Banten pun diserang…!!


BANTEN HADAPI AGRESI MILITER KEDUA

PANDEGLANG (23/04), Setalah Persetujuan Renville ditandatangani, hubungan antara Pemerintah RI dan Belanda tetap tegang. TNI telah memperkirakan bahwa Belanda akan melakukan serangan kembali, namun hanya waktunya yang tidak diketahui. Gejala akan datangnya serangan itu telah dirasakan sebelumnya oleh pimpinan TNI semenjak Belanda mencoba untuk mengulur-ulur waktu mengenai perundingan pelaksanaan persetujuan itu.

Berhubung serangan tentara Belanda telah diperkirakan akan terjadi lagi, maka TNI mengadakan persiapan-persiapan. Belajar dari pengalaman Agresi Militer Belanda Pertama, maka sistem pertahanan Linier diganti dengan sistem perang Wilayah (wehrkreise), yang pada pokoknya membagi daerah pertempuran dalam lingkaran-lingkaran yang dapat berdiri sendiri. Sistem Pertahanan Linier adalah Sistem Pertahanan Konvensional. Dalam sistem ini pasukan-pasukan yang bertahan pada pos-pos yang diperkuat (strong point) untuk mempertahankan suatu  daerah dari kemungkinan serangan.

Dalam daerah wehrkreise, semua tenaga manusia, material dan bahan-bahan yang ada diintegrasikan. Dalam segi militer, konsep strategi ini dilengkapi dengan taktik perang gerilya. Selain itu, pasukan-pasukan yang sebelumnya hijrah akibat dari Persetujuan Renville harus menyusup ke daerah musuh untuk kembali ke daerah asalnya. Gerakan penyusupan kembali ini terkenal dengan “LONG MARCH DIVISI SILIWANGI”.

Rencana ini tertuang dalam Instruksi Panglima Besar TNI tanggal 9 Nopember 1948 yang dikenal dengan “PERINTAH SIASAT NO.1” yang isinya antara lain sebagai berikut : Pertama adalah tugas untuk memperlambat serangan Belanda, melaksanakan pengungsian dan melakukan BUMi HANGUS secara total. Kedua adalah tugas  membuat kantong-kantong disetiap kewedanaan (onder distrik) militer.

Sehubungan dengan Instruksi tersebut, tidak lama kemudian Brigade Tirtayasa telah menyelesaikan garis besar rencana pertahanan dan rencana itu dikirim kepada Komandan Batalyon masing-masing dalam Amplop yang disegel. Pada dasarnya, rencana itu terdiri dari dua fase. Pada Fase Pertama, TNI melakukan gerakan penghambatan dan penguluran waktu terhadap jalannya serangan. Bentuknya antara lain berupa pengrusakan jalan-jalan yang strategis, penghancuran jembatan-jembatan termasuk jembatan kereta api antara Parungpanjang dan Rangkasbitung, pembuatan rintangan-rintangan dijalan dengan pohon-pohon, penghancuran semua bangunan vital dan besar seperti pabrik, kantor telepon dan transformasi listrik yang nantinya menjadi fasilitas untuk jalannya suatu pemerintahan.

Rencana Bumi Hangus yang dikeluarkan Kepala Staf Operasi Brigade Tirtayasa Mayor R.Prijatna No.502/1/48 tanggal 13 Nopember 1948, dimuat dalam T.Soendji, “PERJUANGAN RAKYAT PANDEGLANG, 1945-1949”, (naskah), Bandung, 1983 halaman 47. Dalam melaksanakan bumi hangus, diadakan pembagian tugas, diantaranya ada bagian yang tugasnya merusak jalan, ada bagian yang membuat rintangan di jalan-jalan dengan kayu yang ditebang.

Waktu untuk persiapan rencana ini cukup banyak, yaitu sejak awal bulan Nopember 1948, sejak para Komandan Batalyon secara lisan diberikan gambaran rencana ini. Meskipun demikian, Instruksi rinci baru dapat diketahui setelah pembukaan segel, yaitu pada saat yang ditetapkan.

