Mengenal Fauna Langka – BADAK JAWA


Penemuan Tulang Badak Jawa yang di Publish Balai Taman Nasional Ujung Kulon hari Rabu lalu (26/05), membuat email saya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan tentang satwa yang satu ini. Oleh karena itu, pada Posting kali ini saya akan muat tentang profil satwa ini yang saya kumpulkan dari berbagai sumber.

Badak ini pernah menjadi salah satu badak di Asia yang paling banyak menyebar. Meski disebut “Badak Jawa”, binatang ini tidak terbatas hidup di pulau Jawa saja, tapi di seluruh Nusantara, sepanjang Asia Tenggara dan di India serta Tiongkok. Spesies ini kini statusnya kritis, dengan hanya sedikit populasi yang ditemukan di alam bebas, dan tidak ada di kebun binatang. Badak ini kemungkinan adalah mamalia terlangka di bumi.

Badak Jawa atau Badak bercula-satu kecil (Rhinoceros sondaicus) adalah anggota famili Rhinocerotidae dan satu dari lima badak yang masih ada. Badak ini masuk ke genus yang sama dengan badak India dan memiliki kulit bermosaik yang menyerupai baju baja.

Badak Jawa memiliki panjang 3,1–3,2 m dan tinggi 1,4–1,7 m. Ukuran badak Jawa lebih kecil daripada badak India dan lebih dekat dalam besar tubuh dengan badak Hitam. Ukuran culanya biasanya lebih sedikit daripada 20 cm, lebih kecil daripada cula spesies badak lainnya.

Badak Jawa dapat hidup selama 30-45 tahun di alam bebas. Badak ini hidup di hutan hujan dataran rendah, padang rumput basah dan daerah daratan banjir besar. Badak Jawa kebanyakan bersifat tenang, kecuali untuk masa kenal-mengenal dan membesarkan anak, walaupun suatu kelompok terkadang dapat berkumpul di dekat kubangan dan tempat mendapatkan mineral. Badak dewasa tidak memiliki hewan pemangsa sebagai musuh.

Badak Jawa biasanya menghindari manusia, tetapi akan menyerang manusia jika merasa diganggu. Peneliti dan pelindung alam jarang meneliti binatang itu secara langsung karena kelangkaan mereka dan adanya bahaya mengganggu sebuah spesies terancam. Peneliti menggunakan kamera dan sampel kotoran untuk mengukur kesehatan dan tingkah laku mereka. Badak Jawa lebih sedikit dipelajari daripada spesies badak lainnya.

Populasi 40-50 badak hidup di Taman Nasional Ujung Kulon di pulau Jawa. Berkurangnya populasi badak Jawa ini diakibatkan oleh perburuan untuk diambil culanya, yang sangat berharga pada pengobatan tradisional Tiongkok, dengan harga sebesar $30.000 per kilogram di pasar gelap.

Dalam kehidupan satwa langka, Indonesia adalah negara dan bangsa yang satu-satunya yang memiliki jenis Badak terlengkap dimana dari 5 (lima) jenis yang tersisa di dunia, Indonesia memiliki dua jenis badak yaitu badak bercula satu ( badak jawa) dan badak bercula dua (badak sumatera).

Sedangkan Benua Afrika yang luaspun, walau memiliki dua jenis badak (badak hitam dan badak putih) keduanya bercula dua dan India hanya memiliki badak bercula satu (badak india). Pada kali ini, penulis ingin mengenalkan badak jawa sebagai salah satu kekayaan yang dititipkan kepada kita semua untuk dapat mensyukuri nikmatNya dan turut serta melestarikannya.

——————————-

KLASIFIKASI BADAK JAWA.

Badak adalah binatang berkuku ganjil (perrisodactyla), pada tahun 1758 Linnaeus telah memberi nama marga (genus) Rhinoceros kepada badak jawa. Secara taksonomi badak Jawa diklasifikasikan sebagai berikut :

  • Kingdom : Animalia
  • Phylum : Chordata
  • Sub phylum : Vertebrata
  • Super kelas : Gnatostomata
  • Kelas : Mammalia
  • Super ordo : Mesaxonia
  • Ordo : Perissodactyla
  • Super famili : Rhinocerotides
  • Famili : Rhinocerotidae
  • Genus : Rhinoceros Linnaeus, 1758
  • Spesies : Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822

Rhinoceros: berasal dari bahasa Yunani yaitu rhino, berarti “hidung” dan ceros, berarti “culasondaicus: merujuk pada kepulauan Sunda di Indonesia. (Bahasa Latin -icus mengindikasikan lokasi); “Sunda” berarti “Jawa” Sedangkan dalam bahasa Inggrisnya Badak Jawa disebut Javan.

