Gerilya di Tatar Banten



PANDEGLANG (24/04), Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, TNI telah mengantisipasi Agresi Militer Belanda II dengan merencanakan Perang Gerliya. Sehubungan dengan kebijakan itu, di Banten dilakukan persiapan-persiapan. Sebelum tentara Belanda memasuki dan menduduki Kota Serang, kedudukan Staf Komando Brigade dipindahkan ke tempat yang lebih aman ke Rangkasbitung dan Pos Komado Operasi dipindahkan ke Maja kota kecamatan di Kewedanaan Rangkasbitung. Setelah kota Rangkasbitung ditembaki oleh Belanda dari udara, Staf Komando Brigade berturut-turut pindah ke Aweh, Cimarga, Leuwidamar dan kemudian ke Cisimet di Kabupaten Lebak.

Sehubungan dengan kebijakan itu, pada waktu Serang diserbu dan diduduki oleh tentara Belanda, TNI telah mengundurkan diri ke daerah pedalaman untuk meneruskan perjuangan secara gerilya mengingat persenjataan mereka yang tidak seimbang. Pada waktu TNI baru mundur, kesatuan Komando belum teratur karena serangan-serangan tentara Belanda, namun kemudian lambat laun kesatuan komando dapat disempurnakan. Komandan Brigade beserta stafnya, dibawah pimpinan Letnan Kolonel dr. Eri Soedewo, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Akhirnya, mereka berada didaerah Kewedanaan Cibaliung Kabupaten Pandeglang, satu-satunya daerah yang sampai akhir tahun 1949 sepenuhnya dikuasai oleh Republik.

Letnan Kolonel dr. Eri Soedewo menggantikan Letnan Kolonel Soekanda Bratamanggala sebagai Komandan Brigade Tirtayasa pada tanggal 17 Juli 1948. Setelah gencatan senjata antara pihak RI dan Belanda direalisasikan, Eri Soedewo ditarik kepusat menjadi Kepala Staf dan Teritorium III/Divisi Siliwangi, kedudukannya di Banten digantikan oleh Mayor Omon Abdurahman.

Menanggapi Agresi Militer Belanda II ke Serang pada tanggal 23 Desember 1948 yang tidak mendapat perlawanan sedikitpun dari TNI dan bahwa politik bumi hangus sedikitpun tidak dilaksanakan, hal itu membuat Rakyat Banten yang tidak mengerti siasat TNI kecewa. Sebelum tentara Belanda memasuki kota Serang, TNI mundur dan Kota Serang sepenuhnya diserahkan kepada Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dibawah Komando Keamanan Kota (KKK) yang diberi tugas membumihanguskan bangunan-bangunan. Tugas itu oleh TRIP tidak dapat dilaksanakan karena Tentara Belanda masuk Serang dengan sangat cepat.

Bahkan lebih dari itu, ada orang-orang yang marah melihat mundurnya TNI. Ejekan yang dilontarkan terhadap TNI adalah “TNI bisanya Cuma melarikan diri dan menyerahkan penduduk begitu saja kepada tentara Belanda”. Selain itu, sebagai gambaran adanya kemarahan orang, dapat dikemukakan disini suatu peristiwa. Pada suatu hari, istri seorang pemimpin TNI yang suaminya mengundurkan diri ke pegunungan untuk memimpin pasukan gerilya, menyuruh bujangnya pergi membeli sirih. Si penjual yang mengenali bujang itu menjawab “Pergi saja beli sirih pada TNI di pegunungan..!!” ujarnya.

Akan tetapi, kemarahan itu lambat laun berkurang dan akhrinya hilang antara lain setelah mereka memahami pengunduran diri TNI, mendengar berita tentang pertempuran diluar kota, dan mengetahui masih adanya pertahanan dari TNI.

