Apa komentar mereka tentang TN. Ujung Kulon


Apa komentar mereka tentang Taman Nasional Ujung Kulon…??

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, di Blog ini saya pernah memuat tentang Pesona Taman Nasional Ujung Kulon (click disini bagi yg belum baca). Didorong rasa penasaran saya mulai mencari bahan, untuk mengetahui bagaimana reaksi dan pengalaman pengunjung / wisatawan yang pernah berkunjung ketempat ini. Dengan bermodal semangat plus secangkir kopi, sayapun mulai menyapa kompi kesayanganku untuk mulai blog walking…….

Pencarian dimulai dari sebuah blog yang ditulis oleh seorang Pelajar dari Jakarta Utara (Ester, namanya), ia menuliskan pengalamannya di blog : dustbin-philosophy.blogspot.com dengan tajuk “Ada Surga di Ujung Kulon”.

Kemudian searching saya lanjutkan untuk mencari pengalaman pengunjung lainnya, akhirnya pencarian saya hentikan di blog seorang pemancing bernama Michael Risdianto (michaelrisdianto.blogspot.com), ia menuliskan pengalaman memancingnya di Kawasan Ujung Kulon dengan tajuk “Trip Ujung Kulon,  23-25 April 2010: Kapal Yang Tak Bergoyang, dan Umpan Yang Tak Dimakan”.

Gaya penulisan yang dikemas ringan dan cukup menghibur membuat saya tertarik untuk membaca catatan-catatan ini sampai ending….

Sebagai penghargaan dan ucapan terima kasih kami, untuk mereka yang telah bersusah payah mencapai tempat eksotis tersebut, berikut ini saya sajikan catatan2 mereka tentang kesan dan pengalaman mereka yang dimuat di blognya masing-masing….

——————————-

ADA SURGA DI UJUNG KULON

Created by : Ester (dustbin-philosophy.blogspot.com)

dustbin-philosophy.blogspot.com

“Let’s go to UK”, demikian bunyi sms dari seorang teman. Yang dimaksud bukanlah pergi ke United Kingdom di Eropa, melainkan ke Ujung Kulon di Jawa Barat yang terkenal dengan badak bercula satunya.  Berangkat dari Jakarta dengan mobil selama sekitar 8 jam, dan dilanjutkan dengan 3 jam melintasi laut dengan kapal, tentu terdengar sangat melelahkan. Tapi semua itu terbayar setimpal dengan pemandangan alam yang indah di Ujung Kulon.

Ujung Kulon dikenal sebagai Taman Nasional yang terdiri dari aneka tumbuhan dan satwa. Berbagai objek wisata alam yang menarik, seperti hutan, taman laut dan pantai pasir putih sulit ditemukan di tempat lain. Snorkling di Pulau Peucang. Saat kapal merapat ke dermaga di Pulau Peucang, warna laut di garis pantai tampak hijau tosca. Air laut begitu bening, sehingga gerombolan school fish yang berenang di laut pun terlihat dari kapal.

Sesekali rombongan school fish berlompatan ke atas permukaan laut, gemericik air terdengar menyenangkan. Siapa yang mampu menolak untuk snorkling saat melihat keindahan seperti ini? School fish datang menyambut saat snorkling dimulai. Berenang menyusuri garis pantai, tidak lama kemudian, tampaklah terumbu karang yang indah dengan aneka warna. Ikan-ikan kecil warna-warni berenang di sela-sela karang.  Sengaja saya mendekat ke anemon laut, untuk mencari ikan badut. Tampaklah seekor ikan badut yang ternyata ukurannya cukup besar, tidak seperti ikan badut yang pernah saya lihat di aquarium air laut.

Dengan menaburkan ramah-remah roti, maka semakin banyak ikan kecil yang terpancing keluar. Berenang di antara aneka ikan dan terumbu karang yang indah, terasa seperti berada di planet lain. Menyenangkan, sekaligus menenangkan.

Ujungnya Pulau Jawa

Dari Pulau Peucang, kami bertolak menuju ke Cibom yang ditempuh dengan kapal selama 2 jam. Tiba di Cibom, kami berjalan menelusuri hutan lebat selama lebih dari 30 menit. Jalan yang dilalui cukup datar, namun tanah agak berlumpur dengan sekali-kali harus melewati batang pohon besar yang tumbang menghadang jalan.

Setelah itu, tibalah di Tanjung Layar, yaitu tebing batu tinggi dan besar dengan hempasan ombak yang pecah di batu. Beberapa batu besar dapat dipanjati, untuk mendapatkan sisi yang lebih tepat menikmati pemandangan indah ini. Jika Anda adalah pecinta fotografi, mungkin saat yang tepat mengunjungi tempat ini adalah saat matahari terbit. Cahaya dari timur akan jatuh menyinari tebing tinggi yang ada di sisi kanan.

