Pengembangan Kesultanan Banten


Usaha Maulana Hasanuddin dalam Pengembangan Banten

Usaha Hasanuddin untuk mengubah satu daerah nelayan kecil menjadi sebuah kota yang layak dijadikan ibukota negara, bukanlah satu perbuatan yang mudah. Dengan bantuan pasukan Demak, Cirebon dan juga penduduk di sekitar, pembangunan kota baru ini dapat terlaksana dengan mulus. Kota Banten, berkembang dengan pesat.

Mengenai keadaan fisik kota Banten — yang kemudian lebih disebut Surosowan — di masa mula berdirinya ini, sangat sulit direkontruksikan karena terbatasnya data. Digambarkan oleh Diogo do Couto, yang juga mengikuti perjalanan Francisco de Sa, bahwa kota Banten terletak di pertengahan pesisir teluk, yang lebarnya sampai tiga mil, dengan kedalaman antara dua sampai 6 depa.

Kota ini panjangnya 850 depa, di tepi pantai panjangnya 400 depa; masuk ke dalamnya lebih panjang. Melalui tengah kota ada sungai jernih, di mana kapal jung dan gale dapat berlayar masuk. Sepanjang pinggiran kota ada anak sungai yang hanya perahu kecil saja bisa masuk. Kota Banten dikelilingi benteng terbuat dari bata dan lebarnya tujuh telapak tangan.

Bangunan-bangunan pertahanannya terbuat dari kayu, terdiri dari dua tingkat yang dilengkapi dengan meriam. Teluk itu di beberapa tempat berlumpur, dan di beberapa tempat lagi berpasir; dalamnya antara dua dan enam depa (Djajadiningrat, 1983:145).

Di tengah kota terdapat sebuah lapangan luas, disebut alun-alun, yang digunakan bukan saja untuk kepentingan kegiatan ketentaraan dan kesenian rakyat juga digunakan sebagai pasar di pagi hari. Istana raja terletak di bagian selatan alun-alun, yang di sampingnya terdapat bangunan datar yang ditinggikan dan beratap, disebut srimanganti, yang digunakan sebagai tempat raja bertatap muka dengan rakyat. Sedangkan sebelah barat alun-alun didirikan sebuah masjid agung (Ambary, 1988: 30).

Pemindahan pusat pemerintahan dari daerah pedalaman ke pesisir sangatlah menguntungkan baik dalam bidang politik maupun sosial-ekonomi; dengan kepindahan pusat kota itu hubungan dengan negara-negara lain di pesisir Jawa, Sumatra Barat dan Malaka, bahkan hubungan dengan negara di luar kepulauan nusantara pun akan lebih mudah.

Pelabuhan Banten, yang pada masa Pajajaran hanya menjadi pelabuhan kedua setelah Kalapa, pada masa Maulana Hasanuddin telah berubah menjadi bandar besar yang menjadi persinggahan utama dan penghubung antara pedagang dari Arab, Parsi, India dan Cina dengan negara-negara di Nusantara. Situasi demikian berkaitan dengan keadaan peta politik di Asia Tenggara; setelah Malaka dikuasai Portugis.

Dengan keadaan itu, Banten, yang berada di tengah perdagangan rempah-rempah ke dan dari Maluku, menjadi tempat untuk membeli bekal perjalanan, tempat perdagangan rempah-rempah dan barang dagangan lain dari luar negeri (Tjandrasasmita, 1975: 322). Pedagang-pedagang dari Arab, Persi, Gujarat, Birma, Cina dan negara-negara lain datang secara berkala di Banten; demikian juga pedagang dari Nusantara.

Maulana Hasanuddin, dalam usahanya membangun dan mengembangkan kota Banten, lebih menitikberatkan pada pengembangan di sektor perdagangan, di samping memperluas daerah pertanian dan perkebunan. Ia berusaha mendorong peningkatan pendapatan rakyatnya dengan melalui pertumbuhan pasar yang cepat.

Karena Banten menjadi tempat persinggahan perdaganan rempah-rempah dari Eropa maupun Asia dan juga daerah-daerah di nusantara, maka Banten pun harus mempunyai persediaan lada yang cukup, yang pada waktu itu menjadi hasil perdagangan utama. Hasil lada ini diambil dari daerah Banten sendiri dan daerah lain di bawah kuasa Banten, yaitu Jayakarta, Lampung dan Bengkulu. Perkebunan lada di daerah-daerah itu diperluas untuk memenuhi kebutuhan perdagangan yang berkembang (Tjandrasasmita, 1975: 323).

