Potensi Pulau Tinjil, Pandeglang-Banten


MENGENAL POTENSI PULAU TINJIL PANDEGLANG – BANTEN

Pernahkan menikmati keindahan pulau dengan pesona pantai yang tak terlupakan, tidak ada salahnya menikmati keindahan sebuah pulau yang terletak di Samudra Hindia sebelah selatan Pulau Jawa, pulau tersebut adalah Pulau Tinjil yang merupakan pulau kecil dengan luas sekitar 600 hektar (panjang 6Km dan lebar 1Km) yang secara administrtif termasuk Kecamatan Cikeusik Kabupaten  Pandeglang, Propinsi Banten. (sumber data).

Untuk mencapai lokasi tersebut dapat menggunakan kapal nelayan yang dapat disewa dari penduduk di Binuangeun dengan perjalanan ditempuh sekitar 16Km atau selama 2 jam.

Selain sebagai tempat wisata memacing, sejak tahun 1992 Pulau Tinjil digunakan sebagai Pusat Studi Satwa Primata (PSP) oleh Institut Pertanian Bogor (IPB), mulai tahun tersebut secara resmi IPB mengelola Pulau Tinjil yang selain diperuntukkan bagi penangkaran, dimanfaatkan pula untuk sarana kegiatan pendidikan, penelitian dan pelatihan bagi mahasiswa dan Staf IPB maupun luar IPB yang memiliki keterkaitan dalam bidang primata dan segala aspek yang berhubungan dengan satwa primata.

Sampai saat ini Pulau Tinjil masih merupakan pulau yang tidak dihuni oleh penduduk secara permanen, hanya terdapat sekitar 10 orang pengelola satwa primata dan 18 orang nelayan binaan yang terdapat di tiga lokasi pinggir pantai. Sepanjang pantai merupakan pasir putih dengan beberapa vegetasi tumbuhan disekelilingnya, bahkan masih banyak ditemukan koral disekitarnya, warna airnya pun sangat jernih karena belum banyak terganggu oleh kegiatan manusia.

Selain sebagai tempat peangkaran satwa primata khususnya monyet berekor panjang, banyak ditemukan juga biawak yang melintasi baik di hutan, sepanjang pantai maupun di sekitar pondok.

Untuk mengetahui bagaimana Penangkaran Monyet Ekor Panjang ini dilakukan, berikut ini adalah pengalaman seorang pengunjung yang ditulis dalam sebuah blog dengan alamat santalum99.blogspot.com, ditulis oleh Doel Al-Bhagasasi dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tulisan yang dikemas ringan yang  merupakan rangkuman kisah perjalanannya saat mengikuti kegiatan praktek Diklat Tingkah Laku dan Ekologi Primata di Pulau Tinjil, ini menarik untuk kita simak.  Tulisannya sudah pernah di publikasikan di Majalah Kabesak Balai Diklat Kehutanan Kupang.

————————————

Tinjil, Pulau yang eksotis

Setelah melalui perjalanan darat yang sangat melelahkan (sekitar 10 jam dari Kadipaten ke Muara Binuangeun), dilanjutkan dengan perjalanan laut pada keesokan harinya selama kurang lebih 2 jam menuju Pulau Tinjil. Kapal boat ukuran sedang mengantarkan kami menyeberangi laut lepas yang berombak cukup besar (ini belum seberapa besar, kata orang yang sudah sering ke sana). Menginjakkan kaki di Pulau Tinjil untuk pertama kalinya adalah pengalaman luar biasa yang sulit dilupakan.

Perasaan senang menyelimuti karena akhirnya bisa tiba dengan selamat walaupun sedikit mabuk laut di perjalanan. Selain itu hamparan pasir putih serta rindangnya daun pohon waru dan pohon ketapang langsung memikat hati kami. Benar-benar indah pulau ini!. Perairannya jernih serta vegetasinya tumbuh alami tanpa ada gangguan dari manusia. Seperti surga kecil yang Tuhan hadirkan di dunia. Malam itu kami tidur dengan pulas, karena lelah selama perjalanan dan harus menghimpun energi untuk memulai kegiatan praktek pada keesokan harinya.

————————————

Oo… Ternyata Monyet Gak Sama dengan Kera

Sebelum mengikuti diklat ini, mungkin banyak dari kami yang tidak tahu perbedaan antara monyet dan kera. Pikir kami monyet ya sama dengan kera, dan kera ya sama dengan monyet. Tapi ternyata monyet dan kera itu beda.

