Mengenal Tradisi Maca Syekh (Bagian I)


PANDEGLANG (17/04)

MENGENAL TRADISI MACA SYEKH (BAGIAN I)


PANDEGLANG, Jika kita menghadiri acara khitanan, kawinan, naik haji, membangun dan ruwatan rumah, membuka warung / toko baru atau membeli kendaraan baru, masyarakat Banten biasanya sering mangadakan acara wawacan syekh atau maca syekh. Berawal dari rasa penasaran saya mencoba mencari tahu tentang tradisi ini. Sebuah Laporan Akhir Penelitian yang dilakukan Ruby Ach. Baedhawy akhirnya saya temukan, laporan penelitian yang berjudul Wawacan Seh (Manaqib Abd al-Qadir al-Jilani) Praktek dan Fungsi dalam Kehidupan Sosial di Banten ini, ditulis pada tahun 2007 bekerjasama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta dan Lembaga Penelitian Institut Agama Islam Negeri “Sultan Maulana Hasanudin” Banten. Posting ini saya bagi menjadi beberapa bagian, agar pembahasannya lebih fokus.

Masyarakat yang menyelenggarakan acara wawacan syekh atau maca syekh berkeyakinan bahwa dengan dibacakan manaqib akan mendapatkan keselamatan, keberkahan dan keinginannya tercapai. Ritual maca syekh yang mereka lakukan pada berbagai acara bertujuan meminta keselamatan dan tolak bala’.

Pengaruh tasawuf atau tarekat dalam masyarakat hingga kini masih sangat terasa. Salah satu tarekat yang hingga kini terkenal di Banten adalah Qadiriyah wa Naqsybandiyah. Pengikut tarekat ini pun tersebar secara luas di masyarakat. Pembacaan manaqib Abd al-Qadir al-Jaelani masih dapat dengan mudah ditemukan di hampir seluruh penjuru di Banten. Pembacaan manaqib ini dikenal dengan wawacan syeh, yang memuat tentang cerita-cerita penuh teladan dan perbuatan ajaib sang wali.

Tradisi pembacaan manaqib ini di Banten telah ada semenjak paruh pertama abad ke-17. Hal ini terlihat pada abad itu sudah adanya adaptasi pembacaan manaqib tersebut dalam versi Jawa yang menggunakan dialek Banten – Cirebon.

Berikut ini adalah tradisi wawacan syeh yang dilaksanakan di Kecamatan Baros Serang dan Gunung Kaler Kabupaten Tangerang, berdasarkan Hasil Laporan Akhir Penelitian tersebut.

Tradisi Wawacan Syeikh di Kecamatan Baros Serang

Pembacaan Wawacan Syeikh di daerah ini sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat daerah Baros. Pembacaan manaqib Syeikh Abdul Qodir sudah menjadi rutinitas penduduk yang hampir dijumpai setiap hari pada rumah-rumah tertentu. Bahkan ada beberapa penduduk yang menyelenggarakan acara pembacaan manaqib itu seminggu sekali kali secara rutin. Seperti Sakroni dan Mardiah secara rutin menggelar acara pembacaan manaqib masing-masing setiap hari Rabu dan Kamis dengan memanggil Misra bin Sulaiman (53 tahun) sebagai pemandu.

Istilah wawacan syeikh di masyarakat Baros lebih akrab dikenal dengan istilah mamacan syeikh, maca syeikh atau manaqiban. Banyak orang yang sudah biasa menjadi pembaca (juru maos) wawacan syeikh di daerah ini. Meskipun mereka pada umumnya bukan para pengikut Tarekat Qodiriyah atau tarekat lainnya. Berikut ini beberapa orang yang berhasil dijumpai dan menceritakan tentang aktivitasnya.

1. Misra bin Sulaiman (53 tahun)

Misra adalah warga dari kampung Baros Mesjid. Ketika ditemui sepulang dari ladang, di rumahnya, Misra (Mang Mis, masyarakat menyebutnya) menceritakan pengalaman hidupnya sebagai pembaca wawacan syeikh dengan penuh semangat. Di rumahnya itu, Misra hidup didampingi oleh seorang isteri dan enam orang anaknya. Pekerjaan yang menjadi tumpuan hidup keluarganya adalah dari buruh tani. Selain itu ia kerap menjadi pengajar al-Qur’an (guru ngaji) bagi anak-anak warga di sekitar rumahnya. Meskipun ia tidak dilahirkan di Baros, ia berasal kampung Purut Desa Sukawana Kecamatan Curug, Serang, tetapi berkat bacaan al-Qur’an yang baik, ditunjuk masyarakat untuk menjadi imam mesjid, yang berlokasi tidak jauh dari tempat tinggalnya. Pada malam tertentu ia juga sering memberi pengajaran agama kepada warga sekitar dengan membacakan “kitab kuning”.

