Rebutan Tahta dan Kuasa


SULTAN ABUL MAFAKHIR MAHMUD ABDUL KADIR (1596 – 1651)

Setelah Maulana Muhammad meninggal dunia, maka sebagai penggantinya dinobatkan anaknya, Abul Mafakhir, yang baru berusia 5 bulan. Karena itu, untuk menjalankan roda pemerintahan ditunjuk Mangkubumi Jayanagara sebagai walinya. Mangkubumi Jayanegara adalah seorang tua yang lemah lembut dan luas pengalamannya dalam hal pemerintahan.

Setiap akan mengambil putusan yang dianggap penting, beliau selalu musyawarah dengan pembesar lainnya terutama dengan seorang wanita tua bijaksana yang juga ditunjuk sebagai pengasuh Sultan muda yang bernama Nyai Emban Rangkun. Dalam masa pemerintahannya, negara banyak mengalami kemajuan terutama dalam bidang perdagangan. Pada masanya pulalah kapal dagang Belanda yang pertama mendarat di pelabuhan Banten.

Masa pemerintahan perwalian oleh Mangkubumi Jayanagara sebagai wakil Sultan Abul Mafakhir adalah masa yang paling pahit dalam pemerintahan Kesultanan Banten, karena adanya pertentangan di antara beberapa keluarga kerajaan yang saling berbeda kepentingan di samping adanya keinginan dari pihak yang hendak merebut tahta kerajaan karena Sultan masih kecil.

Mangkubumi Jayanagara meninggal pada tahun 1602 yang digantikan oleh adiknya. Tapi tidak lama kemudian, yaitu pada tanggal 17 Nopember 1602 ia dipecat dari jabatannya karena “berkelakuan tidak baik”. Dan karena dikhawatirkan akan menyebabkan perpecahan dan irihati di antara pangeran dan pembesar negara, maka diputuskan untuk tidak mengangkat Mangkubumi baru; sedangkan perwalian diserahkan pada ibunda Sultan, Nyai Gede Wanagiri.

Tidak lama kemudian Nyai Gede Wanagiri menikah kembali dengan seorang bangsawan keraton. Atas desakannya pula, suaminya itu diangkat sebagai Mangkubumi. Dalam kenyataan sehari-hari, Mangkubumi yang baru ini di samping tidak mempunyai wibawa, juga banyak menerima suap dari pedagang-pedagang asing, hingga banyak peraturan dan perjanjian dagang yang lebih banyak menguntungkan pribadi mereka dibanding untuk kepentingan negara dan rakyat. Sehingga rakyat menderita, sedangkan raja tidak tahu apa-apa dan bahaya bangsa asing telah mengancam seluruh Banten.

Keadaan ini menimbulkan rasa ketidakpuasan dari sebagian pembesar kerajaan, yang akibatnya menimbulkan kekacauan di dalam negeri. Keadaan demikian tidak segera dapat diatasi karena Mangkubumi disibukkan oleh ulah pedagang-pedagang Belanda yang banyak menimbulkan keributan dengan anak negeri, maupun dengan pedagang dari Inggris dan Portugis. Sebagian Pangeran memihak kepada pedagang Portugis dan sebagian lainnya membela pedagang Belanda. Padahal antara pedagang Belanda dan Portugis itu saling bermusuhan.

Peraturan-peraturan yang dikeluarkan Mangkubumi tidak dihiraukan oleh sebagian besar Pangeran. Kekuasaan Mangkubumi hanya terbatas di dalam istana saja, sedangkan di luar, pangeran-pangeran itulah yang berkuasa. Setiap Pangeran dapat mengeluarkan peraturan sendiri yang kadang-kadang saling bertentangan, dan bahkan berbeda dengan putusan Mangkubumi.

Pertentangan antar pembesar keraton ini akhirnya menimbulkan keributan serius pada bulan Oktober 1604, dimana Pangeran Mandalika, putra Maulana Yusuf, menahan sebuah jung dari Johor. Perintah Mangkubumi untuk melepaskan kembali jung itu tidak dihiraukan oleh Pangeran Mandalika; bahkan, untuk melawan tentara kerajaan yang diperintahkan menangkapnya, Pangeran Mandalika bergabung dengan pangeran-pangeran penentang lainnya, dan membuat benteng pertahanan di luar kota.

Makin lama kedudukan dan jumlah mereka semakin kuat, sehingga sangat mengkha-watirkan pemangku kuasa. Lebih-lebih lagi banyak rakyat yang simpati terhadap tindakan mereka itu.

Pada bulan Juli 1605, Pangeran Jayakarta beserta beberapa pembesar negeri dengan pasukan besar dan kuat datang di Banten untuk menghadiri perayaan khitanan Sultan muda. Atas permintaan Mangkubumi, Pangeran Jayakarta bersedia membantu menumpas para pemberontak.