——————————-

MORFOLOGI BADAK JAWA.

Berdasarkan penampilan bentuk tubuh dan rupa (morfologi)nya, badak jawa adalah sebagai berikut:

  • Tinggi dari telapak kaki hingga bahu berkisar antara 168-175 cm.
  • Panjang tubuh dari ujung moncong hingga ekor 392 cm dan panjang bagian kepala 70 cm.
  • Berat tubuhnya dapat mencapai 1.280 kg.
  • Tubuhnya tidak berambut kecuali dibagian telinga dan ekornya.
  • Tubuhnya dibungkus kulit yang tebalnya antara 25-30 mm.
  • kulit luarnya mempunyai corak yang mozaik.
  • Lipatan kulit di bawah leher hingga bagian atas berbatasan dengan bahu.
  • Di atas punggungnya juga terdapat lipatan kulit yang berbentuk sadel (pelana) dan ada lipatan lain di dekat ekor serta bagian atas kaki belakang.
  • Badak betina tidak mempunyai cula, Ukuran cula dapat mencapai 27 cm.
  • Warna cula abu-abu gelap atau hitam, warnanya semakin tua semakin gelap, pada pangkalnya lebih gelap dari pada ujungnya.

——————————-

Ciri-ciri yang khas dari Badak Jawa adalah memiliki bibir atas lengkung-mengait kebawah (hooked upped), bercula satu dengan ukuran panjang sampai 25 (dua puluh lima) sentimeter, kulit berwarna abu-abu dan tidak berambut. Bibir atas tersebut memiliki kelenturan yang dipergunakan untuk mengait dan menarik dedaunan dari ujung ranting kedalam mulutnya sewaktu makan.

Ciri yang sangat menonjol lainnya adalah memiliki lipatan kulit tubuh seperti baju besi (Armor platted). Baju besi kulit rhino ini membuat penampilannya menjadi sangat gagah dan anggun (lihat gambar diatas). Hal itu mengingatkan kita kepada baju besi untuk berperang para kesatria kerajaan Yunani atau kerajaan Romawi, sebagaimana dapat kita lihat pada gambar 1 dibawah ini.

Gambar 1. Javan Rhino (Rhinoceros sondaicus) Sumber :The Rhino Resource Center

——————————-

HABITAT BADAK JAWA.

Habitat (tempat hidup) badak jawa adalah hutan hujan dataran rendah dan rawa-rawa (tropical rainforest dan mountain moss forest), beberapa dijumpai pada ketinggian 1000 m dari permukaan laut. Badak jawa terdapat di daerah barat pulau Jawa tepatnya di Taman Nasional Ujung Kulon. Tempat-tempat yang rimbun dengan semak dan perdu yang rapat serta menghindari tempat-tempat yang terbuka, terutama pada siang hari. Hutan teduh dan rapat, seperti halnya formasi langkap disukai badak untuk bernaung dan berlindung dari kejaran manusia.

Badak ini dapat mengkonsumsi sekitar 150 (seratus lima puluh) jenis tanaman, namun variasi menu makanan sehari-harinya tergantung ketersediaan jenis tanaman yang ada dilokasi-lokasi tempat mencari makan, Walaupun badak ini dapat mengkonsumsi dedaunan, pucuk-pucuk tanaman, rerumputan dan buah-buahan, dia lebih menyukai daun-daun muda. Buah-buahan yang dimakan oleh badak jawa antara lain Kemlandingan (petai cina), pepaya dan pisang.

Karena kesukaan dalam memakan tetumbuhan banyak orang yang menggolongkan badak kepada jenis binatang pemamah biak. Pendapat ini sebenarnya salah, badak memang termasuk binatang herbivora, namun bukan termasuk binatang pemamah biak. Ciri yang mudah untuk membedakannya adalah dari kukunya yaitu binatang pemamah biak berkuku genap, sedangkan badak seperti kuda berkuku ganjil. Dari 151 jenis makanan yang dikonsumsi badak jawa, 16 jenis diantaranya merupakan makanan kesukaan Banteng (Bos sondaicus).

