Mangkubumi Arya Ranamanggala


Mangkubumi Arya Ranamanggala

Setelah Mangkubumi yang juga ayah tiri Sultan dibunuh orang, maka diangkatlah Pangeran Arya Ranamanggala menjadi penggantinya. Pangeran Arya Ranamanggala adalah putra Maulana Yusuf dari istri yang bukan permaisuri. Tentang tahun kelahirannya tidak jelas, tapi yang pasti dia lebih muda dari Maulana Muhammad.

Tindakan pertama yang dilakukannya sebagai Mangkubumi adalah menertibkan keamanan negara. Yaitu dengan memberikan hukuman tegas kepada pangeran atau ponggawa yang melakukan penyelewengan, bahkan untuk kelancaran pemerintahan Sultan Muda pun tidak diizinkan mempengaruhi urusan pemerintahan. Hal ini berlangsung hingga Sultan mempunyai anak tiga.

Dengan cara demikian barulah kerajaan Banten dapat diselamatkan dari kehancuran dan perpecahan, baik dari rongrongan di dalam maupun desakan-desakan dari negara asing. Peraturan-peraturan atau pun keputusan-keputusan Mangkubumi terdahulu diperbaharuinya.

Peraturan yang berisi tentang keharusan pedagang Cina untuk menjual lada hanya kepada Belanda dicabutnya, kemudian dibuatlah peraturan yang isinya menyatakan bahwa siapa pun dapat membeli atau menjual lada kepada siapa saja dengan harga yang disetujui bersama.

Dalam menghadapi pedagang-pedagang asing Eropa, Mangkubumi tidak bertindak “berat sebelah”, tingkah laku mereka yang kadang-kadang menyinggung perasaan, terutama pedagang-pedagang dari Belanda, akan ia tanggapi dengan kepala dingin. Ini dapat dibuktikan sewaktu pedagang Belanda mengajukan perjanjian pada tahun 1609. Naskah perjanjian yang dibuat Belanda itu diajukan kepada Mangkubumi yang isinya adalah:

  1. Belanda bersedia membantu Banten apabila diserang oleh negara lain, tapi kalau Banten akan menyerang negara lain Belanda tidak akan membantu.
  2. Belanda dibolehkan berniaga dengan rakyat Banten. Dan apabila ada orang Belanda yang ingin menetap di Banten dia tidak dikenakan pajak.
  3. Bangsa Eropa selain bangsa Belanda tidak dibolehkan tinggal di Banten.

Perjanjian yang berat sebelah dan sangat menyinggung kewibawaan negara itu tidak ditolaknya dengan kasar, tapi diterimanya dengan senyum biar pun isinya tidak diterima. Bahkan tidak lama kemudian dikeluarkan peraturan tentang kenaikan pajak ekspor untuk lada dan ketentuan pajak import untuk barang-barang yang tadinya belum terkena peraturan pajak.

Dalam hal perpajakan di Banten pada tahun 1609, secara terperinci dicatat oleh pegawai Belanda dimana untuk membeli 8440 karung lada dikenakan pajak sebagai berikut :

  • Pajak kerajaan sebesar 8 % dari harga beli:  (4 real per karung) f. 6.346,00
  • Ruba-ruba untuk raja, dengan ketentuan: 500 real untuk 6000 karung f 1.625,00
  • Ruba-ruba untuk Syahbandar 250 real untuk 6000 karung f 625,00
  • Beli-belian (suatu pajak khusus) 666 real tiap satu karung f 2.202,00
  • Panggoro, pajak khusus lain : 11,50% cash tiap satu karung f 14,00
  • Pajak untuk juru tulis dihitung per 100 karung f 198,00
  • Pajak untu juru timbang per 100 karung f 198,00
  • Biaya mengangkut lada ke rumah timbang f 98,00Jumlah f 11.533,00

Jumlah f. 11.533,00 ini harus dibayar sebagai pajak ekspor barang seharga f. 33.760,00. Kain yang dimasukkan Belanda dikenakan pajak sebesar 3 % dari harga jual, bahkan untuk barang ekspor yang bukan hasil dalam negeri dikenakan pajak lebih besar.

Ternyata, pajak yang demikian besar itu hanya berlaku untuk orang Belanda. Karena dalam kenyatannya pedagang dari Cina hanya dikenakan pajak 5% dari harga beli dengan syarat mereka harus membawa hadiah berupa barang porselen Cina. Dengan demikian tidaklah heran apabila penulis-penulis Belanda menceritakan Mangkubumi Arya Rana-manggala ini adalah orang yang paling jahat, curang dan rakus.