Dengan bantuan orang Inggris, pasukan Pangeran Jayakarta ini memulai penyerangan dengan menerobos langsung ke kubu pertahanan para perusuh; sedangkan orang Inggris membantu dengan menembaki kubu pertahanan musuh dari kejauhan. Pertempuran hebat di luar kota ini akhirnya dapat memukul mundur pasukan pembangkang, maka diadakanlah perjanjian damai. Para pemimpin pasukan perusuh diharuskan meninggalkan Banten dalam waktu selambat-lambatnya 6 hari dan hanya boleh diikuti 30 orang anggota keluarganya.

Dengan diusirnya biang kerusuhan ini, keadaan Banten tidaklah semakin membaik, bahkan sebaliknya suasana semakin tegang. Pertentangan antar pembesar negara ini sudah demikian hebatnya, sehingga kerusuhan yang sama terjadi lagi pada bulan Juli 1608 yang dikenal dengan Peristiwa Pailir.

Pertentangan antar pembesar kerajaan yang kian memuncak ini menimbulkan persaingan tidak sehat di antara mereka. Masing-masing kelompok berusaha memperkuat kedudukan dirinya dalam segala segi. Untuk mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya bagi kepentingan mempersenjatai diri, para pangeran perusuh itu melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat bertentangan dengan hukum yang berlaku, sehingga tidak jarang terjadi perampokan kapal-kapal pedagang asing ataupun pribumi. Karena tindakan itu, otomatis perniagaan di Banten terhenti.

Salah satu sebab lagi yang menimbulkan rasa tidak senang para pangeran ini adalah sikap dan tindakan Mangkubumi. Diceritakan, Mangkubumi, yang juga adalah ayah tiri Sultan Muda, mendidik Sultan dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang, sehingga hampir tidak sekejap pun Sultan muda ditinggalkan, baik dalam penghadapan dan dalam pertemuan-pertemuan dengan para ponggawa dan pejabat-pejabat tinggi istana maupun waktu memeriksa keadaan kota atau pun pada waktu sasapton, Sultan muda tidak lepas dari pangkuannya.

Dengan demikian, orang-orang harus selalu bersembah sujud apabila bertemu Mangkubumi karena pasti dipangkuannya ada Sultan muda. Hal ini banyak mengundang ketidaksenangan dan iri hati pada beberapa pangeran dan bangsawan lainnya.

Beberapa bangsawan, di antaranya Pangeran Arya Ranamanggala, Pangeran Mandura, Pangeran Kulon, Pangeran Singaraja, Ratu Bagus Kidul, Dipati Yudanagara dan lain-lain mengadakan pertemuan untuk mengatasi kekacauan itu. Dalam pertemuan itu diputuskan untuk segera membunuh Mangkubumi — yang dianggap sebagai biang keladi kerusuhan. Tugas membunuh itu diserahkan kepada Adipati Yudanagara atas jaminan dari Pangeran Runamanggala, Pangeran Mandura dan juga Kadhi.

Untuk melaksanakan tugasnya itu, Adipati Yudanagara mengadakan pembakaran di dalam istana, sehingga Mangkubumi keluar seorang diri tanpa membawa Sultan muda. Kesempatan itu dipergunakan Yudanagara untuk menyerang dan membunuh Mangkubumi dengan menggunakan sebilah tombak. Kejadian ini berlangsung pada tanggal 23 Oktober 1608.

Terbunuhnya Mangkubumi itu membuat kesedihan yang begitu mendalam pada Sultan muda, sehingga Pangeran Arya Ranamanggala dan Pangeran Upapatih merasa kasihan kepadanya. Maka bermusyawarahlah Pangeran Arya Rana-manggala, Pangeran Upapatih, Pangeran Mandalika dan beberapa bangsawan penting lainnya untuk membicarakan pembunuhan Mangkubumi; Pangeran Kulon, Pangeran Singaraja, Ratu Bagus Kidul, dan Tubagus Prabangsa tidak mau mengikuti pertemuan itu.

Dalam pada itu, mendengar adanya pertemuan demikian, Adipati Yudanagara merasa cemas kalau-kalau dirinya akan ditangkap dan hukum mati — karena dialah yang membunuh Mangkubumi. Oleh karena itu Adipati Yudanagara menemui Pangeran Kulon, dan menyatakan bahwa dirinya dan kawan-kawan lainnya akan mendukung Pangeran Kulon menjadi raja Banten. Dukungan Adipati ini menambah semangat Pangeran Kulon yang memang berambisi besar untuk menjadi raja Banten. Pangeran Kulon merasa dirinyalah yang paling berhak memegang kekuasaan di Banten, dibandingkan dengan Sultan Abdul Kadir.