Di Tanjung Layar terdapat mercusuar peninggalan Belanda, dan di titik inilah ujung paling barat Pulau Jawa. Jangan membayangkan mercusuar dari bangunan tembok, mercusuar yang ada hanya berupa menara dari kerangka yang tidak dapat dinaiki oleh pengunjung.

Mengintip Banteng di Cidaon.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Cidaon. Di Cidaon, kami melakukan trekking singkat sekitar 20 menit untuk mencapai padang savana. Dari jauh, tampak beberapa ekor sapi hutan, banteng dan merak. Sayangnya binatang tersebut tidak dapat didekati karena dikhawatirkan mengganggu kenyamanan mereka. Kami pun mengambil foto dari jauh dan tetap menjaga ketenangan. Harapan untuk melihat badak pun sirna, karena menurut guide-nya memang tidak mudah untuk menemukannya.

Sunset di Cidaon seharusnya merupakan moment bagus untuk foto, namun kondisi langit yang tertutup awan hitam mengharuskan kami segera bertolak pergi kembali ke Pulau Peucang. Saat kapal bertolak dari dermaga, di langit tampak beberapa ekor kelelawar yang terbang menuju ke Cidaon. Saya membayangkan kehidupan malam di hutan itu tentulah lebih liar dan penuh petualangan.

Pulau Kecil Mungil Berpasir Putih

Di hari berikutnya, kami mengunjungi spot lain untuk snorkling yaitu Pulau Badul, yang jika air laut sedang pasang, maka pulau tersebut akan tenggelam di bawah permukaan laut. Perjalanan dengan kapal sekitar 2-3 jam dari Pulau Peucang. Angin kencang bertiup sehingga ombak tinggi mengguncang kapal dengan cukup hebat. Beberapa rekan seperjalanan pun sempat merasa mabok laut. Namun, tekad kami untuk snorkling di Pulau Badul tak tergoyahkan, maka perjalanan tetap dilanjutkan.

Dari jauh, Pulau Badul pun sudah tampak bersinar karena pasirnya yang putih dengan pohon-pohon berwarna hijau terang. Air laut berwarna biru cerah, mengundang kami untuk segera menceburkan diri, menikmati panorama alam bawah air. Lebih mudah menemukan terumbu karang di Pulau Peucang daripada di Pulau Badul, karena laut di Pulau Badul dasarnya lebih dalam dan ombaknya lebih besar. Ikan-ikannya pun tampak lebih pemalu dan enggan keluar dari karang.

Saat mendongakkan kepala ke atas, dengan pemandangan dominasi biru dari langit dan laut, rasanya sungguh menenangkan. Surgakah ini? Dan siapakah yang tidak mengucap syukur saat berada di tempat seperti ini?

Ada apa lagi di Pulau Peucang?

Pulau Peucang dikelola oleh Departemen Kehutanan, sehingga semua satwa di pulau ini dilindungi negara. Lokasi penginapan dekat dengan dermaga dan menyatu dengan hutan di baliknya. Tempat penginapan berupa cottage besar berisi beberapa kamar. Perhitungan harga berdasarkan jumlah kamar yang digunakan.

Kamar tanpa AC namun cukup nyaman dan bersih, berisi 2 single bed dengan kamar mandi di dalam. Tampak beberapa ekor monyet berkeliaran sekitar cottage. Ternyata mereka cukup agresif untuk merebut makanan dari para pengunjung, dan barang di dalam plastik.

Selain monyet, tampak juga beberapa ekor babi liar yang berkeliaran di halaman tengah. Pada saat malam hari, muncul rusa-rusa memenuhi halaman, santai menikmati malam. Mereka tampak bersahabat, namun malu saat didekati.

Di balik penginapan terdapat hutan lebat dengan pohon-pohon yang sudah tua. Jika ditelusuri dengan trekking, maka dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, akan mencapai ujung lain Pulau Peucang, yaitu Karang Copong.

Suasana pagi di Peucang sangat indah dan tenang. Anda dapat melakukan trekking ke hutan di balik penginapan, atau snorkling di pantai depan yang penuh dengan terumbu karang indah. Bagi yang hobby memancing, dermaga di pantai merupakan spot tepat, karena ikan-ikan di sana seolah-olah memang menunggu untuk dipancing.

Bahkan, saat kami baru tiba di Pulau Peucang, kami disambut oleh seekor ikan kwe yang cukup besar. Ikan tersebut hasil pancing seorang pengunjung, dan digantung di cabang pohon. Sudah terbayang kan nikmatnya kwe bakar yang masih segar?