Peraturan ketat semacam ini dilakukan Mangkubumi dengan maksud supaya pedagang-pedagang Belanda tidak lagi berniaga di Banten, karena setelah diperhatikan, mereka bukan saja datang semata-mata untuk berdagang, tapi juga berusaha menanamkan pengaruh dan mencampuri politik negara. Karena faktor Arya Ranamanggala ini pulalah maka VOC tidak memilih Banten sebagai pusat kegiatan dagangnya, tetapi dipilihnya Jayakarta.

Yang berkuasa di Jayakarta pada saat itu ialah Pangeran Jayakarta atau disebut juga Pangeran Wijayakrama, yang memerintah atas nama Kesultanan Banten. Pangeran Jayakarta ingin supaya pelabuhan Jayakarta ramai seperti Banten, sehingga tawaran L’Hermito untuk menjadikan Jayakarta sebagai pusat perdagangan Belanda diterima dengan senang hati.

Maka pada tanggal 10-13 Nopember 1610, ditandatanganilah perjanjian antara VOC, yang diwakili oleh L’Hermito dengan Pangeran Jayakarta. Perjanjian tersebut kemudian disyahkan oleh Gubernur Jenderal Pieter Both pada bulan Januari 1611. Isi perjanjian antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Orang Belanda dibolehkan membeli tanah di Jayakarta seluas 50 depa dengan harga 1.200 real.
  2. Barang-barang yang dibeli orang Belanda dikenakan pajak, kecuali barang tersebut dibeli dari pedagang Cina.
  3. Bahan makanan kebutuhan sehari-hari tidak dikenakan pajak.
  4. Belanda akan membantu Jayakarta apabila diserang musuh, tapi tidak kalau Jayakarta yang memulai penyerangan.
  5. Orang Portugis dan Spanyol tidak dibolehkan berdagang di Jayakarta.
  6. Belanda dibolehkan mengambil kayu untuk bahan pembuat kapal di pulau-pulau di depan teluk Jakarta.
  7. Pegawai-pegawai yang lari dari kedua belah pihak akan dikembalikan.
  8. Pangeran bersedia menagih piutang orang Belanda apabila dimintakan.
  9. Kedua belah pihak akan menghukum orang masing-masing apabila mereka bersalah.

Pada bulan Januari 1611, Pieter Both membujuk Pangeran Jayakarta untuk mengizinkan VOC membuat benteng, tetapi permintaan itu dengan tegas ditolak, bahkan Pangeran menginginkan bahan makanan yang dibeli VOC pun harus dikenakan pajak. Terpaksa keinginan itu dituruti Pieter Both.

Karena izin mendirikan benteng tidak diperoleh, maka VOC mendirikanlah sebuah gedung batu yang digunakan sebagai kantor dan gudang di sebelah timur sungai Ciliwung .

Dibukanya hubungan dagang dengan Belanda ini membuat semakin ramainya pelabuhan Jayakarta. Hubungan intim ini membuat gusar Mangkubumi Ranamanggala. Khawatir akan niat baik Belanda terhadap Jayakarta yang nanti akhirnya akan merembet ke daerah Banten lainnya.

Maka Mangkubumi mengutus Nyai Emban Rangkum, seorang yang dianggap berwibawa bagi Pangeran Jayakarta, untuk menghadap Pangeran Jayakarta dan memberi peringatan agar hati-hati dengan orang-orang Belanda.

Peringatan ini bukannya diterima baik oleh Pangeran Jayakarta tapi bahkan membuat curiga dan prasangka buruk terhadap Mangkubumi. Hal inilah yang membuat hubungan antara Jayakarta dan Banten agak sedikit renggang, bahkan kadang-kadang seperti bermusuhan.

Situasi panas antara Jayakarta dan Banten ini sengaja diperuncing lagi oleh Jan Pieterzoon Coen, presiden direktur kantor dagang Belanda di Banten dan Jayakarta yang baru, dengan memindahkan sebagian besar kegiatan dagang Belanda dari Banten ke Jayakarta, sehingga perdagangan di Banten sedikit menurun — walau pun, untuk menjaga membesarnya pengaruh Inggris di Banten, VOC masih tetap membuka kantor perwakilannya di Banten.

