Cerita yang terlupakan dari SUMUR DOMAS


Banyak cerita rakyat yang berhubungan dengan proses Islamisasi di Banten salah satunya adalah cerita Syekh Mansyuruddin. Menurut ceritanya Sang syekh adalah salah seorang yang menyebarkan agama Islam di derah Banten Selatan. Salah satu peninggalannya berupa Batu Qur’an yang sekarang banyak didatangi wisatawan untuk berzirah atau untuk mandi di sekitar patilasan, karena disana ada kolam pemandian yang ditengah kolam tersebut terdapat batu yang bertuliskan Al-Qur’an.

Catatan ini tidak akan membahas tentang Batu Qur’an, hari ini beruntung saya dapat mengunjungi salah satu patilasan sang Syekh. Patilasan yang terletak di Desa Campaka Kampung Garokgek Kecamatan Kaduhejo ini memang tidak begitu dikenal masyarakat dibanding Batu Qur’an. Lokasinya yang agak masuk kedalam kampung memang akan sulit ditemui pengunjung apalagi ditambah dengan tidak adanya petunjuk jalan menuju lokasi tersebut.

IMG_0318

Meskipun lokasinya sulit dicari, tapi ini tidak menyurutkan minat penziarah mengunjunginya. Menurut beberapa tokoh masyarakat, lokasi ini akan sangat ramai dikunjungi penziarah pada bulan-bulan tertentu seperti di bulan Mulud dan Silih Mulud. Para pengunjung terbanyak biasanya datang dari luar Pandeglang, seperti Tangerang, Jakarta, Rangkas, Serang dan bahkan Bandung.

Dari tempat parkir, kita harus jalan kaki terlebih dulu untuk menuju lokasinya, kira2 sejauh 500 meter kita menyusuri jalan setapak kita akan menemui sebuah kolam air yang dikelilingi lebatnya pohon yang mengitari lokasi ini. Airnya yang jernih memang sangat menarik pengunjung untuk berenang ditempat ini.  Sayangnya kolam ini menjadi salah satu sumber air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di kampung garokgek, oleh karena itu masyarakat setempat membuat pelindung dengan kawat berduri untuk menghindari adanya orang2 yang berenang di kolam ini ujar Abah Emed (70 tahun), salah seorang tokoh masyarakat kampung Garokgek.

IMG_0337

Disudut kolam yang luasnya 6×6 meter ini terdapat sebuah mata air yang berbentuk sumur, Sumur inilah yang kemudian dikenal dengan Sumur Domas. Sumur ini dipercaya masyarakat sebagai patilasan Syekh Mansyuruddin. Menurut penuturan Nana Sekretaris Desa Campaka, disumur inilah Syekh Mansyuruddin pertama kali beristirahat setelah melakukan perjalanan dari Sumur Tujuh (Puncak Gunung Karang) sebelum ia mencapai Cibulakan/Batu Qur’an. Oleh karena itu menurut Nana, para penziarah yang mengetahui cerita ini, mereka akan mengunjungi Sumur Domas dulu sebelum mereka ziarah ke Batu Qur’an / Cibulakan.

IMG_0332

Ada cerita menarik lain dari tempat ini, “Konon disebelah barat kolam, terdapat sebuah pancuran (air mancur) yang masyarakat menyebutnya pancuran emas. Nama ini terkait dengan cerita Nyai Ringgit Manik. Wanita desa inilah yang pertama kali menemukan sumber mata air ini. Saat itu selepas ia pulang dari ladang ia menemukan pancuran ini. Kemudian dipancuran inilah, ia mandi dan membersihkan diri. Selepas membersihkan badan, ia pun pulang kerumah, alangkah kagetnya Nyai Ringgit Manik saat bertemu dengan ibu kandungnya. Ibunya tidak mau mengakui dirinya sebagai anak lagi. Paras Nyai Ringgit Manik yang berubah menjadi sosok wanita cantik sudah tidak dikenali lagi sebagai anaknya”, cerita inilah yang kemudian melatarbelakangi ditutupnya pancuran ini oleh masyarakat. “Kami khawatir tempat ini bisa disalahgunakan” ujar Abah Emed.

