Banten dikuasai….


BANTEN DIKUASAI, PASCA AGRESI MILITER KEDUA

PANDEGLANG (23/04), Jika dengan Agresi Militer Belanda Pertama, Belanda bermaksud mengisolasi Banten secara ketat, sehingga hubungan keluar termasuk ke Pemerintah Pusat di Yogyakarta maupun dengan daerah-daerah lain terputus sama sekali, dengan Agresi Militer Belanda Kedua, Belanda bermaksud untuk mendudukinya. Oleh karena itulah seminggu setelah tentara Belanda menduduki kota-kota penting di Banten, mereka melancarkan pembersihan secara sistematis untuk menghancurkan sisa-sisa TNI.

Gerakan pembersihan dilakukan secara Intensif di Wilayah antara Serang dan Balaraja yang dilakukan sampai ke daerah-daerah kecamatan. Namun untuk daerah Banten Selatan yang terdiri dari pegunungan, sulit untuk berbuat seperti di daerah utara karena keadaan jalan dan alamnya. Yang dilakukan adalah membuat “rantai” detasemen penjagaan yang panjang, yaitu Mandalawangi, Menes, Labuan, Saketi, Bojong, Jalupang, Gunung Kencana, Malingping, Cihara, Gunung Madur dan Leuwidamar.

Untuk mendukung pendudukan terhadap Banten, Belanda menempatkan empat Batalyon Infantrinya yang masing-masing bertugas di Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak dan daerah Bogor Barat. Seiring dengan penghancuran terhadap sisa-sisa TNI, untuk menciptakan suasana aman, Belanda memberlakukan “Jam Malam”. Sampai dengan bulan Februari 1949, di Serang dan Rangkasbitung “Jam Malam” dimulai pukul 06.00 petang dan berakhir pukul 06.00 pagi.

Yang menarik adalah cara “Jam Malam” itu dimula. Di Serang “jam malam” dimulai setelah Militer Belanda mengelilingi seluruh kota itu, sedangkan di Rangkasbitung “jam malam” dimulai setelah terdengar bunyi tembakan gencar Stand Gun. Sesudah pukul 18.00 keadaan sunyi, karena tidak seorang pun yang tidak berkepentingan keluar rumah dan berada didalam pekarangan rumah pun dilarang. Bagi orang yang mempunyai keperluan penting diperbolehkan asal membawa obor.

Disamping usaha-usaha tersebut, untuk menciptakan situasi yang aman, Belanda mencari pemimpin-pemimpin Partai Politik, terutama Masyumi dan PKI, mencari anggota-anggota Badan Perjuangan terutama Hizbullah dan Sabilillah serta dengan mencurigai pemuda-pemuda. Gerakan Belanda dalam menjalankan aksi pembersihan itu menimbulkan rasa ketakutan di kalangan rakyat. Karena tindakan keras itu, para pemimpin Partai Politik tidak berani memperlihatkan diri dimuka umum, mereka diam dan timbul suasana yang satu sama lain saling curiga-mencurigai. Karena Pemuda merasa tidak aman tinggal di rumah, mereka banyak yang meninggalkan kampung halaman. Mereka pergi kepedalaman bergabung dengan para pejuang.

Sementara itu untuk memikat hati rakyat, Belanda membagi-bagikan pakaian, makanan dan memberikan pelayanan kesehatan kepada rakyat. Pada awal tahun 1949 di Rangkasbitung, Belanda setiap hari membagi-bagikan pakaian dan makanan kepada penduduk. Pakaian merupakan barang yang sangat dibutuhkan masyarakat. Pakaian juga dibagikan kepada murid-murid sekolah dan para pekerja tambang batu bara di Bayah. Dikota Serang, Pandeglang, Cilegon dan Anyer didirikan dapur-dapur umum yang membagi-bagikan makanan kepada penduduk. Tempat-tempat pembagian makanan dan pakaian selalu dikerumuni oleh oenduduk yang telah lama kekuarangan. Di Serang banyak orang yang setelah menerima pembagian pakaian berupa kaos oblong dan celana pendek, takut membawanya ke rumah. Mereka segera menyerahkannya kepad Badan-badan tertentu. Selain itu, Belanda melalui Palang Merah-nya (Rode Kruis) memberikan pertolongan kepada para penderita penyakit seperti cacar, frambusia dan gudig yaitu jenis penyakit yang banyak diderita oleh penduduk Banten. Pekerja-pekerja tambang batu bara di Bayah yang terlantar diberi tunjangan oleh Rode Kruis. Dalam rangka untuk menarik simpati, Belanda mendata Pamongpraja yang belum mendapat pekerjaan. Kiranya juga sebagai usaha untuk memikat hati rakyat, di Rangkasbitung, Belanda menghibur penduduk dengan memutar Bioskop. Sore hari untuk penduduk dan Malam hari untuk Militer.

