Kesinambungan Budaya Prasejarah Banten


PANDEGLANG, Pengungkapan periode awal berkembangnya Hinduisme di wilayah Banten belum banyak didasarkan pada fakta-fakta arkeologis, meski pun beberapa di antaranya memiliki signifikansi hubungan dengan berbagai pusat politik, seperti Tarumanagara dan Pakuan Pajajaran. Salah satu usaha untuk menembus stagnasi dalam rekonstruksi periode-periode ini, antara lain melalui kajian sumber asing.

Tetapi karena kurangnya data-data, kita belum dapat mengetahui apakah mereka pun sudah mengenal bentuk kerajaan. Yang pasti mereka telah mengenal hubungan dengan luar negeri, terutama dengan kerajaan-kerajaan di India dan Asia Tenggara. Bukti-bukti tentang hal ini dapat dilihat dari ditemukannya bangunan berupa pundan berundak di Lebak Sibedug, Banten Selatan, yang merupakan bangunan-pengantar antara bangunan prasejarah dengan candi berundak, seperti Borobudur, yang juga terdapat di beberapa tempat di Asia.

Berita yang paling meyakinkan tentang hubungan Banten dengan Eropa, India dan Cina adalah dengan diketemukannya peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus. Peta ini dibuat pada tahun 165 M. berdasarkan tulisan geograf Starbo (27 – 14 SM) dan Plinius (akhir abad pertama masehi).

Dalam peta ini digambarkan tentang jalur pelayaran dari Eropa ke Cina dengan melalui: India, Vietnam, ujung utara Sumatra, kemudian menyusuri pantai barat Sumatra, Pulau Panaitan, Selat Sunda, terus melalui Laut Tiongkok Selatan sampai ke Cina.

Hal ini dimungkinkan karena memang menurut penyelidikan Prof. Ir. Anwas Adiwilaga, di Pulau Panaitan pada kira-kira tahun 130 M pernah berdiri satu kerajaan yang merupakan kerajaan tertua di Jawa Barat. Kerajaan ini bernama Salakanagara (Negeri Perak) dengan pusatnya di kota Rajatapura, yang terletak di pesisir barat Pandeglang. Raja pertamanya bernama Dewawarman I (130 – 168 M).

Daerah kekuasaannya meliputi:

  • Kerajaan Agrabinta (di Pulau Panaitan),
  • Kerajaan Agnynusa (di Pulau Krakatau), dan daerah ujung selatan Sumatra.

Dengan demikian seluruh Selat Sunda dapat dikuasai Dewawarman I ini, sehingga ia digelari Haji Raksa Gapurasagara (Raja Penguasa Gerbang Lautan) (Yogaswara, 1978:38).

Dengan diketemukannya patung Ganesha dan patung Shiwa di lereng Gunung Raksa, Pulau Panaitan, dapatlah diduga bahwa masyarakatnya beragama Hindu Shiwa.

Pulau Panaitan merupakan pulau yang langsung berhubungan dengan Selat Sunda — yang bersama Pulau Peucang, luasnya sekitar 17.500 Ha — termasuk kawasan pelestarian/suaka alam Taman Nasional Ujung Kulon. Penelitian geologi di Pulau Panaitan, menunjukkan bahwa pulau ini telah ada sejak ± 26 juta tahun lalu, apabila dilihat dari umur batuan yang paling tua. Pada berbagai singkapan, tampak bahwa pulau ini tersusun dari jenis-jenis batuan andezite, tuffa, gamping dan yang termuda batuan aluvial.

Data arkeologi dari Pulau Panaitan berupa arca Siwa, Ganesha dan lingga semu/lingga patok. Arca Shiwa dari Panaitan pernah raib dicuri, namun kemudian arca tersebut dapat diamankan dan sekarang disimpan di Museum Negeri Sri Badhuga, Bandung, dengan nomor inventaris 306.2981. Arca ini berukuran tinggi 76,5 cm, lebar dan tebal maksimum 32,5 cm dan 24 cm, dibuat dari batuan andezitik.

Arca Shiwa ini sering dikatakan berbentuk statik dan sederhana, tidak sama dengan penggambaran Dewa Shiwa pada umumnya. Hal lain dari arca ini ialah tangan belakang yang memegang trisula dipahat langsung pada sandaran arca di belakang kepala. Kedua tangan bagian depan bersikap varadamudra dan memegang padma memakai selempang pola pita lebar.

Arca Dewa Shiwa Pulau Panaitan ini bermahkota tanpa candrakapala, mata terpejam, besaran kepala tidak proporsional apabila dibandingkan dengan postur tubuh, dalam posisi duduk di atas nandi yang juga menghadap frontal. Sikap duduknya digambarkan kurang lazim — bukan yogamudra atau semi-yogamudra — karena kedua telapak kaki dipertautkan dalam posisi bersila dengan ujung-ujung jari kaki “jinjit” di atas kepala nandi.

