Maca Syekh dalam Konteks Kehidupan Masyarakat Banten


PANDEGLANG (18/04)

MACA SYEKH  DALAM KONTEKS KEHIDUPAN MASYARAKAT BANTEN

(BAGIAN III)


PANDEGLANG, Pada Bagian Pertama dan Kedua telah dibahas tentang kebiasaan masyarakat Banten dalam melaksanakan tradisi wawacan / maca syekh dalam kehidupan sehari-harinya. Pada bagian ini, masih berdasarkan Hasil Laporan Akhir Penelitian yang dilakukan oleh Ruby Ach. Baedhawy, kita akan bahas pelaksanaan wawacan / maca syekh dalam konteks kehidupan masyarakat Banten sehari-hari.

Wawacan seh dalam konteks kehidupan masyarakat Banten secara luas, yakni tentang posisinya sebagai bagian dari budaya populer masyarakat yang kini semakin terpinggirkan oleh derasnya budaya lain yang hegemonik. Selain itu juga akan dijelaskan bahwa wawacen seh sesungguhnya merupakan cerminan dari salah satu corak keberagamaan masyarakat Banten.

Akhirnya harus dipahami bahwa wawacan seh tidak hanya bagian dari corak keberagaman semata, tetapi sesungguhnya memiliki konteks makna yang lebih luas yakni sebagai cerminan dari cara sebagai masyarakat “memahami kehidupan di dunia ini”.

———————————–

Sebagai Budaya Populer

Praktek wawacen seh Abdul Qodir al-Jaelani dalam masyarakat Banten memiliki sejarah panjang. Meskipun tidak diketahui tentang waktunya secara tepat waktu praktek tersebut dimulai terjadi Banten, tetapi dapat diduga bahwa praktek pembacaan manaqib mulai ramai semenjak Tarekat Qodiriyah atau Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah mulai menyebar di masyarakat Banten.

Meskipun kecenderungan orientasi sufistik dalam keagamaan sangat jelas terlihat semenjak awal pendirian kesultanan Banten, seperti maulana yang dipakai Hasanuddin dan para raja Banten di depan nama mereka, tetapi tarekat menjadi gerakan masa (budaya popular) pada masa-masa belakangan.

Terutama pada ketika Syekh Yusuf al-Makasari (1626-1699) menjadi Fakih Najamuddin pada masa Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa. Meskipun Syekh Yusuf Makasari dikenal sebagai pendiri tarekat Khalwatiyah, tetapi ia juga salah seorang mursyid (guru sufi) yang mempelajari taekat-tarekat lainnya, termasuk Tarekat Qodiriyah.

Gerakan tasawuf ini menjadi gerakan masa mendapatkan momentumnya ketika kesultanan Banten mengalami kehancuran karena dianeksasi oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Selain dijadikan sebagai jaringan komunikasi antar pengikut tarekat, ajaran tarekat dijadikan ideologi perjuangan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat untuk melawan pemerintah kolonial.

Karena fungsinya sebagai ideologi tersebut, tarekat akhirnya menjadi budaya populer di masyarakat dari pada sebagai jalan menuju Tuhan yang lebih menekankan keintiman dan pribadi.

Perjalanan tarekat menjadi gerakan masa (budaya popular) melalui proses yang rumit. Proses tersebut akan berjalan efektif apabila dilakukan, salah satunya adalah dengan cara penyederhanaan dan menggunakan bahasa atau logika (sistem berpikir) yang berkembangan di masyarakat Banten pada masa itu. Salah satu bentuk ritual yang harus diikuti oleh para pengikut tarekat adalah pembacaan manaqib pendiri tarekat mereka.

Maka bagi pengikut Tarekat Qodiriyah, pembacaan manaqib Syeikh Abdul Qodir menjadi bagian dari ritual mereka. Untuk menjadi sebuah gerakan masa yang populer di masyarakat perlu adanya penterjemahan teks manaqib itu dalam bahasa lokal agar bisa dipahami dengan mudah oleh masyarakat luas. Karena itu ada proses penterjemahan teks manaqib Syaikh Abdul Qodir al-Jaelani dari bahasa Arab ke dalam bahasa Jawa atau Sunda Banten.