Dalam FASE PERTAMA dislokasi pasukan Brigade Tirtayasa adalah sebagai berikut :

  • Batalyon I pimpinan Kapten Soepaat ditempatkan di Parungpanjang menghadapi Front Parung khususnya jalan Kereta Api antara Jakarta – Rangkasbitung.
  • Batalyon II pimpinan Djaelani ditempatkan di Balaraja menghadapi Front Tangerang, khususnya jalan raya antara Tangerang dan Serang.
  • Batalyon III pimpinan Kapten Sachra ditempatkan di Pandeglang sebagai cadangan.
  • Batalyon IV pimpinan Kapten Sholeh Iskandar ditempatkan di Peuteuy menghadapi Front Leuwiliang, khususnya Jalan Raya antara Bogor dan Rangkasbitung.
  • Satu Kompi menghadapi Fron Pelabuhan Ratu, khususnya jalan pegunungan antara Pelabuhan Ratu, Cikotok dan Bayah.

Jika rencana yang harus dilakukan dalam fase ini tidak dapat dilanjutkan secara otomatis meningkat ke FASE KEDUA, yaitu perang Gerilya Total. Pos Komando Operasi Brigade ditempatkan di Maja dibawah Kepala Staf Operasi Brigade Tirtayasa, Mayor R.Prijatna.

Menjelang dilancarkan Agresi Militer II, kedudukan Staf Brigade Tirtayasa dipindahkan dari Serang ke Rangkasbitung menempati Hotel De Vries, sedangkan Staf Operasi ditempatkan di Maja, sebagai pasukan pengawal yaitu Seksi Strootroep (Pasukan Pendobrak) pimpinan Letnan II MA. Hasan dan Kompi Fisabilillah dari Resimen Singandaru pimpinan Letnan I Endjon Djajaroekmantara. Setelah Rangkasbitung diduduki Belanda, staf Brigade Tirtayasa pindah lagi ke Leuwidamar.

Pada FASE KEDUA, dilaksanakan Gerilya Total yang lokasinya tersebar di enam daerah. Penentuan daerah gerilya tiap batalyon dan kesatuan-kesatuan lainnya, penempatan tempat pos komando, batalyon masing-masing, serta daerah dan tempat pos komando kompi masing-masing disampaikan kepada setiap komandan yang bersangkutan. Untuk mencegah kebocoran rahasia militer, para komandan kesatuan baru diperbolehkan membuka segel Instruksi Siasat pada saat adanya berita bahwa Agresi Militer II menjadi kenyataan, tanpa menunggu komando dari Komandan Brigade.

Keenam Daerah Gerilya itu adalah sebagai berikut :

  • Kabupaten Tangerang menjadi daerah Gerilya Batalyon II dan kompi-kompinya ditempatkan di setiap kewedanaan. Pos Komando berada di Utara Maja.
  • Kabupaten Bogor, dikurangi Sektor 3 Parungpanjang menjadi daerah Gerilya  Batalyon 4 dengan dislokasi kompi-kompinya disetiap kewedanaan, pos komando di Nanggung Jasinga.
  • Kabupaten Lebak, ditambah Sektor 3 Parungpanjang menjadi daerah Gerilya Batalyon 1. Pos komandonya berkedudukan didaerah Leuwidamar.
  • Kabupaten Serang menjadi daerah Gerilya Batalyon Polisi Tentara yang dibantu Pasukan ALRI dan AURI, pos komadonya terletak didaerah antara Serang dan Ciomas.
  • Kabupaten Pandeglang menjadi daerah Gerilya Batalyon 3 dengan Pos Komando di daerah antara Cibiuk dan Banjar
  • Daerah Cikotok dan Bayah menjadi daerah Gerilya Sektor Cikotok dengan Pos Komando di Gunung Madur, Pos Komando Brigade Tirtayasa ditetapkan di Leuwidamar.

Kekuatan persenjataan Brigade Tirtayasa adalah 1.100 pucuk senjata yang terdiri dari berbagai macam merek dan kaliber. Senjata itu berasal dari zaman Hindia Belanda dan hasil rampasan dari tentara Jepang.

