Deskripsi Banten masa Kerajaan Sunda


DESKRIPSI BANTEN PADA MASA KERAJAAN SUNDA / PAJAJARAN

Ibukota Kerajaan Sunda/Pajajaran ini disebut dengan nama Pakwan atau menurut berita dari Barros — seorang pelaut Portugis — dengan nama Daio/ Dayo . Kota Pakwan/Pakuan ini terletak kira-kira di daerah Bogor sekarang.

Agama yang dianut oleh raja dan rakyat Pajajaran adalah agama Hindu-Budha. Dan untuk penyembahan terhadap dewa-dewanya, mereka banyak mendirikan kuil dan biara. Di antaranya ada biara yang dikhususkan untuk menampung wanita-wanita yang ditinggal mati suaminya — tetapi tidak mau dibakar bersama jenazah suaminya, dan ada juga biara untuk wanita tua yang belum mendapatkan suami.

Bandar-bandar kerajaan Sunda, oleh Tome Pires, inspektur pajak Portugis di Malaka yang ikut dalam ekspedisi ke Pulau Jawa (1512 – 1515) digambarkan sebagai berikut:

  • Banten, merupakan sebuah kota niaga yang baik, terletak di tepi sebuah sungai. Kota ini dikepalai oleh seorang Kapten (=Syahbandar?), sedangkan wilayah niaganya mencapai Sumatra dan bahkan kepulauan Maladewa. Pelabuhan Banten merupakan pelabuhan besar dan merupakan pula bandar untuk beras, bahan makanan, dan lada.
  • Pondang (Pontang?), merupakan sebuah kota yang besar, tetapi pelabuhannya tidak sepenting Banten. Jalur niaga dan barang- barang yang diperdagangkannya sama dengan Banten.
  • Cheguide (Cikande?), juga sebuah kota besar. Perniagaan dari bandar ini dilakukan dengan Pariaman, Andalas, Tulangbawang, Sekampung, dan lain-lain. Barang dagangannya sama dengan Banten dan Pondang.
  • Tangaram (Tangerang), yang merupakan kota besar, barang dagangannya juga sama dengan bandar-bandar yang disebutkan terdahulu.
  • Calapa (atau Xacatra = Jakarta, merurut Joao de Barros), merupakan sebuah kota yang sangat besar, serta terbaik. Hubungan niaganya juga lebih luas, antara lain dengan Sumatra, Palembang, Lawe, Tanjungpura, Malaka, Makasar, Jawa dan Madura. Pelabuhan ini letaknya kira-kira dua hari perjalanan dari ibukota kerajaan Pajajaran, yang disebut Dayo (=dayoh, kota), tempat raja bersemayam. Para pedagang dari seluruh kerajaan (Pajajaran) selalu berdatangan ke Kalapa. Pelabuhan ini diperintah secara teratur, lengkap dengan hakim dan klerek. Raja mengeluarkan peraturan tertulis untuk setiap pelanggaran yang dilakukan penduduk setempat.
  • Chi Manuk/ Chemano (Cimanuk), merupakan bandar kerajaan Sunda yang paling timur, sekaligus sebagai batas kerajaan. Walaupun bandar itu dikatakan sebagai bandar yang besar dan cukup ramai, tetapi jung tidak dapat merapat. Di Cimanuk, sudah banyak berdiam orang-orang yang beragama Islam, walaupun syahbandarnya sendiri beragama Sunda.

Di samping memiliki bandar pelabuhan yang cukup ramai, seperti yang disebutkan di atas, kerajaan Sunda juga memiliki jalan lalulintas darat yang cukup penting, yang sedemikian jauh sedikit sekali diketahui oleh para pedagang asing di masa yang lebih kemudian. Jalan darat itu, ada dua jurusan yang semuanya berpusat di Pakuan Pajajaran; satu menuju ke arah timur, dan yang lainnya menuju ke arah barat.

Jalan yang menuju ke timur, menghubungkan Pakuan dengan Karangsambung yang terletak di tepi Cimanuk — batas kerajaan di sebelah timur — melalui Cilongsi dan Cibarusa, lalu dari sana, membelok ke arah utara sampai di Karang, di tepi Citarum (desa Tanjungpura). Dari Tanjungpura, ada sambungannya melalui Cikao dan Purwakarta, kemudian berakhir di Karangsambung.

