Belanda lakukan Perjanjian dengan Banten


Belanda lakukan Perjanjian dengan Banten

Karena keadaan terdesak inilah kompeni berusaha mengadakan perdamaian dengan Sultan ‘Abulfath di Surasowan, dan sudah tentu Sultan menolak usul perdamaian tersebut. Untuk melunakkan hati Sultan, kompeni minta tolong kepada Sultan Jambi untuk tercapainya perjanjian persahabatan itu. Sultan Jambi mengirimkan utusannya Kiyai Damang Dirade Wangsa dan Kiyai Ingali Marta Sidana ke Surosowan. Akhirnya pada tanggal 10 Juli 1659, ditandatangani perjanjian damai antara Sultan ‘Abulfath Abdulfattah dengan Gubernur Jendral Joan Matsuiyker. Dengan ditandatanganinya perjanjian gencatan senjata ini, maka berakhirlah untuk sementara perang besar antara Banten dan kompeni Belanda.

Perjanjian gencatan senjata tanggal 10 Juli 1659 itu, dijadikan kesempatan yang baik oleh Sultan Abulfath untuk membenahi diri guna persiapan menghadapi kompeni selanjutnya. Untuk tujuan itulah, Sultan mulai mengadakan pembangunan-pembangunan dalam segala bidang yang pada waktu sebelumnya tertunda karena perang.

Guna memenuhi kebutuhan senjata api dan senjata berat lainnya, Sultan mengadakan hubungan dengan negara Inggris, Portugis dan Perancis yang bersedia menjual senjata-senjata yang dibutuhkan Banten — pada waktu itu antara Belanda, Inggris, Portugis dan Perancis sedang terjadi persaingan dagang yang keras. Dalam pada itu, hubungan Banten dengan kerajaan Islam di Turki berjalan baik, sehingga orang-orang Banten yang pergi haji, pulangnya dapat membawa senjata-senjata yang dibelinya dari Turki.

Senjata-senjata perang ini, selain diperoleh dengan cara membeli dari luar negeri, Banten pun sebenarnya sudah mampu membuatnya sendiri. Hal ini terbukti dari hasil penggalian di situs Kampung Sukadiri dan Kepandean, di sana ditemukan seperangkat alat-alat pengecoran logam dan juga wadah pencetak senjata. Itulah sebabnya mengapa Banten pun mampu mengirimkan meriam dan senjata api lainnya, lengkap dengan peluru serta mesiunya sebanyak beberapa kapal kepada pasukan Trunojoyo di Jawa Timur.

Dalam pengadaan kapal perang, Sultan memesan dari beberapa galangan kapal di Jawa, seperti di Jepara dan Gresik. Sedangkan kapal perang yang besar dan khusus, dibuat sendiri di galangan kapal di Banten dengan bantuan orang-orang Portugis dan Belanda yang sudah Islam.

Untuk memperkuat ketahanan angkatan perangnya, Sultan juga mengangkat prajurit-prajurit muda yang kesemuanya dilatih guna menghadapi medan perang yang berat. Mereka dipersiapkan untuk menempati pos terdepan di Tangerang dan Angke, karenanya pada tahun 1660 Sultan pun memerintahkan membuat perkampungan prajurit di sebelah barat Untung Jawa, yang diperkirakan mampu menampung 5000 sampai 6000 prajurit. Kemudian untuk tempat pengungsian bagi kaum wanita apabila terjadi peperangan, terutama untuk wanita kraton, Sultan membuat tempat perlindungan di Banten Girang.

Selain di Tangerang, Sultan juga membuat perkampungan prajurit pilihan di Pontang, bahkan akhirnya Sultan menyuruh membuat istana yang nantinya digunakan sebagai pusat pengontrol kegiatan di Tangerang dan Batavia, di samping untuk tempat peristirahatan. Maka dengan demikian Pontang dijadikan penghubung antara Surosowan dan benteng pertahanan di Tangerang, yang juga mempersingkat jalur komunikasi dari medan perang.

Untuk menghubungkan Surosowan, Pontang dan Tangerang, digunakan dua jalur, di samping jalan darat yang sudah ada dari Surosowan ke Pontang, juga dibuat saluran tembus yang digali sepanjang jalan kuno, yakni dari sungai Untung Jawa (Cisadane), Tanahara hingga ke Pontang — dari Tanahara, dengan menyusuri sungai Cisadane sampailah ke pantai Pasilian. Saluran tembus antara Pontang dan Tanahara ini dibuat cukup lebar, sehingga dapat dilayari kapal perang ukuran sedang.

Proyek pembuatan saluran ini dimulai pada tahun 1660 dan selesai sekitar tahun 1678. Melalui sungai buatan ini, Sultan dapat segera mengirimkan bantuan ke Tangerang baik dari pos Pontang maupun dari Surosowan.

