Rekonstruksi Kehidupan Prasejarah di Banten


REKONSTRUKSI KEHIDUPAN PRASEJARAH BANTEN

PANDEGLANG, Rekonstruksi tingkat kehidupan prasejarah di wilayah Propinsi Banten, mungkin harus ditarik paling tidak ke bentang waktu antara 10.000 – 5.000 tahun lalu, sebagaimana acuan bukti-bukti hadirnya bekas-bekas habitasi kelompok-kelompok manusia di wilayah ini.

Titimangsa tersebut boleh bersifat hipotetis dan sangat sementara, mengingat di wilayah Banten selain ditemukan sisa-sisa teknologi tingkat kehidupan masa bercocok tanam, juga ditemukan sisa-sisa budaya gua, dan tradisi pembuatan alat-alat batu inti dan serpih bilah di Cigeulis, Pandeglang.

Salah satu hal yang agak kurang menguntungkan dalam kajian tingkat kehidupan masa prasejarah di wilayah Banten, adalah masih kurangnya penelitian arkeologi secara intensif dan berkesinambungan di wilayah dimaksud. Penelitian-penelitian belum dilakukan secara menyeluruh dan masih bersifat sepotong-sepotong.

Pada Kala Plestosin (± 3 juta – 10.000 tahun sebelum Masehi) dimana terjadi penurunan drastis suhu bumi sehingga es yang biasanya hanya ada di daerah kutub telah meluas, dan permukaan air laut turun drastis, disamping terjadi pengangkatan daratan sehingga juga terbentuk gunung/ pegunungan baru. Pulau Jawa, Sumatra dan Kalimantan menjadi satu dataran dengan benua Asia dan Eropa, yang disebut dengan paparan Sunda (Sunda shelf), sedangkan pulau-pulau di bagian timur Indonesia bersatu dengan Australia yang disebut paparan Sahul (Sahul shelf).

Masa inilah yang diduga sebagai masa penyebaran penduduk Nusantara. Baru setelah adanya perubahan iklim yang diikuti dengan pencairan es, pulau-pulau tersebut menjadi terpisah oleh lautan. Selat Sunda yang dulunya merupakan sungai besar, berubah menjadi selat yang memisahkan Sumatra dan Jawa. Dengan ditemukannya singkapan endapan tanah formasi plestosen di Banten, maka diyakini bahwa daerah ini muncul semasa dengan munculnya benua Asia (Kartodirdjo, 1975: 33).

Secara umum, perkembangan budaya manusia pada masa prasejarah digambarkan berupa 3 tahapan yang masing-masing memiliki ciri tertentu: masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, dan masa kemahiran teknik (perundagian). Masa berburu dan mengumpulkan makanan, ditandai dengan kepandaian berburu binatang hutan, menangkap ikan, kerang dan siput di lat atau di sungai dan mengumpulkan makanan dari alam sekitarnya, misalnya umbi-umbian seperti keladi, buah-buahan atau biji-bijian dan daun-daunan.

Hidup berburu dan mengumpul makanan adalah cara hidup yang pokok pasa masa itu. Mungkin merekapun telah mengenal pertanian, walau dengan cara yang sangat sederhana dan dengan cara berpindah-pindah sesuai dengan kesuburan tanah dan alam lingkungannya. Biasanya mereka sudah mempunyai tempat tinggal di goa-goa alam di dekat sumber air atau sungai walau tidak tetap. Mereka akan berpindah tempat apabila keadaan alam atau persediaan makanan sudah makin berkurang.

Dalam hal alat-alat penopang hidupnya pun sangat sederhana yang dibuat dari batu, tulang ataupun bambu, berupa batu atau tulang yang ditajamkan, seperti kapak perimbas, kapak penetak, pahat genggam, kapak genggam dan alat serpih.

