Javan Rhino Sanctuary Study Area And Global Day of Javan Rhino – Part Three


Suara gemuruh membangunkan saya dari tidur, beberapa rekan satu kamar terlihat sibuk mengambil barang-barang liputan. “Menteri sudah datang!” ujar seorang kawan sambil berlari keluar. Saya pun ikut terbangun dan langsung menuju kamar mandi untuk persiapan agenda hari ini. Kelelahan akibat kurang tidur tadi malam memang memaksa hampir seluruh rombongan terlelap dalam istirahatnya. Saat itu pukul 12.30, pesawat heli yang membawa rombongan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mendarat tepat ditengah lapangan yang berada didepan cottage. Beberapa binatang yang saat itu sedang merumput lari menghindar kedalam hutan.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan yang saat itu didampingi ajudannya, terlihat disambut oleh Panitia ditengah lapangan. Rombongan diarahkan menuju tempat istirahat yang juga sebagai tempat dimana acara ini akan diresmikan. Setelah mempersiapkan alat-alat yang diperlukan akhirnya saya pun menuju ke lokasi acara.

Javan Rhino Study Area, a stepping stone to a new home demikian salah satu tulisan yang ditempel disudut ruangan. Dalam keterangannya tertera bahwa Camera dan Video Trap (WWF Indonesia) yang dipasang dikawasan TNUK mengindikasikan terjadinya perkembangbiakan Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Namun perkembangbiakannya di TNUK sangat lambat dengan trend pertumbuhan negatif (rata-rata pertumbuhannya 0,7% / tahun). Jika trend pertumbuhan negatif ini berlanjut maka diperkirakan populasi badak jawa akan punah pada akhir abad 21. Demikian data awal yang saya dapatkan diruangan ini.

Pengembangbiakan Badak Jawa di TNUK memang tidak terlepas dari beberapa kendala, diantaranya adalah kompetisi pakan dan ruang dengan satwa Banteng. TNUK merupakan rumah bagi sekitar 800 ekor banteng (Bos Javanicus), Banteng merupakan satwa graser atau pemakan rumput, ia bisa menjadi seekor browser jika padang penggembalaan menyempit atau ketersediaan rumput sebagai pakan banteng semakin berkurang. Saat menjadi browser banteng hampir memakan kurang lebih 60 persen pakan Badak.

Ketiadaan predator juga membuat banteng leluasa masuk hutan menjadi browser. Agar habitat Badak Jawa tidak terganggu oleh banteng yang semakin bertambah jumlahnya, maka pihak TNUK menyarankan : Pemeliharaan, pembukaan dan penambahan luas padang penggembalaan dan Translokasi banteng yang populasinya berlebih ke kawasan konservasi lain.

Selain itu yang menghambat pakan badak  berkembang adalah adanya Invasi tanaman Langkap (arenga palm, arenga obstusifolia). Tanaman ini sangat dominan dimana langkap yang pertumbuhannya sangat dominan menyebabkan tidak ada tanaman lain disekitarnya dapat tumbuh. Saat ini sekitar 60 persen atau sekitar 18.000 hektar bagian peninsula TNUK ditutupi oleh langkap dan menghalangi pertumbuhan pakan badak. Agar tanaman pakan badak dapat tumbuh, maka disarankan untuk dilakukan eradikasi langkap.

Ancaman lain datang dari dampak letusan anak gunung krakatau. Badak jawa yang hanya terdapat di Semenanjung (peninsula) Ujung Kulon di Taman Nasional Ujung Kulon ini ternyata juga rentan terhadap dampak letusan anak Gunung Krakatau. Habitat utama dimana badak jawa tersebar hanya berada 10 meter diatas permukaan laut dan berjarak sekitar 50 km dari lokasi gunung berapi yang masih aktif yaitu Anak Gunung Krakatau. Populasi badak jawa sangat rentan apabila tejadi letusan anak gunung krakatau apalagi bila disertai gelombang tsunami.

Seperti diketahui, antara tahun 1865 sampai dengan 1900 badak jawa masih ditemukan di hampir seluruh pulau Jawa. Pada tahun 1912 badak ini masih bisa dijumpai didaerah Karawang. Dan pada pertengahan abad 19 Badak Jawa dinyatakan sebagai hama bagi peladang. Badak jawa terakhir yang ditemukan di luar daerah Banten adalah Badak Jawa yang ditemukan di daerah Garut pada tahun 1934 yang kemudian ditembak mati untuk dijadikan koleksi di Museum Bogor.

Oleh karena itu, saat ini pihak TNUK melakukan kajian dan study tentang penangkaran badak jawa ini. Beberapa tahap sedang dan akan dilakukan dalam upaya melakukan penangkaran ini diantaranya adalah tahap Project Preparation yang terdiri dari : Site Identification, Survey and research to identify location, site plan development, site demarcation, identify design construction and accessibility dan workshop to socialize.

Tahap berikutnya adalah Project Construction Phase yang terdiri dari kegiatan Frencing, Identify the safest way to capture and trans locate rhinos, capture and translocation serta monitoring. Sedangkan tahap akhir adalah Project Implementation Phase yang terdiri dari tahap Procure equipments dan sanctuary operation.

Tahap Site Identification Survey and research to identify location telah dilakukan sejak Mei sampai dengan Juni 2009 dengan lokasi di Taman Nasional Gunung Honje TNUK Banten, Taman Nasional Gunung Halimun Salak Bogor, Leuweung Sancang dan Masigit Karembeu. Hasil Studi ini merekomendasikan bahwa area penangkaran terbaik adalah di Gunung Honje kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.

