Perjalanan Pulang Dihadang Gelombang Angin Selatan, Part Four


Setelah mengikuti kunjungan Menhut Zulkifli Hasan pada acara Peresmian dan Deklarasi Javan Rhino Sanctuary Study Area And Global Day of Javan Rhino di Pulau Peucang Pandeglang Banten. Rombongan kami, yang diangkut kapal motor Rahayu-2 bersiap kembali  ke Pantai Katapang Desa Tunggaljaya Kecamatan Sumur, dimana kami memulai perjalanan ini. Setelah barang-barang kami naikan kedalam perahu, Nahkoda dan ABK mulai melepas tali ikatan di dermaga dan kapal mulai melaju ketengah selat.

Rasa penasaran mancing dikawasan ini, kembali menggoda kami untuk meminta nahkoda menghentikan kapalnya. Tepat ditengah selat antara Pulau Peucang dan Daratan Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, akhirnya Nahkoda menghentikan laju kapal dan mulai menurunkan jangkar. Beberapa ABK terlihat sibuk mengatur tali jangkar, kami pun bersiap menurunkan mata kail yang telah dipersiapkan tadi malam. Dengan penuh semangat kami berlomba melemparkan mata kail ketengah laut, bayangan akan mendapatkan ikan besar membuat semangat kami semakin terpompa,  benar-benar melupakan waktu yang mulai bergeser mendekati malam.

Suasana petang di Kawasan Selat Pulau Peucang memang luar biasa. Cahaya sinar matahari  membuat air laut semakin indah dengan memantulkan warna keemasan bercampur jingga. Hampir satu jam kami lewati, tapi tidak seekor ikan pun yang berhasil kami angkat kedalam perahu, hanya ikan-ikan karang berukuran kecil yang memakan umpan. Berbagai tehnik mancing, mulai dari mancing dasar, loncer, popping bahkan sampai dengan menggunakan pancing garong telah kami coba tapi hasilnya benar-benar mengecewakan. Sekali lagi kegagalan mancing hari ini agak terobati dengan panorama indah yang ditawarkan di Pulau Peucang.

Pukul 19.30 akhirnya kami memutuskan untuk menuju ke Pantai Katapang. Cuaca gelap membuat sebagian besar penumpang diperahu ini terlelap tidur. Begitu memasuki kawasan Tanjung Alang-alang angin mulai membesar dan gelombang air laut pun masuk kedalam perahu. Hal ini membuat semua penumpang terbangun dari tidurnya, guncangan keras semakin membuat perahu oleng kekiri dan kekanan. Beberapa kali anak buah berteriak memberi komando kepada Nahkoda, wajah kami semua semakin terlihat waswas dan mulai menampakan kegelisahan. “Ini adalah Angin Selatan!” ujar beberapa ABK yang berdiri dibelakang kapal.

Tidak sepatah kata pun terucap dari mulut kami, semua terdiam, terkadang terdengar doa yang dipanjatkan oleh kawan-kawan saat perahu oleng menabrak ombak yang mulai membesar. Cipratan air semakin membesar, air mulai memasuki perahu yang kami tumpangi, beberapa kawan yang semula berada di depan perahu terpaksa pindah kebelakang. Semua orang mulai menggunakan pelampung yang mereka bawa, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Semua terdiam, semua hanya bisa berdoa…..

Saya yang semula berdiri disisi kiri, mulai berpindah ketengah perahu. Saya sempat complain ke ABK agar Nahkoda melambatkan laju kapal, tapi Nahkoda tetap mempertahankan kecepatan kapalnya. Bunyi derit kayu diperahu semakin terdengar, membuat kami semua menahan nafas. Akhirnya Nahkoda mengambil keputusan untuk berhenti dulu disisi daratan Tanjung alang-alang, “Kapal sudah tidak kuat menahan deburan gelombang yang semakin membesar!”ujarnya kepada anak buahnya.