IMG_0339

Dalam perjalanan berikutnya, Syekh Maulana Mansyur kemudian menyiarkan Islam sampai ke daerah Cikoromoy lalu menikah dengan Nyai Sarinten (Nyi Mas Ratu Sarinten) dalam pernikahannya tersebut beliau mempunyai putra yang bernama Muhammad Sholih yang memiliki julukan Kyai Abu Sholih. Setelah sekian lama tinggal di daerah Cikoromoy terjadi suatu peristiwa dimana Nyi Mas Ratu Sarinten meninggal terbentur batu kali pada saat mandi, beliau terpeleset menginjak rambutnya sendiri, konon Nyi Mas Ratu Sarinten mempunyai rambut yang panjangnya melebihi tinggi tubuhnya, akibat peristiwa tersebut maka Syekh Maulana Mansyuru melarang semua keturunannya yaitu para wanita untuk mempunyai rambut yang panjangnya seperti Nyi mas Ratu Sarinten. Nyi Mas Ratu Sarinten kemudian dimakamkan di Pasarean Cikarayu Cimanuk. Sepeninggal Nyi Mas Ratu Sarinten lalu Syekh Maulana Mansyur pindah ke daerah Cikaduen Pandeglang dengan membawa Khodam Ki Jemah lalu beliau menikah kembali dengan Nyai Mas Ratu Jamilah yang berasal dari Caringin Labuan. Pada suatu hari Syekh Maulana Mansyur menyebarkan syariah agama islam di daerah selatan ke pesisir laut, di dalam perjalanannya di tengah hutan Pakuwon Mantiung Sultan Maulana Mansyuruddin beristirahat di bawah pohon waru sambil bersandar bersama khodamnya Ki Jemah, tiba-tiba pohon tersebut menjongkok seperti seorang manusia yang menghormati, maka sampai saat ini pohon waru itu tidak ada yang lurus.

Ketika Syekh sedang beristirahat di bawah pohon waru beliau mendengar suara harimau yang berada di pinggir laut. Ketika Syekh menghampiri ternyata kaki harimau tersebut terjepit kima, setelah itu harimau melihat Syekh Maulana Mansyur yang berada di depannya, melihat ada manusia di depannya harimau tersebut pasrah bahwa ajalnya telah dekat, dalam perasaan putus asa harimau itu mengaum kepada Syekh Maulana Mansyur maka atas izin Alloh SWT tiba-tiba Syekh Maulana Mansyur dapat mengerti bahasa binatang, Karena beliau adalah seorang manusia pilihan Alloh dan seorang Auliya dan Waliyulloh. Maka atas izin Alloh pulalah, dan melalui karomahnya beliau kima yang menjepit kaki harimau dapat dilepaskan, setelah itu harimau tersebut di bai`at oleh beliau, lalu beliau pun berbicara “Saya sudah menolong kamu ! saya minta kamu dan anak buah kamu berjanji untuk tidak mengganggu anak, cucu, dan semua keturunan saya”. Kemudian harimau itu menyanggupi dan akhirnya diberikan kalung surat Yasin di lehernya dan diberi nama Si Pincang atau Raden Langlang Buana atau Ki Buyud Kalam. Ternyata harimau itu adalah seorang Raja/Ratu siluman harimau dari semua Pakuwon yang 6. Pakuwon yang lainnya adalah :

1. Ujung Kulon yang dipimpin oleh Ki Maha Dewa
2. Gunung Inten yang dipimpin oleh Ki Bima Laksana
3. Pakuwon Lumajang yang dipimpin oleh Raden Singa Baruang
4. Gunung Pangajaran yang dipimpin oleh Ki Bolegbag Jaya
5. Manjau yang dipimpin oleh Raden Putri
6. Mantiung yang dipimpin oleh Raden langlang Buana atau Ki Buyud Kalam atau si pincang.

Setelah sekian lama menyiarkan islam ke berbagai daerah di banten dan sekitarnya, lalu Syekh Maulana Manyuruddin dan khadamnya Ki Jemah pulang ke Cikaduen. Akhirnya Syekh Maulana Mansyuruddin meninggal dunia pada tahun 1672M dan di makamkan di Cikaduen Pandeglang Banten. Hingga kini makam beliau sering diziarahi oleh masyarakat dan dikeramatkan.

Keterangan :

  • Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa dimakamkan di kampung Astana Desa Pakadekan Kecamatan Tirtayasa Kawadanaan Pontang Serang Banten.
  • Cibulakan terdapat di muara sungai Kupahandap Kecamatan Cimanuk Kabupaten Pandeglang Banten
  • Makam Cicaringin terletak di daerah Cikareo Cimanuk Pandeglang Banten
  • Ujung Kulon Desa Cigorondong kecamatan Sumur Kawadanaan Cibaliung kebupaten Pandeglang Banten
  • Gunung Anten terletak di kecamatan Cimarga Kawadanaan Leuwi Damar Rangkas Bitung
  • Pakuan Lumajang terletak di Lampung
  • Gunung Pangajaran terletak di Desa Carita Kawadanaan Labuan Pandeglang, disini tempat latihan silat macan.
  • Majau terletak didesa Majau kecamatan Saketi Kawadanaan Menes Pandeglang Banten
  • Mantiung terletak di desa sumur batu kecamatan Cikeusik Kewadanaan Cibaliung Pandeglang.
  • Ki Jemah dimakamkan di kampong Koncang desa Kadu Gadung kecamatan Cimanuk Pandegang Banten.
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s