengguna sudah biasa mengundang seniman rampak bedug untuk memeriahkan acara-acara mereka. Dalam fungsi religi selain menyemarakan Tarawihan adalah sebagai pengiring Takbiran dan Marhabaan.

Tahun 1950-an merupakan awal mula diadakannya pentas rampak bedug. Pada waktu itu, di Kecamatan Pandeglang pada khususnya, sudah biasa diadakan pertandingan antar kampung. Sampai tahun 1960 rampak bedug masih merupakan hiburan rakyat, persis ngabedug. Kapan rampak bedug diciptakan, mungkin jauh sebelum tahun 1950-an. Siapa pencipta awal rampak bedug ? Ini pun sepertinya tidak dicatat. Bahkan mungkin saja sang kreator tidak menyebut-nyebut dirinya. Hanya saja disebut-sebut, bahkan tepatnya di Kecamatan Pandeglang. Kemudian seni ini menyebar ke daerah-daerah sekitarnya, malah hingga ke Kabupaten Serang.

Seni rampak bedug mulai ramai dipertandingkan pada tahun 1955-1960. Kemudian antara tahun 1960-1970 Haji Ilen menciptakan suatu tarian kreatif dalam seni rampak bedug. Rampak bedug yang berkembang saat ini dapat dikatakan sebagai hasil kreasi Haji Ilen dan sampai sekarang Haji Ilen masih ada. Rampak bedug kemudian dikembangkan oleh berempat yaitu : Haji Ilen, Burhata (almarhum), Juju, dan Rahmat. Hingga sekarang sudah banyak kelompok-kelompok pemain rampak bedug. Dengan demikian Haji Ilen beserta ketiga bersahabat itulah yang dapat dikatakan sebagai tokoh seni Rampak bedug. Dari mereka berempat itulah seni rampak bedug menyebar.

Rampak bedug Haji Ilen berdiri di Kelurahan Juhut Kecamatan Pandeglang. Kemudian menyebar ke kampung-kampung di sekitar kelurahan Juhut dan kelurahan-kelurahan serta kecamatan-kecamatan sekitar. Malah menyebar juga di kecamatan kecamatan Serang, Pamarayan, dan Walantaka Kabupaten Serang.

Di masa lalu pemain rampak bedug terdiri dari semuanya laki-laki. Tapi sekarang sama halnya dengan banyak seni lainnya terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mungkin demikian karena seni rampak bedug mempertunjukkan tarian-tarian yang terlihat indah jika ditampilkan oleh perempuan (selain tentunya laki-laki). Jumlah pemain sekitar 10 orang, laki-laki 5 orang dan perempuan 5 orang. Baik pemain laki-laki maupun perempuan sekaligus juga sebagai penari.

Waditra rampak bedug terdiri dari : Bedug besar, berfungsi sebagai Bass yang memberikan rasa puas ketika mengakhiri suatu bait sya’ir dari lagu. Ting tir, terbuat dari batang pohon kelapa, berfungsi sebagai penyelaras irama lagu bernuansa spiritualis (takbiran, shalawatan, marhabaan, dan lain-lain). Anting Caram dan Anting Karam terbuat dari pohon jambe dan dililiti kulit kendang berfungsi sebagai pengiring lagu dan tari.

Busana yang dipakai oleh pemain rampak bedug adalah pakaian Muslim dan Muslimah yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan unsur kedaerahan. Pemain laki-laki misalnya mengenakan pakaian model pesilat lengkap dengan sorban khas Banten, tapi warna-warninya menggambarkan kemoderenan: hijau, ungu, merah, dan lain-lain (bukan hitam atau putih saja). Adapun pemain perempuan mengenakan pakaian khas tari-tari tradisional, tapi bercorak kemoderenan dan relatf religius. Misalnya menggunakan rok panjang bawah lutut dari bahan batik dengan warna dasar kuning dan di dalamnya mengenakan celana panjang warna merah jenis celana panjang pesilat. Di luarnya mengenakan kain merah tanpa dijahit yang bisa dililitkan dan digunakakan untuk semacam tarian selendang. Banyunya tangan panjang yang dikeluarkan dan diikat dengan memakai ikat pinggang besar. Adapun rambutnya mengenakan sejenis sanggul bungan yang terbuat dari rajutan benang semacam penutup kepala bagian belakang.

Pada awalnya seni rampak bedug dipentaskan untuk mengiringi Takbiran di hari Lebaran. Kemudian berkembang juga untuk acara ruatan dan Marhabaan. Sekarang malah berkembang lagi sebagai seni profesional untuk mengisi hiburan dalam acara hajatan pernikahan, khitanan, dan peringatan hari-hari nasional maupun kedaerahan. Lagu-lagu yang diiringinya pun berkembang, diantaranya Shalawat Badar dan lagu-lagu bernuansa religi lainnya

—————- kembali kehalaman pertama —————-

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

4 Balasan ke Berkunjung ketempat pembuatan Bedug

  1. sudi berkata:

    Ass wr wb,
    Mohon info contact person unt pembuat bedug ini.
    Muhun,
    sudi

  2. rohaendi berkata:

    hebat kang, saya baru buka ini….
    salut … terimakasih…
    sapangaresep, sapangaboga, sapamadegan… bantu budaya kang..

    • wiwin berkata:

      Asalammualaikum.WR .WB
      bapak hapunten atuh ya abdi teh wiwin nurhayati ALUMI SD kadomas2 sareng SMP N3 PANDEGLANG. abdi teh pernah di di ajar ku bpk diding sujai sareng putrana pak topik?
      abdi teh nembe terang amun di parung sentul ngadamelan bedug. etah di gambar na mani sae pisan
      terus anu pentas na oge mani sippppppppp deh
      slm wae atuh k pk diding sareng pk topik. ti bumi
      was abdi wiwin nurhayati ti ci jeruk kadomas RT/RW.03/06

  3. masher berkata:

    saya sangat tertarik dengan kesenian ini, untuk itu mohon informasi lengkap alamat, contact person dan no telp. trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s