Monyet biasanya ditujukan bagi primata yang memiliki tubuh kecil sampai sedang, memiliki ekor dan berjalan dengan empat kaki. Sedangkan kera adalah sebutan bagi primata yang memiliki tubuh berukuran sedang sampai besar, tidak memiliki ekor, mampu berjalan dengan 2 kakinya, sedangkan tangannya yang lebih panjang dari kakinya biasanya dipakai untuk mengayun dari dahan satu ke dahan lainnya. Contoh kera adalah orang utan, simpanse, owa, siamang dan gorilla. Sedangkan contoh monyet adalah beruk, monyet yaki, lutung dan monyet ekor panjang.

Pulau Tinjil merupakan salah satu tempat penangkaran primata jenis monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Setelah mengetahui perbedaan antara kera dan monyet, kami bersepakat menyebut monyet ekor panjang dengan kata depan monyet bukan kera ekor panjang seperti yang sering disebut orang. Jika sekali saja ada yang salah menyebutkan nama dengan kera ekor panjang, bersiap-siap sajalah menerima kritikan pedas dari peserta lainnya, tidak pandang bulu, sekalipun salah pengucapan itu dilakukan oleh Widyaiswara. Kejaaam…..!!!! (gak papa demi kebaikan bersama).

————————————

Monyet Juga Punya Aturan Gitu Loh !!

Selama 9 hari di Pulau Tinjil, kami banyak mempelajari kera eh monyet ekor panjang, seperti bagaimana cara mengidentifikasinya, cara menduga populasinya, mempelajari habitatnya, perilakunya, cara pengelolaannya dan sebagainya. Yang paling menarik adalah mempelajari perilakunya, sesuai dengan judul diklat. Monyet ekor panjang merupakan makhluk sosial.

Dalam hidupnya mereka membentuk kelompok yang terdiri dari sepuluh sampai dengan seratus individu. Dalam kelompok mereka mempunyai aturan main sendiri. Jantan dewasa yang paling kuat (dominan) biasanya akan berperan sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin, mempunyai hak istimewa seperti berhak mengawini betina mana saja dan urusan makan harus yang paling duluan.

Betina, anak-anak (infant/bayi dan juvenile/remaja) atau jantan yang tidak dominan silahkan menyingkir dulu, sampai sang pemimpin makan dengan puas. Wah enak banget!!!. Siapa yang mau jadi pemimpin mereka??? Kebiasaan unik lainnya adalah mereka senang mengrooming (mencari kutu) satu sama lain.

————————————

Ada apa dengan Manci ?

Hal yang paling sulit namun ternyata bisa kami lakukan adalah mengidentifikasi individu. Nah lho? Bukannya monyet ekor panjang kelihatan sama semua? Sekilas ya, mereka memiliki morfologi yang sama. Berukuran tubuh hampir sama, berekor panjang, berambut (bukan berbulu ya) sama keabu-abuan. Tapi ternyata kalau kita teliti, ada ciri atau tanda khusus yang dimiliki oleh masing-masing individu.

Contohnya si Abah, sebutan bagi pejantan dominan yang memimpin kelompok di sekitar Base Camp kami. Dia memiliki ciri berbadan besar, kekar dan paling suka kawin (Idiih…). Atau si Nini, betina yang berumur cukup tua (makanya disebut nini atau nenek), memiliki ciri terdapat benjolan seperti kutil di bagian atas bibirnya. Ada juga si tampan yang memiliki rambut panjang menjuntai berwarna keputihan pada pipinya (seperti berewok). Memang jika dibandingkan dengan jantan lainnya, dia terlihat yang paling tampan, aduh plizz deeh!. Yang paling terkenal adalah Manci, monyet betina yang paling cuek dengan kehadiran manusia.

Dia tidak peduli ditinggalkan oleh kelompoknya jika sedang asyik makan. Maklum saja dia sedang hamil (atau bunting), jadi perlu gizi ekstra buat si jabang bayi, ehmm. Perilakunya yang kadang bikin gemas menjadikan manci sebagai idola baru bagi kami di Pulau Tinjil, selain Mas Rendy guru kami dari amerika (ahli primata gitu deeh).

————————————

Danger : Adult Only

Yang namanya primata (kera atau monyet), adalah satwa yang lucu. Banyak orang yang senang memeliharanya, baik sebagai sarana menyalurkan hobi dan gengsi, maupun fungsi lainnya seperti sebagai hewan penghias kandang di taman, dijadikan seperti anak asuh, dimanfaatkan tenaganya (seperti beruk yang dilatih untuk memetik kelapa) dan sebagainya. Tapi yang harus diperhatikan adalah kesehatan satwa tersebut.

Jangan sampai primata yang kita pelihara mengidap penyakit berbahaya, karena primata adalah makhluk yang rentan tertular penyakit dan juga mudah menularkan penyakit seperti rabies, TBC, asma atau penyakit berbahaya seperti ebola dan HIV.

