Dari Sunrise hingga Sunset di Pulau Peucang, Part One…


Sebuah tawaran petualangan menarik dan menantang kembali datang, kali ini perjalanannya adalah ke Pulau Peucang di Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon Pandeglang Banten. Pulau yang mempunyai luas 450 hektar ini mempunyai jalur 3 km dengan waktu tempuh 50 menit jika kita akan mengelilinginya.  Pengalaman yang memang tidak mau saya lewatkan, dan ini adalah catatan perjalanan  saya selama mengikuti perjalanan ini.

Agenda yang akan saya ikuti adalah  Peresmian dan Deklarasi Javan Rhino Sanctuary Study Area And Global Day of Javan Rhino yang akan dilaksanakan di Pulau Peucang tanggal 21 Juni 2010. Tapi kali ini rombongan yang juga diikuti oleh Bupati Pandeglang H. Erwan Kurtubi memutuskan berangkat lebih awal. Keberangkatan kami selain untuk mengikuti agenda tersebut juga bertujuan untuk mencoba beberapa Hotspot Mancing yang tersebar di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.

Dulu kawasan ini merupakan Primadona bagi para pemancing, berbagai jenis ikan yang menjadi sasaran dan target pemancing ada disini. Oleh karena itu pada jaman Presiden Soeharto kawasan ini sering dikunjunginya, demikian penuturan nahkoda kapal yang akan menyertai kami.

Kami berangkat dari Pandeglang hari Minggu (20/06) sekitar pukul 12.30 dengan menggunakan 4 buah mobil secara beriringan. Tiba di Kecamatan Cigeulis cuaca buruk, hujan disertai petir menyambut kebarangkatan kami. Sempat terlintas perasaan ragu, bagaimana dengan kondisi perairan dilaut, jika didarat saja cuacanya seburuk ini.

Pukul 18.00, akhirnya tiba di Kecamatan Sumur. Meskipun hujan sudah mulai mereda tapi sambaran petir masih sering  terlihat. Kami memutuskan untuk berhenti dan sekaligus mengisi perut disebuah warung kecil di Kecamatan Sumur. Kesempatan ini saya pergunakan untuk mempersiapkan perbekalan yang akan dibutuhkan selama ada ditengah laut. Setelah berisirahat sejenak, akhirnya rombongan memutuskan melanjutkan perjalanan ke Kampung Katapang Desa Tunggaljaya Kecamatan Sumur, kampung berbatasan dengan desa Cigorondong ini diapit oleh dua buah tanjung yaitu Tanjung Tancangpari dan Tanjung Cihonje.

Rumah Sukari adalah tempat dimana mobil akan dititipkan, sekaligus ia akan menjadi nahkoda kapal yang akan kami pergunakan. Perjalanan dari tempat makan ke rumah Sukari kurang lebih 10 km dengan kondisi jalan yang rusak berat, rombongan harus berjalan perlahan untuk menghindari lubang yang banyak dijumpai di rute ini.

Pukul 16.30 akhirnya  tiba di rumah Sukari, empat orang Anak Buah Kapal (ABK) menyambut kedatangan rombongan ini. Setelah menurunkan barang-barang perbekalan, akhirnya saya menuju pantai yang terletak di belakang rumahnya. Perjalanan harus memutar untuk menghindari sungai kecil yang berada tepat dibelakang rumah Sukari. Beberapa ABK membawa barang perbekalan dengan menyebrangi sungai ini. Beberapa warga bahkan membantu para ABK mengangkut barang-barang.

Panorama yang indah terhampar didepan mata, karena saat itu matahari mulai terbenam. Sebuah perahu nelayan tertambat agak menjorok  di tengah pantai, itulah perahu yang akan dipergunakan. “Perahunya tidak dapat menepi ke Pantai pak, karena airnya dangkal” demikian ujar seorang masyarakat yang saat itu melihat keberangkatan kami. Perahu milik Sukari ini bernama RAHAYU-2, mereka rencananya akan membawa Anak Buah Kapal (ABK) sebanyak 4 orang.

Kami harus mencari sebuah perahu kecil (Jukung) untuk menuju ke ke kapal itu. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya, ada seroang nelayan yang rela jukungnya  dipakai. “Kami harus menarik jukung-jukung ini ke darat pak, soalnya tadi ada gelombang besar, hawatir jukung ini terseret ombak” ujar nelayan yang meminjamkan jukungnya.

Jukung yang hanya memuat 4 orang ini, akhirnya mengangkut kami. Empat orang pertama berhasil diantar menuju kapal Rahayu-2 begitupun dengan empat orang berikutnya. Saya dan tiga orang lainnya mendapatkan giliran terakhir. Setelah rombongan kedua berhasil menuju kapal, tiba-tiba gelombang pasang mulai menerjang. Pantai yang awalnya sebatas pinggang kini semakin dalam, kepanikan pun mulai terjadi, para nelayan yang mengawal jukung harus terjun kelaut untuk menahan kencangnya gelombang. Mereka berenang disisi kiri dan kanan jukung. Sulit sekali mencapai perahu utama itu, jukung harus berhenti beberapa kali untuk menahan gelombang yang semakin membesar. “Ini bukan pasang pak, tapi ini gelombang sisa dari badai yang tadi sempat terjadi”ujar seorang nelayan yang mengawal jukung ini.