Aparat Pemerintah Sipil telah diperingatkan oleh Pimpinan Militer agar siap-siap menghadapi segala kemungkinan. Persiapan Pemerintah Sipil tidak seperti militer. Pada waktu Yogyakarta diserbu Belanda pada tanggal 19 Desember 1948, rencana yang tegas dan sempurna belum tampak.  Tragisnya, pada wakttu Banten dimasuki Stoortroep (pasukan pendobrak) Belanda pada tanggal 23 Desember 1948, aparat Pemerintah Daerah sedangn berunding di Kantor Kabupaten Serang tentang apa yang akan dilakukan. Wakil Gubernur Jawa Barat Mr. Joesoep Adiwinata, Residen Banten KH.Akhmad Khatib dan beberapa pegawai sudah berada di Pos Komando Brigade Tirtayasa.

Serangan Militer Belanda yang telah diperkirakan akan datang, terbukti pada tanggal 19 Desember 1948 tentara Belanda dibawah Pimpinan Letnan Jenderal Spoor melancarkan Agresi Militer Keduanya. Yogyakarta, ibu kota Pemerintah RI, diserang dan diduduki. Pemimpin-pemimpin RI termasuk Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditawan. Gerakan Militer Belanda berjalan cepat, kota-kota penting dapat dikuasai oleh Belanda. Selanjutnya, dilakukan pembersihan yang diperkirakan memakan waktu dua atau tiga bulan.

Dua hari setelah Belanda melancarkan Agresi Militer Kedua, Komando Brigade Tirtayasa, Letnan Kolonel dr.Edi Soedewo, yang komadan operasinya berkedudukan di Maja, mengeluarkan perintah operasi terhadap semua Batalyon yang ada disepanjang garis demarkasi untuk mendahului menyerang adalah batalyon Pimpinan Djaelani di Sektor Tangerang, Batalyon Pimpinan Soepaat di Sektor Parungpanjang, Batalyon pimpinan Sholeh Iskandar di Leuwiliang dan Batalyon Pimpinan Husein Wangsaatmaja di Sektor Cikotok. Jika tentara Belanda melancarkan aksinya secara besar-besaran untuk menduduki daerah Tangerang Barat, Bogor Barat dan Banten Selatan, perlawanan harus dijalankan dengan sistem perang wilayah.

Perintah itu dilaksanakan tanpa persiapan dan penyelidikan lebih dahulu, Batalyon pimpinan Djaelani pada tanggal 22 Desember 1948 pukul 04.00 mulai menyerang kedudukan tentara Belanda disepanjang garis demarkasi dengan tujuan antara lain untuk mengintimidasi, mengacaukan persiapan-persiapan tentara Belanda, melindungi pelaksanaan pembuatan rintangan-rintangan di Jalan Raya, menghancurkan jembatan-jembatan dan secara psikologis untuk memelihara semangat juang prajurit.

Banten, suatu daerah yang tidak diserang dan diduduki Belanda melalui Agresi Militer Pertamanya, akhirnya juga diserang tentara Belanda. Serangan terhadap Banten dilakukan oleh Pasukan Brigade Infantri I Divisi 7 Desember yang berkekuatan sekitar 1000 personel dengan senjata lengkap dan dibawah pimpinan Kolonel Blankon. Tentara Belanda bergerak dalam dua fase. Fase Pertama mereka menyerbu secepat mungin mengikuti jalan raya untuk menduduki kota-kota dan pusat-pusat perhubungan. Fase Kedua mereka melancarkan operasi pembersihan sektor demi sektor kekuatan TNI. Selanjutnya, Belanda membentuk Pemerintahan Sipil dan merehabilitasi jalan yang rusak.

Tentara Belanda bergerak dalam beberapa Pasukan Tempur yang masing-masing merupakan Batalyon Tim Pertempuran (BTP) yang berdiri sendiri, yaitu dari Tangerang, Serpong, Bogor dan Pelabuhan Ratu. Disamping itu, Angkatan Udara Belanda membantu menyerang Kota Serang, Pandeglang dan Rangkasbitung, sedangkan Angkatan Laut Belanda memperlihatkan diri didekat Anyer dan Pontang.