Hal itu ternyata tidak berhenti pada proses penerjemahan semata, tetapi juga dibaca dengan mempergunakan nada atau melodi yang sudah akrab di telinga masyarakat Banten. Maka pembacaan manaqib pun mengikuti susunan nada pupuh seperti kinanti, asmaranda, dangdanggula dan sinom.

Proses penerjemahan itu mengandung dua hal.

Pertama, hal itu mengindikasikan bahwa telah terjadi pribumisasi praktek tarekat dari yang bernuansa Arab atau Timur Tengah. Tarekat kini bisa dihayati bukan saja oleh orang-orang yang berbahasa Arab tetapi juga orang-orang Banten yang non-Arab. Hal ini pada akhirnya menjadikan tarekat semakin massif memasuki ruang kehidupan masyarakat secara luas.

Kedua, bahasa Jawa atau Sunda Banten diakui sebagai bahasa yang sah untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman bagi masyarakat. Hal ini ikut mengintegrasikan bahasa Banten sebagai bagian dari bahasa orang-orang muslim.

———————————–

Corak Keberagamaan

Dalam tradisi Islam ada dua aliran besar tentang otoritas yang dapat memberikan legitimasi atas suatu perbuatan. Pertama, mereka yang meyakini Kitab Suci (al-Qur’an dan Hadits) sumber otoritas yang paling penting dalam memberikan legitimasi atas suatu perbuatan seseorang. Kelompok ini berasal dari kalangan fuqaha (ahli fiqh).

Para pendukung kelompok ini adalah fuqoha yang kemudian lebih dikenal sebagai ulama. Kelompok ini disering dipandang sebagai ortodoksi Islam, wakil yang sah dalam Islam. Sehingga kelompok-kelompok lain yang melakukan penafsiran al-Qur’an atau Sunah secara berbeda akan dicap sebagai sesat, pelaku bid’ah atau bahkan kafir.

Para ulama biasanya menikmati hubungan yang mesra dengan para penguasa, karena kebutuhan tata administratif dan legal formal dalam pemerintahan. Karena itu para ulama terdahulu bersifat elitis. Namun demikian hal itu juga mencerminkan tentang keterkaitan antara agama dan negara dalam tradisi Islam.

Kedua, mereka yang meyakini bahwa otoritas itu terletak pada “garis suksesi”, yakni ketokohan seseorang baik terjadi secara fisik maupun secara spiritual. Secara fisik biasanya terjadi melalui keturunan sedangkan secara spiritual melalui hubungan guru-murid.

Orang yang terpilih menjadi pemimpin dipandang memiliki otoritas untuk memberikan legitimasi atas suatu perbuatan. Kalangan seperti ini biasanya muncul di kalangan para sufi. Kelompok kedua ini sering dianggap sebagai hetrodok dan bersifat pinggiran. Sehingga banyak kaum sufi yang dianggap melakukan penyimpangan, sesat atau pelaku bid’ah.

Akibat tuduhan tersebut, banyak dari mereka yang terbunuh atau dibunuh. Kaum sufi pada umumnya hanya bergerak dipinggiran kekuasaan. Mereka pada umumnya adalah orang-orang yang bergaul dengan lapisan masyarakat muslim.

Bagaimana hal itu dengan kasus yang terjadi pada masyarakat Banten? Meskipun kini wawacan seh menjadi budaya pinggiran, tetapi jelas praktek tersebut pernah menjadi arus utama (main stream) dalam kehidupan keagamaan masyarakat Banten. Praktek wawacan seh merupakan cerminan dari corak keagamaan yang bernuansa sufistik yang pernah menguasai pola kehidupan masyarakat Banten.

Hal ini mengindikasikan bahwa pada awal-awal masa perkembangannya di Banten, Islam yang bernuansa sufistik lebih bisa diterima oleh masyarakat dari pada Islam yang bersifat legal formalistik dan literal. Karena itu bisa diprediksi perkembangan Islam yang bernuansa skriptualis berkembang pada masa belakangan.

