Konflik bersenjata Banten – Pajajaran


Konflik Bersenjata antara Banten dan Pajajaran

MASA MAULANA HASANUDDIN (1552 – 1570)

Dalam Babad Banten menceritakan bahwa Sunan Gunung Jati dan putranya, Hasanuddin, datang dari Pakungwati (Cirebon) untuk mengislamkan masyarakat di daerah Banten. Mula-mula mereka datang di Banten Girang, lalu terus ke selatan, ke Gunung Pulosari, tempat bersemayamnya 800 ajar yang kemudian semuanya menjadi pengikut Hasanuddin.

Di lereng Gunung Pulosari itu, Sunan Gunung Jati mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan keislaman kepada anaknya. Setelah ilmu yang dikuasai Hasanuddin sudah dianggap cukup, Sunan Gunung Jati memerintahkan supaya anaknya itu berkelana sambil menyebarkan agama Islam kepada penduduk negeri.

Hasanuddin berkeliling sambil berdakwah dari satu daerah ke daerah lain. Sesekali bertempat di Gunung Pulosari, Gunung Karang atau Gunung Lor, bahkan sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon. Setelah tujuh tahun melakukan tugasnya itu, Hasanuddin bertemu kembali dengan ayahnya, yang kemudian membawanya pergi menunaikan ibadah haji ke Mekah (Djajadiningrat, 1983:34).

Dalam menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk pribumi, Hasanuddin menggunakan cara-cara yang dikenal oleh masyarakat setempat, seperti menyabung ayam ataupun mengadu kesaktian. Diceritakan, bahwa dalam acara menyabung ayam di Gunung Lancar yang dihadiri oleh banyak pembesar negri, dua orang ponggawa Pajajaran, Mas Jong dan Agus Jo — disebut juga Ki Jongjo — memeluk agama Islam dan bersedia menjadi pengikut Hasanuddin.

Setelah Banten dikuasai oleh pasukan Demak dan Cirebon pada tahun 1525, atas petunjuk dari Syarif Hidayatullah, pada tanggal 1 Muharram 1526 M. atau 8 Oktober 1526 M, pusat pemerintahan Banten, yang tadinya berada di pedalaman yakni di Banten Girang (3 km dari kota Serang) dipindahkan ke dekat pelabuhan Banten. Dalam pemindahan pusat pemerintahan Banten ke pesisir tersebut, Syarif Hidayatullah pulalah yang menentukan dimana tempat dalem (istana), benteng, pasar, dan alun-alun harus dibangun.

Semakin besar dan majunya daerah Banten, maka pada tahun 1552 Banten yang tadinya hanya sebuah kadipaten diubah menjadi negara bagian Demak dengan Hasanuddin sebagai rajanya, dengan gelar Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan.

Masalah yang dianggap cukup penting dalam kesejarahan Banten adalah bagaimana usaha Maulana Hasanuddin dalam menjaga kestabilan politik dan keamanan negaranya. Hal ini ada kaitannya juga dengan keadaan negara tetangga, yakni Kerajaan Pajajaran, yang jaraknya tidak begitu jauh. Dari proses berdirinya Kerajaan Banten, yang secara kewilayahan sangat merugikan Pajajaran, dapatlah dipahami apabila kedua negara yang berbeda pandangan hidupnya ini saling curiga-mencurigai.

Pemerintahan di Banten merasa terancam keamanannya kalau-kalau pasukan Pajajaran akan merebut kembali wilayah yang telah diduduki tentara Islam, demikian juga sebaliknya. Kecurigaan ini didukung dengan banyaknya pertempuran kecil, terutama di daerah perbatasan kedua negara, yang masih terus berlangsung sampai 5 tahun. Baru pada tahun 1531 tercapailah kesepakatan damai antara Pajajaran, Banten dan Cirebon. Perjanjian ini di tandatangani oleh Surawisesa, Fatahillah, Hasanuddin dan Cakrabuana.

Di dalam Kerajaan Pajajaran sendiri, setelah perjanjian damai antara Banten dan Pajajaran ini ditandatangi, Surawisesa, raja Pajajaran saat itu, berkesempatan untuk menumpas pemberontakan di 15 daerah kekuasaannya. Dan baru setelah 2 tahun pemberontakan ini berhasil ditumpas. Pada tahun 1535 Surawisesa meninggal dunia yang kemudian dikuburkan di Padaren.

Surawisesa atau Ratu Sangiang dikenal dalam naskah babad dengan nama Guru Gantangan, sedangkan dalam pantun di sebut Mundinglaya Dikusuma. Penggantinya adalah Dewata Buana yang dikenal sebagai “raja resi”, karena dia lebih banyak hidup di pertapaan dari pada memperhatikan pemerintahan negaranya.