Pada tanggal 23 Desember 1948, kolone pertama dipantai utara, berangkat dari Tangerang pukul 06,00 menuju Serang dengan kekuatan satu Batalyon Infantri yang dibantu oleh Artileri Lapangan, satu peleton Mitraliur, dua peleton Zeni dan satu kompi Pasukan bermotor yang dipelopori oleh satu skuadron kavaleri lapis baja. (kolone berasal dari kata colonne artinya “susunan memanjang dari barisan”)

Kolone utara ini dipecah menjadi dua, yakni sebagian lewat Mauk dan sebagian lagi langsung menuju Serang. Pukul 08.00 sebagian pasukan yang lewat Mauk menduduki tempat itu. Dari Mauk sebagian pasukan terus bergerak ke Barat menuju Jenggot dan selanjutnya membelok ke Selatan menuju Balaraja lewat Krasak untuk mengepung kota itu.

Sementara itu  sebagian besar Pasukan yang melewati Jalan Raya antara Tangerang dan Balaraja bergerak ke barat. Induk pasukan Batalyon pimpinan Djaelani yang bertugas untuk mempertahankan Balaraja terpukul oleh Skuadron lapis baja Belanda yang bergerak cepat, Balaraja diduduki Belanda. Komandan Batalyon dan stafnya tertangkap. Skuadron Kavaleri Belanda terus bergeral ke Barat melewati Jembatan Sungai Cimanceuri yang tidak dihancurkan oleh TNI. Sebelum melewati jembatan Sungai Ciujung, sebagian kecil pasukan membelok ke Selatan menuju Pamarayan dan selanjutnya menuju Rangkasbitung. Pasukan yang kebarat, setelah melewati Jembatan Sungai Ciujung di Ciruas, sebagian kecil menuju utara ke arah Pontang, sedangkan sebagian besar pasukan terus bergeral ke Barat menuju Serang.

Sebelum pasukan Belanda memasuki kota Serang, sekitar pukul 09.00 datang pesawat terbang Belanda menjatuhkan Pamflet di Pasar Royal dan di Asrama Sekolah Guru di Serang. Ada tiga lembar pamflet yang masing-masing tertanda Jenderal Spoor.

  • Pamflet Pertama ditujukan kepada Rakyat Banten, isinya kira-kira sebagai beriku “ Tentara Belanda akan masuk ke Serang. Kami yakin bahwa orang Banten itu adalah masyarakat yang patuh pada agamanya, yaitu Islam. Kami akan menyediakan kapal dengan Cuma-Cuma untuk menunaikan Ibadah Haji. Harap tenang dan sambutlah kami dengan baik”.
  • Pamflet kedua, ditujukan kepada Pegawai Negeri yang bunyinya kira-kira sebagai berikut : “Pamongpraja supaya menjalankan tugas dikantornya masing-masing dan harap tenang. Kami akan masuk dan tidak berbuat apa-apa, agar disambut dengan baik
  • Pamflet Ketiga ditujukan kepada Polisi dan Tentara yang bunyinya kira-kira sebagai berikut : “Polisi dan tentara supaya meletakan senjata. Jangan mengadakan perlawanan karena kami pun tidak masuk dengan kekerasan. Sambutlah kami dengan baik”.

Selain menjatuhkan Pamflet, pesawat terbang itu juga melemparkan tembakan sehingga ada orang yang menjadi korban. Sekitar pukul 12.00 pasukan  Belanda masuk kota Serang  dengan didahului oleh Panser yang kemudian diikuti Tank Lapis Baja, mobil-mobil pengangkut pasukan dan mobil pengangkut perlengkapan senjata beserta mesinnya. Iring-iringan bergerak tanpa mendapat perlawanan. Sambil bergerak, pasukan melancarkan tembakan jika terlihat ada sesuatu yang mencurigakan. Oleh karena itu, ada korban yang terkena peluru nyasar.

Tembakan juga dilancarkan ke Kantor Kabupaten Serang. Setelah berhasil masuk tanpa nada perlawanan sedikitpun, karena TNI telah mundur, pukul 15.00 Pasukan Belanda menduduki kota itu.