Hal itu terjadi karena kebutuhan-kebutuhan administratif dan normatif yang ingin mengintegrasikan Islam di Banten khususnya atau di Nusantara pada norma-norma keislaman yang lebih global atau universal.

Masyarakat Gunung Kaler dan Baros masih mencerminkan masyarakat tradisional yang lebih menekankan pada kepemimpinan kharismatik. Mereka masih mempercayai kiyai sebagai pemimpin, sebagai otoritas yang memberikan legitimasi atas suatu tindakan.

Hal ini karena mayoritas masih sebagai petani, masih sedikit yang melek huruf (berpendidikan tinggi) sehingga kurang memiliki akses dalam membaca kitab-kitab atau buku-buku yang dianggap memiliki otoritas. Sistem pendidikan pesantren tradisional (salafi) masih merupakan hal dominan dalam sistem pendidikan keagamaan.

Wawacan seh merupakan manifestasi dari corak keagamaan yang beroritasi kepada tasawuf. Karena itu wawacan seh akan banyak dibutuhkan dalam masyarakat yang masih kental dengan nuansa sufistiknya, yakni pedesaan. Sehingga bagi masyarakat desa, corak keagamaan sufistik merupakan corak keagamaan yang bersifat substitute (pengganti) bagi corak keagamaan yang legal formal (fiqh oriented). Hal ini lebih sesuai dengan situasi dan kondisi mereka.

Mayoritas penduduk desa umumnya berpendidikan rendah dan kondisi kehidupan sosial mereka bersifat homogen sebagai petani. Mayoritas mereka tidak mampu menjangkau kehidupan sosial politik yang lebih luas akibat keterbatasan sosial dan ekonomi. Dalam kondisi seperti itu, terjadi pergeseran dalam hal penekanan legitimasi dari Kitab Suci (al-Qur’an dan Sunnah), yang bersifat abstrak dan membutuhkan kemampuan tinggi untuk membaca dan menafsirkannya, ke “ketokohan seseorang” yakni para kiyai dan wali.

Namun demikian, bukan berarti keagamaan yang bercorak sufistik tidak ditemui dalam masyarakat kota. Bagi masyarakat kota, keagamaan yang bercorak sufistik itu merupakan alternatif dari corak keagamaan yang bersifat legalistik dan literal, bersifat yang dirasa kering dan membatasi. Agama hanya dijadikan tata aturan kehidupan yang sering tercabut dari nuansa spiritualitas.

Corak keagamaan legalistik dan literal lebih banyak berkembang di perkotaan karena kebutuhan akan aturan-aturan yang lebih tegas dan formal dalam menghadapi berbagai macam masalah. Masyarakat kota pada umumnya sangat heterogen, baik dari sisi pendidikan atau ekonomi sehingga perlu adanya aturan yang tegas dan formal dalam memutuskan setiap konflik yang terjadi di tengah kehidupan mereka.

———————————–

Konteks Sosial dan Moral

Setiap kebudayaan yang dibentuk manusia merupakan hasil dari pergulatan manusia dengan kekuatan-kekuatan yang mengitarinya. Setidaknya ada dua faktor yang menjadi pendorong munculnya kebudayaan yakni:

  • pertama, usaha manusia untuk menyesuaikan dirinya dalam sebuah kerangka tepat dan masuk akal dengan kekuatan-kekuatan itu;
  • kedua adanya usaha-usaha manusia untuk menaklukan kekuatan-kekuatan tersebut.

Ritual wawacan seh merupakan bagian dari sistem kepercayaan masyarakat tradisional dalam menghadapi kesulitan dan tantangan kehidupan. Hal itu memiliki fungsi psikologis maupun social. Secara psikologi, upacara itu akan melepaskan rasa kesulitan dan kesumpekan dalam menghadapi tantangan kehidupan yang keras.

Dengan dibacakan cerita-cerita yang terdapat dalam manaqib, manusia seolah diberi motivasi bahwa sesungguhnya kesulitan itu bisa terpecahkan meskipun pada awalnya dianggap kelihatannya mustahil untuk dilakukan. Hal tentu akan memberi rasa optimis kepada orang-orang yang sedang menghadapi kesulitan hidup. Secara sosial, acara wawacan seh merupakan sarana untuk saling menjalin hubungan sosial antar warga.