Setelah Belanda melakukan pembersihan terhadap TNI dan kekuatan-kekuatan lain, tindakan selanjutnya adalah melakukan pembentukan Pemerintahan Sipil yang diberi nama Territoriaal Bestuure Adviseur (TBA) Banten. Pemerintah Sipil ini berpusat di Serang dibawah Pimpinan N.Makkes.

Susunan dan personalia Praja Keresidenan Banten TBA sampai dengan tingkat Kabupaten adalah sebagai berikut :

  • TBA Banten : N. Makkes
  • Controleur : J.H. Delgerge
  • Kabupaten Serang, Ged TBA (Assistant Resident le Klasse) : I.S.Th. Pouterna dd, Bupati Padmadidjaja, Sekretaris : Rd. Sastradinata.
  • Kabupaten Pandeglang, Ged TBA : T. Wesselink, Bupati Agoes Djajaroekmantara, Patih : M.Sastradikarja, Sekretaris : M.Soekantawidjaja.
  • Kabupaten Lebak, Ged, TBA : (kosong), Bupati : Rd.Hollen Soekmadiningrat, Patih : Rd.Soemawisastra, Sekretaris : Tb. A. Soechrani Sudjadiwirja.

Usaha inii, khususnya dalam penyusunan kembali jajaran Pamongpraja, tidaklah mudah. Setidak-tidaknya ada dua alasan itu, Pertama karena sebagian besar Pamongpraja dan pegawainya dari residen hingga Assisten Wedana (camat) meninggalkan kota menuju daerah pedalaman bersama TNI, Kedua karena kaum Intelektual Banten tampaknya lebih suka berada diluar daerah itu.

Untuk mengisi jabatan-jabatan pada Pemerintahan Baru itu, berbagai usaha dilakukan diantaranya menghimbau agar kaum intelektual putra Banten yang ada di Jakarta, Cirebon dan Lampung segera kembali. Beberapa putra Banten yang tengah menjabat di jajaran Kepamongprajaan ditempat lain yang diharapkan kembali untuk menjadi perintis pemerintah TBA Banten adalah Mas Asikia Nitiatmadja, R.Moeniran (Walikota Cirebon) dan R.Noesrat Djajadiningrat (Patih Tangerang).

Dalam usaha pengisian aparat Pamongpraja, terdapat beberapa tempat yang sulit mendapatkan tenaga, seperti Ciomas di Kabupaten Serang, Menes dan Cibaliung di Kabupaten Pandeglang serta Malingping dan Bayah di Kabupaten Lebak. Sampai dengan bulan Maret 1949 Pemerintah Sipil di lima tempat tersebut belum terbentuk. Di Kabupaten Serang semua tempat Pamongpraja baru terisi seluruhnya bulan Mei 1949. Pengisian tenaga-tenaga itu didasarkan pada kemauan orang dan bukan pada  kemampuan orang yang diangkat.

Seperti yang dilakukan Belanda dalam penyusunan kembali kepamongprajaan dalam menyusun pegawai-pegawai diluar Pamongpraja, berbagai usaha dilakukan. Belanda berusaha merekrut aparat Pemerintah yang lama. Pegawai pada Jawatan Kesehatan dan Jawatan Sosial disuruh bekerja terus. Ini penting bagi Belanda agar rakyat senang dengannya karena berfungsinya kedua jawatan teresebut dapat memudahkan pelayanan kesehatan dan pemberian bantuan kepada masyarakat.

Dr.Poerwotosoedarmo, Kepala Jawatan Kesehatan Keresidenan Banten (RI) diminta pihak Belanda supaya mengumpulkan para pegawai pemerintah untuk diajak kerja. Jumlah pegawai yang menyambut ajakan tersebut sangat sedikit dan Dr.Poerwotosoedarmo menyatakan bahwa jika mungkin, ia ingin keluar dari daerah Banten untuk membuka praktek sebagai Dokter Partikelir. Namun untuk sementara waktu ia bersedia melanjutkan pekerjaannya membantu meringankan penderitaan orang yang perlu mendapatkan perawatan di Rumah Sakit, namun menolak untuk menjadi pegawai Pemerintah NICA. .

