Pengembangan Kota Banten


Pengembangan Kota Banten

MASA PEMERINTAHAN MAULANA YUSUF (1570 – 1580)

Masa pemerintahan Maulana Hasanuddin, pembangunan negara lebih dipusatkan pada bidang keamanan kota, perluasan wilayah perdagangan, di samping penyebaran dan pemantapan kepercayaan rakyat kepada ajaran Islam; sedangkan pada masa Maulana Yusuf strategi pembangunan lebih dititikberatkan pada pengembangan kota, keamanan wilayah, perdagangan dan pertanian. Tahun 1579, pasukan Banten dapat merebut Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran (Djajadiningrat, 1983:153).

Ponggawa-ponggawa yang ditaklukkan lalu di-islamkan dan masing-masing dibiarkan memegang jabatannya semula (Djajadiningrat, 1983: 37). Dengan demikian, gangguan keamanan yang dikhawatirkan datang dari Pajajaran sudah berkurang. Maulana Yusuf dapat lebih memusatkan perhatiannya pada pembangunan sektor ekonomi dan pertanian.

Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, perdagangan sudah demikian maju sehingga Banten merupakan tempat penimbunan barang-barang dari segala penjuru dunia yang nantinya disebarkan ke seluruh kerajaan di Nusantara (Sutjipto, 1961:13). Situasi perdagangan di Karangantu, sebagai pelabuhan Banten, digambarkan sebagai berikut : Pedagang-pedagang dari Cina membawa uang kepeng yaitu uang yang terbuat dari timah, porselen, sutra, beludru, benang emas, kain sulaman, jarum, sisir, payung, selop, kipas, kertas, dan sebagainya. Pulangnya mereka membawa lada, nila, kayu cendana, cengkeh, buah pala, kulit penyu dan gading gajah.

Orang Arab dan Persia membawa permata dan obat-obatan. Orang Gujarat menjual kain dari kapas dan sutra, kain putih dari Coromandel. Pulangnya mereka membeli rempah-rempah. Sedangkan orang Portugis mambawa kain-kain dari Eropa dan India.

Barang-barang dari luar negeri ini diambil oleh pedagang-pedagang dari Jawa, Makasar, Sumbawa, Palembang dan lainnya. Ke Banten pedagang-pedagang ini membawa garam dari Jawa Timur, gula dari Jepara dan Jayakarta, beras dari Makasar dan Sumbawa, ikan kering dari Karawang, Banjarmasin dan Palembang.

Minyak kelapa dari Belambangan, rempah-rempah dari Maluku, lada dari Lampung dan Solebar, kayu cendana dari kepulauan Sunda kecil, gading gajah dari Andalas, tenunan dari Bali dan Sumbawa, timah putih dan timah hitam dari Perak, Kedah dan Ujung Selong di Malaka, besi dari Karimata, damar dari Banda dan Banjarmasin (Sanusi Pane, 1950:182).

Dengan majunya perdagangan maritim di Banten, maka kota Surosowan, sejak pindahnya kota ini dari Wahanten Girang tanggal 8 Oktober 1526 M dikembangkan menjadi kota pelabuhan terbesar di Jawa. Babad Banten pupuh XXII menyatakan: Gawe Kuta baluwarti bata kalawan kawis yang artinya: membangun kota dan perbentengan dari bata dan karang. Dari awal dinasti Maulana Yusuf inilah Banten menjadi ramai baik oleh penduduk pribumi maupun pendatang. Oleh karenanya dibuatlah aturan penempatan penduduk sesuai dengan keahlian dan asal daerah penduduk itu. Sehingga tumbuhlah perkampungan untuk orang India, perkampungan orang Pegu, orang Arab, Turki, Persia, Siam, Cina dan sebagainya. Di samping ada pula perkampungan untuk orang Melayu, Ternate, Banjar, Bugis, Makasar, Bali.