Sungai buatan ini — yang pasti dikerjakan dengan kemauan dan biaya raksasa — bukan saja dimaksudkan untuk kepentingan militer tetapi juga untuk pertanian. Sehingga dengan dibangunnya saluran tembus itu berarti daerah sekitarnya menjadi daerah subur, maka tumbuhlah daerah sekitar Pontang sebagai daerah penghasil padi yang dapat diandalkan untuk Banten.

Rupanya inilah yang dituju oleh Sultan, yaitu mempersiapkan daerah strategis untuk pos pembantu penyerangan ke Batavia, di samping juga menjadi “daerah kantong” atau penyedia bahan makanan bagi prajurit di medan perang.

Selain itu, Sultan pun berusaha menyempurnakan dan memperbaiki keadaan di dalam ibukota kerajaan. Dengan bantuan ahli bangunan dari Portugis dan Belanda, yang sudah masuk Islam, di antaranya Hendrik Lucasz Cardeel, diperbaiki pula bangunan-bangunan istana Surosowan. Benteng istana diperkuat dan diberi bastion, bangunan berbentuk setengah lingkaran di setiap mata angin, yang dilengkapi dengan 66 buah meriam diarahkan ke segenap penjuru.

Sungai di sekeliling benteng dan irigasi di sekitar ibukota pun diperlebar dan ditingkatkan daya jangkaunya, sehingga areal sawah yang mendapat pengairan semakin luas. Daerah yang tadinya selalu kekurangan air menjadi subur; padi dan tanaman produksi lainnya sangat menunjang kemakmuran rakyat Banten, diperkirakan produksi merica rata-rata 3.375.000 pon pada tahun 1680 – 1780.

Dengan ditandatanganinya gencatan senjata antara Banten dan Batavia, berarti blokade Kompeni atas pelabuhan Banten pun berakhir. Kapal-kapal dagang asing yang tadinya takut berlabuh di Banten, sekarang mereka dapat berniaga dengan aman dan bebas. Maka ramailah pelabuhan Banten dengan kapal-kapal dagang dari berbagai negara, seperti dari Manila, Jepang, Cina, India, Persia dan Arab, bahkan pedagang-pedagang dari Ingris, Perancis, Denmark, Belanda dan Portugis pun membuka kantor perwakilannya di Banten.

Karena Mataram dalam situasi perang dengan kompeni, maka pusat perdagangan di bagian timur pun beralih ke Banten; otomatis wilayah dagang Banten ini meliputi hampir seluruh daerah nusantara. Sehingga dapat dikatakan bahwa Banten mencapai puncak kejayaannya — dan pada masa itu pun dikeluarkan uang emas Kesultanan Banten.

Dalam masa itu pula perkembangan pendidikan agama Islam maju dengan pesat. Di komplek Masjid Agung dibangun sebuah madrasah yang dimaksudkan untuk mencetak pemimpin rakyat yang saleh dan taat beragama, demikian juga di beberapa daerah lainnya. Untuk mempertinggi ilmu keagamaan dan membina mental rakyat serta prajurit Banten didatangkan guru-guru dari Aceh, Arab dan daerah lainnya. Salah satunya adalah seorang ulama dari Makasar, Syekh Yusuf Taju’l Khalwati, yang kemudian dijadikan Mufti Agung, guru dan mantu Sultan Abulfath.

Sultan membina hubungan baik dengan beberapa negara Islam seperti dengan Aceh dan Makasar, demikian juga dengan negara Islam di India, Mongol, Turki dan Mekkah. Sultan menyadari bahwa, untuk menghadapi kompeni yang kuat dan penuh dengan taktik licik tidaklah mungkin dihadapi oleh Banten sendiri.

Dalam kegiatan diplomatik, Sultan pernah mengirimkan utusan ke Inggris yang terdiri dari 31 orang dipimpin oleh Naya Wipraya dan Jaya Sedana pada tanggal 10 Nopember 1681. Utusan ini bukan saja sebagai kunjungan persahabatan tetapi juga sebagai upaya mencari bantuan persenjataan.

Demikian pesatnya usaha yang dilakukan Sultan ‘Abulfath Abdul Fattah dalam membangun kemakmuran Banten, sebagai persiapan mengusir penjajah Belanda, sehingga Gubernur Jendral Ryklop van Goens, pengganti Gubernur Jendral Joan Matsuiyker, menulis dalam suratnya yang ditujukan kepada Pemerintah Kerajaan Belanda tanggal 31 Januari 1679, bahwa “Yang amat perlu untuk pembinaan negeri kita adalah penghancuran dan penghapusan Banten. … Banten harus ditaklukkan, bahkan dihancur leburkan, atau kompeni yang lenyap”.

—————- kembali kehalaman pertama —————-

Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s