Gunung Honje terpilih sebagai tempat penangkaran karena disini masih bisa ditemukan sumber air pada saat musim kering, sangat potensil untuk pembuatan kubangan badak permanen. Selain itu ditempat ini juga tersedia pakan Badak Jawa yang cukup memadai disertai akses komunikasi yang menunjang. Meskipun demikian masih ada permasalahan yang ada di blok Aer Mokla Gunung Honje ini, diantaranya adalah masih ditemukannya sawah, kebun dan kampung dalam kawasan yaitu sawah kurang lebih 1.500 hektar, kebun kurang lebih 1.912,6 hektar dan luas kampung kurang lebih 24 hektar.

Site Plan Development dan Site Demarcation dilakukan diantaranya dengan memfokuskan pada daerah Legon Pakis, Cihujan, Cikarang, Cikalejetan, Ranca Gebang dan Aer Mokla sampai Cimahi. Pembangunan pos jaga akan dilakukan di kawasan Gunung Honje serta pemasangan pagar listrik dari Kampung Salam sampai Aer Mokla sepanjang 14 km, kemudian dari Kampung Salam sampai dengan Cilintang sepanjang 4 km dan dari Pos Laban sampai dengan Pos Karang Ranjang sepanjang 2 km.

Demikian data-data yang saya dapatkan selama saya berada diruangan ini. Selepas beristirahat Rombongan Menteri melakukan peninjauan disekitar pulau Peucang. Tempat pertama yang dikunjunginya adalah tempat dimana Prototype pagar listrik yang akan digunakan dalam penangkaran digunakan. Ditempat ini rombongan menerima penjelasan Waladi dari Yayasan Badak Nasional sebagai Protection Manager.

Pagar ini terdiri dari tiga bentang kawat berukuran besar dan tiga pasang kawat berukuran kecil, sedangkan pada bagian bawahnya ditutup dengan sebuah ram kawat tipis. Waladi menjelaskan bahwa kawat-kawat yang berukuran kecil inilah nanti yang akan dialiri listrik. “Kawat listrik ini hanya menimbulkan efek kejut, jadi tidak akan membahayakan Badak. Sedangkan ram kawat pada bagian bawah digunakan agar tidak ada binatang-binatang lain yang bisa masuk ke areal ini”ujarnya.

Setelah melakukan tanya jawab, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan melanjutkan perjalanannya memasuki areal track yang biasa digunakan kegiatan hiking di Pulau Peucang. Track yang berupa jalan setapak beralaskan tanah yang berhumus ini benar-benar menyajikan pemandangan hutan hujan tropis dataran rendah yang masih alami.

Terkadang ditengah perjalanan kami menemukan satwa-satwa yang sedang mencari makan. Sinar matahari yang menerobos masuk melalui rimbunnya daun diatas pohon menyajikan pemandangan yang sangat indah, cahayanya ibarat sorotan lampu yang menembus hutan-hutan ini. Beberapa pohon terlihat sangat tua dengan ketinggian hampir beragam, ada satu pohon unik ditempat ini, petugas menamakannya “Pohon Kiara Pencekik”.

“Pohon ini diperkirakan awalnya dibawa oleh seekor burung yang bersarang disebuah pohon induk. Lama-kelamaan biji ini tumbuh menjadi pohon. Jadi seperti pohon Benalu, lama-lama pohon kiara ini akarnya mencapai tanah dan tumbuh semakin membesar. Pohon induknya akibat lilitan akar ini akhirnya mati dan digantikan oleh kiara pencekik ini” ujar seorang petugas memberikan penjelasan.

“Pohon ini sudah berumur ratusan tahun, pada saat letusan gunung krakatau tahun 1883 pohon ini diperkirakan sudah ada. Keberadaannya sekarang menjadi sarang beberapa hewan ditempat ini, diantaranya burung, monyet, serangga dan beberapa hewan lainnya” lanjutnya.

Setelah puas melihat kondisi hutan hujan ini, akhirnya Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan kembali ke tempat peristirahatan tadi. Ditempat ini direncanakan Menteri bersama Gubernur Banten Hj. Ratu Atut Chosiyah akan menandatangani Prasasti Pembangunan Javan Rhino Sanctuary Study Area. Sayang sekali kedatangan Gubernur Banten Hj. Ratu Atut Chosiyah terlambat datang, akhirnya Menhut memutuskan menandatangani prasasti ini sendirian. Menhut kemudian berpamitan dengan seluruh undangan yang hadir ditempat itu. Tapi saat ia akan menaiki heli-nya, beberapa orang petugas memberitahu bahwa rombongan Gubernur sudah sampai di Pulau Peucang. Akhirnya Menhut menunda keberangkatannya, ia berharap bisa bertemu dengan Gubernur walau beberapa menit ujarnya.

Setelah rombongan Gubernur Banten Hj. Ratu Atut Chosiyah tiba di Pulau Peucang, akhirnya prosesi penandatanganan Prasasti pun diulang. Setelah berbincang-bincang sebentar Menhut kembali meneruskan perjalanannya menuju Jakarta……

———— kembali kehalaman pertama ————

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

2 Balasan ke Javan Rhino Sanctuary Study Area And Global Day of Javan Rhino – Part Three

  1. rahman p berkata:

    salam kenal mas… saya kagum dengan blog anda, ini sangat inspiratif dan positif sekali sudah saatnya kita menggunakan situs internet untuk menjadi media informasi pemerintahan modern ini. oh y mas bisa kunjung juga di blog saya rahmnanhumas.blogspot.com dan rahmanputrayani.wordpress.com. thax mudah2an kita dapat berbagi info dan ilmu.

  2. anif berkata:

    kalau di pagari dengal aliran listrik, mungkin siapapun yg lewat dan mengenai pagar listrik pasti aka mati dong,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s