Masa-masa sulit Banten saat di Blokade


Masa-masa sulit

BANTEN DI BLOKADE BELANDA PADA MASA REVOLUSI, 1945-1949


PANDEGLANG (22/04), Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa setelah Jepang menyerah terhadap Sekutu, Tentara Inggris ditugaskan di Indonesia untuk menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Jepang. Sebelum tugas itu dilaksanakan, antara Inggris dan Belanda, sesama anggota Sekutu, pada tanggal 24 Agustus 1945 disuatu tempat dekat London, terjadi penandatanganan suatu Civil Affairs Agreements yang isinya bahwa Inggris akan membantu Belanda untuk mengembalikan kekuasaannya di Indonesia. Dalam era baru itu Belanda berpegang pada pidato Ratu Wilhelmina tanggal 7 Desember 1942 yang isinya antara lain bahwa Indonesia dijadikan negara commonwealth yang berbentuk federal.

Setelah Jakarta dikuasai oleh Belanda, untuk menciptakan suatu daerah yang aman, Belanda memperluas daerah kekuasaannya ke arah barat. Tangerang sebagai pintu gerbang barat bagi Jakarta dan Gerbang Timur bagi Banten, dikuasai pada akhir bulan Mei 1946, sedangkan Pemerintah Sipil Tangerang mundur dan pindah ke Balaraja, sekitar 45 km disebelah timur kota Serang. Sebelum itu, untuk mengepung kota Tangerang, Serpong yang ada di sebelah selatan Tangerang, dikuasai lebih dahulu/ Pada pertengahan bulan Juni 1946 Curug Mauk dan Balaraja diserang Belanda. Disebelah Selatan untuk mengisolasi Banten, Belanda menduduki Bogor dan kemudian Pelabuhan Ratu. Dengan dikuasainya tempat=tempat tersebut, pintu-pintu keluar dan masuk ke Daerah Banten TERTUTUP.

Agresi Militer Belanda pertama tanggal 21 Juli 1947 yang dilaksanakan serentak ke seluruh Wilayah RI tidak menguasai Banten. Banten hanya didesak ke Barat dan BLOKADE terhadap daerah ini diperketat. Ada beberapa kemungkinan mengapa daerah paling ujung Jawa ini TIDAK DISERANG. Pertama, jika dilihat dari segi ekonomi, Banten bukan daerah yang menguntunkan jika dikuasai. Kedua, dari segi politik, Belanda sangat meragukan Banten apakah daerah itu setelah dikuasai dapat dijadikan daerah yang berdiri sendiri diluar RI, mengingat kebencian rakyat Banten terhadap Belanda. Tampaknya karena kedua hal tersebut, Belanda hanya meng-isolasi daerah itu rapat-rapat yang tujuannya untuk melumpuhkannya. Integrasi Banten dengan Pemerintah Pusat kembali mendapat gangguan, Banten mau dipisahkan dari RI. Banten diblokade secara total agar menjadi lemah yang tujuannya untuk melepaskan daerah itu dari Negara Kesatuan RI.

Isolasi terhadap Banten secara total dilakukan dengan mengadakan penjagaan yang ketat di daerah garis demarkasi yang membujur dari Mauk disebelah utara ke selatan sampai dipantai Lautan Hindia. Belanda juga melakukan blokade laut. Perairan Selat Sunda diawasi dengan ketat. Setiap hari kapal perang Belanda mondar-mandir didekat Pelabuhan Merak. Banten di-isolasi dan diblokade oleh Belanda sehingga hubungan dari daerah itu kedaerah lain atau sebaliknya lewat jalan darat sukar, termasuk hubungan dengan Pemerintah Pusat di Yogyakarta. Hubungan Banten dengan Pemerintah Pusat dilakukan lewat selatan yakni Bayah.

Blokade ini mempunyai dampak yang luas terhadap kehidupan Rakyat Banten. Akibat blokade, beberapa macam barang kebutuhan sehari-hari yang sebelumnya didatangkan dari luar, sulit diperoleh dan kalau ada, harganya sangat mahal. Keadaan ini merupakan UJIAN bagi Pemerintah Daerah Banten dan rakyatnya.

Untuk mengatasi kebutuhan hidup masyarakat, berbagai cara dilakukan, baik oleh rakyat maupun Pemerintah Daerah Banten. Rakyat antara lain ada yang membuat  barang-barang tertentu dan menggunakan barang-barang lain sebagai pengganti. Ada pula yang membeli beberapa jenis barang dari luar dengan cara-cara tertentu. Pemerintah Daerah berusaha meningkatkan penghasilan daerah dengan berbagai cara, seperti mengeluarkan aturan-aturan baik terhadap para pedagang maupun masyarakat agar hasil-hasil daerah Banten digunakan sebaik-baiknya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, rakyat membuat barang-barang tertentu sebagai pengganti, seperti bensin, garam, sabun, gula merah dan obat-obatan yang mutunya lebih rendah. Untuk memenuhi kebutuhan akan bensin, di Silalangu, 6 km dari Stasiun Maja, diusahakan pembuatan bensin dari karet dengan proses destilasi. Pembuatannya sangat sederhana, mula-mula latex karet  dimasukan kedalam drum tanpa menggunakan pengukur tekanan, uapnya dialirkan lewat pipa yang berasal dari waterleiding. Untuk mendinginkan uap, pipa itu dimasukan kedalam selokan dan pada ujung pipa ditempatkan sebuah drum untuk menampung hasilnya yang berupa bensin. Selain di Silalangu ada tiga tempat lain yang membuat bensin dari karet, seperti di onderneming Cibiuk yang diusahakan oleh Soeleman.