Arca Siwa tersebut diduga oleh para arkeolog berasal dari abad ke-7 Masehi, suatu abad memuncaknya kesenian Hindu di pesisir utara Jawa Barat (Cibuaya) dan pedalaman (Cangkuang).

Sementara itu, arca Ganesha Pulau Panaitan meski pun digambarkan tanpa mahkota, namun penggambaran bagian-bagian utama/ umum tubuhnya cukup lengkap. Ganesha ini digambarkan dalam ukuran tidak proporsional, duduk di atas batur.

Belalainya menjuntai kemudian lengkung ke arah tangan kiri. Sedangkan pada lingga semu tidak didapati atribut sebagai salah satu lambang emanasi Shiwa, sehingga lingga Pulau Panaitan ini dianggap berfungsi sebagai patok batas tanah.

Kehadiran anasir-anasir budaya Hinduistis di Pulau Panaitan, mengarahkan pemikiran bahwa pulau ini amat boleh jadi pernah jadi pulau tempat persinggahan para pelayar/musafir, atau lebih buruk lagi sebagai pulau tempat terdamparnya kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda.

Beberapa di antara para pelayar itu diduga beragama Hindu Shiwa, yang terutama memuja Dewa Shiwa, Ganesha dengan segala atributnya. Shiwa dikenal sebagai dewa penguasa dan perusak alam, sementara Ganesha dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan serta pembantu memecahkan halangan/ persoalan.

Bukti-bukti arkeologi masa Hindu_Indonesia di Banten antara lain juga tampak pada jajaran/kelompok lingga di Baros (Serang), lingga di Pulau Handeuleum, lingga dan yoni di situs Sang Hyang Heuleut, dan arca nandi di Karangantu.

Hinduisme di wilayah Banten agaknya memang berpuncak dan berpusat di Banten Girang, ketika menjadi Kawasan Prabu Pucuk Umun, salah satu bawahan Pakuan Pajajaran yang beribukota di Bogor.

Situs Banten Girang terletak di tepi sungai Cibanten berjarak 13 km dari Banten Lama. Di tempat ini masih memperlihatkan beberapa temuan arkeologis, yang menampakkan ceruk (gua) pertapaan, benteng keliling, saluran yang mengelilingi benteng (nampak setelah diekskavasi), makam Ki Jong dan Mas Jo, serta sejumlah temuan artefak yang tersebar hampir di seluruh situs, seperti: mata-kail, bandul jaring, uang kepeng, pecahan keramik lokal dan keramik asing (Ming, Yuan, Song, Swankalok dan sebagainya), perhiasan emas, manik-manik, serta berbagai fragmen alat dari logam. Hal ini menunjukkan bahwa pada masanya Banten Girang merupakan suatu area kota yang penting.

Dalam penelitian Ambary (1985), dilihat dari tipe nisan dan artefak kijing yang dipakai dalam makam kuno Ki Jong dan Mas Jo di Banten Girang, maka dalam tipologi nisan makam Islam dimasukkan kelompok tipe Demak-Troloyo. Selanjutnya, Montana (1988:71) mencatat kekunoan situs ini dari gundukan tanah sekitar 300 meter di sebelah utara makam, yang ternyata di bawah permukaannya terdapat batu berundak, dan di bawah batu berundak itu lah terdapat dua buah gua ceruk di tebing padas sebelah timur Cibanten.

Apabila dilihat dari tipologi ceruk-ceruk/gua yang ada di sana, paling tidak Banten Girang telah muncul pada sekitar abad XI-XII M. Lebih menarik lagi, dari data babad, Banten Girang masih difungsikan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (abad XVII), dimana pada waktu-waktu tertentu sultan berwisata dengan kegiatan memancing ikan di tempat itu. Dan menurut keterangan Caeff, di tempat ini Sultan Tirtayasa menyuruh membuatkan sebuah istana sebagai tempat mengungsi kaum wanita di masa perang.

Dari penelitian arkeologis tahun 1989, 1990, 1991 dan 1992 Lukman Nurhakim (1992) berhasil mengungkap berbagai aspek penting dari situs Banten Girang. Tempat ini merupakan situs pemukiman dalam skala kota pra-industri, yang dikelilingi benteng dari tanah — baik pada sisi dalam maupun luar tanggul — untuk keperluan pertahanan.

Tanggul tanah sebagai benteng di Banten Girang, sebagaimana halnya di situs-situs lain, sudah dikenal luas baik pada masa prasejarah akhir dan klasik, yang kemudian berlanjut pada kota-kota kuno periode Indonesia-Islam; seperti di Pugung Raharjo (Lampung), Pasir Angin (Bogor),Aceh, Barus (Sumatra Utara), Rao (Sumatra Barat), Muara Takus (Riau), Muara Jambi (Jambi), Biting (Lumajang), dan Surosowan (Banten, Serang).