Dalam fase kedua, fase perang gerilya, daerah Banten dibagi dalam lima sektor yang masing-masing dibagi lagi kedalam beberapa subsektor. Kelima Sektor itu adalah sebagai berikut :

  • Sektor XII yang meliputi daerah Bogor Barat, termasuk Cipanas, dipimpin oleh Kapten Sholeh Iskandar. Sektor ini dibagi dalam empat Subsektor, sedangkan pasukan-pasukan yang dikoordinasikan oleh sektor terdiri dari Batalyon Hizbullah pimpinan SN.Palar, Pasukan Pengela Masyarakat pimpinan Husen Bachtiar dan Enoch Surachman, Pasukan Bambang Tutuka pimpinan M. Parta dan Pasukan Ki Munding Leuweung pimpinan Suhanda.
    • Sub Sektor I Pimpinan Letnan E. Affandi
    • Sub Sektor II Pimpinan Letnan H.K. Sanusi
    • Sub Sektor III Pimpinan Letnan Hasan Slamet
    • Sub Sektor IV Pimpinan Emien Sumantri
  • Sektor XIII yang meliputi daerah Banten Selatan dipimpin oleh Letnan I Adjat Soedrajat. Sektor tersebut dibagi dalam empat Sub Sektor. Pada hari pertama dilancarkan Agresi Militer, Komandan Sektor XIII Letnan I Husen Wangsaatmadja tertawan Belanda.
    • Sub Sektor I didaerah Pelabuhanratu dipimpin Letnan II A.L. Karmus
    • Sub Sektor II didaerah Bayah dipimpin oleh Letnan II Sulasdi
    • Sub Sektor III didaerah Kewedanaan Malingping dipimpin Letnan II Sukur
    • Sub Sektor IV didaerah Panggarangan dipimpin Letnan II M.A.Hasan
  • Sektor XIV yang meliputi daerah Kabupaten Serang dipimpin oleh Kapten ali Amangku. Sektor tersebut dibagi dalam enam Sub Sektor. Sektor ini dibentuk tanggal 24 Desember 1948 berkedudukan di Sayar, Kecamatan Taktakan Kabupaten Serang.
    • Sub Sektor Taktakan, Kramatwatu, Waringinkurung dipimpin oleh Letnan II Tb.Soewandi
    • Sub Sektor Petir, Baros, Cikeusal, Kewedanaan Pamarayan dipimpin oleh Letnan II Ajip Sjamin
    • Sub Sektor Walantaka, Bogeg dipimpin oleh Letnan Muda Djarot
    • Sub Sektor Ciruas, Pontang, Kasemen dipimpin oleh Letnan I Sjamsudin
    • Sub Sektor Kota Serang dipimpin oleh Letnan I Tb. Sanusi Sendjadiredja
    • Sub Sektor Anyer, Mancak dipimpin oleh Letnan Muda Chaidir
    • Sub Sektor Ciomas, Pabuaran, Padarincang dipimpin oleh Letnan Muda Soewarno
  • Sektor XV yang meliputi Kabupaten Pandeglang dipimpin oleh Kapten R.Sachra Sastrakoesoemah, sektor tersebut dibagi dalam beberapa  Subsektor dan Sub Sektor Pemuda. Beberapa Sub Sektor itu adalah sebagai berikut :
    • Sub Sektor Sanghyang Lancar dipimpin Letnan I Herman Prawira Saputra
    • Sub Sektor Badak Galak dipimpin oleh Pembantu Letnan Zainal Abidin
    • Sub Sektor Gunung Aseupan dipimpin Letnan I Endang Danusaputra
    • Sub Sektor Gunung Karang dipimpin Letnan II Gozali
    • Sub Sektor Menes dipimpin Letnan I Nafsirin Hadi
    • Sub Sektor Cadasari dipimpin Sersan Mayor A.L. Soleman
    • Sub Sektor Singamandala dipimpin Letnan I Djajusman
    • Sub Sektor Cipeucang dipimpin Pembantu Letnan Fadil

Ditiap desa dibentuk satu Kompi Pemuda, ketuanya dipilih diantara mereka. Masuknya pemuda atas dasar “Sukarela”, asal sanggup bertempur dengan membawa senjata sendiri. Lurah, ditetapkan sebagai Ketua Umum. Setiap kompi Pemuda dipimpin langsung oleh seorang anggota tentara. Di Sektor XV terdapat 18 Kompi Pemuda yang tugasnya antara lain penghadangan konvoi Belanda bersama pasukan TNI, pengawalan langsung terhadap rakyat yang dikerahkan untuk membongkar jembatan, menggali jebakan tank, merusak jalan. Di desanya Kompi Pemuda antara lain ditugaskan sebagai kurir, mengawal dan menjaga keamanan lurah, mengawasi ronda kampung, menjaga keamanan rakyat pada waktu panen.