Belanda juga memaksa pegawai yang bekerja pada jawatan-jawatan vital, seperti Kantor Pos dan Kantor Telepon untuk terus bekerja. Selain itu Belanda juga mempekerjakan Pegawai Sipil yang tertawan dan menyerah, menerima pegawai-pegawai Rapublik yang disesuaikan dengan bidangnya, menerima pelamar-pelamar dari masyarakat yang ingin mendapatkan pekerjaan atau kedudukan dan mendatangkan tenaga-tenaga dari Jakarta dari Departemen Dalam Negeri yang dalam kualitas dan kuantitas kurang memenuhi syarat yang ditetapkan.

Pegawai Sipil yang tergolong Intelektual makin lama makin banyak yang memihak kepada Belanda dengan berbagai alasan diantaranya karena kebutuhan hidupnya. Sebagai contoh adalah Subari yang semula Wakill Residen lalu diangkat Belanda sebagai Kepala Kantor TBA Agoes Djajaroekmantara yang pada masa Republik menjadi Bupati Pandeglang memihak kepada Belanda, lalu menjadi Bupati Pandeglang; Harunadjaja yang sebelumnya menjadi Wedana setelah memihak kepada Belanda, diangkat sebagai Kepala Jawatan Penerangan Kabupaten Lebak. Dikota-kota ada pula orang-orang yang bekerja untuk kepentingan perjuangan Republik. Gerakan yang tidak resmi di kota ialah Gerakan memberikan sumbangan berupa materil kepada pejuang-pejuang di pedalaman.

Pemerintah TBA hanya ada dikota-kota. Dikota-kota kecil, Pamongpraja TBA tidak berani keliling didaerahnya. Anehnya mereka takut berhubungan dengan rakyatnya. Mereka hanya ada dikantor pada waktu siang. Pada malam harinya mereka kembali ke tempat-tempat yang menurutnya aman, yaitu ditempat-tempat yang ada tentara Belanda. Tentara Belanda mengadakan patroli sampai ke kota-kota kecamatan di siang hari dengan kendaraan. Pada malam hari mereka kembali ke kota Rangkasbitung.

Setelah pemerintahan TBA terbentuk, untuk membantu terciptanya suasana tertib dan aman, agar pemerintahan bentukan Belanda ini kelihatan demokratis, ditiga Kabupaten di Banten dibentuk Local Contact Committee disingkat LCC (Komite Penghubung Setempat). LCC yang beranggotakan 15 orang ini separuh anggotanya terdiri dari wakil-wakil rakyat atau golongan yang dipilih dan separuh lagi ditunjuk oleh TBA. LCC yang berperan sebagai badan penasehat disuruh memberikan penerangan kepada Rakyat disamping Jawatan Penerangan TBA yang selalu diikuti dan diawasi oleh Dinas Intelijen Belanda. LCC Kabupaten Serang dipimpin oleh Padmadidja Patih Kabupaten Serang.

Jawatan Penerangan TBA yang dipimpin oleh R.Umar Muljadikusuma, aktif memberikan penerangan kepada umum sesuai dengan konsep Belanda, tentang maksud kedatangan Belanda, yaitu untuk mengembalikan keamanan dan ketertiban, memberantas semua gerakan pengacau dan membawa kemakmuran untuk Negara. Pada Minggu terakhir bulan Pebruari 1949, Jawatan Penerangan TBA bersama anggota LCC berkeliling ke kota-kota kewedanaan di Kabupaten Serang untuk memberikan penerangan kepada Rakyat. Pada tanggal 22 Februari 1949, Jawatan Penerangan Keresidenan datang di Bayah. Diterangkan maksud kedatangan tentara Belanda, yaitu untuk mengembalikan keamanan dan ketertiban di desa-desa.

Sementara pembentukan aparat pemerintah TBA dilakukan, Belanda juga memperbaiki berbagai sarana fisik yang rusak karena politik bumi hangus TNI. Untuk daerah Kabupaten Serang kerusakan boleh dikatakan tidak ada, karena tentara yang bertugas didaerah itu belum sempat melaksanakan bumi hangus. Sebaliknya di Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak kerusakan fisik seperti jalan-jalan, termasuk jalan kereta api, jembatan-jembatan termasuk jembatan kereta api dan bangunan-bangunan cukup banyak.