Cara Mencapai Pulau Peucang

Lokasi Ujung Kulon ada di sisi paling barat Pulau Jawa. Ditempuh dari Jakarta melewati Anyer, Carita, dan Labuan; kemudian melewati desa Sumur. Dari Sumur diteruskan ke arah selatan menuju Desa Taman Jaya, namun kondisi jalan cukup rusak. Waktu tempuh dengan mobil sekitar 8 jam.

Dari Desa Taman Jaya, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kapal. Waktu tempuh untuk mencapai Pulau Peucang sekitar 3 jam, tergantung kondisi angin.

Saat ini ada banyak jasa organizer yang menyelenggarakan trip ke Ujung Kulon, dan biasanya dalam satu perjalanan, jumlah peserta maksimal 25 orang. Beberapa organizer penyelenggara seperti Jejak Kaki dan Next Level Adventure.

Tips

Ujung Kulon merupakan wilayah yang memiliki banyak hutan yang menjadi tempat berkembang-biaknya nyamuk malaria. Pencegahan dapat dilakukan dengan konsumsi obat malaria 1 minggu sebelum berangkat, kemudian 1 hari sebelum berangkat, dan 1 minggu sesudah pulang. Obat malaria yang biasanya dikonsumsi seperti Kina, Resochin, Quinin, dan Kloroquin.

Penggunaan krim anti-nyamuk (repellent) juga sangat dianjurkan untuk menghindari gigitan nyamuk. Selain itu, oleskan juga krim sunblock dengan SPF tinggi untuk menghindari sunburn karena banyak aktivitas di bawah terik matahari.

Perjalanan ke Pulau Peucang, Ujung Kulon merupakan rangkaian perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Sebelum berangkat, sebaiknya peserta menjaga kondisi fisik agar tetap fit. Perjalanan melintasi laut dengan kapal juga cukup melelahkan, dan sebaiknya mengkonsumsi obat anti mabok sebelumnya.

Bagi peserta yang akan melakukan kegiatan snorkling, sebaiknya membawa sendiri peralatannya. Tidak ada penyewaan peralatan snorkling di Pulau Peucang, tetapi ada di desa Taman Jaya.

Satu hal yang jangan terlewatkan, menikmati taburan bintang di langit sambil tiduran di dermaga tepi pantai. Menatap langit gelap luas terbentang bertaburkan bintang, tanpa terhalang kabel/tiang listrik, tanpa gedung-gedung tinggi; sambil merasakan hembusan angin laut ditemani deburan ombak yang lembut, menutup malam dengan sempurna.

At The End

Selama perjalanan ke Ujung Kulon, berulangkali saya ter-wow oleh pemandangan alam yang indah dan menikmati suasana akrab yang tercipta antara sesama peserta. Keseimbangan dalam kehidupan tak jauh dari kemampuan kita menjaga keseimbangan hubungan kita dengan alam.

Tak terasa kami menjadi sedikit disadarkan untuk menjaga alam ini, setidaknya dimulai dengan hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Lets start to save the world, every little thing we do does count.

————————–

Trip Ujung Kulon,  23-25 April 2010:

Kapal Yang Tak Bergoyang, dan Umpan Yang Tak Dimakan

Created by : Michael Risdianto (michaelrisdianto.blogspot.com)

michaelrisdianto.blogspot.com

Pagi di Desa Sumur, Ujung Kulon, Banten, bagi kami para pemancing adalah pagi dengan mata berat dan terpicing berusaha menatap sekitar yang mulai terang. Maklum, kebanyakan pemancing, terutama mereka yang berasal dari Jakarta biasanya selalu tiba di Desa Sumur tepat menjelang Subuh, usai berkendara selama lima jam dari Jakarta dalam jalanan yang sebagain besar dipeluk gulita dan seperempat jalan terakhir agak berlubang. Padahal ini adalah destinasi wisata andalan di Banten lho, tetapi jalannya masih juga berlubang-lubang?

Tetapi memang, dibandingkan dengan kondisi jalan pada akhir tahun lalu (2009), jalan dari Pandeglang menuju Desa Sumur kini lebih baik karena belum lama ini baru saja diperbaiki. Tetapi ya itu, agak aneh saja, sudah muncul lubang lagi. Biasalah, proyek-proyek jalan seperti ini memang dikerjakan bukan untuk selesai dan bisa digunakan selamanya, melainkan dikerjakan untuk bisa segera ‘dikerjakan’ lagi di lain waktu. Hehe…

Dengan mata terpicing tersebut, pemancing biasanya segera disibukkan dengan urusan loading barang ke kapal-kapal mancing menggunakan perahu feeder kecil, karena kapal mancing besar tidak bisa merapat ke tepian karena dangkal. Kadang sebelum loading ini sebagian di antara mereka menunaikan Shalat Subuh dahulu di sebuah mushola di ‘pusat’ Desa Sumur.