Monyet ekor panjang yang ditangkarkan di Tinjil, dimanfaatkan untuk penelitian biomedical. Yaitu sebagai “kelinci percobaan” bagi perkembangan ilmu pengobatan atau kedokteran. Kesehatan satwa sangat diperhatikan sekali di sini, karena monyet ekor panjang yang dibutuhkan adalah yang steril atau bebas penyakit. Itu sebabnya semua orang yang akan menginjakkan kakinya, baik jangka lama ataupun hanya sebentar, harus dipindai (di-rontgen) terlebih dahulu untuk memastikan tidak mengidap penyakit menular seperti TBC. Setiap tahun petugas maupun monyet yang hidup di sana juga harus discan.

Penyakit yang ditularkan dapat melalui kontak langsung (gigitan), maupun tidak langsung (udara, lalat, feses). Oleh karena itu hati-hatilah, karena satwa ini cukup agresif terutama jika kelompoknya merasa terganggu. Jangan sekali-kali mendekati atau didekati, apalagi “menggoda” anaknya, karena si induk dan seluruh anggota kelompok yang lain akan dengan marah menyerang anda. Mereka tidak mau tahu apapun alasannya (yeee…. gak demokratis ya). Kalau gitu silahkan “menggoda” yang sudah dewasa saja ya!

————————————

Kegiatan Ekstra : Berburu Kepiting Darat Yuuk..!!!!

Jika dari pagi sampai sore hari kami sibuk mengamati monyet dan dilanjutkan materi kelas setelah makan malam, maka kami punya kegiatan ekstra yang sangat menyenangkan pada malam menjelang tidur. Berburu kepiting darat. Dengan bermodalkan lampu senter dan karung saja perburuan bisa dilakukan. Tekniknya sangat mudah, lampu senter diarahkan ke tanah atau ke sela-sela akar pohon dan serasah. Jika terlihat ada kepiting langsung ditangkap dan dimasukkan ke karung.

Tapi hati-hati, kepiting di Tinjil berukuran sangat besar, sekali dicapit sakitnya bisa terasa sampai tiga hari. Hasil buruan kemudian dimasak dengan direbus atau dibumbu gulai. Rasanya sangat enak. Bagi penderita darah tinggi atau pernah punya riwayat stroke dilarang memakan hidangan alam ini. Kalo kumat repot gotongnya bro, di Tinjil cuma ada base camp, tidak ada rumah penduduk apalagi rumah sakit. Kalo darurat ya harus menyeberang ke daratan, 2 jam perjalanan plus pakai nunggu lama lagi. Kapalnya harus dipesan dulu. Weleh-weleh….

————————————

Hikmah di Balik Perjalan Ini

Selain menambah ilmu, kawan dan koneksi, ada hikmah dari perjalanan ini. Yang pertama adalah batapa Tuhan Maha Indah. Jika Pulau Tinjil dan seisinya Dia ciptakan dengan sangat indah, pastilah penciptanya jauh lebih indah. Hamparan pasir putih, terumbu karang, ubur-ubur dan moluska yang memendarkan cahaya hijau fosfor pada malam hari, deretan pandan yang berbaris rapi, hempasan ombak yang menari-nari cukuplah mengajak hati untuk bertasbih kepada-Nya.

Hikmah kedua adalah betapa Tuhan Maha Adil. Pulu tinjil yang hanya 600 ha, terisolasi dari daratan yang cukup jauh, tapi masih ada kehidupan di sana. Tokek, biawak, kepiting, beberapa jenis burung dan ular dapat bertahan hidup. Pastilah ada yang menjamin rezeki bagi mereka sehingga mereka bisa tetap dapat makan untuk menyambung hidup. Hikmah ketiga adalah terjalinnya tali silaturahmi dengan petugas yang berjaga di sana. Awalnya tidak kenal, kemudian kenal lalu akrab. Tampak mereka adalah para pejuang yang mewarnai kehidupan ini. Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga pikiran dan jauh dari keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga dengan menjadi penjaga pulau.

Keluhan, unek-unek dan kepenatan hidup mereka luangkan kepada kami, tamu yang beberapa hari saja singgah. Tapi kebahagiaan dan keikhlasan tampak dari wajah mereka. Masih banyak hikmah lain yang tidak dapat penulis gambarkan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya. Terima kasih buat semua pihak yang telah mau berbagi kebahagiaan selama di Tinjil.***

————– kembali kehalaman pertama ————–

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

2 Balasan ke Potensi Pulau Tinjil, Pandeglang-Banten

  1. Arman Dolan berkata:

    Destinasi menarik nih buat dikunjungi

  2. Doyan Jalan berkata:

    Salam.. info yang menarik. Ada cp yang bisa dihibungi nggak gan untuk mencapai lokasi sana🙂.. trims salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s