  • Sektor XVI yang meliputi daerah Kabupaten Lebak dipimpin oleh Kapten R.Supaat. Setelah kapten Supaat tertawan Belanda digantikan oleh Kapten E.A. Sumardja Adidjaja. Sektor tersebut dibagi dalam enam Sub Sektor yaitu :
    • Sub Sektor I berkedudukan di Cikeuyeup meliputi Desa Tapen, Pasirkupa, Aweh, Tembak, Kaduagung, Cibadak, Pamacangan, Cisangu, Gunung Anten dan Sarageni dipimpin oleh Letnan I Masyur.
    • Sub Sektor II berkedudukan di Koncang meliputi Kecamatan warunggunung dipimpin oleh Letnan II E. Muchdi
    • Sub Sektor III meliputi Kecamatan Cileles, dipimpin oleh Pembantu Letnan Tb.Arifudin
    • Sub Sektor IV meliputi Kecamatan Leuwidamar, Gunung Kencana, Muncang dan Bojong Manik dipimpin  oleh Letnan II Eddie Rasidi
    • Sub Sektor V meliputi daerah Catang, Jambu dan Pamarayan dipimpin oleh Letnan II Basri Aldjawi
    • Sub Sektor Kerta dipimpin oleh Letnan I Basyah Sutman

Sesudah dua bulan ada di pengungsian, sesudah organisasi pertahanan dalam kelompok-kelompok penyerang selesai dibentuk, kegiatan gerilya dimulai. Setiap malam diadakan serangan-serangan sporadis ke pos-pos penjagaan Belanda secara bergantian. Kendaraan mereka yang lewat tidak luput dari tembakan. Disetiap balokan jalan, terutama di Banten Selatan, jalan raya dipasangi ranjau darat. Belanda merasakan gangguan keamanan itu sampai ke pinggir-pinggir kota yang mereka duduki, sementara kaum koperator merasa dirinya tidak aman. Pada tanggal 10 Maret 1949 malam, kaum gerilya di Banten Utara melancarkan serangan di beberapa bagian kota Serang.

Wilayah Banten Utara, antara Serang dan Balaraja merupakan sektor yang terberat karena keadaan medannya yang rata, sehingga tidak memungkinkan untuk bergerilya. Sebelum pasukan di sektor-sektor mulai bergerilya, pasukan TNI didaerah ini telah dibersihkan oleh Belanda. Pada akhir bulan Januari 1949, kompi pimpinan Sabith dan kompi pimpinan Kasmaran yang berkedudukan di Cibubur, diserang tentara Belanda yang datang dari daerah Bogor Barat. Pasukan TNI berantakan, Komandan Kompi Kasmaran tertawan dan Kapten Djaelani dalam suatu penyerangan tertangkap.

Di sektor Bogor Barat, antara lain disekitar Leuwiliang, sajira, Jasinga, Cigudeg dan Jambu pasukan Belanda menjadi sasaran serangan kaum gerilya dari Batalyon pimpinan Kapten Sholeh Iskandar. Lalu lintas didaerah sektor itu menjadi tidak aman bagi Belanda.

Di Sektor XV Pandeglang serangan kaum gerilya tidak kalah sengirnya. Sebelum diuraikan kegiatan gerilya didaerah itu, terlebih dahulu akan diuraikan organisasi sektor ini, selain ada Sub Sektor TNI dan Sub Sektor Pemuda, juga terdapat suatu pasukan mobil yang dipimpin oleh Letnan II Djambar Wardhana. Untuk melaksanakan tugas sektor, dibentuk badan-badan yaitu Pengadilan Militer Darurat dipimpin oleh Letnan II Mardachlan dari Polisi Tentara, Rumah Penjara Militer Darurat dipimpin oleh Kopral Soemarno, Bagian Distribusi atau Perekonomian dipimpin Sersan Mayor A.Malkan dan Depot Batalyon yang dipimpin Pembantu Letnan Lili Hasanudin. Badan Pengadilan Militer dibentuk untuk menghindari jatuhnya korban terhadap oknum-oknum yang dianggap sebagai mata-mata Belanda atau pengacau. Rumah Penjara Militer diadakan untuk menampung orang-orang yang dijatuhi hukuman oleh Pengadilan Militer Darurat. Bagian Perekonomian dibentuk untuk melakukan kegiatan perdagangan ke daerah Pendudukan Belanda.