Dari hasil ekskavasi diketahui bahwa situs Banten Girang berfungsi sebagai:

  1. pusat pemukiman — terlihat dari banyaknya sebaran artefak, teknofak dan sosiofak,
  2. pusat upacara — adanya dua gua persemedian/pemujaan, dan
  3. benteng untuk melindungi keduanya.

Selanjutnya, Lukman Nurhakim memandang adanya fase-fase kehidupan di Banten Girang yang meliputi:

  • Fase I;  fase subordinasi Pakuan-Pajajaran dimana gua dijadikan pusat upacara keagamaan bercorak Hinduistik (Hindu-Budha);
  • Fase II; fase pendudukan/ administrasi politik Islam masa Maulana Hasanuddin;
  • Fase III; fase surutnya Banten Girang karena pusat administrasi politik dipindahkan ke Banten Lama di pesisir, tetapi Banten Girang masih tetap digunakan bahkan sampai masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1652 – 1671), sultan Banten kelima;
  • Fase IV; fase akhir, ketika Banten Lama sudah dihancurkan oleh Daendels pada tahun 1815, dimana diduga frekwensi penggunaan Banten Girang semakin menurun;
  • Fase V; fase resen, okupasi lanjut oleh penduduk Banten Girang masa sekarang yang digunakan untuk lahan pertanian dan lahan pemukiman.

Melalui perbandingan dengan berbagai bentuk fisik benteng di berbagai tempat, atas dasar penemuan keramik masa Dinasti Han (206 SM – 220 M) dan struktur berundak di atas gua dan lingkungan benteng, amat boleh jadi okupasi Banten Girang sudah berlangsung lama sekali, bahkan sejak ketika berlangsung masa kehidupan prasejarah dan proto-sejarah.

Dengan ditemukannya Prasasti Munjul, yang terletak di tengah Sungai Cidangiang, Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, berita tentang Banten dapat lebih diperjelas lagi. Prasasti ini, yang diperkirakan berasal dari abad V, bertuliskan huruf Pallawa dengan bahasa Sanksekerta antara lain berbunyi:

vikrantayam vanipateh

prabbhuh satyaparakramah

narendraddhvajabutena crimatah

purnnavarmmanah

Terjemahannya:
(ini tanda) penguasa dunia yang perkasa, prabu yang setia serta penuh kepahlawanan, yang menjadi panji segala raja, yang termashur Purnawarman

Prasasti ini menunjukkan bahwa bahwa daerah kuasa Tarumanagara sampai juga ke Banten, dan diceritakan pula bahwa negara pada masa itu dalam kemakmuran dan kejayaan.

Berita atau sumber-sumber sejarah mengenai Banten dari masa sebelum abad ke-16 memang sangat sedikit kita temukan. Tapi setidak-tidaknya pada abad XII-XV, Banten sudah menjadi pelabuhan kerajaan Pajajaran.

Untuk selanjutnya keadaan Banten dari abad VII sampai dengan abad XII tidak ditemukan berita sejarah yang meyakinkan. Demikian juga, tidak diketahui siapakah penguasa daerah Banten waktu itu, padahal benda-benda peninggalan dari masa itu sudah banyak ditemukan.

Berita tentang Banten baru muncul kembali pada awal abad XIV dengan diketemukannya prasasti di Bogor. Prasasti ini menyatakan bahwa Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Sang Ratu Dewata, dan Banten sampai awal abad XVI termasuk daerah kekuasaannya.

Memang, Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan besar, yang daerah kuasanya meliputi: seluruh Banten, Kalapa (Jakarta), Bogor, sampai Cirebon, ditambah pula daerah Tegal dan Banyumas sampai batas Kali Pamali dan Kali Serayu.

Daerah-daerah ini dibagi dalam empat Kerajaan bagian yang merupakan wilayah otonom, yaitu:

  • 1) Kerajaan Indramayu; dikuasai oleh Prabu Indra Kusumah.
  • 2) Kerajaan Raja Galuh; dikuasai oleh Prabu Cakraningrat.
  • 3) Kerajaan Luragung; dikuasai oleh Prabu Luragung.
  • 4) Kerajaan Talaga; dikuasai oleh Prabu Pucuk Umun, salah seorang putra Prabu Siliwangi.

Kerajaan-kerajaan bagian tersebut mempunyai kuasa penuh atas daerahnya sendiri. Raja Pajajaran hanya menuntut pengakuan kekuasaan dipertuan oleh kerajaan-kerajaan tersebut. Untuk membuktikan kesetiaannya itu, setahun sekali mereka diharuskan membawa kuwerabakti serta sowan ke ibukota Kerajaan Pajajaran. Kuwerabakti ini berupa barang-barang keperluan upacara keagamaan serta kebutuhan sehari-hari.***

———— kembali ke halaman pertama ————–

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kesinambungan Budaya Prasejarah Banten

  1. Asep Suryana berkata:

    Terima kasih infonya berguna sekali, saya sedang mengumpulkan informasi situs megalitik di Jawa Barat – Banten

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s