ABK yang saat itu mendampingi kami dibagian belakang perahu, mengamini keputusan yang diambil nahkoda. Kami pun sepakat tidak mau mengambil resiko melawan cuaca yang tidak bersahabat.  Dipinggir daratan terlihat sebuah perahu berlabuh diperairan dangkal, kami bermaksud menghampirinya dan ikut bersandar dilokasi itu. Apa yang kami harapkan untuk mendapatkan gelombang yang tenang ternyata meleset, dilokasi itupun terkadang perahu oleng kekiri dan kekanan. Hampir satu jam kami menunggu gelombang reda ditempat itu, tapi ini tidak membuahkan hasil. Cuaca yang semakin memburuk. Bagi beberapa orang yang baru pertama kali mengarungi lautan, hal ini benar-benar sebuah pengalaman yang mengerikan.

Setelah satu jam kami lewati ditempat ini, seorang ABK menyarankan Nahkoda agar meneruskan perjalanan, tapi dengan kecepatan kapal dikurangi, ini untuk menghindari cuaca yang semakin memburuk ujarnya. Nahkoda pun menyetujuinya, ia mulai menyalakan mesin kapal, kami semua menahan nafas melihat laju kapal yang berjalan perlahan membelah ombak. Beberapa ABK menyarankan agar kami tetap tenang dan tidak panik, bahkan sebagian menyarankan saya untuk tidur didalam kabin kapal.

Beberapa kali kapal terasa terangkat keatas saat kapal mencoba melewati ombak yang besar. “Ini baru seperempat perjalanan menuju Pantai Katapang” rintih saya dalam hati. Saya mulai membereskan barang-barang elektronik yang saya bawa dan memasukannya kedalam kantung plastik untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Semua terdiam dan membisu saat Nahkoda kembali meningkatkan kecepatan kapal, semuanya pasrah hanya doa yang terucap.

Akhirnya tepat pukul 23.30 kapal mulai mendekati Pantai Katapang, semua merasa lega setelah hampir 5 jam kami diselimuti rasa waswas dan hawatir menembus cuaca buruk yang menghadang. Hanya rasa syukur yang terucap, wajah yang semula diselimuti rasa takut kini mulai bisa tersenyum. Beberapa orang bahkan kembali  bisa bercanda dan memperbincangkan pengalaman yang menakutkan tadi. Tapi ini tidak membuat kami jera, keindahan panorama di Pulau Peucang masih tetap terekam didalam benak. Setelah sampai dirumah  Sukari (nahkoda kapal kami), ia menuturkan bahwa Angin Selatan hari ini memang cukup besar.

Saat ditanya kenapa ia mempercepat laju kapal saat menghadapi gelombang-gelombang besar, ia menjelaskan hanya dengan cara itulah laju kapal bisa dipertahankan ujarnya. “Dan untung saja kita bisa cepat sampai di Pantai ini, seandainya kita terlambat sedikit saja, angin selatan akan semakin membesar karena badai sekarang terlihat akan terjadi ditengah laut” lanjutnya. Benar saja saat kami mengobrol dirumahnya, hujan pun mulai turun, angin mulai membesar, padahal ini daratan apalagi ditengah laut pikir saya. Pengalaman ini memang pengalaman yang menarik dan menantang. Tapi ini tidak membuat saya jera. Panorama di Pulau Peucang yang menawarkan sejuta keindahan, memperkuat tekad saya, suatu saat saya harus kembali ketempat itu…….

————– kembali kehalaman pertama ————–

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

2 Balasan ke Perjalanan Pulang Dihadang Gelombang Angin Selatan, Part Four

  1. camera berkata:

    wuih ceeritanya asik…

    pengalamannya keren…

    makasih ceritanya…

    salam hangat…

  2. tio_djawa berkata:

    Emang tuh Tanjung alang-alang seharusnya dikasih Lampu merah buat angin selatan biar gk lewat!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s