Jalannya Pertempuran


PERTEMPURAN DILAUT

Dalam pada itu, pertempuran di laut pun telah terjadi dengan hebat. Diceritakan, Ratu Bagus Wangsakusuma ketika sedang melakukan patroli di perairan dekat Pontang, dilihatnya sebuah kapal besar milik kompeni di Selat Pulo Pemujan yang sedang menurunkan sebuah slup penuh berisi senjata menuju ke pantai.

Ratu Bagus Wangsakusuma dan prajuritnya bersembunyi di belakang Pulau Dua dan menyergap kapal kompeni itu, sehingga semua serdadu kompeni dapat dibinasakan dan senjatanya dapat dirampas. Berita keberhasilan ini disampaikan kepada Sultan berikut semua senjata rampasannya.

Sarantaka dan Sacantaka bersama dua pacalang berhasil menghancurkan sebuah kapal kompeni di Tanjung Balukbuk. Pangeran Ratu Bagus Singandaru dapat menghancurkan sebuah kapal jung besar milik kompeni yang baru datang dari Malaka di dekat Tanjung Barangbang. Demikian juga dengan pasukan Kyai Haji Abbas, mereka dapat menghancurkan kapal kompeni di dekat perairan Gosong Bugang, semua barang rampasan diserahkan kepada Sultan.

Armada-armada Banten di perairan jauh pun mencatat kemenangan yang menggembirakan. Pasukan yang dipimpin oleh Rangga Natajiwa, Surantaka dan Wiraprana dapat menghancurkan armada kompeni di Krawang yang mengangkut pasukan dari Jawa Timur. Sedangkan di perairan Pelabuhan Ratu, pasukan Saranurbaya dapat menghancurkan kapal kompeni, walaupun Saranurbaya sendiri luka parah yang mengakibatkan ia meninggal dunia lima hari kemudian.

Di perairan Teluk Banten, di depan kota Surosowan, datang 11 kapal perang kompeni, dalam formasi mengepung dari Pulau Lima di timur sampai ke Pulau Dua. Di Surosowan, pasukan meriam yang sudah disiapkan, segera mengarahkan sasarannya ke kapal-kapal itu, maka terjadilah tembak menembak yang seru dari kedua pasukan.

Beberapa meriam Banten banyak yang tepat mengenai sasaran; si Jaka Pekik, si Muntab dan si Kalantaka selalu tepat mengenai kapal-kapal kompeni itu, sehingga armada penyerang melarikan diri dan kembali ke Batavia dengan meninggalkan kapal-kapal yang rusak dan tenggelam. Pertempuran hebat di darat dan di laut ini terus menerus berlangsung sampai tujuh belas bulan lamanya.

Pada suatu malam yang sunyi tapi tegang itu Arya Mangunjaya, salah seorang ponggawa yang memimpin pasukan perang di front Tangerang – Angke, menghadap Sultan tanpa melalui prosedur biasa, melaporkan tentang keadaan medan perang. Dilaporkan bahwa keadaan prajurit dan ponggawa-ponggawanya masih dalam kondisi baik dan mereka siap untuk bertempur, tapi keadaan mereka pun perlu diperhatikan karena sudah lebih satu tahun mereka berperang tanpa henti; maka alangkah lebih baik lagi apabila Sultan mengganti mereka dengan pasukan yang lebih segar.

Setelah Sultan berunding dengan pembesar lainnya, diperintahkannya Mangkubumi untuk menyiapkan pasukan pengganti. Maka keesokan harinya, Mangkubumi dan Pangeran Mandura menyiapkan prajurit-prajurit Banten di Surosowan untuk diberangkatkan ke Tangerang dan Angke. Arya Mangunjaya diangkat sebagai panglima perang dengan Arya Wiratmaja sebagai wakilnya. Pasukan pengganti ini diberangkatkan pada tahun mantri kunjara tataning jurit atau pada tahun 1581 Saka/1659 M.

Bersama pasukan itu ikut pula Sayyid Ali, utusan dari Mekkah, untuk menggantikan Kyai Haji Wangsaraja yang bertugas untuk memelihara semangat juang dan keyakinan agama prajurit. Sedangkan Pangeran Senopati bersama seluruh pasukannya dipanggil pulang kembali ke Surosowan.

Kedatangan pasukan pengganti ini diketahui oleh kompeni Belanda. Maka untuk mengimbangi kekuatan pasukan Banten itu, dikirimnya lagi pasukan tambahan dari Batavia.

Setelah kedua pasukan itu saling berhadapan, diadakan perang tanding antara pemimpin kedua pasukan. Arya Mangunjaya ditantang oleh seorang Kapten Belanda, yang kemudian dapat dibunuhnya. Prayakarti ketika hendak memenggal kepala kapten musuh yang sudah dibunuhnya, tiba-tiba dibokong oleh empat orang musuh sehingga ia gugur.

Maka serentak kedua pasukan itu mengadakan serangan, dan perang besar dimulai, sampai senja hari. Keesokan harinya Arya Mangunjaya memerintahkan beberapa orang prajurit untuk pergi ke Surosowan melaporkan jalannya perang, sambil membawa prajurit-prajurit yang terluka, tawanan perang dan juga harta rampasan.

Pertempuran baru dilanjutkan selang beberapa hari kemudian. Banyak prajurit dari kedua pihak yang gugur dan terluka. Prajurit Banten yang terluka segera dikirim ke Surosowan, tapi banyak pula yang meninggal di perjalanan karena lukanya yang parah.

Karena penyerangan pasukan Banten ini dilakukan terus menerus dan tanpa mengenal takut, akhirnya kedudukan kompeni semakin terdesak sampai mendekati batas kota Batavia. Penduduk dan pejabat kompeni segera mengungsi ke daerah lain, khawatir kalau-kalau pasukan Banten dapat menembus benteng pertahanan kota; tambahan tentara tidak mungkin diharapkan, karena pada waktu itu kompeni pun sedang sibuk berperang dengan Makasar.

———— kembali kehalaman pertama ————

Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s