Pada waktu tentara Belanda memasuki Kota Serang, ada yang mengira bahwa tembakan yang dilancarkan oleh tentara Belanda itu dilancarkan oleh PKI, karena sebelumnya ada informasi bahwa PKI Banten juga akan melakukan Pemberontakan seperti di Madiun. Selain itu ada pula yang mengira bahwa tembakan itu oleh Polisi Tentara yang sedang melakukan latihan. Waktu itu Pemerintah Sipil dengan rapat untuk memutuskan siasat. Bupati Serang, Kolonel KH.Syam’un, Patih Serang Tb.Soeria Atmadja dan beberapa pegawai lainnya terkurung di Kantor Kabupaten Serang. Malam harinya kedua pejabat itu dapat meloloskan diri lalu menuju Tanjung. Pada waktu itu juga Batalyon Polisi Tentara sedang rapat untuk menghambat kedatangan tentara Belanda.

Dari Serang sebagian Skuadron Kavaleri Belanda terus bergeral ke barat. Sebagian mengambil jalan utara lewat Cilegon dan sebagian lain melalui jalan selatan lewat Ciomas. Sore harinya pasukan yang lewat utara tiba di Anyer. Batalyon Polisi Tentara dan ALRI yang bertugas di daerah itu juga belum melakukan pengrusakan dan membuat rintangan-rintangan di jalan-jalan. Sementara itu, sebagian pasukan yang lewat selatan terpecah. Sebagian belok ke barat menuju Ciomas dan sebagian lagi terus menuju ke Selatan menuju Pandeglang.

Tanggal 24 Desember Pasukan Belanda dari Anyer bersama pasukan yang lewat Ciomas bergerak ke Selatan menuju Menes, lalu mendudukinya. Setelah memperbaiki jalan-jalan yang rusak, mereka melanjutkan gerakannya ke Selatan menuju Malingping melalui Saketi.

Tanggal 27 Desember sore meraka tiba di Malingping dan akhirnya dengan menyusuri pantai Pasukan bergerak ke Timur menuju Bayah yang telah diduduki oleh Kolone Belanda lain yang bergerak dari Pelabuhan Ratu.

Sementara itu, Pasukan Belanda dari Serang yang menuju Pandeglang, setelah sampai ditujuan pada tanggal 24 Desember sore, mengirim pasukan ke Menes. Sebagian lewat selatan dan sebagian lewat utara, yakni lewat Mandalawangi. Oleh karena banyaknya rintangan, mereka yang disertai mobil lapis baja baru sampai di tempat tujuan pada tanggal 26 Desember dan ia mendudukinya. Sore harinya sebagian pasukan yang bergerak menuju Labuan tiba dan mendudukinya. Sebelum pasukan Belanda datang di Pandeglang, kota itu dibumihanguskan. Beberapa Gedung antara lain Kantor Pos, Landraad dan rumah penjara di bakar sekitar pukul 10.00 sebuah pesawat terbang Belanda menembaki kota itu selama setengah jam. Pada tanggal 26 Desember dari Pandeglang juga dikirim satu pasukan menuju Gunung Kencana melalui Saketi, sore harinya mereka tiba ditujuan tanpa ada perlawanan.

Sementara pasukan tempur Belanda dari kolone utara bergerak ke barat dan akhirnya sampai sampai di Bayah, tanggal 23 Desember tengah malam, Induk Pasukan BTP Belanda tiba di Serang yang segera memulai aksi pembersihan. Batalyon CPM dan Batalyon pimpinan Djaelani mempertahankan daerah antara Balaraja dan Serang. Sebagian Pasukan hansur, sisa-sisanya disapu bersih, ditawan, menyerah dan menyamar sebagai rakyat biasa. Dari sini mereka menduduki kota-kota distrik di Kabupaten Serang seperti Ciruas, Pontang, Cilegon, Ciomas dan Anyer. Esok harinya Komandan Operasi Militer Belanda menempati markasnya di Serang.

Kolone Kedua, yang bergerak ditengah, berangkat dari Serpong tanggal 23 Desember pagi meunju Rangkasbitung melalui Jalan Kereta Api. Pasukan yang berkekuatan dua kompi Infantri dilengkapi dengan Mitraliur dan Zeni bertugas menyelamatkan Perkeretaapian di Banten. Batalyon Soepaat yang bertugas di daerah itu terpukul mundur dari Parungpanjang. Sisa-sisa pasukannya mundur ke Rangkasbitung. Jembatan-jembatan belum sempat dirusak dan bahan-bahan peledak yang telah dimasukan kedalam lubang-lubang tidak sempat diledakan. Batang-batang rel yang telah dibongkar tidak sempat dibuang jauh-jauh sehingga dengan cepat dapat dipasang kembali oleh Belanda. Namun demikian, tentara Belanda kembali ke Serpong, mungkin karena adanya ancaman dari Batalyon Sholeh Iskandar yang masih kuat.