Warga sekitar diingatkan bahwa mereka pada prinsipnya memiliki kesamaan, baik secara simbol maupun keyakinan. Karena jalinan kerjasama hendaknya menjadi hal utama dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat tradisional umumnya berpikir secara mistis, yakni cara berpikir dengan menggunakan mitos atau simbol. Mitos bukanlah cerita tentang peristiwa masa lalu yang palsu dan bohong. Mitos adalah cerita yang memberi pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang.

Kisah-kisah yang terdapat pada manaqib adalah lambang atau simbol yang menuturkan tentang pengalaman orang-orang terdahulu mengenai: kebaikan dan kejahatan, hidup dan kematian; dosa dan kesucian; neraka dan surga; serta dunia dan akhirat.

Cerita-cerita dalam manaqib yang berbentuk mitos itu bertujuan memberikan arahan yang bersifat moral kepada manusia tentang bagaimana mesti bertindak dalam kehidupan di dunia ini. Hal itu, bagi masyarakat tradisional, merupakan semacam pedoman untuk kebijaksanaan manusia. Lewat cerita-cerita itu manusia diingatkan bahwa ada kekukatan-kekuatan lain dalam hidupnya di dunia ini selain kekuatan manusia.

Mitos itu memberikan bahan informasi mengenai kekuatan-kekuatan itu dan sekaligus membantu manusia agar ia dapat menghayati daya-daya itu sebagai kekuatan yang mempengaruhi dan menguasai alam serta kehidupan manusia. Dalam kisah tersebut tidak hanya bertutur tentang manusia di dunia, tetapi juga di makhluk-makhluk ghaib, maka kisah itu seolah mengingatkan pula bahwa ada keterkaitan antara alam dunia dengan alam ghaib.

Karena itu yang paling penting dari kisah-kisah dalam manaqib itu memberikan pengetahuan tentang dunia. Penjelasan tentang asal usul dunia, hubungan antar manusia dengan makhluk-makhluk lainnya dan Tuhan, tentang asal muasal kejahatan.

Kecintaan masyarakat untuk tetap mempertahakan wawacan seh merupakan cermin dari kehidupan masyarakat kita yang masih berpikir mistis. Yakni sistem berpikir yang mengetengahkan bahwa hidup ini penuh makna, bukan hanya sebatas rutinitas tanpa makna. Hal itu juga menggambarkan bahwa kehidupan ini penuh dengan keajaiban yang sering tidak bisa dipahami oleh akal manusia yang biasa.

Keajaiban itu juga mengindikasikan bahwa adanya kekuatan yang melampaui kehidupan di dunia yang bersifat transenden. Sesunguhnya yang bersifat transenden itu yang menguasai kehidupan alam dan manusia.

Kisah-kisah mistis dalam wawacan seh untuk memberikan gambaran pada manusia bahwa memeluk Islam akan menjamin seseorang untuk keselamatan dalam menjalani kehidupan ini. Itu akan terjadi apabila mereka mematuhi tuntunan yang diberikan para kiyai (tokoh agama).

Bila tuntunan kiyai itu ditaati maka akan tercipta masyarakat yang damai dan sentosa. Hal itu juga sebenarnya untuk menegaskan peran penting kiyai, khususnya guru-guru sufi, dalam kehidupan sosial keagamaan masyarakat.

—————- kembali kehalaman pertama —————-

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Maca Syekh dalam Konteks Kehidupan Masyarakat Banten

  1. Ali Fakhrudin berkata:

    Pas dan baik itu, karena kecenderungan belajar seseorang itu tergantung background yang ia miliki kalau belajar an-sich fiqh tanpa disertai dengan imu keislaman tasawuf maka maka akan mempunyai karakter spikulasi dalam tindakan, akan tetapi disertai nilai aqidah, syari’at, dan muamalah akan ada akselerasi keputusan pribadi. Maka antara syar’at, hakekat dan ma’rifat harus berimbang supaya menu hati dalam haliyah di dunia sesuai pesan bahwa manusia adalah khalifatullah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s