Persiapan Perang


Persiapan Perang

Sultan Abulfath Abdulfattah mengumumkan “perang sabil” menghadapi kompeni Belanda. Seluruh kekuatan angkatan perang Banten dikerahkan ke daerah-daerah perbatasan, maka terjadilah pertempuran besar di darat dan laut. Pertempuran ini berlangsung tanpa henti-hentinya sejak bulan Mei 1658 sampai dengan tanggal 10 Juli 1659.

Untuk lebih jelasnya tentang persiapan prajurit Banten dalam menghadapi perang ini, “Sajarah Banten” menceritakan:

  1. a. Angkatan laut
  • Armada laut yang menjaga perairan Karawang dipimpin oleh Pangeran Tumenggung Wirajurit.
  • Armada laut yang berkedudukan di dekat pelabuhan Untung Jawa dipimpin oleh Aria Suranata.
  • Armada laut yang berkedudukan di dekat Tanahara dipimpin oleh Pangeran Ratu Bagus Singandaru.
  • Armada laut yang bertugas di dekat perairan Tanjung Pontang dipimpin oleh Ratu Bagus Wiratpada.
  • Armada laut yang berkedudukan di dekat Pelabuhan Ratu dipimpin oleh Tumenggung Saranubaya.
  1. b. Angkatan darat
  • Pasukan yang dipimpin oleh Ngabehi Wirasaba dan Ngabehi Purwakarti dikirim ke Caringin untuk menjaga musuh yang masuk dari daerah selatan.
  • Pasukan yang dipimpin oleh Ngabehi Tanuita ditempatkan di kota Surosowan sebagai penjaga ibukota Kesultanan.
  • Pasukan yang dipimpin oleh Ngabehi Tanujiwa ditugaskan sebagai pasukan penghubung antara garis depan Angke dan Tangerang dengan kota Surosowan.
  • Pasukan yang dipimpin oleh Raden Senopati Ing Ngalaga (Panglima Perang) dan Rangga Wirapatra ditugaskan menjadi pasukan penyerang dan menjadi pasukan induk dengan kekuatan 5000 prajurit pilihan.

c. Pasukan meriam

Pasukan meriam ini ditempatkan di pantai sekitar ibukota Kesultanan, untuk menjaga musuh yang datang dari Teluk Banten. Tiap meriam dipercayakan kepada 10 orang prajurit khusus dengan seorang pimpinan kelompok. Sejarah Banten mencatat nama-nama meriam itu dengan pimpinan kelompoknya sebagai berikut:

  • Jajaka tua dipercayakan kepada Pangeran Upapatih,
  • Jaka Pekik kepada Pangeran Kidul,
  • Kalantaka kepada Pangeran Lor,
  • Nilantaka kepada Pangeran Kulon,
  • Kalajaya kepada Pangeran Wetan,
  • Ki Muntab kepada Tubagus Suradinata,
  • Urangayu kepada Pangeran Wirasuta,
  • Pranggisela kepada Pangeran Prabangsa,
  • Danamarga kepada Pangeran Sutamanggala,
  • Jaka Dalem kepada Pangeran Gusti;

sedangkan lima puluh buah meriam lagi dipercayakan kepada ponggawa lainnya. Disusunnya meriam-meriam itu dari Sunya Gagak, Kuta Karang hingga tepi sungai. Dari Pabean Barat hingga Pabean Timur, dari Kuta Jagabaya sampai Kadongkalan dan Kapatihan.

Pada hari yang sudah ditentukan, yaitu pada hari Senin tahun kadi ula pandawa iku atau tahun 1580 Saka atau tahun 1657/1658 M, pasukan perang Banten itu berangkat ke pos penyerangannya masing-masing seperti yang sudah diintruksikan. Pada hari pemberangkatan itu Sultan menyuruh membagi-bagikan hadiah berupa uang dan pakaian kepada prajurit serta keluarganya sebagai tanda kenang-kenangan dan penguat tekad.

Pembesar kerajaan yang ikut dalam pasukan perang itu antara lain: Kartiduta, Haji Wangsaraja, Demang Narapaksa, dan Kanduruhan Wadoaji. Ki Haji Wangsaraja dan Raden Senopati Ing Ngalaga duduk dalam sebuah tandu. Demikian banyak pasukan yang berangkat pada hari itu, sehingga barisan terdepan sudah sampai di Pangapon sedangkan barisan belakang masih berada di alun-alun Surosowan.

Setelah berjalan delapan hari sampailah mereka di Tangerang dan bergabung dengan pasukan yang sudah berada di sana. Untuk tempat peristirahatan, dibuatlah barak-barak baru di Tangerang dan Angke sebagai pusat pertahanan dan basis penyerangan.