Banteng pesaing Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. (Sumber : Photo ©WWF-Indonesia/BTNUK, 2007 )

Badak jawa beraktifitas pada siang dan malam hari, dengan daerah jelajah-nya untuk badak betina diperkirakan sekitar 10-20 km2 dan untuk badak jantan diperkirakan sekitar 30 km2. Dalam mencari makanan, badak jawa melakukannya di malam hari dengan pergi ketempat-tempat dekat hutan yang didominasi semak belukar yang lebat atau dengan pepohonan yang bertangkai rendah dekat sungai dan dataran rendah pesisir Ujung Kulon seperti daerah Karang Ranjang, Cikeusik, Gunung Honje sampai Tanjung Ujung Kulon.

Aktifitas disiang hari lebih banyak digunakan untuk untuk bergerak mencari tempat-tempat kubangan atau sungai-sungai dangkal yang kemudian berkubang/ berendam, sehingga sering ditemui dikubangan-kubangan, rawa-rawa dataran rendah dan sungai-sungai seperti di daerah Niur-Ngewaan, Citeulang, Cikarang, Pamageran, Cigenter sampai Cihandeuleum.

——————————-

PENYEBARAN BADAK JAWA.

Badak jawa ini merupakan satwa langka yang jumlah dan penyebarannya sangat terbatas. Di Indonesia rhino ini hanya terdapat di bagian barat pulau Jawa, tepatnya di kawasan hutan Taman Nasional Ujung Kulon (untuk selanjutnya Taman Nasional disingkat menjadi TN). Kawasan hutan TN Ujung Kulon berada pada daerah administratif  Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten.

Di Indonesia, badak Jawa dahulu diperkirakan tersebar di Pulau Sumatera dan Jawa. Di Sumatera saat itu badak Jawa tersebar di Aceh sampai Lampung. Di Pulau Jawa, badak Jawa pernah tersebar luas diseluruh Jawa. Badak Jawa kini hanya terdapat di Ujung Kulon, Banten.

  • 1833 masih ditemukan di Wonosobo,
  • 1834 di Nusakambangan, 1866 di Telaga Warna,
  • 1867 di Gunung Slamet,
  • 1870 di Tangkuban Perahu,
  • 1880 di sekitar Gunung Gede Pangrango,
  • 1881 di Gunung Papandayan,
  • 1897 di Gunung Ceremai
  • 1912 masih dijumpai di sekitar daerah Kerawang.

Frank pada tahun 1934 telah menembak seekor badak Jawa jantan dari Karangnunggal di Tasikmalaya, sekarang specimennya disimpan di Museum Zoologi Bogor. Menurut catatan merupakan individu terakhir yang dijumpai di luar daerah Ujung Kulon.

Sedangkan penyebaran di luar negeri menurut catatan pernah ada di kawasan hutan Negara Vietnam, namun sekarang tidak pernah ditemukan lagi dan dinyatakan sudah punah. Dengan demikian Rhino Jawa ini dapat dikatakan sebagai satwa langka endemik Banten. Yang dimaksud dengan endemik ini berarti satwa asli dan hanya dapat ditemui disuatu daerah saja dalam hal ini di daerah Banten.

Pada tahun 1910 badak Jawa sebagai binatang liar secara resmi telah dilindungi Undang-Undang oleh Pemerintah Hindia Belanda, sehingga pada tahun 1921 berdasarkan rekomendasi dari The Netherlands Indies Society for Protection of Nature, Ujung Kulon oleh pemerintah dinyatakan sebagai Cagar Alam. Keadaan ini masih berlangsung terus sampai status Ujung Kulon diubah menjadi Suaka Margasatwa di bawah pengelolaan Jawatan Kehutanan dan Taman Nasional pada tahun 1982.

——————————-

PERILAKU BADAK JAWA.

Badak jawa sangat senang berendam dalam Lumpur, dimana dia dapat diam berdiri tegak didalam kubangan selama 4 (empat) sampai 6 (enam) jam.

Tujuan mandi dan berendam dalam lumpur ini adalah untuk mendinginkan suhu badan dan kulit serta mencegah parasit yang sering mengganggu kulitnya. Oleh karena itu, kubangan menjadi sangat penting bagi sang badak untuk berendam, berjemur, bersantai bahkan untuk tidur. Sehingga tidak heran bila sang badak ini akan bertempur habis-habisan dalam mempertahankan atau memperebutkan kubangannya dari satwa lain yang senang berkubang seperti banteng dan babi hutan.

Bila ini terjadi dan satwa lain tidak mau mundur, maka sang badak akan bertekad anda atau saya yang mati. Pertempuran yang terjadi akan berakhir dengan kematian disalah satu pihak.

Biasanya ukuran kubangan badak ini memiliki panjang berkisar antara 6 (enam) sampai 7 (tujuh) meter, lebar 3 (tiga) sampai 5 (lima) meter, kedalaman antara 0,5 (setengah) sampai 1 (satu) meter, dan ketebalan Lumpur antara 50 (lima puluh) sampai 75 (tujuh puluh lima) sentimeter yang tercampur air hujan/tawar.