Pada tahun 1618, datanglah di Banten kapal berbendera Perancis tetapi awak kapal dan bahkan nahodanya orang Belanda, padahal ada larangan keras dari pemerintah Belanda, bahwa bagi orang Belanda yang bekerja di kapal asing tidak boleh membocorkan rahasia peta jalan menuju ke negara timur, tapi mungkin karena pembayaran yang tinggi, maka ada juga yang tidak mentaati.

Semua awak kapal Perancis itu ditawan oleh Pieterzoon Coen — yang pada tahun itu (bulan Juni 1618) ia diangkat menjadi Gubernur Jendral VOC untuk Hindia Timur, menggantikan Pieter Both. Tetapi dengan pertolongan orang Inggris, di antara mereka itu ada yang dapat melarikan diri dan minta perlindungan kepada Mangkubumi Ranamanggala.

Jan Pieterszoon Coen mendesak Mangkubumi supaya menye-rahkan orang Belanda yang melarikan diri itu, tapi sebaliknya Mangkubumi pun mendesak supaya melepaskan kapal Perancis dan awaknya, karena Belanda tidak berhak menangkap kapal asing di pelabuhan Banten.

Coen bukannya mengindahkan kehendak Mangkubumi, bahkan dibawanya kapal Perancis itu ke Jayakarta. Atas perbuatan Belanda itu Mangkubumi tidak dapat berbuat apa-apa karena memang Banten tidak ada kekuatan untuk menggempur kompeni Belanda.

Makin meruncinglah permusuhan antara Banten dan VOC. Untuk memperlunak sikap keras Mangkubumi dan juga mengacaukan perekonomian Banten, kompeni mengadakan blokade ekonomi; dimana VOC tidak lagi membeli lada dari Banten, bahkan, kapal-kapal asing pun dilarang berlabuh di Banten. Tindakan VOC ini sangat merugikan Banten, sehingga harga lada di pasar Banten menurun tajam.

Suatu hari datanglah kapal jung dari negeri Cina yang tujuannya hendak membeli lada di Banten, dan dengan mudah terjadilah transaksi jual beli dengan pedagang Banten. Kejadian ini terdengar oleh JP. Coen, sehingga dengan marah diancamnya pedagang Cina itu agar segera mengembalikan lada yang sudah dibelinya, dan apabila tidak maka kapalnya akan ditenggelamkan di tengah laut oleh Belanda. Mangkubumi memprotes tindakan rendah Belanda itu, tapi kembali beliau tidak bisa berbuat apa-apa.

Empat bulan embargo VOC atas Banten ini berlang-sung, sehingga pedagang-pedagang asing tidak dapat membeli lada dari Banten karena takut dengan ancaman Belanda, akibatnya pelabuhan Banten sepi dari kapal-kapal dagang. Sebaliknya pelabuhan Jayakarta semakin ramai. Perdagangan VOC semakin maju, sehingga untuk menampung barang dagangannya dibutuhkan tambahan gudang yang lebih luas.

Maka dibangunnya lagi sebuah gudang baru di tepi sungai Ciliwung berhadapan dengan Nasau, gudang yang pertama. Gudang ini diberi nama Mauritius sesuai dengan nama raja Belanda, Prins Maurits. Selain itu dibuatnya pula sebuah rumah sakit dan sebuah kubu yang dikawal meriam dengan pasukan yang kuat di pulau Onrust di Teluk Jayakarta. Bahkan pada tanggal 22 Oktober 1618, VOC juga mulai membangun sebuah benteng kuat yang seluruh penjurunya dijaga meriam-meriam besar.

Pembangunan benteng ini ditentang keras oleh Pangeran Jayakarta, tetapi Belanda terus membangunnya juga. Terpukullah rasa harga diri Pangeran, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak ada kemampuan untuk mencegah niat Belanda itu. Maka sadarlah akan bahaya orang Belanda atas Banten dan Jayakarta khususnya. Tapi diingatnya pula akan ketergantungan Jayakarta dengan adanya pedagang Belanda itu, apalagi pangeran dan pejabat-pejabat tingginya sudah sering mendapatkan hadiah-hadiah dari orang Belanda.

Khawatir dengan tindakan orang Belanda selanjutnya dan lemahnya kekuatan tentara Jayakarta, maka diambil kebijaksanaan bahwa semua orang asing yang tinggal di Jayakarta dapat mendirikan benteng-benteng pertahanan. Dengan keizinan ini orang Inggris segera membuat benteng di tepi barat sungai Ciliwung, berhadapan dengan benteng Belanda. Demikian juga dengan pedagang-pedagang Cina.

