Perjuangan Gerilya Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf


Perjuangan Gerilya Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf

Ketika Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap atas tipu daya Belanda dan kerja sama Sultan Haji, serta gugurnya Pangeran Kulon, semangat perjuangan menentang dominasi Belanda tidaklah berkurang. Hal mana menjadikan motivasi pejuang yang pro Sultan Ageng Tirtayasa semakin meningkat karena kekuasaan Banten di bawah Sultan Haji telah ada dalam pengaruh politik Belanda.

Jajaran penjuang terdiri dari keluarga kerajaan, para ulama dan sebagian besar rakyat Banten. Mereka masih terus berjuang di hutan-hutan menentang kolonialisme Belanda. Tokoh gerilya itu di antaranya adalah Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya dan Pangeran Kulon. Syekh Yusuf adalah seorang ulama Banten asal Makasar yang diangkat mufti kerajaan Banten semasa Sultan Ageng Tirtayasa.

Walaupun Sultan Ageng Tirtayasa sudah dapat ditangkap dan dipenjarakan kompeni, Syekh Yusuf dan pasukannya tetap meneruskan perjuangan di sekitar Tangerang. Bersama pasukan Banten lainnya mereka menyusuri hutan dan tepi sungai dengan tujuan ke Cirebon, dengan harapan di sana ia mendapat bantuan dari Sultan Cirebon yang pernah jadi sahabat Banten.

Dalam pada itu kompeni segera mengetahui tentang rencana Syekh Yusuf itu, maka dikirimkannya sejumlah pasukan kompeni yang dipimpin oleh Van Happel ke Cirebon. Kompeni khawatir kalau-kalau Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul serta tentaranya ini akan terus ke Jawa Tengah dan bergabung dengan pasukan Kartasura.

Sampai di Cikaniki, pasukan Syekh Yusuf selanjutnya menuju Cianten lewat jalan Cisarua dan Jampang, sedangkan pasukan Pangeran Purbaya melanjutkan perjalanannya ke daerah Galunggung untuk bergabung dengan Tumenggung Tanubaya. Pasukan gerilya Banten ini berjumlah kira-kira 4000 orang atau 5000 orang, termasuk 1000 orang Makasar, Bugis dan Melayu.

Dari Jampang, Syekh Yusuf dan pasukannya terus menuju ke Pamotan yang kemudian ke Cilacap dengan menggunakan perahu. Tapi karena tentara kompeni yang dipimpin oleh De Ruys dan Eigel berada di sana, Syekh Yusuf pun pergi ke Padaherang dengan menyusuri sungai Citandui. Dari daerah inilah Syekh Yusuf kemudian mengadakan serbuan-serbuan ke benteng perta-hanan Belanda.

Tapi tidak lama kemudian, tanggal 25 September 1683, Belanda mengadakan serangan besar-besaran terhadap Padaherang, sehingga dalam pertempuran itu Pangeran Kidul gugur demikian juga banyak pembesar Banten dan Makasar yang gugur, dan istri Syekh Yusuf ditawan musuh, sedangkan Syekh Yusuf beserta sisa pasukannya dapat meloloskan diri dan pergi hingga sampai di Mandala, daerah Sukapura.

Karena kompeni sudah merasa kesulitan untuk menangkap Syekh Yusuf, maka diaturlah strategi penipuan untuk dapat memperdayakan Syekh Yusuf. Mula-mula, kompeni menangkap anak perempuan Syekh Yusuf, yang bernama Asma, kemudian dengan menggunakan putrinya itu, Van Happel pergi ke Mandala untuk minta supaya Syekh Yusuf menjemput putrinya dan berunding dengan kompeni.

Karena bujukan dan janji-janji Van Happel, akhirnya Syekh Yusuf menerima untuk berunding; tapi dengan siasat licik ini, Syekh Yusuf ditangkap kompeni pada tanggal 14 Desember 1683. Syekh Yusuf dibawa ke Cirebon yang kemudian dipindahkan ke Batavia, dan, akhirnya pada tanggal 12 Desember 1684 dibuang ke Ceylon.

Karena di Ceylon pun Syekh Yusuf masih terus mengadakan hubungan perjuangan dengan orang-orang Banten yang pulang dari menunaikan ibadah haji, maka keputusan Pemerintah Tinggi Kompeni pada tanggal 7 Juli 1693 Syekh Yusuf dipindahkan pengasingannya ke Tanjung Harapan, sampai meninggalnya pada tanggal 23 Mei 1699.

Dalam pada itu, Pangeran Purbaya, Pangeran Sake dengan sekitar 800 orang pasukannya yang masih setia melanjutkan perjuangannya di daerah Cikalong, Bogor Selatan. Dengan menggunakan Untung Surapati, yang berhasil dibujuk untuk masuk tentara kompeni, bupati Sukapura dan demang Timbanganten, kompeni membujuk Pangeran Purbaya agar menyerahkan diri.

Di samping mengutus Untung Surapati, pemerintah kompeni sebelumnya telah mengirimkan pula sepasukan tentara kompeni lainnya yang dipimpin Kuffeler. Ketika Surapati sedang mengadakan perundingan dengan Pangeran Purbaya, datanglah Kuffeler dan pasukannya yang bertindak kasar kepada Pangeran Purbaya. Untung Surapati menjadi marah karena merasa direndahkan martabatnya, berbalik menyerang tentara kompeni.

Dalam pertempuran itu tentara kompeni dapat dikalahkan dan mereka melarikan diri kembali ke Sukapura dengan meninggalkan 20 orang Belanda yang mati terbunuh. Untung Surapati selanjutnya meneruskan perlawanan terhadap kompeni Belanda di daerah Priyangan yang selanjutnya ke Kartasura. Dalam pertempuran di Cikalong itu, tanggal 28 Januari 1684, walau pun Belanda menderita kekalahan tapi bersama mereka yang melarikan ke Sukapura, kompeni pun berhasil menangkap Pangeran Mohammad Sake, saudara Pangeran Purbaya, yang kemudian ditahan di Sukapura.

Dengan tipu muslihat yang sama, Pangeran Purbaya bersedia menyerahkan kerisnya dari Cileungsir, sebagai jaminan, untuk dikirimkan ke Batavia, baru kemudian Pangeran Purbaya sendiri menyusul ke Batavia. Setibanya di Batavia, Pangeran Purbaya disambut baik oleh kompeni dan kerisnya diserahkan kembali kepadanya, namun kemudian ia ditangkap dan dipenjarakan di Batavia, hingga wafatnya.

————– kembali kehalaman pertama ————–

Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s