Pangeran Kulon adalah cucu Maulana Yusuf putra dari Ratu Winaon dengan Pangeran Gabang dari Cirebon. Ratu Winaon adalah putri sulung Maulana Yusuf dari permaisuri, kakak kandung Maulana Muhammad; adapun Sultan Abdul Mufakhir Muhammad Abdul Kadir adalah anak Sultan Muhammad dari seorang istri yang lain, karena permaisuri tidak berputra. Tekad Pangeran Kulon ini didukung oleh beberapa Pangeran dan bangsawan Banten, di antaranya Rangga Loleta, Adipati Keling, Pangeran Wiramanggala, Singajaya, Syahbandar, Tumenggung Anggabaya dan Panji Jayengtilem.

Mereka mendirikan benteng pertahanan di hilir sungai dekat Pabean di daerah pesisir. Banyak rakyat yang simpati terhadap perjuangan mereka, terutama rakyat di daerah Kepalembangan. Diperkirakan pasukan yang dikumpulkan oleh Pangeran Kulon sekitar enam sampai delapan ribu orang.

Karena tindakan Pangeran Kulon dan pasukannya ini dianggap membahayakan negara, maka Pangeran Ranamanggala dan Pangeran Upapatih mengumpulkan pasukan kerajaan untuk menyerang kubu pemberontak. Mendengar rencana penyerangan ini, Pangeran Kulon segera menyiapkan pasukannya. Dengan dipimpin oleh Panji Jayengtilem dan Singajaya serta dibantu oleh dua puluh orang prajurit terbaiknya, pasukan perusuh mengadakan penyerbuan mendadak ke istana. Namun, pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Senopati Pangeran Upapatih telah menanti di luar benteng Keraton Surosowan, sehingga terjadilah perang saudara yang hebat.

Jalannya perang saudara itu digambarkan oleh Sajarah Banten sebagai berikut: “Diiringi dengan suara gong pengerah Kiyai Bicak, pasukan kerajaan menyambut serangan pasukan Pangeran Kulon. Pangeran Arya Ranamanggala dan Sultan Abdul Kadir mengawasi pertempuran itu dari atas perbentengan.

Dilihatnya pasukan kerajaan bagaikan burung kerenda yang menyambar-nyambar mangsanya di sawah. Panji Jayengtilem akhirnya dapat dibunuh oleh Pangeran Upapatih, sedangkan Pangeran Singajaya gugur di tangan Ki Subuh, pembantu Pangeran Upapatih. Dengan demikian maka pasukan pemberontak akhirnya mengundurkan diri kembali ke kubunya di hilir sungai”.

Untuk memancing kemarahan Pangeran Kulon dan juga membuat jera tentaranya, mayat-mayat pasukan pemberontak dihanyutkan di atas rakit-rakit yang terbuat dari batang pisang supaya dapat dilihat oleh Pangeran Kulon dan pasukannya di hilir sungai. Hal ini membuat marah Pangeran Kulon, sehingga tanpa perhitungan matang pada hari berikutnya ia memimpin sendiri penyerangan dengan mengerahkan semua pasukan yang ada.

Pada mulanya pasukan pemberontak dapat mendesak tentara kerajaan, sehingga meriam induk kerajaan yang bernama Ki Jajaka Tuwa dapat direbut. Dalam Babad Banten diceritakan, bahwa dengan menggunakan meriam itu Pangeran Kulon dapat mematahkan dahan waringinkurung yang ada di samping istana. Setelah Pangeran Arya Ranamanggala dan pasukannya datang membantu, tentara kerajaan akhirnya dapat memukul mundur pemberontak. Mereka kembali ke kubunya di hilir sungai untuk mengatur serangan berikutnya.

Pada saat yang genting itu, datanglah Pangeran Jayakarta dengan pasukan yang besar, yang kemudian ditempatkan di Pagebangan. Melalui usaha Pangeran Jayakarta, akhirnya perang saudara ini dapat dihentikan dan perjanjian perdamaian dapat disepakati bersama. Pangeran Kulon, Pangeran Singaraja, Tubagus Prabangsa dan pimpinan pemberontak lainnya — atas jaminan Pangeran Jayakarta — tidak dibunuh, tapi semuanya dibawa ke Jayakarta sebagai tempat pengasingan selama empat tahun.

Setelah kejadian itu Banten menjadi aman, Pangeran Ranamanggala diangkat menjadi Mangkubumi dan juga wali Sultan muda. Perang saudara yang kemudian dikenal dengan nama Pailir, terjadi pada sangsakala tanpa guna tataning prang atau tahun 1530 Saka atau sekitar tanggal 8 Maret 1608 sampai tanggal 26 Maret 1609.

—————- kembali kehalaman pertama —————-

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Rebutan Tahta dan Kuasa

  1. sugiarno berkata:

    Pelajaran berharga dari masa lalu … dan bisa dijadikan renungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s