Partisipasi rakyat dalam perjuangan melawan Belanda ini sangat besar, baik moral maupun materil. Melihat semangat rakyat yang meluap, untuk menghindarkan perlawanan rakyat yang liar dan tidak teratur, pada tanggal 15 Februari 1949 dibentuk Gerilya Rakyat Murba (GRM) yang langsung dipimpin oleh Residen Banten Akhmad Khatib sebagai Panglima. Beberapa hari kemudian, pada tanggal 27 Februari 1949, karena dirasa kurang sesuai, nama itu diubah menjadi Gerilya Rakyat (Gera), pimpinannya tetap yaitu Residen Akhmad Khatib. Dengan dibentuknya Gera diseluruh sektor sebagai Pertahanan Rakyat Total, perlawanan rakyat lebih teratur. Panglima Gera untuk Kabupaten Pandeglang yaitu Nafsirin Hadi Kepala Stafnya E.U. Abu Bakar. Pada waktu gerilya digunakan nama Gera, tidak Batalyon. Dalam Gera terdapat unsur tentara dan sipil. Setelah gencatan senjata, mereka yang berasal dari kalangan militer kembali ke militer, kemudian masuk ke kota.

Belanda dalam menduduki daerah Banten hanya menguasai kota-kota dan beberapa tempat yang dipandang penting yang umumnya tempat-tempat yang dapat dilalui oleh kendaraan, sedangkan daerah pedalaman tetap dikuasai oleh Pemerintah Daerah, baik Pemerintah Sipil maupun Militer. Rakyat dibawah bimbingan TNI dengan senjata sederhana melakukan perlawanan, seperti mencegat konvoi-konvoi dan patroli-patroli tentara Belanda, menghancurkan jembatan-jembatan dan merusak jalan-jalan. Dalam suatu pertempuran di Pasirmae, Letnan H. Bolang gugur dan dalam usaha untuk meledakan Jembatan Cikupa juga gugur Mayor R. Widagdo, Kepala Pabrik Senjata Brigade. Keduanya sekarang diabadikan menjadi nama jalan di pusat kota Pandeglang.

Di daerah Kabupaten Pandeglang, perlawanan rakyat terhadap Belanda dimulai sehari setelah daerah Banten Selatan diduduki oleh Belanda. Pada tanggal 28 Desember 1948, terjadi perlawanan yang cukup merepotkan Belanda. Terjadilah penghadangan terhadap konvoi Belanda, penghancuran jembatan, pembuatan rintangan-rintangan di jalan, serangan-serangan yang menggunakan senjata golok, pedang, peledakan-peledakan ranjau dan pembakaran-pembakaran yang terjadi selama 24 jam.

Dalam beberapa minggu setelah Agresi, TNI dalam kelompok-kelompok gerilya menyerang pos-pos Belanda dan menghadang konvoi-konvoi Belanda. Jalan-jalan disekitar kota Pandeglang terus menerus diintai oleh kaum gerilya, sehingga kendaraan-kendaraan Belanda yang lewat harus berupa konvoi dibawah lindungan pasukan panser. Jalan antara Pandeglang dan Menes, antara Pandeglang, Saketi, Gunung Kencana dan Malingping serta antara Pandeglang, Rangkasbitung dan Bogor berbahaya bagi konvoi Belanda. Belanda tidak hanya menghadapi ranjau darat dan tembakan-tembakan tersembunyi, melainkan juga serangan dari jarak dekat dengan menggunakan granat, pedang, klewang dan tombak. Rakyat dan tentara tidak gentar menghadapi tank dan kendaraan lapis baja. Asrama-asrama tentara Belanda seringkali mendapat serangan kaum gerilya. Adanya berita akan dalangnya bantuan senjata dan peluru dari India menimbulkan efek psikologis yang positif dikalangan tentara dan rakyat. Berita itu meningkatkan semangat perjuangan mereka.

