Perluasan Pengaruh Islam di Banten


Perluasan Pengaruh Islam Di Banten

Sejalan dengan perkembangan pelabuhan Banten, maka semakin banyak orang-orang Islam yang berkunjung dan menetap di kota pelabuhan ini, sehingga lama kelamaan Banten menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Untuk penyebaran agama Islam kepada penduduk pribumi Banten, peran Hasanuddin beserta pengikut-pengikutnya sangat menentukan.

Dengan kehalusan akhlak dan ketinggian ilmu keislamannya, Hasanuddin mendapat sambutan baik, yang akhirnya beberapa pembesar negri dan bahkan 800 ajar beserta pengikutnya memeluk Islam. Dalam pada itu, di wilayah timur, pusat pengembangan agama Islam didorong oleh kerajaan Demak. Trenggono, raja Demak ke-3 pengganti Dipati Unus, bercita-cita meluaskan pengaruh Islam ke seluruh Pulau Jawa ─ yang berarti juga perluasan hegemoni Demak.

Melihat perkembangan kekuatan Islam di barat dan timur yang cukup pesat ini, menimbulkan kekhawatiran raja Pajajaran kalau-kalau agama Hindu ─ yang menjadi agama negara ─ akan makin terdesak, dan Pajajaran akan kehilangan kewibawaannya di daerah pantai.

Untuk menanggulangi bahaya ini maka raja Pajajaran mengambil kebijaksanaan, antara lain:

  • Pertama, membatasi pedagang-pedagang yang beragama Islam mengunjungi pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah pengawasan Pajajaran.
  • Kedua, mengadakan hubungan persahabatan dan kerja sama dengan kuasa Portugis yang berkedudukan di Malaka, dengan maksud agar Portugis dapat membantu Pajajaran kalau diserang Demak.

Dalam pada itu, sampai tahun 1521 yang berkuasa di Pajajaran adalah Jayadewata yang bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata atau disebut juga Prabu Silihwangi.

Untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan orang Portugis di Malaka itu raja mengutus putra mahkota, Ratu Sangiang atau Surawisesa.

Ajakan kerja sama di bidang militer ini sudah tentu diterima baik oleh Jorge d’Albuquerque, penguasa tertinggi Portugis di Malaka, yang memang berkeinginan menguasai kerajaan Pajajaran yang kaya dengan lada. Bahkan maksud yang lebih jauh lagi yaitu untuk menghancurkan dan menguasai kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam di Jawa.

Pada tanggal 21 Agustus 1522, Henrique Leme, utusan Gubernur Malaka menandatangani perjanjian persahabatan dengan raja Pajajaran, Pangeran Surawisesa, pengganti Sri Baduga, yang isinya antara lain:

  • Portugis dapat mendirikan benteng di pelabuhan Sunda Kalapa.
  • Raja Pajajaran akan memberikan lada sebanyak yang diperlukan Portugis sebagai penukaran barang-barang kebutuhan Pajajaran.
  • Portugis bersedia akan membantu Pajajaran apabila diserang tentara Demak atau yang lainnya.
  • Sebagai tanda persahabatan, raja Pajajaran menghadiahkan 1000 karung (1000 x 10600 caxas Jawa = 160 bahar = 351 sentenar) lada setiap tahun kepada Portugis.

Untuk memperingati dan sebagai tanda adanya perjanjian tersebut, dibuatlah tugu batu di pinggir kiri muara sungai Ciliwung.

Tindakan raja Pajajaran ini bukannya menyelesaikan masalah, melainkan membuat situasi semakin tidak menentu. Rakyat kerajaan Pajajaran, yang sudah banyak beragama Islam, menyambut perjanjian persahabatan Portugis ini dengan ketidakpuasan.

“Pamor” raja di mata rakyat semakin menurun. Beberapa daerah pesisir berusaha pula melepaskan diri dari pengawasan Pajajaran. Terjadilah perlawanan rakyat yang antara lain dipimpin oleh Hasanuddin yang menentang perjanjian itu.

Dalam pada itu, mendengar perjanjian persahabatan antara Pajajaran dengan Portugis ini, yang salah satunya ditujukan langsung kepada Demak, Trenggono, raja Demak, menjadi marah. Karena itu ia berusaha untuk menghancurkan kekuasaan Portugis di Nusantara, berikut Pajajaran yang berani mengadakan perjanjian dengan bangsa asing yang dibencinya. Peristiwa inilah, salah satunya, yang menjadi momentum perluasan pengaruh Islam ke wilayah Jawa Barat.