Mendengar pemberangkatan pasukan Banten ini, kompeni segera mempersiapkan pasukan yang dibagi menurut asal daerah masing-masing, orang Ternate dipimpin oleh orang Ternate, begitu juga orang Kalasi, Kejawan, Bandan, Bali dan Ambon. Dan setelah berjalan kaki selama satu hari pasukan kompeni ini sampai di Angke, berhadapan dengan pasukan Banten.

Tujuh hari tujuh malam kedua pasukan yang bermusuhan itu saling berhadap-hadapan tanpa ada salah satu yang mendahului menyerbu. Baru setelah Senopati Ing Ngalaga memberikan aba-aba untuk menyerang, bersiap-siagalah semuanya. Raden Senapati Ing Ngalaga naik kuda berkeliling sambil menantang musuh, sedangkan Ki Rangga Wirapatra berjalan di barisan terdepan. Setelah Haji Wangsaraja berdo’a mohon perlindungan Allah untuk menghancurkan orang kafir penindas, berangkatlah pasukan ke medan laga.

Sepanjang hari pertempuran berlangsung hebat tanpa henti-hentinya. Tidak dapat dipastikan siapa yang paling hebat. Baru setelah hari senja, pertempuran itu mulai reda, dan kedua belah pihak menarik diri dari garis perang, kembali ke kubunya masing-masing.

Selama tiga hari tidak terjadi pertempuran, masing-masing pihak beristirahat sambil mengatur taktik penyerangan selanjutnya. Raden Senopati Ing Ngalaga memanggil para ponggawa untuk merundingkan taktik dan strategi perang serta memberi instruksi lainnya. Kemudian ditetapkan supaya penyerangan dilakukan dengan formasi burung dadali (format penyerangan menyebar), karena musuh memakai formasi papak (saff tempur melingkar disatukan).

Untuk mengacaukan mental pasukan kompeni dan menghancurkan tempat-tempat persem-bunyian mereka, Ngabehi Wira Angun-angun dan Prayakarti ditugaskan untuk membakar desa di sekeliling kubu musuh dan juga membakari tanaman tebu milik kompeni. Dan nanti, bersamaan dengan pembakaran-pembakaran itu, Senopati Ing Ngalaga dengan 500 prajurit pilihan bergerak melingkar dan menyerang musuh dari belakang.

Keesokan harinya, setelah tanda penyerangan dibunyikan mulailah mereka menjalankan tugasnya masing-masing. Ngabehi Wira Angun-angun, Prayakarti dan beberapa serdadu pilihan secara diam-diam membakar kampung-kampung, tanaman tebu dan pabrik penggilingan tebu serta menghancurkan segala tempat yang mungkin menjadi sarang musuh.

Sedangkan Raden Senopati Ing Ngalaga dengan 500 tentaranya bergerak ke arah timur dengan tujuan menyerang musuh dari belakang. Adapun prajurit lainnya dipimpin oleh ponggawa dan senopati yang gagah berani menyerang dari depan dengan penyerangan diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan tiap prajurit berperang satu lawan satu.

Pasukan yang dipimpin oleh Demang Narapaksa dan Demang Wirapaksa banyak menimbulkan kerugian jiwa di pihak kompeni. Banyak pimpinan mereka yang dapat dibinasakan, di antaranya Kapiten Drasti, Kapiten Perancis, Kapiten Terus, dan Kapiten Darus. Pertempuran pada hari itu berlangsung hebat, sehingga banyak mengambil korban dari kedua pihak, dan baru setelah senja tiba pertempuran pun dihentikan.

Hari berikutnya Raden Senopati memanggil Prayakarti untuk menyampaikan berita tentang keadaan medan perang, sambil menyerahkan barang-barang rampasan perang kepada Sultan di Surosowan. Bersama empat puluh orang pengawal berangkatlah Prayakarti ke ibukota Banten. Membaca surat dari Raden Senopati, terlihat wajah Sultan mencerminkan perasaan gembira bercampur sedih dan gemas. Sultan sangat mengharapkan kehancuran kompeni secepatnya.

Kemudian Sultan berdiri dan memberikan maklumat: “Barang siapa yang dapat menyerahkan satu kepala kompeni Belanda akan diberikan hadiah 10 real dan barang siapa yang dapat menyerahkan satu telinga Belanda akan diberi hadiah 5 real.” Kepada Prayakarti atas jasa-jasanya Sultan menghadiahkan sebuah desa serta sebuah lampit dengan kotaknya, demikian juga keempat puluh pengawalnya semua mendapat hadiah.

———– kembali kehalaman pertama ———–

Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s