Dalam keadaan yang lebih maju, mereka juga membuat mata anak panah yang terbuat dari batu atau tulang yang diberi gerigi untuk keperluan berburu binatang. Walaupun mereka sudah hidup berkelompok, namun dalam ukuran yang sangat sederhana, tergantung dari keadaan tempat yang ditinggalinya. Peninggalan masa ini di Banten dapat ditemukan di Cigeulis, Pandeglang berupa kapak perimbas, kapak penetak, pembelah dan serpih bilah. Di Sanghiyang Sirah, Ujung Kulon juga ditemukan lukisan gua yang kemungkinan besar dibuat oleh penghuni gua pada masa itu.

Masa kehidupan bercocok tanam (neolitik), masa ini ditandai dengan mulai cara hidup menetap di suatu perkam-pungan yang terdiri dari tempat-tempat tinggal sederhana yang didiami secara berkelompok oleh beberapa keluarga. Populasi mulai meningkat, dan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan mulai diatur antar anggota masyarakat. Kegiatan bercocok tanam, pemeliharaan hewan ternak sudah mulai dibiasakan di samping kegiatan berburu dan menangkap ikan masih terus dilakukan.

Unsur kepercayaan dalam kehidupan perkampungan sangat dipentingkan untuk membina, mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan dalam hidup bersama. Pemujaan kepada benda-benda alam yang besar seperti gunung-gunung, matahari, bulan, laut, pohon-pohon besar, arwah nenek moyang yang dianggap sakti dan keramat yang akan dapat menolong dan mencegah kemurkaan alam menjadi dasar kepercayaan mereka.

Teknologi pembuatan pakaian, gerabah (alat yang dibuat dari tanah liat), alat-alat kerja, dan perhiasan mulai dikenal; pembuatan alat berburu seperti kapak, beliung persegi dan mata tombak atau anak panah mulai ditingkatkan dengan diasah halus dan spesifik. Pada tahun 1980 ketika Departemen Pekerjaan Umum melaksanakan perluasan dan perbaikan irigasi DAS Cibanten Hilir tepatnya di plot Kampung Odel, Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang sekitar 2 km di selatan Masjid Agung Banten, ditemukan berbagai benda berciri prasejarah, seperti serpih, bilah, alat batu inti, beliung persegi, belincung, fragmen gerabah “cord-marked”, manik-manik, fragmen gelang dan cincin perunggu, yang seluruhnya bercampur dengan temuan-temuan yang berciri Banten-Islam.

Hasil survey dan ekskavasi yang dilakukan di Karadenan, Odel dan Kenari yang masih termasuk DAS Cibanten, memperlihatkan jenis-jenis temuan sebagai berikut:

  • alat batu 186 buah
  • tatal batu 600 buah
  • batu apung 9 buah
  • pecahan batu (chunk) 17 buah
  • pecahan gerabah 5.280 buah
  • pecahan keramik 581 buah
  • manik-manik 43 buah
  • k a c a 24 buah
  • fragmen logam 29 buah
  • fragmen tulang 73 buahfragmen gigi 17 buah

Dari ketiga plot penelitian di sepanjang DAS Cibanten Hilir tersebut, terlihat akumulasi data yang menampakkan kecenderungan membentuk pola linear, yaitu pola huni di sepanjang aliran sungai. Sungai merupakan lingkungan mikro yang dianggap penting, baik sebagai prasarana transportasi atau pun sumber daya untuk keperluan industri, rumah tangga dan sebagainya.

Mengingat salah satu kondisi situs telah teraduk, yang berdampak tercampurnya unsur-unsur budaya berciri prasejarah dan Banten-Islam, menimbulkan permasalahan apakah situs Odel merupakan situs prasejarah yang kemudian langsung sinambung dengan situs Banten-Islam, ataukah situs Odel merupakan multi component-site.

Apabila sebagai situs yang berkesinambungan, diasumsikan akan ditemui tingginya tingkat persamaan dalam perbandingan unsur-unsur budaya prasejarah dan Banten-Islam. Namun pada kasus situs Odel ini, yang dijumpai adalah tingginya tingkat perbedaan kedua budaya tersebut, yang mana ini berarti bahwa situs Odel di DAS Cibanten Hilir merupakan multi component-site.

