Penyerbuan Mataram ke Batavia


Penyerbuan Mataram ke Batavia

Setelah Sultan Sutawijaya meninggal, diangkatlah anaknya yang bernama Mas Jolang sebagai sultan di Mataram (1601 – 1613). Sedangkan putra sulungnya yaitu Pangeran Puger menjadi adipati Demak. Mas Jolang meninggal di desa Krapyak dan dimakamkan di Pasar Gede dengan gelar Sedo Krapyak.

Sebagai penggantinya diangkatlah putra sulungnya Mas Rangsang dengan gelar Penembahan Agung Senopati Ing Ngalogo Ngamdurahman (1613 – 1645), atau disebut juga Prabu Pandito Cokrokusumo. Kemudian ia memakai gelar Sultan sehingga dikenal dengan nama Sultan Agung.

Pada masa pemerintahan Sultan Agung ini, Mataram mengalami zaman kejayaan. Hasil pertaniannya, terutama beras, melimpah sehingga menjadi hasil ekspor terbesar bagi Mataram. Ibu kota kerajaan semula di Karta (Kartosuro) yang kemudian dipindahkan ke Plered, yang kedua-duanya terletak di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, sekarang.

Untuk menggambarkan bagaimana keadaan penduduk Kartosuro, dikatakan bahwa makanan yang dibutuhkan rakyat adalah 4000 ekor binatang sembelihan setiap hari dan kalau gong di pojok-pojok kota dipukul, maka dalam tempo setengah hari saja berkumpul 200.000 orang yang siap dengan senjata di tangan.

Sultan Agung bercita-cita untuk menyatukan Pulau Jawa dalam pemerintahannya dan mengusir Belanda. Untuk itu ia menyiapkan tentara yang kuat dengan penasehat yang cakap yaitu Kalifah Imam dan Kiyai Surodono. Dalam waktu yang relatif singkat direbutnya Wirosobo, Lasem, Pasuruan, Pajang dan Tuban. Demikian juga Madura (1624), Surabaya (1625) dan Blambangan (1639).

Bahkan kerajaan-kerajaan di Jawa Barat pun yaitu Cirebon, dan Priyangan mengakui kekuasaan Mataram. Sehingga otomatis hampir seluruh Jawa kecuali Batavia dan Banten, berada di bawah kekuasaan Mataram. Usaha penaklukan Banten sudah sering dilakukan Mataram; misalnya pada tahun 1596, Mataram pernah mengirimkan 15.000 tentaranya ke Banten dan menyerang dari laut; tapi tidak berhasil.

Demikian juga pada tahun 1626 dengan bantuan dari Palembang, Mataram mengulangi lagi usahanya itu walau tanpa hasil apapun.

Dorongan ingin menguasai seluruh Jawa inilah yang merisaukan kesultanan Banten, sehingga hubungan antara Banten dengan Mataram kelihatan selalu tegang. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan mengapa Banten membiarkan orang-orang Belanda tetap diam di Jayakarta. Padahal pada permulaannya banyak pembesar Banten mengusulkan supaya kompeni Belanda itu diusir sebelum mereka kuat.

Mangkubumi Arya Ranamanggala berpikir bahwa tempat kedudukan orang Belanda itu dapat dijadikan penghalang atau benteng pemisah antara Mataram dan Banten.

Di pihak lain, musuh terbesar Mataram adalah kompeni Belanda, tapi rasanya Sultan Agung belum cukup kuat untuk menyerang Batavia. Tapi apabila Banten sudah berada di bawah kuasanya, barulah saat penyerbuan ke Batavia ini akan dimulai. Hal demikian sukar sekali terwujud, karena jalan ke Banten terhalang oleh kekuasaan Belanda di Batavia.

Oleh karenanya diajukan usul kepada kompeni; bahwa apabila kompeni bersedia membantu penyerbuan Mataram ke Banten, maka kompeni akan dibolehkan membeli beras dari Mataram sebanyak-banyaknya. Usul itu ditolaknya karena kompeni sudah mengetahui maksud yang tersimpan dalam tawaran perjanjian itu.

Baru setelah Surabaya dapat dikuasai Mataram (1625), Sultan Agung merencanakan penyerangan ke Batavia. Untuk perbekalan bagi pasukannya, disiapkan di tempat-tempat yang dilalui, seperti di Jepara, Tegal, Kendal, Pekalongan, Ciasem, Cirebon dan Kerawang — yang direbutnya dari Banten. Karawang terkenal penghasil beras yang besar bagi Banten.

Dalam pada itu Jan Pieterszoon Coen diberhentikan sebagai Gubernur Jendral VOC pada tahun 1623. Akan tetapi pada tahun 1627 dia diangkat kembali setelah didengar berita bahwa Mataram akan menyerbu Batavia.

Pada tahun 1628 berangkatlah pasukan Mataram untuk menyerang Batavia. Pasukan ini dibagi dalam tiga kelompok. Pasukan pertama dipimpin oleh Baurekso yang akan menyerang Batavia pertamakali dari laut. Pasukan kedua dipimpin oleh Tumenggung Sura Agulagul, Dipati Mandureja, Dipati Upasanta, Dipati Tohpati dan Tumenggung Anggabaya.

Pasukan ini lebih banyak dari pasukan pertama dan akan berperang apabila Baurekso terdesak. Sedangkan pasukan ketiga dipimpin oleh Adipati Juminah dan Pangeran Singaranu. Pasukan ketiga ini jumlahnya sama dengan pasukan kedua, mereka akan menyerang apabila diperlukan.