Apabila kubangan sedang kering, sang rhino akan mencari sungai-sungai kecil yang hampir kering dan berlumpur (biasanya didekat muara sungai). Mengingat pentingnya kubangan bagi rhino jawa, maka tidak jarang didalam suatu kubangan ditemukan 5 (lima) atau 6 (enam) ekor badak berendam bersama. Namun setelah selesai berkubang, setiap rhino tersebut akan berpisah dan bergerak menuju lokasi tempat pengembaraannya masing-masing.

Badak Jawa dapat mengeluarkan suara yang keras dan terdengar pada jarak yang jauh, tetapi biasanya dia lebih memilih bergerak tanpa bersuara apabila berpindah tempat di hutan, Walaupun badak jawa bergerak sangat lambat, dalam keadaan tertentu terutama bila ada ancaman maka dia dapat bergerak cepat, memanjat gundukan tanah/kayu bahkan melompat.

Jenis badak ini jarang merasa terganggu dengan adanya jenis satwa lain ditempat mencari makanannya atau bila berpapasan dijalan. Perseteruan sengit terjadi hanya dalam mempertahankan atau memperebutkan kubangan sebagaimana yang telah diceritakan sebelumnya.

Badak ini memiliki mata yang agak rabun, sehingga bila penciuman atau pendengarannya mendeteksi adanya ancaman atau bahaya maka dia akan memilih untuk segera lari menghindar kedalam hutan atau berdiri diam tanpa bergerak sama sekali tetapi siaga untuk menyerang. Sikap agresif justru muncul apabila rhino tidak sempat menghindari pertemuan dengan manusia. Bagi Badak jawa, manusia merupakan ancaman utama, mungkin karena manusia sering memburu dan membunuh badak.

——————————-

MASA PERKAWINAN BADAK JAWA

Badak jawa memiliki usia yang cukup panjang, yaitu mencapai usia 35 (tiga puluh lima) tahunan atau lebih. Rhino jantan akan dewasa kelamin pada usia 6 (enam) tahun dan rhino betina dewasa kelamin pada usia 3,5 (tiga setengah) tahun.

Sebagaimana jenis badak pada umumnya, rhino jawa mempunyai perilaku unik dalam menarik perhatian pasangan pada saat bercumbu dan melakukan perkawinan. Cara menarik pasangan dilakukan dengan saling adu kekuatan dan berkelahi. Dimulai dengan suara ancaman yang kemudian dilanjutkan dengan bentrok adu kekuatan, biasanya dimulai oleh Rhino betina. Sehingga tidak mengherankan, adanya luka-luka pada Rhino Jawa. Namun demikian, tidak pernah dijumpai adanya perkelahian antara sesama jantan untuk memperebutkan betina.

Masa-masa kehamilan Rhino Jawa berkisar antara 16 (enam belas) sampai dengan 19 (sembilan belas) bulan. Sejak kelahirannya, anak Rhino tersebut akan terus tinggal dan hidup bersama induknya hingga berusia 6 (enam) tahun. Induk Rhino jarang dapat bereproduksi kembali sebelum sang anaknya mencapai usia 3 (tiga) tahun. Oleh karena itu rhino jantan biasanya baru bergabung menjadi kelompok keluarga rhino yang terdiri jantan, betina dan anak pada saat anak rhino telah mencapai usia minimal 3 (tiga) tahun.

————— kembali kehalaman pertama —————

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

2 Balasan ke Mengenal Fauna Langka – BADAK JAWA

  1. Mirza Sharz berkata:

    Artikel yang bagus dan seharusnya dimuat di blog saya Ekowisata Ujungkulon, tapi karena sudah keduluan.. ya udah saya mau bikin test pengetahuan sama pembaca blog ini.
    Pertanyaannya begini: “Hewan apa yang punya kekerabatan paling dekat dengan badak? Apakah kuda nil, kuda, tapir atau babi?” Ayo jawab.. ingat lho ini bukan tebak-tebakan, jadi jawabannya harus logis dan ilmiah

  2. Waduh.. koq gak ada yang jawab sih? Gak ada yang tahu ya? Ya udah, kalo gitu saya kasih tahu jawabannya adalah bukan kuda nil, bukan tapir apalagi babi melinkan “KUDA.”
    Kenapa? Karena secara genetis badak dan kuda berasal dari satu Ordo yaitu Perissodactyla

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s