Untuk menggambarkan ramainya perdagangan di Banten ini diceritakan oleh Willem Lodewycks (1596) sebagai berikut (Chijs, 1889:53-56):

“Di Banten ada tiga pasar yang dibuka setiap hari. Yang pertama dan terbesar terletak di sebelah timur kota (Karangantu). Di sana banyak ditemukan pedagang-pedagang asing dari Portugis, Arab, Turki, Cina, Quilon (India), Pegu (Birma), Melayu, Benggala, Gujarat, Malabar, Abesinia dan dari seluruh nusantara. Mereka berdagang sampai pukul sembilan pagi. Pasar kedua terletak di alun-alun dekat masjid agung, yang dibuka sampai tengah hari bahkan sampai sore.

Di pasar ini diperdagangkan merica, buah-buahan, senjata keris, tombak, pisau, meriam kecil, kayu cendana, tekstil, kain putih untuk bahan batik, binatang peliharaan, kambing dan sayuran. Orang-orang Cina menjual benang sulam, sutra, damast, porselen dan lain-lain. Di sini juga dijual rempah-rempah dan obat-obatan. Demikian besarnya pasar kedua ini sehingga ujungnya hampir menyambung dengan pasar pertama di pelabuhan. Pasar ketiga terletak di daerah Pacinan yang dibuka setiap hari sampai malam”.

Cara jual-beli di Banten, pada saat itu, banyak yang masih menggunakan sistem barter; menukar barang dengan barang yang lain, terutama di daerah pedalaman. Di antara daerah yang dibawa dari daerah pedalaman berupa hasil bumi terutama beras dan lada, ditukar dengan kebutuhan sehari-hari seperti garam, pakaian, dan lain-lain.

Hasil bumi di atas itulah yang kemudian oleh pedagang di jual kembali sebagai barang eksport. Selain sistem barter, di Banten juga dikenal adanya uang sebagai alat tukar. Tome Pires menceritakan bahwa mata uang yang biasa digunakan adalah real banten dan cash cina (caxa).

Jumlah penduduk kota Banten pada masa Maulana Hasanuddin belum ditemukan data yang pasti; namun melihat kemampuan Banten mengirimkan 7000 tentaranya ke Pasuruan tahun 1546 untuk membantu Demak menaklukkan daerah itu (Djajadiningrat, 1983:84), terlihat, betapa cukup padatnya kota ini. Kalau perbandingan antara banyaknya tentara dengan penduduk biasa 1 : 10 saja, maka paling tidak penduduk kota Banten saat itu ada sekitar 70.000 jiwa.

Karena banyaknya pedagang muslim yang, selain aktif berniaga juga aktif menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk negeri, maka di Banten terkumpul beberapa ulama yang meng-ajarkan Islam kepada siapa saja. Akhirnya, Banten pun menjadi pusat penyebaran ajaran Islam untuk daerah Jawa Barat dan sebagian Sumatra. Banyak santri (pelajar) dari luar daerah yang sengaja datang ke Banten untuk belajar ilmu-ilmu agama, sehingga tumbuhlah beberapa perguruan Islam, seperti di Kasunyatan.

Di tempat ini berdiri Masjid Kesunyatan yang umurnya lebih tua dari Masjid Agung Banten (Ismail, 1983: 35). Di sini pulalah tempat tinggal dan mengajar Kiyai Dukuh yang kemudian bergelar Pangeran Kesunyatan, guru Pangeran Yusuf (Djajadiningrat, 1983:163). Di samping membangun Mesjid Agung di dekat alun-alun, Maulana Hasanuddin juga memperbaiki mesjid di Pacinan dan Karangantu (Ambary, 1978:1 dan Michrob, 1984:5).

Masjid Agung dan masjid di Pacinan ini mempunyai atap tumpang limasan dalam lima susun, dan ini menjadi model mesjid-mesjid kuno di Jawa, seperti Masjid Demak, Sendang Duwur dan sebagainya.

——————– kembali kehalaman pertama ——————–

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pengembangan Kesultanan Banten

  1. tri ilma berkata:

    Assalamualaikum
    Nama saya ilma..
    Saya alumni IAIN “SMH” Banten yang sedang penelitian…
    apakah bapak/ibu memiliki data tentang upaya rekonstruksi kesultanan Banten..
    atas perhatiannya, say ucapkan terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s