Mereka yang tidak sholat, biasanya mengambil keuntungan dengan tetap hang out di teras rumah Haji Koni yang selalu menyambut tamu-tamu mancingnya dengan teh/kopi hangat yang ditemani penganan kecil yang baru saja digoreng seperti pisang goreng. Sudah nggak ibadah, curang lagi menyerobot hidangan duluan. Hehehe… Haji Koni adalah salah satu juragan kapal mancing di desa ini yang selalu menyambut para pemancing pengguna kapalnya dengan hangat, sehangat mentari pagi yang siap menyengat’ Desa Sumur yang baru saja terjaga dari tidurnya.

Berbicara loading barang ke kapal mancing, kini ada yang berubah dengan tepian pantai di Sumur. Jadi perahu feeder kini tak lagi bisa seenaknya nangkring di daratan, kecuali di sisi yang agak jauh di barat Desa Sumur. Karena jika dulu tepiannya adalah pasir pantai alami begitu saja, kini telah ada yang berubah, yakni tatanan batu-batu besar yang disusun rapi memanjang di tepian Desa Sumur, meski tidak semua tepian ditaruhin batu-batu besar ini. Proyek Dinas Pekerjaan Umum kata seorang warga. Dalam rangka kunjungan Gubernur Banten ke desa ini. Konon, sang gubernur akhirnya tak jadi meninjau salah satu desa transit wisata (sekaligus pendaratan ikan) di Ujung Kulon ini.

Pagi itu Desa Sumur sangat ramai oleh wisatawan yang akan mengunjungi perairan Ujung Kulon. Ada kelompok fotografer, ada kelompok pemancing dari sebuah forum mancing, dan ada kami yang sedang iseng mancing daripada bengong di Jakarta. Jujur saja kalau bagi saya pribadi, sekarang ini, trip ke Ujung Kulon adalah trip yang lebih banyak untuk bersantai saja di lautan dibandingkan trip yang mengharapkan sebuah hasil yang luar biasa. Karena kalau hendak hasil yang luar biasa, lebih baik ke NTT atau Papua saja, sudah hampir bisa dipastikan hasilnya.

Kalau ke Ujung Kulon, meski terkadang bisa mendapatkan hasil lumayan, lebih sering trip berakhir dengan kegagalan atau kalaupun mendapatkan ikan target, ukuran dan jumlahnya tidak seberapa. Jadi memang saran saya, kalau trip mancing ke Ujung Kulon, terutama untuk para sportfisherman nih (pemancing teknik sport semisal popping-trolling-casting), baiknya tidak usah terlalu berharap banyak pada hasil mancing.

Karena perairan Ujung Kulon, meski itu sebuah taman nasional, ikan-ikan game fish di sana pun telah sangat jauuuuh berkurang populasinya! Lebih baik realistis saja. Anggap saja trip murni menikmati alam jadi tidak terlalu kecewa jika nantinya akan ‘kosong’. Atau anggap saja latihan melempar umpan atau latihan rigging dan latihan simpul. Menarik bukan?!

Dan begitu jugalah yang bersemayam hati saya dan kawan-kawan. Bukan dalam rangka “agar tidak malu”, tetapi memang lebih baik begitu, realistis. Saat trip kemanapun di perairan seputar Pulau Jawa ini, baiknya biasa saja. Karena fishing ground manapun di sekitar Pulau Jawa ini telah merosot jauh kualitasnya! Daripada stress nantinya jika tak dapat hasil untuk dibawa pulang (atau tidak dapat foto untuk dipamerkan-karena ikan dirilis kembali misalnya), lebih baik kita bersikap realistis saja.

Akan tetapi tetap, kami mengarungi perairan Ujung Kulon dalam senyum dan canda ceria layaknya pasti meraih ‘kemenangan’ dalam trip ini. Harus bagaimana lagi, kita bisa berlibur di alam yang indah saja sudah harus kita syukuri bukan?! Jadi usah dipikirkan ikannya, pikirkan saja dan berterimakasihlah pada Tuhan karena memberi kita kesempatan mengarungi lautan biru, beristirahat dalam keindahan dan ketenangan Pulau Peucang, memberi kita makanan lezat dan hangat buatan para ABK kapal, ataupun karena kita bisa menghirup udara segar yang jelas jauh berkualitas dibandingkan udara Jakarta! Bagi saya, saat trip memancing, tetapi kita melulu memikirkan ikan, adalah kesalahan yang sangat fatal!