Semangat dan keyakinan tentara dan rakyat tidak tergoyahkan, walaupun pihak Belanda terus berusaha mempengaruhinya. Cara Belanda mempengaruhi antara lain melalui surat-surat selebaran berisi ajakan untuk menyerah dan bekerjasama dengan pihak Belanda yang ditandatangani oleh Bupati Pandeglang Agoes Djajaroekmantara. Ia juga mengajak tentara dan rakyat secara lisan dengan berbicara diatas kendaraan yang sedang konvoi. Selain itu, Belanda pernah juga mendatangkan Wali Negara Pasundan R.A.A. Wiranatakusumah ke Pandeglang yang dipertemukan dengan beberapa anggota Badan Perwakilan Kabupaten Pandeglang seperti KH. Abudjaja, R.A.Soetisna dan E.Mohammad Mansur. Dalam pertemuan itu, wali Negara Pasundan menghimbau agar Banten menggabungkan diri dengan Negara Pasundan, namun ajakan itu ditolak.

Selama gerilya, Komunikasi antara Staf Brigade dan kesatuan-kesatuannya tetap terjalin, antara lain karena adanya buletin Suara Angkasa yang dikelola oleh M.Nawawi Alief yang berada di Staf Brigade. Selain itu, komunikasi itu juga terjadi karena adanya pemancar darurat yang dioperasikan dengan dikayuh seperti sepeda, sehingga selama gerilya itu tentara dan rakyat dapat mengikuti perkembangan situasi baik didalam maupun diluar negeri.

Pada tanggal 10 Agustus 1949, Pemerintah RI dan Pemerintah Belanda mengeluarkan perintah Gencatan Senjata. Setelah gencatan senjata terealisasi oleh kedua belah pihak, terjadi perubahan brigade. Komandan Brigade Letnan Kolonel dr.Eri Soedewo ditarik ke Pusat menjadi Kepala Staf Divisi Siliwangi. Sementara itu, kedudukannya sebagai Komandan Brigade Tirtayasa digantikan oleh Mayor Omon Abdurachman dan Mayor D. Samsu sebagai Kepala Staf. Brigade mendapat nama baru, yaitu Komando Militer Daerah (KMD) V Banten yang terdiri dari tiga Komado Distrik Militer (KDM) yaitu KDM I Serang pimpinan Kapten Ali Amangku, KDM II Pandeglang pimpinan Kapten E.A.Sumardja Adidjaja dan KDM III Lebak, pimpinan Kapten Sholeh Iskandar. Kedudukan Staf Brigade ada di daerah Kadukacang Banten Selatan yang kemudian dipindah ke Serang.

Dalam fase konsolidasi, setelah gencatan senjata, TNI mendapat musuh barudari bangsa sendiri, yaitu dengan adanya Gerakan Bambu Runcing di Banten Selatan yang dipimpin oleh Chaerul Saleh. Gerombolan itu dalam perjalanannya dari daerah Bogor ke daerah Cibaliung, Banten Selatan, telah melakukan pembunuhan-pembunuhan. Beberapa prajurit TNI dan beberapa pejabat Pemerintah dan beberapa Pejabat Pemerintah Daerah Banten menjadi korban, diantaranya Wakil Residen Banten KH.Achmad Fathoni, Kepala Polisi Keresidenan Banten Komisaris Polisi Joesoef Martadilaga, Letnan II R.Muchtar, seorang perwira utusan dari Markas Komado Djawa (MBKD), sepuluh orang prajurit TNI dari Sektor XII Malingping dan tujuh orang prajurit TNI dari Sektor XV di Cibaliung. Gerombolan ini akhirnya dapat dihancurkan oleh TNI. bersambung……………..

——————- Kembali ke Halaman Pertama ——————

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s