Penuturan Saksi Pembangunan Jalur Rel Saketi – Bayah


Death Railway : Saketi - Bayah

“Penuturan Saksi Hidup Kekejaman Jepang saat membangun Rel Kereta Api Saketi – Bayah”

PANDEGLANG, Sebagaimana telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, bahwa Kata Saketi yang menunjukan sebuah Kecamatan di Kabupaten Pandeglang. Asal katanya diambil dari bahasa Sunda, yang artinya 100 ribu. Konon, 100 ribu itu mengacu pada ramalan tentang banyaknya korban selama pembuatan jalur kereta api Saketi-Bayah. Jadi, kalau jarak Saketi ke Bayah 90 kilometer, ada satu nyawa yang melayang dalam pembuatan satu meter rel ini. Oleh karena itu Jalur KA ini dikenal sebagai Jalur Death Railway. Didorong oleh rasa penasaran, saya mencoba mencari data, apakah masih ada pelaku, saksi ataupun korban yang masih hidup untuk menceritakan pengalamannya dalam membuat jalur ini.


Dan suatu kebetulan, akhirnya saya mendapatkan sebuah catatan yang dimuat di sebuah Media Online BERNAS.CO.ID, tulisan yang bertajuk ”Ahmad Parino dari Romusha Hingga TKR” sangat menarik bagi saya, berikut ini adalah tulisan lengkapnya :

Ahmad Parino dari Romusha Hingga TKR
Kamis, 21 Ags 2008 09:04:35

“SAYA menyaksikan mayat berserakan sepanjang rel kereta api dan hutan lebat, saat kami dipaksa membuka Jalan Kereta Api Saketi Bayah (80 km) yang menghubungkan Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak,” kata Ahmad Parino (80).

Mayat mayat itu adalah teman teman Parino, sesama Romusha yang meninggal selama kurun 1942 1945 lalu.

Menurut Parino, penyiksaan, pembunuhan dan pemerkosaan menjadi pemandangan sehari hari yang menakutkan selama 3,5 tahun itu.

Oleh karena itu bagi warga Kampung Pulau Manuk, Desa Darmasari, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak itu, kekejaman dan kesadisan tentara Jepang perlu mendapat perhatian dunia, karena sangat melanggar Hak Azasi Manusia (HAM).

“Ribuan warga Indonesia yang dipaksakan menjadi Romusha mati sia sia,” katanya. Kekejaman tentara Jepang hingga ribuan pekerja paksa Rakyat Indonesia berasal Jawa Tengah dan Jawa Timur, tewas akibat kelaparan, serangan penyakit, dimakan binatang buas dan penyiksaan.
Jika ingat Jepang, ia selalu teringat pengalaman pahit ketika ia mendapatkan penyiksaan Bangsa Jepang itu.

Ia sekujur badan dan tangan kini membekas luka akibat tindakan kekerasan fisik oleh pasukan Haiho itu.

“Saat ini tangan kiri saya sudah tidak bisa digerakan lagi karena penyiksaan Jepang itu,” katanya.
Hingga kini tidak bisa melupakan kekejaman Samsua Hojai, komandan Romusha. Ia seorang perwira menengah yang paling kejam bahkan tak segan segan membunuh dengan cara menembak.

“Saya lihat dengan mata sendiri, sepuluh kawan saya ditembak mati oleh Samsua Hojai,” kata Ahmad Parino mengenang masa lalu sambil mengutarakan pengalaman ini jangan sampai terulang anak dan cucunya.

Parino menjadi romusha karena dipaksa. “Waktu itu selepas pulang Sekolah Rakyat (SR) di Semarang, saya ditangkap tentara Jepang untuk dikirim menjadi Romusha di wilayah Banten. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 3,” katanya.

Ahmad Parino, pria kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, ditangkap bersama Samsuni dan Tohir, yang kini sudah meninggal dunia.