Dengan susah payah akhirnya semua rombongan tiba dikapal Rahayu2, tinggal barang-barang perbekalan  yang tersisa. Barang-barang inipun akhirnya diangkut menggunakan jukung yang sama, tapi kali ini gelombangnya semakin besar dan sulit dikendalikan. Beberapa orang nelayan akhirnya mencebur kelaut untuk menghindari jukung terbalik diterjang ombak. “Benar-benar perjuangan yang berat, dan ini adalah tahap awal perjalanan kami, karena ditengah laut nanti, bukan tidak mungkin akan terjadi gelombang besar” rintih saya didalam hati.

Pukul 16.30, akhirnya semua rombongan dan barang-barang perbekalan berhasil mencapai kapal Rahayu-2. Setelah membereskan barang, nahkoda mulai menyalakan mesin, doa mulai terucap saat kapal mulai bergerak.

Satu jam pertama cuaca cukup bersahabat, tapi 1 jam berikutnya gelombang mulai membesar. Rasa waswas hampir terlihat diwajah-wajah kami, untungnya Nahkoda dan ABK terlihat berpengalaman dalam menghadapi situasi kritis semacam ini. Beberapa kali ia mencoba menenangkan kami. Bahkan untuk menghilangkan ketegangan, seorang ABK yang bernama Barka mengajak mempersiapkan umpan yang akan dipakai. Hal ini memang efektif , ketegangan mulai menghilang saat melihat ia sibuk memotong-motong ikan cumi yang akan dipakai sebagai umpan. Ada beberapa jenis umpan yang disiapkan diantaranya Cumi, Udang dan Ikan-ikan kecil, semuanya kami simpan dalam 5 box ikan yang dibawa.

Setelah 4,5 jam, akhirnya sampai juga di Pulau Peucang, beberapa perahu nelayan terlihat tertambat didermaga, mereka mengangkut beberapa tamu yang juga akan mengikuti agenda besok. Akhirnya kami memutuskan untuk bersandar dulu di Pulau Peucang dan menurunkan beberapa orang disana.

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan untuk mencoba beberapa hotspot mancing disekitar Pulau Peucang. Kondisi angin yang besar mengakibatkan gelombang semakin membesar tapi itu semua tidak menyurutkan niat kami untuk mencoba hotspot mancing ini. Tiba di lokasi pertama, nahkoda mulai menurunkan jangkar. Bayangan akan mendapatkan ikan besar membuat kami tidak sabar untuk segera menurunkan umpan. Satu jam kami berada ditempat ini tanpa hasil, tidak ada satu ekor pun ikan yang berhasil kami angkat. Akhirnya Nahkoda memutuskan untuk bergeser mencoba hotspot lain yang terletak di Selat  Panaitan.

Ditempat ini, menurut Nahkoda kedalamannya mencapai 70 meter. Angin yang kencang dan gelombang laut yang besar memang menjadi suatu tantangan tersendiri bagi kami. Mancing dasar yang kami rencanakan sangat sulit dilakukan dalam kondisi cuaca semacam ini, ditambah dengan arus dibawah air yang kencang membuat umpan-umpan kami selalu bergerak tanpa arah. Pemberat kami tambah, tapi tidak menunjukan hasil yang memuaskan. Beberapa orang di perahu ini mulai putus asa, mereka akhirnya untuk tidak memancing dan memutuskan tidur hingga esok hari. Tapi tidak dengan saya, rasa penasaran ditambah keingintahuan sampai sejauh mana mancing di kawasan ini membawa hasil, membuat saya memutuskan untuk tidak tidur sekejap pun.

Ditempat ini, kami hanya bisa bertahan 15 menit, karena arus yang semakin kencang. Nahkoda akhirnya mengajak kami menepi mendekati Pulau Panaitan. Hampir 5 hotspot kami hampiri dan semuanya tidak membawa hasil yang bagus, hanya ikan-ikan karang berukuran kecil yang berhasil kami angkat. Semua penumpang di perahu ini hampir semuanya terlelap tidur. Tinggal beberapa ABK yang menemani saya sampai dengan pukul 05.30. Menjelang pagi Nahkoda kemudian memutar kembali perahunya mendekati ke Pulau Peucang, kami harus sampai di Pulau Peucang pukul 07.00 untuk mempersiapkan acara hari ini.

Kekecewaan kami terobati saat panorama sunrise terhampar dihadapan kapal kami, tidak henti-hentinya kami meanggungkan nama sang pencipta. Keindahan panorama sunrise di Pulau Peucang memang sulit diucapkan dengan kata-kata. Setelah berputar mengitari Pulau Peucang, saking penasarannya beberapa orang meminta Nahkoda menghentikan perahunya dan mencoba memancing dikawasan karang yang banyak terdapat di Pulau Peucang.

Kali ini pun tidak membawa hasil, kami harus menerima kegagalan mancing hari ini, beberapa orang yang ikut diperahu ini berseloroh kami kalah telak. Tapi ini tidak membuat saya kecewa, karena saya masih bisa menikmati perjalanan ini dengan menikmati keindahan panorama Pulau Peucang yang memang sungguh fantastis.

————- kembali kehalaman pertama ————-

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Dari Sunrise hingga Sunset di Pulau Peucang, Part One…

  1. Dengan bangga artikel ini saya kutip di blog Ekowisata Ujungkulon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s