Melihat pembangunan benteng Inggris itu Jan Piterzoon Coen mengajukan protes. Karena protesnya tidak ditanggapi, maka ia memerintahkan tentara Belanda menembak hancur benteng yang sedang dibuat Inggris. Orang Inggris tidak mampu melawan serangan Belanda itu karena kekuatannya jauh lebih kecil dibanding dengan tentara Belanda. Demikian juga dengan pedagang-pedagang Cina.

Pada tanggal 23 Desember 1618 berlabuhlah di Jayakarta 11 buah kapal Inggris. Melihat kenyataan bahwa benteng yang baru dibangun Inggris itu telah dihancurkan Belanda, mereka pun menyerang benteng Belanda dari laut, dan Belanda pun membalasnya dengan mengerahkan 7 buah kapal perangnya. Maka terjadilah pertempuran hebat di Teluk Jayakarta antara dua kekuatan yang seimbang. Tetapi akhirnya Belanda terdesak setelah Inggris mendatangkan lagi 3 buah kapal yang lain.

JP. Coen memerintahkan sebagian pasukannya mundur dan melarikan diri ke Ambon untuk mencari bantuan. Hal ini terjadi pada tanggal 31 Desember 1618. Sedangkan di benteng kompeni sepeninggal JP. Coen, pimpinan benteng dipercayakan kepada Pieter van den Broecke, disertai 250 orang termasuk 25 orang Jepang dan 70 orang budak belian, mereka diperintahkan untuk tetap bertahan di dalam benteng.

Sementara itu di keraton Surosowan, mendengar adanya pertempuran di Teluk Jayakarta segera diadakan pertemuan pembesar-pembesar keraton untuk segera mengirimkan bantuan ke Jayakarta guna menghancurkan benteng Belanda. Jayakarta adalah daerah kuasa Banten, sehingga kehancuran Belanda sangat diharapkan Mangkubumi, meski pun tidak mengharapkan Inggris nantinya menggantikan Belanda. Maka berangkatlah 4000 orang tentara Banten, yang kemudian ditempatkan di Muara Angke sambil menunggu perintah selanjutnya.

Benteng Belanda telah dikepung dari tiga jurusan, di Teluk Jayakarta Inggris menempatkan 5 buah kapalnya, sebelah barat oleh pasukan Banten sedangkan di selatan oleh tentara Jayakarta. Dapat dipastikan bila ketiga kekuatan ini menyerang secara bersamaan, benteng Belanda tanpa kesulitan akan mudah direbut.

Tapi tidak demikian keadaannya. Inggris ingin agar benteng Belanda itu direbut dan dikuasai sebagai ganti benteng mereka yang dihancurkan Belanda. Sedangkan Pangeran Jayakarta dan orang-orang Banten menginginkan benteng Belanda tersebut dihancurkan dan semua penghuninya ditahan, karena, secara ekonomis, Jayakarta dan Banten masih membutuhkan kehadiran pedagang Belanda itu. Tujuan Pangeran Jayakarta dan Pangeran Ranamanggala pun berbeda.

Pangeran Jayakarta menginginkan agar Pangeran Ranamanggala jangan terlalu dekat dengan pihak Belanda, sebab hal itu akan merugikan kedudukan Jayakarta. Sedangkan Pangeran Ranamanggala berprinsip bahwa Jayakarta adalah daerah taklukan Banten sehingga semua tindakan Jayakarta, apalagi tentang hubungan luar negeri, harus atas izin Banten. Dari perbedaan tujuan ini, akhirnya tidak ada satu pasukan pun yang mendahului menyerang benteng.

Setelah beberapa hari benteng Belanda itu dikepung, Pangeran Jayakarta memerintahkan agar perang ditangguhkan dan diajukan perdamaian. Maka pada tanggal 19 Januari 1619 terjadi kesepakatan antara Pangeran Jayakarta dengan Belanda, dimana Belanda diharuskan membayar kerugian 6000 real kepada Pangeran Jayakarta, sedangkan komandan pasukan Belanda yang ada di benteng, Pieter van den Broecke, ditahan sebagai jaminan.

Pada waktu yang hampir bersamaan diadakan pula perjanjian antara Inggris dan Pangeran Jayakarta yang berisi:

  • Inggris akan membayar kerugian perang kepada Pangeran Jayakarta sebanyak 2000 real.
  • Orang Belanda dilarang berniaga di Jayakarta
  • Inggris dan Jayakarta akan bersama-sama menyerang benteng Belanda. Kemudian benteng yang telah direbut itu akan diserahkan kepada Pangeran Jayakarta. Sedangkan harta bendanya dibagi dua antara Inggris dan Pangeran Jayakarta.