Barangkali dari Karangsambung jalan itu masih ada terusannya ke arah timur dan selatan. Yang ke timur sampai Cirebon, lalu berbelok ke selatan lewat Kuningan, dan akhirnya sampai di Galuh dan Kawali. Sedangkan jalan satunya lagi, dari Karangsambung ke arah selatan, melalui Sindangkasih dan Talaga sampai di Galuh dan Kawali.

Jalan lainnya yang menuju ke barat, bermula dari Pakuan Pajajaran melalui Jasinga dan Rangkasbitung, menuju Banten Girang (girang = hulu)[6] dan berakhir di Banten yang merupakan bandar kerajaan Sunda yang paling barat. Jalan darat lainnya dari Pakuan Pajajaran menuju Ciampea dan Rumpin, berakhir di situ, karena perjalanan selanjutnya dilakukan dengan melalui sungai Cisadane, — yang memang cukup baik alirannya sejak muara Cianten — menuju ke Pontang, Cikande dan Tangerang. Melalui jalan-jalan darat dan sungai itulah hasil bumi kerajaan Pajajaran diangkut, dan melalui jalan yang sama itu pula keperluan penduduk di pedalaman dikirimkan.

Untuk ke Kalapa, dipakai jalur sungai Ciliwung yang dapat dilayari dari Pakuan dalam waktu dua hari. Karena itulah Pelabuhan Kalapa dapat dianggap gerbang masuk ke Pakuan.

Pada awal abad XVI, yang berkuasa di Banten adalah Prabu Pucuk Umun dengan pusat pemerintahan Kadipaten di Banten Girang. Untuk menghubungkan antara Banten Girang dengan pelabuhan Banten, dipakai jalur sungai Cibanten yang pada waktu itu masih dapat dilayari, disamping masih ada jalan darat yang melalui Klapadua.

Pada waktu Tome Pires mengunjungi Banten pada tahun 1513, Banten merupakan pelabuhan yang belum begitu berarti, tetapi sudah disebutkan sebagai pelabuhan kedua terbesar dari kerajaan Sunda setelah Kalapa. Hubungan dagang telah banyak dilakukan antara Banten dengan Sumatra, dan juga Maladewa.

Pada waktu itu, Banten sudah merupakan pelabuhan pengekspor beras, bahan makanan dan lada. Sedangkan sekitar tahun 1522 Banten sudah merupakan pelabuhan yang cukup berarti, yang setiap tahunnya kerajaan Sunda mengekspor 1000 bahar lada melalui pelabuhan Banten dan Kalapa.

Ketika kerajaan Islam berdiri, pusat kekuasaan di wilayah ini, yang semula berkedudukan di Banten Girang, dipindahkan ke kota Surosowan, di Banten Lama dekat pantai. Dari sudut politik dan ekonomi, pemindahan ini dimaksudkan untuk memudahkan hubungan antara pesisir Utara Jawa dengan pesisir Sumatra, melalui Selat Sunda dan Samudra Indonesia. Situasi ini berkaitan dengan kondisi politik Asia Tenggara masa itu, dimana Malaka sudah jatuh di bawah kekuasaan Portugis, sehingga pedagang-pedagang yang segan berhubungan dengan Portugis mengalihkan jalur pelayarannya melalui Selat Sunda.

Secara arkeologis, rangkaian perubahan-perubahan kultural di Banten ketika masa pra-kesultanan ditandai oleh artefakta Sunda yang Hindu-Budhistik. Miksic menyatakan bahwa ketika perubahan tersebut menyentuh tataran sosialisasi Islam, maka terhadap perubahan ikutan unsur kultural yang berasal dari pengaruh Jawa Timur dan Jawa Tengah, serta panggantian simbol-simbol keagamaan Hindu-Budha dengan Islam. Selanjutnya John N. Miksic menganjurkan agar dikembangkan kajian terhadap himpunan gerabah yang berasal dari masa Hindu Pajajaran.

————– kembali kehalaman pertama ————–

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

2 Balasan ke Deskripsi Banten masa Kerajaan Sunda

  1. aditkus berkata:

    nice info, saya juga salah satu penikmat sejarah

  2. Alief Djatisunda berkata:

    haturnuhun informasina, sae pisan tiasa nambihan elmu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s