Dalam pada itu, mungkin karena kecurigaan kepada Pajajaran, Banten menyusun pasukan khusus yang mampu bergerak cepat, tanpa membawa nama Kerajaan Banten. Pasukan khusus yang dipimpin oleh Pangeran Yusuf, putra mahkota Banten, ditugaskan untuk menanggulangi kerusuhan-kerusuhan yang disebabkan oleh tentara Pajajaran atau pemberontak di perbatasan.

Namun, karena alasan yang belum jelas, pasukan ini menyerang serta menguasai beberapa daerah perbatasan, bahkan akhirnya menyerang ibukota Pakuan. Hanya berkat kuatnya benteng yang dibangun Sri Baduga, pasukan penyerang tidak mampu memasuki kota.

Akan tetapi dalam pertempuran ini gugur dua orang senapati tangguh yakni Tohaan Ratu Sarendet dan Tohaan Ratu Sangiang. Gagal memasuki ibukota Pajajaran, pasukan ini mengalihkan sasaran dengan menguasai daerah Sumedang, Ciranjang dan Jayagiri.

Ratu Dewata memerintah selama 8 tahun (1535 – 1543), penggantinya adalah Ratu Sakti yang memerintah secara kejam dan lalim. Banyak penduduk dihukum mati dan dirampas hartanya tanpa alasan. Raja ini dicap sebagai melanggar adat keraton kerena mengawini seorang putri larangan dari keluaran. yang dilarang adat secara keras. Bahkan, yang lebih parah, Ratu Sakti pun diketahui memperistri ibu tirinya sendiri. Ratu Sakti meninggal pada tahun 1551 dan digantikan oleh Sang Nilakenda atau Sang Lumahing Majaya.

Sang Nilakenda lebih banyak mementingkan hal-hal mistis. Upacara-upacara mistis ini menggunakan matra-mantra dalam ketidaksadaran (mabuk). Hal ini mendorong penghuni istana kepada ketagihan minuman keras. Pekerjaan raja hanya berfoya-foya dan menjurus ke arah kemaksiatan.

Gejala demikian akhirnya menyebar ke seluruh penduduk negeri, sehingga membawa kelemahan negara, kekacauan pemerintahan dan penderitaan bagi rakyat Pajajaran.

Keadaan yang tidak terkendali di Pajajaran ini dianggap berbahaya bagi keamanan penduduk Banten, di samping suatu kesempatan baik. Barangkali ini pulalah yang mendorong Maulana Hasanuddin untuk segera mengadakan serangan ke pusat pemerintahan Pajajaran. Pakuan dengan mudah dikuasai pasukan Pangeran Yusuf pada tahun 1567; walaupun Sang Nilakendra sendiri dapat meloloskan diri.

Raja Pajajaran terakhir adalah Ragamulya atau Prabu Surya Kencana. Raja ini tidak berkedudukan di Pakuan, melainkan di Pulosari, Pandeglang, sehingga disebut juga Pucuk Umun (Panembahan) Pulosari. Karena kedudukan Pulosari demikian sulit ditembus musuh, maka baru pada masa pemerintahan Maulana Yusuf — yang merasa tidak terikat perjanjian dengan Pajajaran — benteng Pulosari ini dapat direbut pasukan Banten dengan susah payah.

Kejadian ini berlangsung pada Pajajaran sirna ing bhumi ekadaci weshakamasa sahasra limangatus punjul siji ikang sakakala (tanggal 11 suklapaksa bulan Wesaka tahun 1501 Saka). Dihitung dengan penanggalan Masehi dan Hijriah akan jatuh pada tanggal 8 Mei 1579 atau 11 Rabiul awal 987, hari Jum’at Legi.

Pasukan Banten ini dipimpin langsung oleh Maulana Yusuf yang berangkat dari Banten pada hari Ahad tanggal 1 Muharam tahun Alif dengan sangsakala bumi rusak rekeh iki atau tahun 1501 Saka.

Dari keterangan di atas, dapatlah diketahui bahwa penyerangan Banten ke Pajajaran, sedikitnya terjadi dalam 3 gelombang besar:

Pertama, pada masa pemerintahan Ratu Dewata Buana (1535 – 1543) yang dikisahkan : “Datang na bencana musuh ganal, tambuh sangkane, prangrang di burwan ageung, pejah Tohaan Ratu Sarendet jeung Tohaan Ratu Sangiang” (Datang serangan pasukan tidak diketahui asal usulnya: perang di alun-alun, gugur Tohaan Ratu Sarendet dan Tohaan Ratu Sangiang).

Kedua, pada pemerintahan Nilakendra (1551 – 1567) yang dikisahkan: “Alah prengrang mangka tan nitih ring kadat-wan” (Kalah perang, karena itu tidak tinggal di keraton).

Ketiga, pada masa pemerintahan Ragamulya (1567 – 1579) yang dikisahkan: “tembey datang na prebeda, bwana alit sumurup ing ganal, metu sanghara ti Selam” (mulailah datang perubahan, budi tenggelam datang nafsu, muncul bahaya dari Islam).

—————– kembali kehalaman pertama —————–

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s