Dengan adanya perjanjian antara Pangeran Jayakarta dan pasukan Inggris ini pengepungan benteng diperketat. Diserukan kepada orang-orang Belanda agar menyerah secara baik-baik — yang nanti mereka akan dikirim ke Koromandel atas jaminan Inggris — atau benteng akan direbut secara paksa. Melihat banyaknya pasukan yang mengepung, maka komandan pasukan Belanda menyatakan diri akan menyerah.

Diaturlah tatacara pengambilalihan benteng dan pengamanan tawanan. Disepakati bahwa perjalanan orang Belanda ke Koromandel akan dikawal ketat oleh pasukan Inggris, supaya jangan diganggu tentara Banten dan Jayakarta. Rencana ini telah disetujui baik oleh Belanda, Inggris, maupun Jayakarta.

Tiba-tiba ketika maksud tersebut akan dilaksanakan, datang sanggahan dari Banten. Pangeran Arya Ranamanggala tetap berprinsip Jayakarta adalah daerah kekuasaan Banten, oleh karenanya tidak ada hak untuk mengadakan perjanjian dengan orang asing tanpa persetujuan Banten.

Di samping itu, Ranamanggala berpendapat bahwa orang Belanda dan orang Inggris sama saja, mereka ingin mengeruk kekayaan negara tanpa memperdulikan keadaan penduduk asli. Bila dalam keadaan lemah, mereka bersedia mentaati perjanjian, tapi bila sudah kuat dirobeklah perjanjian tersebut. Penghancuran benteng Belanda mutlak harus dilaksanakan, dan semua tawanan harus diserahkan serta menjadi wewenang Banten.

Demikian juga dengan pihak Inggris, mereka harus segera pergi dari Jayakarta. Dan apabila mereka tidak mau, maka pemerintah Banten akan menghancurkan semua kapal dan loji Inggris yang ada di Banten.

Utusan Pangeran Ranamanggala, yaitu Tumenggung Pangeran Upapatih, beserta 4000 orang pasukannya mengepung orang-orang Inggris, sehingga mereka kembali ke pangkalannya di Banten. Orang-orang Belanda yang ditawan Pangeran Jayakarta diserahkan kepada Pangeran Upapatih.

Dan atas perintah Mangkubumi Ranamanggala, Pangeran Jayakarta dipecat dari jabatannya, kemudian bersama Tumenggung dan lima puluh pengawalnya dikirim ke Tanahara untuk menjalani hukuman. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 15 Pebruari 1619.

Selanjutnya, Banten mendesak agar Belanda menye-rahkan bentengnya untuk kemudian dihancurkan. Tetapi setelah dilihatnya tentara Banten tidak begitu kuat, pasukan Belanda tidak mau menyerah, mereka lebih baik bertahan di dalam benteng sambil menunggu bantuan.

Pada tanggal 10 Mei 1619 Pieter de Carpentier dan Andaris Soury dengan kapal Ceylon tiba di Jayakarta mendahului kapal yang ditumpangi JP Coen. Beberapa hari kemudian JP Coen menyusul dengan enam belas kapal dari Ambon. Dengan kekuatan 1000 orang tentara Belanda ini pengepungan benteng tidak ada artinya lagi.

Maka pada tanggal 30 Mei 1619 benteng dan sekitarnya telah jatuh ke tangan kompeni Belanda (VOC). Mereka kemudian menamakan tempat tersebut menjadi Batavia, sebagai peringatan kepada nenek moyang bangsa Belanda, yaitu suku Bataaf.

Pada bulan April 1619, Jan Pieterszoon Coen memerintahkan tentaranya untuk merampas daerah-daerah di seberang sungai Ciliwung, yang termasuk wilayah Banten. Hanya dengan mengerahkan 1000 orang tentaranya saja Belanda dapat merebut seluruh kota Jayakarta. Tembok-tembok batas kota dan benteng Jayakarta dihancurkan dan dibakar habis.

Dan sejak saat itu nama Jayakarta pun diganti dengan Batavia. Dengan ancaman akan menyerang Banten, akhirnya Mangkubumi Ranamanggala menyerahkan kembali orang-orang Belanda yang ditawanannya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 Mei 1619.