Untuk memenuhi kebutuhan akan garam dapur, rakyat di sepanjang pantai Selat Sunda dan Pantai Lautan Hindia membuat garam dengan cara pembuatan yang sangat sederhana, yaitu dengan cara memasak air laut dalam drum yang menghasilkan kristal garam yang licin dan keras. Untuk mencukupi kebutuhan akan sabun cuci, orang menggunakan buah kelerak. Ada juga orang yang mendirikan perusahaan sabun yang menggunakan peralatan sederhana. Kebutuhan akan gula pasir dipenuhi dengan menggantinya dengan gula merah. Kebutuhan akan obat-obatan dipenuhi dengan membuat sendiri beberapa jenis obat, seperti obat batuk dibuat dari daun sirih, bubuk kina dibuat dari kulit kina yang ada di daerah Jasinga, Obat buduk menggunakan salep belerang yang dibuat dari belerang yang dicampur minyak kelapa sawit, Perban dibuat dari kulit pohon pisang bagian dalam, Vaksin cacar dibuat oleh Dr. Satrio pejabat bagian kesehatan Brigade Tirtayasa saat berkecamuk wabah cacar.

Atas bantuan Soerjo, Mantri cacar di Malingping, vaksin cacar dibuat.  Soerjo pernah membuat Vaksin di Lembaga Pasteur di Bandung. Untuk membuat vaksin bahan bakunya adalah Vaksin Kering, Kerbau Muda atau Sapi dan Glycerin sebagai bahan pencampur. Setalah bahan baku diperoleh dengan berbagai cara, vaksin dibuat. Kerbau muda dimandikan sebersih-bersihnya, lalu dicukur bersih seluas kurang lebih  40X30 cm, lalu dicuci ulang dengan sabun dan dibilas dengan air matang agar kulitnya benar-benar bersih. Vaksin kering dicampur dengan glycerin kemudian digoreskan di kulit kerbau yang telah dibersihkan itu. Setelah goresan kering, bekasnya ditutup dengan kain putih untuk melindunginya dari lalat dan kotoran. Setelah tiga hari, bisul-bisul cacar tumbuh, lalu ditunggu sampai mengerak. Bisul yang mengerak dikerok dari kulitnya setelah terlebih dahulu kerbau itu disembelih. Kerak cacar itu lalu digiling dengan menggunakan gilingan kopi yang terlebih dahulu direbus dalam air mendidih. Sambil digiling, cairan glycerin dituangkan dan akhirnya menghasilkan adonan yang homogen dan itulah vaksin cacar. (Madjiah, 1993:203-205).

Selain itu, ada yang menggunakan barang lain sebagai pengganti, seperti untuk lampu penerangan  orang menggunakan minyak kelapa dan biji-bijian yang berminyak. Tekstil sangat kurang, sehingga orang banyak menggunakan karung bagor sebagai pakaian. Orang membuat kemeja dari sarung polekat yang telah tua lalu dicelup. Karena langkanya batu korek api, orang membuat api dengan menggunakan batu titikan yang titik dengan sepotong kecil baja.

Usaha oleh Pemerintah Daerah Banten untuk mengatasi Blokade Belanda adalah dengan mengeluarkan peraturan-peraturan yang ditujukan kepada pedagang dan rakyat. Misalnya, peraturan tentang ekspor barang-barang agar para pedagang setelah kembali mengekspor, harus membawa bahan pakaian dan alat-alat kendaraan yang diperlukan oleh rakyat yang dibeli olehnya sebanyak 50% dari harga barang yang diekspor. Peraturan itu ternyata tidak dipatuhi oleh seorang pedagangpun.

Perlunya barang-barang yang cukup di Banten ditunjukkan juga dengan adanya perdagangan barter antara Banten dan Jakarta yang dimulai pada bulan Mei 1948. Dari Banten dibawa bahan-bahan mentah ke Jakarta, sebaliknya dari Jakarta dibawa barang-barang tekstil. Sebagai langkah awal, perdagangan seperti itu dimulai oleh pihak swasta.