Perkampungan untuk orang asing biasanya ditempatkan di luar tembok kota. Seperti Kampung Pekojan yang terletak di sebelah barat pasar Karangantu diperuntukkan bagi pedagang-pedagang muslim yang berasal dari Arab, Gujarat, Mesir dan Turki. Kampung Pecinan terletak di sebelah barat Masjid Agung di luar batas kota, diperuntukkan bagi pendatang dari Cina.

Kampung Panjunan tempat pemukiman tukang anjun (gerabah, periuk, belanga, dan sebagainya). Kampung Kepandean tempat pandai besi, Pangukiran tempat tukang ukir, Pagongan tempat pembuat gong dan gemelan, Sukadiri tempat pengecoran logam, dan pembuatan senjata perang.

Demikian juga untuk golongan birokrasi tertentu, seperti : Kademangan tempat demang, Kesatrian, tempat para senopati, perwira dan para prajurit istana, Kefakihan tempat ulama-ulama hukum Islam, dan sebagainya.

Pengelompokan pemukiman ini bukan saja dimaksudkan untuk kerapihan dan keserasian kota tetapi yang lebih penting adalah untuk keamanan. Setiap kampung secara bersama-sama dapat segera mencegah pencurian, perampokan dan kebakaran yang sering terjadi. Yang akhirnya, ini pun dapat merupakan upaya penyebaran dan perluasan kota.

Tembok keliling kota diperkuat dan dipertebal, demikian juga tembok benteng di sekeliling istana. Tembok benteng diperkuat dengan lapisan luar yang terbuat dari bata dan batu karang dengan parit-parit di sekelilingnya. Perbaikan Masjid Agung pun dikerjakannya, dan sebagai kelengkapan dibuatlah menara dengan bantuan Cek Ban Cut arsitek muslim asal Mongolia.

Di samping mengembangkan pertanian yang sudah ada, Maulana Yusuf pun mendorong rakyatnya untuk membuka daerah-daerah baru bagi persawahan, sehingga sawah di Banten bertambah luas sampai melewati daerah Serang sekarang. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan air bagi sawah-sawah tersebut, dibuatlah terusan-terusan irigasi dan bendungan-bendungan.

Bagi persawahan yang terletak di sekitar kota, dibangun satu danau buatan yang dinamakan Tasikardi. Air dari sungai Cibanten dialirkan melalui terusan khusus ke danau ini, yang kemudian dibagi ke daerah-daerah di sekitar danau. Tasikardi juga digunakan bagi pemenuhan kebutuhan air bersih bagi kebutuhan masyarakat di kota.

Dengan melalui pipa-pipa yang terbuat dari terakota, setelah dibersihkan/ diendapkan di pengindelan abang dan pengindelan putih, air yang sudah jernih tersebut dialirkan ke keraton dan tempat-tempat lain di dalam kota. Di tengah danau buatan tersebut terdapat pulau kecil yang digunakan untuk tempat rekreasi keluarga keraton.

Dari permaisuri Ratu Hadijah, Maulana Yusuf mempunyai dua anak yaitu Ratu Winaon dan Pangeran Muhammad, sedangkan dari istri-istri lainnya baginda dikaruniai anak antara lain: Pangeran Upapati, Pangeran Dikara, Pangeran Mandalika atau Pangeran Padalina, Pangeran Aria Ranamanggala, Pangeran Mandura, Pangeran Seminingrat, Pangeran Dikara (lagi), Ratu Demang atau Ratu Demak, Ratu Pacatanda atau Ratu Mancatanda, Ratu Rangga, Ratu Manis, Ratu Wiyos dan Ratu Balimbing.

Pada tahun 1580, Maulana Yusuf mangkat dalam usia 80 tahun dan dimakamkan di Pakalangan Gede dekat Kampung Kesunyatan sekarang, karenanya setelah meninggal Maulana Yusuf diberi gelar Pangeran Penembahan Pekalangan Gede atau Pangeran Pasarean. Sebagai penggantinya, diangkatlah Pengeran Muhammad, anak Maulana Yusuf yang pada waktu itu baru berusia 9 tahun.

—————– kembali kehalaman pertama —————–

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pengembangan Kota Banten

  1. th2012 berkata:

    i love history…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s