Hari pertama, trip kami gagal. Waktu kebanyakan habis di perjalanan, dan karena kebanyakan tergoda spot ecek-ecek, dan juga karena terlalu memanjakan diri di Pulau Peucang. Total sepanjang hari hanya ada 3 strike without fish landed! Satu line break dan dua lainnya tidak sempat hooking. Sudah biasa begini di Ujung Kulon, jadi di hari pertama ini kami menghibur diri dengan sesegera mungkin tidur malam sesaat setelah ABK kapal menghidangkan kepada kami makan malam pada pukul 19.00 WIB.

Padahal kalau pada hari ini ada beberapa ikan yang naik, ceritanya pasti akan berbeda. Setidaknya kami akan kuat bergadang di buritan KM Samudera hingga pukul 23.00 WIB sambil menenggak kopi ataupun teh hangat. Hari itu, rombongan pemancing di kapal lainnya dari sebuah forum mancing juga sama ‘beruntungnya’ dengan kami. Boncos maricos!

Sepanjang hari pertama lautan sangat teduh. Ombak sangat kecil, bahkan hampir menyerupai hamparan permadani saking tenangnya. Hanya di tanjungan seperti Tj. Layar, Kr. Copong, Batu Asin, Kr Jajar, dan spot-spot sisi selatan Jawa saja (Syang Hyang Sirah dan Kr. Kereta) yang agak berombak. Itupun tidak kuat dan kalau bagi saya kondisi laut sebenarnya sangat tenang. Namun seorang kawan yang baru pertama ke laut sempat mabok di Kr. Kereta!

Tenangnya perairan Ujung Kulon ini meninggalkan tanya di benak saya karena situs cuaca milik pemerintah kita menggambarkan di predisksi cuacanya bahwa perairan di Ujung Kulon pada hari-hari ini berombak antara 1-1.25 meter dengan kecepatan angin hingga 10 knot dengan arah datang angin dari tenggara! Tetapi nyatanya di lapangan seperti ‘kaca’ begini lautnya?! Meleset lagi ya prediksinya?! Walaaaah!

Hari kedua kami berangkat melaut lebih pagi lagi, jam 05.00 WIB. Pembayaran penginapan di Pulau Peucang telah kami selesaikan malam harinya sehingga hari ini kami langsung ngacir ke laut. Ini adalah kesempatan terakhir untuk menikmati lautan Ujung Kulon. Hari kedua di sini biasanya lebih pendek karena kita harus segera kembali ke Desa Sumur setidaknya pada pukul 14.00 WIB, ini jika kita hanya mengambil 2 days and 1 night trip lho ya. Namun usai mengubek-ubek Ujung Kulon dengan teknik popping (di sini kami memang hanya mancing popping) hasil tetap seperti kemarin, malah lebih ‘beruntung’ lagi karena hari ini benar-benar kosong song!

Tapi tak apalah, kami pernah sukses besar di sini, dan gagal seperti ini juga tidak satu-dua kali kami alami. Jadi pada pukul 17.00 WIB kami telah meluncur kembali ke Jakarta karena keluarga- rumah-dan kantor telah menunggu. Dan hati kami tetap ceria karena telah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati alam. Masih ingat sebuah pepatah mancing klasik? The worst day fishing is better than the day of work!!


————– kembali kehalaman pertama————–

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

3 Balasan ke Apa komentar mereka tentang TN. Ujung Kulon

  1. Dedhy Kasamuddin berkata:

    Assalamu ‘alaikum mas.

    Salam kenal yah, saya abis mampir ke Blog mas, dan blog mas sangat bagus dan bermanfaat.

    Dan betapa senangnya saya, apabila mas mau mampir juga ke blog saya, sekalian saling menjalin silaturahmi sesama Blogger.

    Alamat Blog saya: http://bendeddy.wordpress.com

    Salam kenal,
    Dedhy Kasamuddin

  2. Iim Mulyana berkata:

    Salam kenal mas Dedhy, terima kasih atas kunjungannya….

    Saya sudah pasang link untuk Blog Mas Dedhy di Blog ini.

    Mudah2an ini akan menjadikan tali silaturahmi kita semakin erat……

  3. Terimakasih dan salam untuk Anda Pak…. Btw, belum lama ini saya ke Ujung Kulon lagi dan hasilnya cukup lumayan…. Salam….. http://michaelrisdianto.blogspot.com/2010/06/dia-masih-sangat-cantik-dan-berbahaya.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s