Mendengar adanya pemberangkatan pasukan Mataram secara besar-besaran itu, Sultan Banten merasa cemas, diperintahkannya supaya memperkuat pasukan penyanggah di Tangerang. Dikhawatirkan kalau-kalau pasukan Mataram ini kemudian akan menyerang Banten.

Pasukan Mataram yang dikerahkan untuk menyerbu Batavia ini adalah pasukan terbesar dalam sejarah Jawa. Karena pasukan ini adalah gabungan dari prajurit-prajurit Surabaya, Demak, Pasuruan, Ponorogo, Madura, Priyangan dan lain-lain.

Sore hari tanggal 26 Agustus 1628 datanglah 59 kapal Mataram di pelabuhan Batavia dengan menyamar sebagai kapal dagang dengan membawa 80.000 prajurit yang dipimpin Baurekso. Maka terjadilah perang besar yang banyak memakan korban di kedua belah pihak. Pasukan Mataram tidak dapat menembus benteng pertahanan Belanda, karena memang Belanda telah menyiapkan meriam-meriam besar untuk menghadapi pasukan Mataram.

Pertempuran itu berlangsung sampai berminggu-minggu, sehingga Mataram harus mengakui kekuatan senjata yang dimiliki VOC. Pengepungan pasukan Mataram dibuat tidak berdaya lagi, bahkan akhirnya Tumenggung Baurekso sendiri gugur dalam pertempuran 21 Oktober 1628.

Melihat keadaan pasukan Baurekso itu maka pada tanggal 21 September 1628 pasukan kedua bergabung untuk menyerang Batavia dari segala arah. Hampir Batavia dapat direbutnya. Tembok-tembok kota diruntuhkan dan benteng-benteng kecil di sekitar kota dapat direbut. Sehingga serdadu kompeni Belanda hanya dapat bertahan di dalam benteng induk di tepi sungai Ciliwung saja.

Untuk memaksa pasukan Belanda keluar dari bentengnya, Tumenggung Sura Agul-agul memerintahkan untuk membendung sungai Ciliwung dan mengalihkan alirannya, sehingga di perbentengan akan mengalami kesulitan air. Dan memang hal ini terjadi. Penyakit kolera berjangkit dalam benteng, bahkan akhirnya Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen sendiri mati terkena penyakit ini.

Dalam situasi yang sangat menentukan itu, ternyata pertempuran yang berjalan hampir lima bulan tersebut banyak menghabiskan tenaga, dana, kecerdikan dan keberanian, juga persediaan makanan. Persedian makanan pasukan Mataram sudah semakin menipis, sedangkan orang-orang Banten tidak ada yang mau membantunya.

Hal ini dapat dipahami, karena memang antara Banten dan Mataram sedang ada dalam situasi permusuhan dan saling curiga. Sehingga banyak prajurit Mataram yang meninggal karena kelaparan atau karena penyakit. Melihat keadaan yang menyedihkan ini, maka pada tangga 3 Desember 1628 Tumenggung Sura Agul-agul memerintahkan pasukannya kembali pulang ke Mataram.

Tapi baru saja orang Belanda mengira bahwa pertempuran sudah selesai, datanglah pasukan Mataram yang lebih besar. Pasukan ketiga dipimpin oleh Pangeran Juminah, Pangeran Singaranu, Dipati Puger dan Dipati Purbaya. Dikepungnya kembali benteng Belanda itu. Karena banyaknya pasukan Mataram ini, maka orang Belanda tidak ada yang berani menyerang keluar dari perbentengan.

Pengepungan ini berjalan berbulan-bulan. Tapi karena kelaparan, penyakit dan banyaknya prajurit Mataram yang meninggalkan barisan, maka makin lemahlah pasukan penyerang. Pengepungan ini pun mengalami kegagalan yang tragis. Akhirnya pada tanggal 7 Oktober 1629, pasukan Mataram menghentikan pengepungannya dan mereka kembali ke Mataram dengan meninggalkan prajurit-prajuritnya yang mati dan sakit diperjalanan.

Sultan Agung sangat marah mendengar kekalahannya itu. Direncanakannya lagi penyerangan ke Batavia yang akan dipimpinnya sendiri. Untuk supaya kejadian kekalahan itu jangan terulang lagi, maka harus dibuat lumbung-lumbung padi di beberapa tempat di dekat Batavia; dan tugas ini diserahkan kepada Kerawang.

Namun maksud besar Sultan Agung ini tidak terlaksana, karena Belanda telah mendengar rencana itu, dan lumbung-lumbung yang sudah dibuat, dibakar oleh Belanda. Sampai meninggalnya Sultan Agung, rencana penyerbuan selanjutnya ke Batavia tidak pernah terwujudkan.

——————– kembali kehalaman pertama ——————–

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

2 Balasan ke Penyerbuan Mataram ke Batavia

  1. Haris Istanto berkata:

    Postingnya yang sangat menarik, sukses untuk anda.
    Kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru yang berjudul : “Sepeda motor hybrid, kenapa tidak?”, dan artikel lain yang berguna dan mohon diberi komentar. Terima kasih.

  2. rahmad widada berkata:

    Karta di sini bukan Kartasura, tetapi memang Karta saja. Letaknya di Bantul. Karta dan Plered hanya berjarak kurang lebih 0,5 km saja. Adapun Kartasura itu adalah ibu kota Mataram justru setelah Mataram Plered runtuh, yakni sekitar 60 km ke arah timur laut dari Plered, dekat Surakarta. Kelak dari Surakarta ini, ibukota Mataram diindah ke Surakarta (Solo). Setelah itu Mataram pecah menjadi Surakarta dan Ngayogyakarta. Urut-urutan ibukota Mataram adalah sbb. Kotagede–>Karta–>Pleret–>Kartasura–>Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s