Pada tingkat kehidupan berikutnya, wilayah Banten memasuki masa proto sejarah yang antara lain ditandai oleh kehadiran, pembuatan dan penggunaan benda-benda logam, yang secara tipologis di masa-masa lalu sering dikaitkan dengan Budaya Dongson. Penemuan berbagai kapak perunggu tipe kapak corong di Pamarayan, Kopo, Pandeglang, Cikupa dan Cipari.

Selain itu ditemukan pula benda-benda perunggu dan besi dari jenis senjata dan alat-alat pertanian, menunjukkan jenis penggunaan dan pengenalan terhadap teknologi pembuatan benda-benda logam itu sendiri.

Salah satu temuan penting ialah sebuah nekara perunggu dari Banten dengan tipe Heger IV. Seperti halnya penemuan nekara dari Waleri (Jawa Tengah), maka temuan nekara tipe Heger IV ini termasuk langka di Indonesia, karena biasanya yang ditemukan adalah nekara-nekara tipe Heger I (Soerjono et al, 1984: 246).

Nekara tipe Heger IV berbentuk seperti dandang terbalik, bagian atas datar dan bagian bawah terbuka. Nekara ini mempunyai bidang pukul menutup badan nekara, bahu berbentuk cembung dan bagian tengahnya hanya sedikit membentuk cekungan pinggang dan selanjutnya melurus ke bawah. Pada nekara ini tampak bentuk seolah-olah bagian atas lebih besar daripada bagian bawah. Tipe ini juga disebut dengan tipe Cina.

Proto-sejarah wilayah Banten semakin lengkap dengan ditemukannya situs yang mengandung sistem penguburan di Anyer. Tempayan kubur Anyer berisi tulang belulang manusia yang mayatnya dikuburkan secara primer beserta benda-benda gerabah dan atau perunggu yang berfungsi sebagai “bekal kubur”. Situs Anyer ditemukan pada tahun 1954, dan pada tahun berikutnya (1955) diselidiki oleh Hendrik Robert van Heekeren dan Basuki, dan baru pada tahun 1980-an dilanjutkan penelitiannya oleh Haris Sukendar dan Joyce Ratna Indraningsih. Diduga kebudayaan demikian adalah sisa dari kebudayaan megalitik tua (4500 – 2500 SM) yang berkembang di sana.

Benda-benda gerabah dari situs Anyer belum banyak diperoleh sebagai sample penelitian. Di antaranya adalah sebuah cawan berkaki (pedupaan) seperti yang ditemukan pada situs-situs kompleks budaya Buni (Jawa Barat Timur), serta sebuah kendi tanpa cerat berleher panjang, tanpa hiasan. Tempayan dan benda gerabah Anyer, pada umumnya merupakan gerabah berwarna coklat kehitaman dan diupan. Masa perkembangan gerabah Anyer diduga antara 200 – 500 Masehi.

Di antara masa-masa akhir neolitik-perundagian (logam awal), bahkan sampai pada masa sejarah, tumbuh dan berkembang budaya dan tradisi megalit, yang beresensi pada kultus/pemujaan leluhur, yang diwujudkan melalui pendirian bangunan-bangunan batu, baik secara mengelompok (kompleks) maupun individual.

R. von Heine Geldern (1945: 151), menganggap bahwa tumbuh-berkembangnya budaya megalit ke Indonesia berlangsung dalam dua aliran, yakni:

1)    Megalit tua; yang dalam perkembangannya dibawa oleh aliran etnik atau kultural, yang datang pada tingkat kehidupan bercocok tanam, dengan komunitas manusia yang memperkenalkan budaya beliung persegi. Budaya ini berlangsung antara 2.500 – 1.500 SM, dengan memperkenalkan adat pendirian menhir[1] (tunggal maupun kelompok), dolmen [2] (bukan berupa kuburan), pelinggih batu, undakan batu[3], patung-patung simbolik monumental, dan lain-lain.

2)        Megalitik muda; rangkaian migrasi yang berlangsung pada masa berkembangnya kebudayaan Dongson[4] dan Logam Awal, memperkenalkan adat pendirian kubur peti batu, kubur dolmen, sarkopagus[5] dan kubur bejana batu (stone vats).

