Bupati Pandeglang terima SEBA BADUY


PANDEGLANG, (19/04)

BUPATI PANDEGLANG TERIMA WARGA BADUY HARI INI DI PENDOPO


PANDEGLANG, Sembilan orang warga Baduy yang dipimpin oleh Jaro Dainah, diterima Bupati Pandeglang hari Senin (19/04) di Ruang Tamu Rumah Dinas Bupati Pandeglang. Bupati Pandeglang H.Erwan Kurtubi yang didampingi oleh Ketua TP-PKK Kabupaten Pandeglang H. Siti Erna Erwan, Kasdim 0601 Pandeglang Rahmat dan Kepala Bagian Umum Abdul Azis menerima rombongan ini sekitar pukul 08.00 pagi.

Dalam pengantarnya Jaro Dainah (Jaro Desa Kenekes) mengatakan bahwa, kedatangan dirinya beserta rombongan, selain untuk silaturahmi juga tradisi ini merupakan amanat dari sesepuh dan karuhun kampungnya. Tradisi yang sudah ia jalani dari dulu,  Seba merupakan Agenda Tahunan Masyarakat Kanekes ”Tangtu” (Baduy Dalam) dan ”Panamping” (Baduy Luar) yang rencananya akan mendatangi Bupati Lebak, Pandeglang, Gubernur dan Bupati Serang. Seba biasanya di laksanakan setelah ”Kawalu”, dengan membawa berbagai hasil panen. Inti kegiatan ini adalah ”Duduluran” dan pernyataan bahwa masyarakat Baduy, adalah warga NKRI dengan sebutan Masyarakat Adat Baduy.

Perayaan kawalu merupakan salah satu tradisi ritual yang dipercaya oleh warga Baduy Dalam sehingga perlu menghargai dan menghormati keyakinan agama yang dianut mereka. Selama melaksanakan kawalu, kondisi kampung Baduy Dalam sepi karena mereka berpuasa dan banyak memilih tinggal di rumah-rumah. Selama perayaan kawalu perkampungan Baduy Dalam meliputi Cikawartana, Cikeusik, dan Cibeo tertutup bagi pengunjung, sekalipun itu pejabat daerah ataupun pejabat negara. Kawalu harus dilaksanakan karena peninggalan adat dan harus ditaati.

Setelah kawalu, satu bulan dilanjutkan merayakan acara Seba dengan mendatangi Bupati dan Gubernur Banten dengan membawa hasil-hasil bumi (pertanian). Saat ini sebagian warga Baduy sudah panen padi huma. Perayaan Seba itu sebagai salah satu bentuk silaturahim yang harus dijalin dengan baik kepada pemerintah.

Seba yang dilaksanakan ini adalah untuk ”Ngasuh Ratu-Ngajayak Menak”, dengan cara “mageuhkeun tali duduluran” serta ngajak “dulur-dulur ngajaga lingkungan”. Seba merupakan sebuah tradisi adat yang harus dilakukan setiap tahunnya bagi warga Baduy sebagai wujud nyata tanda kesetiaan dan dan ketaatan kepada Pemerintah RI yang dilaksanakan kepada penguasa Pemerintahan dimulai dari Bupati sampai dengan Gubernur Banten.

Seba itu sendiri dapat diartikan sebagai kunjungan resmi yang merupakan peristiwa dalam untaian adat masyarakat Baduy yang dilakukan seusai Kawalu dengan rangkaian acara secara terperinci serta persiapan yang matang disamping harus berpedoman pada Peraturan Adat dan orang yang berperan dalam melakukan Seba adalah kepercayaan Puun atas nama warganya memberikan laporan kepada Pemerintah sekaligus menjembatani komunikasi.

Misinya membawa amanat Puun, memberikan laporan selama 1 tahun didaerahnya, menyampaikan harapan dan menyerahkan hasil bumi dari tanaman ladang yang digarap. Rombongan yang berangkat tidak ditentukan, tetapi harus Jaro sebagai orang kedua PUUN, Tokoh Adat Kajeroan, Tokoh Adat Panamping, Juru Bahasa, Tokoh Pemuda dengan maksud agar mengetahui tata caranya dan bisa menjadi generasi penerus dalam melanjutkan tradisi lelehur.

Dalam pelaksanaan Seba, kelompok Kaum Sepuh berperan sebagai pengamat jalannya upacara dan pada saat sedang berlangsung tidak berbasa – basi dalam penyampaian kata – kata tetapi tegas, terbuka, jujur, tepat dan jelas dari permasalahan daerahnya tidak menutupi yang buruk dan tidak memamerkan yang baik.

Sedangkan kelompok Pemuda, mempunyai kewajiban sebagai pengemban amanat pusaka untuk tidak menyimpang dari tujuan dan kelompok Tokoh Adat mengatur tata cara yang bertumpu kepada pakem, keharusan, larangan dan pantangan sejak berangkat dari daerahnya sampai ke tujuan.

Acara ini, juga merupakan forum silaturahmi antara warga Baduy dengan pemerintah yang dipimpin JARO TANGGUNGAN DUABELAS sekaligus melaporkan situasi social kemasyarakatan, keamanan dan hasil pertanian serta keadaan lain yang terjadi selama setahun terakhir.

Usai acara ritual, JARO TANGGUNGAN DUABELAS didampingi sejumlah Petinggi Adat Baduy lainnya menyerahkan bingkisan (Kue Laksa) dan hasil pertanian lainnya. Untuk pelaksanaan Seba ini, selain JARO TUJUH sebagai perwakilan masyarakat Baduy juga dihadiri oleh JARO WERGA sebagai Utusan Khusus PUUN dan JARO GOUVERMENT (Kepala Desa).

Dalam pelaksanaan Seba, dapat dibedakan antara lain : Seba Gede yaitu apabila hasil panen yang diperoleh selama satu tahun tersebut sangat memuaskan, maka barang bawaan Seba dilakukan secara lengkap selain hasil – hasil pertanian, gula, pisang juga termasuk pelengkap dapur, yang disebut Perkara Olah diantaranya Kukusan Bambu, Kipas Bambu (Hihid), Centong Pangarih (Sendok Aronan), Dulang (tempat ngangi dari kayu) dan peserta relatif lebih banyak bisa mencapai sekitar 500 orang lebih yang terdiri dari warga Baduy Dalam dan Baduy Luar. Apabila panen yang dihasilkan kurang memuaskan pelaksanaan Seba cukup dengan menyerahkan hasil – hasil pertanian tanpa dilengkapi dengan Perkara Olah dan peserta Seba relatif lebih sedikit. (iim-humas)

——————- kembali ke menu awal ——————

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s