Kolone Ketiga, yang juga ada ditenggah dan berkekuatan satu batalyon bergerak dari Bogor tanggal 23 Desember 1948 pukul 06.00 pagi menuju Jasinga melalui jalan-jalan yang telah dirusak. Pukul 07.00 terjadi pertempuran di Cigudeg dengan Batalyon Pimpinan Sholeh Iskandar yang bertugas di daerah itu. Oleh karena tembakan-tembakan senjata berat pasukan Belanda, kota itu akhirnya ditinggalkan oleh TNI. Pasukan Belanda terus bergerak ke Barat dengan menyebrangi sungai Cidurian dan ditempat itu terjadi lagi pertempuran. Pasukan Belanda terus bergerak ke barat. Pukul 14.00 sebagian pasukan tiba di Jasinga, namun induk pasukannya masih tertahan di Lawangtaji karena pasukan zeninya belum dapat memperbaiki jembatan yang dirusak. Pukul 17.00 seluruh Pasukan Belanda tiba di Jasinga. Pasukan Belanda terus bergerak ke Barat tanggal 25 Desember 1948 sore mereka tiba di Rangkasbitung, lalu mendudukinya dengan mudah.

Kolone keempat, di pantai selatan terdiri dari dua kompi Infantri ditambah peleton Mitraliyur dan Zeni. Pasukan Belanda bergerak dari Pelabuhan Ratu tanggal 23 Desember 1948 pagi menuju Bayah. Sebagian pasukan melalui Cikotok, sebagian lain dengan menyusuri pantai dan sebagian yang lain lagi dari Cisolok melalui laut dengan menggunakan perahu-perahu nelayan setempat. Pukul 12.00 pasukan tiba di perbatasan yang merupakan daerah status quo.

Pertahanan TNI di Sektor Cikotok terpukul mundur dan terpecah belah. Sebgian besar bangunan tidak sempat dibumihanguskann dan alat peledak tidak terpasang. Sehingga Cikotok dikuasai Belanda. Pasukan lain yang bergerak dari Cisolok ke barat menyusuri pantai. Pada malam harinya, mereka tiba di Desa Sewarna, dekat Bayah. Pada tanggal 24 Desember sore mereka menyerang Bayah, yang disusul dengan pendaratan pasukan lewat laut. Gerakan pasukan-pasukan dari timur (dari Cisolok) dan dari Selatan (dari laut) mengacaukan pertahanan TNI yang sedang menghadapi tentara Belanda dari Cikotok (timur laut Bayah). Pasukan TNI mundur, sore harinya mereka ke barat meninggalkan Bayah menuju Malingping, Kabupaten Lebak, setelah membumihanguskan beberapa bangunan yang dapat dipakai oleh Belanda.

Dalam waktu kurang dari sepuluh hari, kota-kota ibukota kabupaten, beberapa kota kewedanaan dan beberapa kota kecamatan yang penting di Banten diduduki oleh tentara Belanda dengan mudah. Mudahnya pendudukan atas daerah Banten karena adanya perbedaan persenjataan yang sangat menyolok antara kedua belah pihak dan perbedaan dalam pengalaman di bidang ketentaraan. Pendudukan tersebut sebagai awal dari Penguasaan Belanda terhadap Banten. Selanjutnya Belanda akan menghadapi FASE KEDUA dari TNI, yaitu GERILYA  TOTAL…… bersambung……………..

——————- Kembali ke Halaman Pertama ——————

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Banten pun diserang…!!

  1. dedi budhurachman berkata:

    selagi para pelaku sejarah masih ada yang ‘hidup’, tdk berlebihan bila dpt dijadikan nara sumber, agar lebih detil dan obyektif. sehingg kemudian akan menjadi kajian dan bacaan menarik bagi generasi berikut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s