Kemarahan raja Demak kepada Pajajaran ini dapat dimaklumi, karena perjanjian itu diadakan tidak lama setelah kegagalan Demak, secara beruntun, dalam usahanya mengusir bangsa Portugis di Malaka. Demak berusaha menghancurkan kekuasaan Portugis di Malaka, tapi di lain pihak Pajajaran mengadakan perjanjian persahabatan.

Masuknya Portugis ke Pulau Jawa akan berakibat fatal bagi kemerdekaan nusantara secara keseluruhan. Dalam kondisi dan situasi psikologis kekalahan yang masih membekas di kalangan para pemimpin Demak ini, maka kerjasama militer Pajajaran dengan Portugis itu dianggap sebagai serangan balasan terhadap Demak, dan karenanya merupakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup kerajaan Demak.

Dari aspek ekonomi, penguasaan Portugis atas jalur pelayaran ke Selat Malaka, dapat mematikan sumber ekonomi Demak ─ karena di Malaka, hasil bumi Demak dipasarkan untuk nanti ditukarkan dengan barang kebutuhan rakyat. Di samping itu, pembatasan pedagang muslim di kota-kota pelabuhan Pajajaran, menimbulkan rasa permusuhan antara dua kerajaan bertetangga yang berlainan pandangan hidup tersebut.

Peristiwa inilah yang mendorong makin besarnya hasrat Trenggono untuk segera menguasai Pajajaran. Atas pertimbangan-pertimbangan ini, Trenggono menugaskan Fatahillah, saudara ipar dan juga panglima perang Demak, bersama dengan 2000 pasukan pilihan untuk segera menyerang Pajajaran.

Sebelum mengadakan penyerbuan ke Pajajaran, pasukan Demak yang dipimpin Fatahillah, dengan menggunakan kapal-kapal besar berangkat ke Cirebon untuk mendengar nasehat Syarif Hidayatullah. Dari Cirebon inilah direncanakan strategi penyerangan. Sesuai dengan saran Syarif Hidayatullah, pasukan gabungan Demak dan Cirebon yang dipimpin oleh Fatahillah, Pangeran Cirebon, Dipati Keling dan Dipati Cangkuang berangkat ke Banten.

Dan tanpa mengalami banyak kesulitan yang berarti, pasukan gabungan ini dapat menguasai Banten pada tahun 1525 (Djajadiningrat, 1983: 125). Hal ini bukan saja karena kuatnya pasukan gabungan Demak-Cirebon, tapi juga berkat bantuan dari pasukan pribumi yang dipimpin oleh Hasanuddin.

Selanjutnya, untuk pemantapan keamanan di daerah yang baru dikuasai ini maka diangkatlah Hasanuddin menjadi Adipati Banten dengan pusat pemerintahan di Banten Girang. Sesuai dengan penetapan Syarif Hidayatullah, pusat pemerintahan di Banten Girang ini kemudian dipindahkan ke dekat pelabuhan yang kemudian disebutnya Surosowan. Pemindahan ibukota Banten ini terjadi pada tahun 1526 (Djajadiningrat, 1983: 123-124).

Setahun kemudian, yakni tahun 1527 terdengar berita bahwa pasukan Portugis dengan enam buah kapal besar dan persenjataan lengkap telah meninggalkan Malaka dengan tujuan Sunda Kalapa. Mendengar berita ini, Fatahillah dan Hasanuddin mengumpulkan para senapati untuk merundingkan tindakan selanjutnya; dan diputuskan untuk segera menguasai Sunda Kalapa.

Maka disiapkanlah pasukan gabungan Demak, Cirebon dan Banten untuk berangkat ke Sunda Kelapa melalui jalan darat dan laut. Penyerbuan ini dipimpin oleh Fatahillah, Pangeran Cirebon, Dipati Keling dan Dipati Cangkuang dengan tentara berkekuatan 1452 orang (Purwaka, tt: 23).