Supaya dalam hal pengadaan beras jangan terlalu bergantung kepada Mataram, Belanda membuat sawah-sawah baru di sekitar Batavia. Dan karena penduduk pribumi selalu mengadakan perlawanan — dipimpin oleh beberapa ponggawa Pangeran Jayakarta orang-orang Banten — JP Coen pun mengambil beribu-ribu orang Cina untuk dipekerjakan. Orang-orang Cina itu diberi tanah untuk bertani, berdagang bahkan diperbantukan untuk membuat benteng-benteng di sekeliling kota.

Di antara mereka diangkat menjadi kepala penduduk Cina, yang diberi wewenang untuk mengambil pajak tanah bagi penduduk pribumi, dan bahkan memelihara tentara sendiri. Di luar benteng kota Batavia, rakyat Jayakarta di bawah pimpinan Pangeran Wijayakusumah, Tubagus Arya Suta dan Tubagus Wahas terus mengadakan perlawanan dengan bantuan prajurit-prajurit Banten[14].

Pada tahun 1619 itu pula diadakan perjanjian persahabatan antara kompeni Belanda (VOC) dengan Inggris dalam hal perdagangan di nusantara. Inggris dibolehkan berdagang di Batavia, meski dalam prakteknya, antara orang Inggris dan orang Belanda sering terjadi bentrokan, sehingga akhirnya orang Inggris pindah ke Banten.

Dalam pada itu, kekalahan pasukan Banten di Jayakarta, membuat rakyat Banten tidak pernah berhenti menentang VOC. Sering terjadi bentrokan antar kedua belah pihak. Pejuang-pejuang Banten sering mengadakan perampasan dan keributan di darat maupun di laut terhadap orang-orang Belanda. Kapal-kapal VOC sering dirampok, orangnya dibunuh dan kapalnya ditenggelamkan.

Demikian juga perkebunan-perkebunan tebu yang ditangani Belanda dirusaknya, mereka membabat pohon-pohon tebu itu pada malam hari. Kejadian semacam ini sering dan sukar sekali ditumpasnya, karena mereka menggunakan sistim gerilya. Diserangnya rombongan Belanda pada malam hari kemudian apabila pasukan dari Batavia datang, mereka lari; sehingga tentara kompeni jarang dapat menangkap perusuh-perusuh itu.

Setelah perang pada tahun 1619 itu, Banten menempatkan pasukannya yang besar dan kuat di Tangerang. Pasukan ini dipimpin oleh Tumenggung Wirautama dan Rangga Wirapatra dibantu oleh dua orang kepercayaan Mangkubumi. Pasukan khusus ini dipersiapkan bukan saja sebagai benteng penghalang antara Batavia dengan Banten, tapi juga dapat digunakan untuk menyerang Batavia. Dari Tangerang inilah kegiatan gerilya Banten di lancarkan (Djajadiningrat, 1983:50).

Karena gangguan-gangguan ini maka hubungan antara Batavia dan Banten menjadi tetap tegang. Sehingga tahun 1633 terjadilah perang besar antara dua kekuatan yang saling bermusuhan itu.

Kira-kira bulan Januari 1624, Mangkubumi Pangeran Arya Ranamanggala meletakkan jabatannya karena sakit, segala kewenangan diserahkan kepada Sultan Abdul Kadir yang memang sudah dewasa. Tapi walaupun demikian, Ranamanggala masih menjadi orang yang sangat dibutuhkan nasehatnya oleh Sultan dalam mengambil keputusan-keputusan penting. Bahkan kadang-kadang pendapatnyalah yang dijadikan padoman kebijaksanaan Sultan. Hal ini dapat dibuktikan dengan keputusan tentang hubungan Banten dengan kompeni Belanda.

Banten tetap tidak dapat bersahabat dengan Belanda, walaupun Sultan dengan pembesar lainnya cenderung untuk berdamai. Barulah pada tanggal 16 Nopember 1624, Pangeran Arya Ranamanggala menyerahkan pemerintahan seluruhnya kepada Sultan.

Dua tahun kemudian yakni tanggal 13 Mei 1626 Pangeran Arya Ranamanggala meninggal dunia. Dengan upacara kenegaraan jenazahnya dimakamkan di serambi barat Masjid Agung. Untuk memperingati kebesaran pahlawan besar ini, rakyat Banten kemudian menyebutnya dengan Pangeran Gede.

—————– kembali kehalaman pertama —————–

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s