3)        Menurut Rumbi Mulia (1980: 609), penemuan-penemuan bangunan arca/area megalit di wilayah Banten, antara lain ditemukan di:

  • Tenjo, Pandeglang: arca dengan teknik pahat dasar, seluruh bagian utama tubuh lengkap, bentuk-bentuk dan ukuran mata, telinga tidak proporsional. Arca ini sekarang disimpan di Museum Nasional (Inv. no. 480n), digambarkan dalam posisi duduk.
  • Candi, Lebak: bangunan megalit dengan 11 arca di atasnya, yang seluruhnya kini disimpan di Museum Nasional (Inv. No. 4222 s/d 4232).
  • Kerta, Parengkujang, Lebak: ditemukan arca dari batu tanah liat (clay-stone), disimpan di Museum Nasional (Inv. No. 3865).
  • Kosala, Lebak: bangunan berundak dan di dekatnya ditemukan arca yang dikenal sebagai arca Kosala, pahatan menggambarkan posisi sedang duduk.

Bangunan megalit Kosala dan Arca Domas mem-perlihatkan adanya hubungan dengan orang-orang Baduy yang kini hidup meng-isolir diri di daerah Banten Selatan. Monumen-monumennya berupa bangunan batu berundak lima tingkat, dan pada setiap undak terdapat menhir (Soejono et al., 1984: 219). Dalam kompleks tersebut dijumpai batu berbentuk segi lima, di bagian bawah yang tertanam dalam tanah terdapat sejumlah batu bulat bergaris tengah antara 10 – 15 cm.

Di situs ini pula terdapat arca kecil melukiskan tokoh yang duduk bersila, ditemukan dekat bangunan berundak. Kedua tangan arca ini digambarkan dilipat ke depan, dan salah satu tangannya mengacungkan ibujari. Arca Domas memiliki 13 undakan batu, dan undak paling atas didirikan sebuah menhir berukuran besar. Menurut kepercayaan orang Baduy, menhir ini merupakan lambang dari Batara Tunggal sang pencipta roh, dan kepadanya pula roh-roh tersebut kembali.

Peninggalan megalit di Lebak Sibedug berupa bangunan berundak empat, yang seluruhnya setinggi 6 meter. Di depan undakan batu ini terdapat lahan datar dan di sini pula terdapat sebuah menhir yang ditunjang batu-batu berukuran kecil.

Bangunan berundak di Kosala, Arca Domas dan Lebak Sibedug tersebut, masih dipuja dan dikeramatkan, dan karenanya bangunan-bangunan megalit di Banten Selatan ini termasuk kategori living megalithic culture, yang berarti benda-benda arkeologi/megalit yang masih berada dalam konteks sistem perilaku pendukungnya.

Hasan Muarif Ambary (1991: 397), menyatakan bahwa peninggalan kolosal bangunan megalitik di Lebak Sibedug (Cibedug) merupakan salah satu prototipe tempat pemujaan tradisi megalit yang umum terdapat di Asia Tenggara. Sementara itu Halwany Michrob (1988) melihat kemungkinan adanya persamaan-persamaan unsur arsitektur Lebak Sibedug dan Arca Domas terhadap berbagai bangunan di Madagaskar dari bagian barat sampai Rupa-nui, P. Paskah, Pekan, Formosa, Campa, Aoteraroa, New Zealand.

Khusus mengenai “orang Baduy” yang masih melakukan pemujaan / pengeramatan Arca Domas dan Lebak Sibedug, sebenarnya terbagi dalam kelompok Baduy Luar yang menghuni habitat seluas ± 2606 ha, dan Baduy Dalam yang menghuni habitat seluas ± 2515 ha, yang seluruhnya berada pada ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut.

Keterpencilan pemukiman orang Baduy, hendaknya dilihat dalam perspektif paling resen/modern. Karena dari perspektif orang Baduy sendiri, “isolasi” (jika pun istilah ini tepat untuk digunakan), sekaligus menampakkan keberhasilan orang Baduy dalam mengelola teknik adaptasi mereka terhadap lingkungan alam di mana mereka hidup dan tinggal.