Dengan bantuan penduduk setempat, yang memang sudah banyak beragama Islam, maka dengan mudah Sunda Kelapa dapat dikalahkan pada tahun 1527. Atas persetujuan Sultan Demak dan Syarif Hidayatullah, maka Fatahillah diangkat menjadi Adipati di Sunda Kelapa.

Dan untuk menyatakan rasa syukur atas kemenangan ini, nama Sunda Kelapa diganti dengan Jayakarta yang artinya “kota yang menang”.

Tidak lama kemudian, armada Portugis dari Malaka yang dipimpin oleh Francisco de Sa sampai di bandar Sunda Kelapa dengan maksud semula untuk membangun benteng, sesuai dengan perjanjian tahun 1522. Pasukan Portugis ini terdiri dari dua buah galyun, sebuah gale, sebuah galeota, sebuah caravella dan sebuah brigantin dengan persenjataan lengkap berupa meriam-meriam besar dan senjata api lainnya (Djajadiningrat, 1983:80).

Mereka tidak mengetahui bahwa Sunda Kelapa sudah dikuasai tentara Islam. Tentu saja maksud Portugis itu ditolak Fatahillah. Hal ini membuat Francisco de Sa marah dan mengancam hendak meng-hancurkan Sunda Kelapa. Maka terjadilah perang terbuka di pelabuhan Sunda Kelapa. Tentara Portugis mendapat perlawanan hebat dari tentara Islam yang dipimpin oleh Pangeran Cirebon, sehingga mereka semuanya kembali ke kapal dan meminta bantuan dari kapal-kapal perang mereka yang masih menunggu di lepas pantai. Akhirnya, karena didorong semangat jihad, pasukan Islam dapat mengusir Portugis dari perairan Jayakarta.

Diceritakan pula, bahwa sebelum pasukan Portugis itu sampai di Teluk Jakarta, di tengah perjalanan terjadi angin ribut, sehingga sebuah kapal brigantin yang dipimpin oleh Duarte Coelho terpisah dari kapal yang lain dan kandas di pelabuhan Banten. Kapal Portugis ini pun dapat dikuasai prajurit Banten, sehingga banyak tentaranya terbunuh (Djajadiningrat, 1983: 81-82).

Setelah berhasil mengamankan Sunda Kalapa dari ancaman Portugis, Hasanuddin dan Fatahillah bekerja sama menangani pembangunan di Banten dan Jayakarta. Hasanuddin bertanggung jawab dalam masalah pengembangan wilayah dan pendidikan kamasyarakatan, sedangkan Fatahillah menangani bidang keamanan dan pertahanan wilayah. Sehingga pada masa itu Islam menyebar dengan pesat dan keamanan negara terjamin. Kedua penguasa wilayah ini memerintah atas nama Sultan Demak (Hamka, 1976:178).

Penguasaan Banten dan Sunda Kalapa ini mempunyai arti yang sangat penting bagi kerajaan Demak, karena antara lain:

  • Dengan dikuasainya Banten dan Sunda Kalapa, akan memudahkan pengembangan pengaruh Islam ke Pajajaran di kemudian hari.
  • Banten dapat dijadikan tempat yang strategis bagi perluasan wilayah Demak ke pantai selatan Sumatra, Lampung dan Palembang yang kaya akan cengkeh dan lada.
  • Dengan dikuasainya pantai utara Jawa Barat yaitu Banten, Sunda Kalapa dan Cirebon, maka kekhawatiran Demak atas pengaruh Portugis di Pulau Jawa dapat diatasi.
  • Banten juga dapat dijadikan pusat penyebaran agama Islam untuk masyarakat Jawa Barat dan sebagian Sumatra Selatan yang masih animis.

Melihat perkembangan kemajuan daerah Banten yang pesat, maka pada tahun 1552 Kadipaten Banten ditingkatkan statusnya menjadi Kerajaan di bawah pengawasan Demak, dengan Hasanuddin sebagai raja Banten pertamanya. Sedangkan Fatahillah pada tahun yang sama (1552) diangkat menjadi penguasa di Cirebon mewakili Syarif Hidayatullah, karena Pangeran Pasarean yang memerintah sebelumnya telah meninggal pada tahun 1552 itu. Untuk menjalankan tugas pemerintahan di Jayakarta diangkat Pangeran Bagus Angke, menantu Hasanuddin (Purwaka, tt: 27).

—————— kembali kehalaman pertama ——————

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s