Dilapangan moneter, karena Banten tidak menerima kiriman uang dari Pemerintah Pusat, dicetak uang sendiri bernama “Uang Kertas Darurat Untuk Daerah Banten” yang terkenal dengan sebutan URIDABS (Uang Republik Indonesia Daerah Banten Sementara. Pengeluaran uang itu didasarkan pada jaminan adanya tambang emas di Cikotok. Pembuatan mata uang itu dilakukan setelah Pemerintah Daerah Banten tidak dapat membayar gaji pegawai karena tidak ada uang. Promotor pembuat uang tersebut adalah Pembantu Gubernur Mr. Joesoep Adiwinata dan R.Lumanauw, Kepala Kantor Inspeksi Keuangan Keresidenan Banten, yang dipersiapkan semenjak bulan September 1947. Dengan menggunakan peralatan yang sederhana pada bulan Desember 1947 beredar emisi pertama yaitu pecahan Rp. 1,00, Rp.5,00, Rp. 10,00 dan Rp. 25,00. Kemudian pada bulan Agustus 1948 keluar emisi kedua yaitu pecahan Rp, 50,00.

Wujud URIDABS sangat sederhana sehingga mudah dipalsukan. Pada pertengahan tahun 1948 uang bernilai Rp. 25,00 dipalsukan oleh orang dari luar daerah Banten dan uang palsu itu banyak beredar di masyarakat. Untuk mengatasinya dibentuk Panitia Khusus yang mengadakan penelitian terhadap uang di pasar-pasar segera dimusnahkan. Selain itu, Panitia juga melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang dari daerah pendudukan yang masuk ke daerah Banten. Mereka ditangkap apabila diketahui membawa uang palsu. URIDABS asli terus bertambah. Akibatnya Inflasi tidak dapat dihindari. Setelah Agresi Militer kedua, URIDABS dibekukan sehingga keperluan rakyat sehari-hari dicukupi dengan jalan tukar menukar barang (barter).

Sedikitnya jumlah barang dipasaran mengakibatkan harga barang-barang terutama bahan makanan, semakin tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan untuk memperbaiki keadaan perekonomian daerah, berbagai cara dilakukan. Kalangan pedagang dan Jawatan Perdagangan membentuk “Majelis Perniagaan Daerah Banten” yang usahanya antara lain dilapangan impor dan ekspor. Sementara itu, mulai tanggal 5 Nopember 1948, Pemerintah ton Daerah memberi izin kembali kepada pedagang-pedagang besar untuk membawa kopra sebanyak 50 ton  luar daerah, asal ketika kembali mereka membawa barang-barang lain yang dibutuhkan di Banten.

Cara lain yang dilakukan oleh Pemerintah daerah, agar hasil dari daerah itu tidak banyak keluar adalah dikeluarkannya mulai pertengahan bulan Nopember 1948 aturan yang dituangkan dalam suatu peraturan yang menetapkan banyaknya barang yang diperbolehkan dibawa keluar daerah Banten.  Dalam Peraturan itu ditetapkan bahwa setiap orang hanya dibolehkan membawa minyak kelapa tanah dan lain sebagainya sebanyak satu liter. Untuk berbagai macam kacang, beras, gula merah, gula pasir dan ikan kering setiap orang hanya diperbolehkan membawa sebanyak satu kilogram. Untuk binatang ternak seperti ayam, itik, bebek setiap orang hanya diperbolehkan membawa satu ekor. Pelanggaran terhadap aturan itu akan diberi tindakan, yaitu barang-barang yang dibawa dirampas dan orang yang membawanya ditawan. Jika orang, karena sesuatu hal harus membawa barang-barang tersebut dalam jumlah yang melebihi ketentuan, mereka wajib berhubungan dengan pihak yang berwajib, yaitu Jawatan Kemakmuran.

Walaupun usaha Pemerintah Daerah untuk menyediakan bahan makanan berhasil, namun harganya seperti beras terus meningkat. Tampaknya penyebabnya adalah inflasi URIDABS, sehingga nilai mata uang itu menurun. Upah para pekerja ikut meningkat, sehingga penghasilan mereka lebih tinggi daripada gaji pegawai daerah yang berpangkat tinggi. Kehidupan para pegawai sungguh memprihatinkan. Keadaan seperti ini tampaknya yang diinginkan oleh Belanda untuk melemahkan Banten.

Blokade Total Belanda ternyata tidak menggoyahkan Banten untuk lepas dari Negara Kesatuan RI. Kebencian Rakyat Banten terhadap Belanda benar-benar ditunjukan. Banten tetap berintegrasi dengan Negara Kesatuan RI, bahkan dalam keadaan sulit, Banten masih dapat membantu Pemerintah Pusat dengan batangan-batangan emas yang dihasilkan dari Cikotok. BERSAMBUNG…………….

——————- Kembali ke Halaman Pertama ——————

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Masa-masa sulit Banten saat di Blokade

  1. abbas-pontang berkata:

    GW BANGGA JD WARGA BANTEN..TERNAYA BANTEN JD PEMERINTAHAN SENDIRI…banten yg skrg di mana??? bisa ga ky dulu???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s