Penemuan-penemuan unsur bangunan megalit dari wilayah Banten akhir-akhir ini, antara lain menghasilkan informasi mengenai adanya punden berundak di gunung Cupu, jajaran menhir di puncak Gunung Karang, dolmen di situs Sang Hyang Dengdek, menhir (Sirit Bedug) di Pandeglang, dan sebagainya (Michrob, 1988: 18).

Peninggalan prasejarah agaknya pernah ada di sekitar Banten Girang (Banten Hulu), sejak di tempat tersebut di situs itu ditemukan pula keramik Cina yang berasal dari masa Dinasti Han (206 SM – 220 M), serta undakan-undakan di atas gua Banten Girang.

Namun demikian agaknya memang perlu hati-hati dalam menafsirkan periodisasi bangunan-bangunan berundak. Agus Aris Munandar (1992: 284) menyatakan bahwa bangunan berundak di Jawa Barat tidaklah selalu berasal dari masyarakat yang mendukung tradisi megalit, karena ada juga bangunan-bangunan berundak yang dapat dihubungkan dengan kegiatan keagamaan masyarakat kerajaan Sunda (Hindu), bahkan pada periode akhir masa Hindu-Budha di Jawa.

Sebagai contoh bangunan berundak Kosala, yang pada jarak sekitar 100 meter ditemukan sebuah arca. Oleh beberapa sarjana arca tersebut dinyatakan sebagai arca Budha, tinggi 50 cm, dipahat dalam relief tinggi, sikap tangan menunjuk pada mudra tertentu. Menurut Rumbi Mulia (1980: 616-618), arca Kosala ini dihubungkan persamaannya dengan arca perwujudan jaman klasik akhir yang melambangkan pengruwatan, dan mungkin menggambarkan arca leluhur.

Peringatan ini kemudian diulangi oleh Satyawati Suleiman (1992: 318), yang menyatakan bahwa arca-arca tipe Pajajaran yang ditemukan di Jawa Barat memiliki bentuk yang sangat mirip dengan arca-arca yang ditemukan di wilayah Polynesia, maka dahulu arca-arca tipe Pajajaran sering disebut dengan arca tipe Polynesia. Ditambah lagi dengan lokasi penemuan yang seringkali di dekat/sekitar bangunan berundak, maka orang sering pula menafsirkannya sebagai arca prasejarah. Salah satu arca yang pernah disebut dengan tipe Polynesia ini, ada yang berinskripsi angka tahun antara 1263 – 1341 Masehi.

Betapa pun demikian, sungguh jelas bahwa wilayah Banten telah intensif dihuni sejak masa-masa paling tua untuk wilayah ini, yakni sejak masa pertanian awal, mungkin lebih awal lagi sejak masa berburu dan mengumpul makanan tingkat lanjut, seperti jika benar pada lukisan gua di Sanghiyang Sirah, Ujung Kulon, atau pun alat-alat batu, kulit kerang dan pecahan gerabah yang ditemukan di dasar-dasar gua Kampung Candi, pantai Bojonegara, yang malangnya telah diruntuhkan untuk “pemburuan batu” bagi keperluan pembuatan landasan pacu dan pembangunan bandara Sukarno Hatta.

Jika benar bahwa keramik masa Dinasti Han telah ditemukan di Banten Girang, setidaknya wilayah ini telah terjangkau hubungan internasional, lebih awal dari pertumbuhan komunitas nelayan di pantai utara Bekasi, dimana di komplek budaya Buni pernah ditemukan pecahan gerabah romano-roulette yang bertitimangsa abad-abad I – II Masehi.

Wilayah Banten tumbuh dan berkembangnya tak lepas kait dengan vitalitas Selat Sunda sebagai alur alternatif perdagangan dan pelayaran samudra India – Laut Cina Selatan — selain melalui Selat Malaka. Kesinambungan habitasi berbagai pusat pemukiman di wilayah Banten, adalah sekedar kelanjutan tradisi mengoptimalkan wilayah-wilayah pemukiman yang memiliki daya dukung potensial, sejak masa prasejarah, sejarah dan resen.

—————– Kembali ke halaman pertama —————–

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s