Selama menjadi romusha, Parino dipaksa melakukan pekerja di luar batas kemampuannya. Ia setiap hari bertubi tubi memperoleh penyiksaan dari Tentara Jepang.

Pekerja tidak boleh melepas lelah sedikitpun. Mereka terus dipaksa membuka hutan belukar untuk jalan kereta api Saketi Bayah itu.

Para romusha bukan tidak pernah melawan. Bahkan, Parino pun pernah memukul serdadu Jepang hingga terkapar, karena ia tak tahan menjalani penyiksaan mereka itu.

“Beruntung Tuhan memberikan umur panjang hingga sekarang ini,” kata Ahmad Parino yang kini pendengarannya berkurang. Bergabung TKR Fisabililah

Setelah Tentara Jepang meninggalkan Tanah Air, Parino Tahun 1948 bergabung menjadi tentara keamanan rakyat (TKR) Fisabililah.

Ia kurang lebih delapan bulan bergerilya menyerbu Belanda di Serpong dan Jakarta.
Di bawah komandan Letnan Nawawi bersama pasukan TKR wilayah Pandeglang, Rangkasbitung, Parungpanjang, Tenjo, dan Serpong berjalan sekitar 250 Km menuju Jakarta.

Pasukan TKR Fisabililah sangat disegani Belanda, setiap pertempuran selalu berhasil melumpuhkan pasukan Belanda.

Akan tetapi, saat pertempuran di Serpong pada 1948, banyak anggota pasukan TKR Fisabililah gugur.

“Saat ini di Serpong terdapat seribu makam pahlawan yang gugur di tangan pasukan Belanda,” katanya.

Untuk menghindari korban lebih banyak, Pak Nawawi memerintahkan pasukan mundur dan berjalan menuju arah Leuwiliang.

Namun, ia sebelum tiba di Leuwiliang Pak Nawawi gugur, ditembak oleh pasukan Belanda. Ia juga masih hafal lagu lagu perjuangan, selama menjadi tentara rakyat itu.

“Yang menjajah kita hancurkan, lah musuh kita Amerika, Inggris, Belanda, siap bertempur. Jiwa pahlawan tidak mati hingga tetes darah penghabisan untuk kemerdekaan Indonesia,” demikian bait bait lagu itu.

Namun setelah enampuluh tiga tahun Indonesia merdeka, Ahmad Parino belum bisa mengecap manisnya arti kemerdekaan. Ahmad Parino yang kini tinggal di Desa Darmasari, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, belum mampu memerdekakan keluarganya.

Hingga kini ia hidup terlilit kemiskinan. “Saat ini saya hidup seadanya karena tidak memiliki penghasilan tetap. Dua anaknya juga menjadi TKI di Malaysia,” katanya.

Ia berharap pemerintah Indonesia dapat terketuk hati, melihat keadaan para mantan anggota TKR dan romusha.

Ia juga berharap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dapat memberikan jaminan hidup masa tua bagi pejuang kemerdekaan.***

——————- kembali ke halaman pertama ——————-

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

5 Balasan ke Penuturan Saksi Pembangunan Jalur Rel Saketi – Bayah

  1. Big berkata:

    ya karena Mereka adalah Pejuang ” bangsa .
    seharus nya di berikan Tunjangan Hidup

  2. hakim berkata:

    bangkit indonesia .. jangan mau diinjak-injak oleh negara lain.. !!! indonesia punya harga diri !!!

  3. Mochtar berkata:

    info yg sangat membantu saya untuk penulisan Death Railway bagian 2, terima kasih.

  4. Ping balik: The Death Railway, Saketi – Bayah (bagian 2) « Sejarawan Muda

  5. hazman jatnika(adoel) berkata:

    kenanglah dan hargai jasa para pahlawan kita,,,,
    untuk bapak pemimpin negara. jangan takut sama negara tetangga yang berani mengusik negara ini,lihat keberanian pak soekarno,
    ………………..
    untuk para koruptor berpikirlah ……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s