Jalan kereta api antara Serpong sampai Merak dibongkar dilima tempat. Stasiun Kereta Api di Rangkasbitung dan Jembatan Kereta Api di Sungai Ciujung di Kota Rangkasbitung dirusak. Jawatan Kereta Api Belanda sibuk memperbaikinya. Pabrik Minyak Kelapa “Mex Oli” di Rangkasbitung rusak. Selain itu, dikota itu gedung-gedung Pemerintah seperti Rumah Gadai, Kantor Jawatan Listrik dan Kantor Kepolisian juga dirusak oleh TNI sebelum tentara Belanda datang. Tidak ada pilihan lain bagi Belanda selain memperbaiki kembali sarana-sarana itu agar berfungsi.

Disamping masalah keamanan, rusaknya sarana jalan tersebut mengakibatkan terganggunya lalu lintas baik dari luar ke Banten maupun sebaliknya. Sampai dengan bulan Pebruari 19946 perhubungan kereta api belum normal karena adanya kerusakan relnya. Antara Serang dan Rangkasbitung, rel kereta api dibongkar di dua tempat.

Perhubungan di daerah Banten, antara kota satu dengan yang lain sampai dengan bulan Pebruari 1949 sukar dan berbahaya. Dari Serang ke Pandeglang misalnya orang berani pergi jika bersama-sama konvoi militer Belanda. Setelah selesai perbaikan kerusakan rel, mulai tanggal 7 April 1949 perhubungan kereta api antara Cisauk (stasiun di sebelah barat sungai Ciujung) dan Rangkasbitung dibuka kembali. Sejak itu kereta api dari Tanah Abang dapat terus ke Rangkasbitung.

Perdagangan antara kota dan desa sejak bulan Pebruari 1949 pulih kembali. Namun satu hal yang menyulitkan transaksi adalah alat ukur. Oleh karena itu, sebagian besar perdagangan dilakukan secara barter. Jika tidak ada komoditi yang ditukarkan, orang di desa-desa hanya mau menerima Uang Republik Indonesia Daerah Banten Sementara (URIDABS). Sebaliknya dikota-kota kepercayaan penduduk terhadap URIDABS merosot. Uang Republik Indonesia (ORI) tetap berlaku dan digunakan oleh rakyat terutama diluar kota-kota besar di Banten. Dikota-kota besar di Banten pada akhir bulan Januari 1949 mulai beredar uang NICA satu uang merah meskipun uang ORI tetap beredar dan diterima. Kurs uang NICA terhadap ORI tidak tetap tergantung pada banyak sedikitnya barang dari Jakarta yang masuk ke Banten. Pada bulan Pebruari 1949 kurs ORI Rp.100,- sama dengan f.0,50.

Pasar di Bayah dan Cikotok, Banten Selatan yang diduduki Belanda sampai dengan akhir bulan Maret 1949 masih sepi. Barang-barang kebutuhan sehari-hari belum banyak tersedia. Perdagangan dilakukan secara barter karena uang belum banyak beredar. Nilai ORI merosot, bahkan Rakyat tidak mau menerima uang itu, apa lagi URIDABS.

Keadaan di kota-kota yang agak besar umunya tentram. Akan tetapi, keadaan di kota-kota kecil seperti Cikeusal, di kewedanaan Pamarayan dan Kramatwatu di Kewedanaan Serang adalah sebaliknya. Pada akhir bulan Januari 1949, tempat-tempat itu masih sepi karena ditinggalkan penduduknya. Penduduk ditempat-tempat itu kebanyakan wanita dan atau orang-orang tua karena pemudanya yang tidak merasa tidak aman tinggal dirumah masing-masing memilih bergabung dengan pasukan-pasukan bergerilya. Penduduk yang mengungsi ke hutan pada bulan April 1949 kembali ke rumah masing-masing. Di Menes Kabupaten Pandeglang dan di Warunggunung Kabupaten Lebak pada bulan April 1949 penduduk yang hijrah ke gunung-gunung berangsur-angsur kembali kerumah masing-masing.

Pemerintah Sipil bentukan Belanda itu merupakan kelompok sosial baru di Banten yang berada dikota-kota dan antara lain didukung oleh orang-orang Belanda. Mereka adalah beberapa orang bekas pegawai setempat yang bekerjasama dengan Belanda (koperator), beberapa pegawai yang didatangkan dari Jakarta dan tentara Belanda. Kelompok Sosial lain di Banten yang bermusuhan adalah Pemerintah Daerah Keresidenan Banten yang berada di daerah pedalaman…. bersambung……………..

——————- Kembali ke Halaman Pertama ——————

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Banten dikuasai….

  1. masluhin berkata:

    betul betul betul…………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s