Pendidikan yang ia jalani tidak pernah mengenyam pendidikan formal di SD/MI. Ia hanya pernah menempuh pendidikan di pesantren lebih dari 7 (tujuh) tahun. Pesantren yang pernah ia tinggali adalah “Pesantren Cangkudu“ yang diasuh oleh KH. Nahrawi, ia jalani pendidikan itu selama tujuh tahun, dari tahun 1971-1979. Kemudian ia juga pernah menjadi santri K.H. (Abuya) Sanja di Kadukaweng, Pandeglang selama empat puluh hari dengan mengkonsentrasikan pada penguasaaan kitab Al-Fiyah. Abuya Sanja, demikian pada umumnya masyarakat Pandeglang memanggil, adalah salah satu mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah di Banten. Ia dikenal karena kesederhanaannya dalam hidup dan ia pun sudah tujuh kali menunaikan ibadah haji ke Makkah. Tidak sedikit para Kiyai muda di Banten yang pernah ‘mondok’ dan pada akhirnya pula mendirikan pondok pesantren salafi setelah mendapat restu dari beliau. Banyak cerita mistis yang berkembang di masyarakat tentang seputar kehidupannya.

Berdasarkan penuturanya, bahwa ia mulai menjadi pembaca wawacan syeikh pada tahun 2000. Keterampilan dalam ‘nembang’ wawacan syeikh itu ia dapatkan langsung dari orang tuanya sendiri. Selain dari orang tuanya, Misra pernah berguru pada salah seorang penjaga makam (muzawir atau kuncen) setiap kali berziarah ke Kalianget Sumenep Madura. Menurutnya, ia mendapat ijazah dari orang tuanya untuk pertama kalinya dan kedua dari kuncen makam tersebut sebanyak 2 (dua) kali untuk menjadi pembaca wawacan syeikh. Bagi Misra mendapatkan ijazah itu penting sebagai persetujuan guru pembimbing spiritual. Sebab belajar tanpa bimbingan guru akan tersesat. Sebagaimana ia kemukakan “belajar ilmu tanpa guru/mursyid atau syeikh, maka gurunya adalah syaithon”.

Berdasarkan pengakuannya, Misra menjadi pembaca wawacan syeikh atas saran orang tuanya sendiri yang bernama Sulaiman yang juga seorang pembaca wawacan syeikh. Menurutnya tradisi ini layak untuk dilanjutkan selain karena merupakan bagian dari praktek ibadah, tapi juga bagian dari menerangi diri sendiri agar mendapat petunjuk dan cahaya hidup. Hal ini berdasarkan salah satu kisah dalam manaqib yang dalam salah satu riwayat menyatakan bahwa “barang siapa yang berziarah (membaca atau mendengarkan) kepada riwayat Syeikh Abd Qadir al-Jilani, maka akan dipertemukan atau dikabulkan hajatnya/ keinginannya”.

Misra dan pada umumnya masyarakat yang selalu menyelenggarakan acara wawacan syeikh menyakini bahwa praktek tersebut dilakukan untuk mencari keselamatan dan kesuksesan dalam hidup. Agar acara yang akan berlangsung oleh ‘shohibul hajat’ tidak mendapat gangguan dan rintangan apa pun. Karenanya menurut Misra, membaca wawacan syeikh memiliki beberapa manfaat yakni; menolak bala (marabahaya) baik lahir maupun bathin, menenangkan bathin, pembuka rizki (ilmu dan kakayaan), ziarah mohon keberkahan, mancing atau ngabade (memprediksi) perjalanan kita pada masa depan.

Dengan keyakinan seperti, Misra sudah memiliki jadwal tetap untuk mengisi acara wawacan syeikh pada setiap minggunya. Dengan menggunakan manaqib yang berbahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon, setiap minggu minimal ia mengisi di dua tempat yakni: setiap hari Rabu jam 19.00 s.d 21.00 di rumah Bpk H. Sakroni dan setiap hari Kamis jam 16.00 di rumah Hj. Mardiah Pasar Baros. Selain kegiatan yang sudah menjadi rutinitasnya setiap minggu ia pun sering dipanggil ketika ada kegiatan Khitanan, selamatan rumah atau sekolahan (ngaruwat imah), selamatan mobil atau kendaraan (ngaruwat mobil), selamatan toko (ruwat toko), walimatussafar/walimatulhaj, walimatunnikah (biasanya dilakukan satu hari sebelum acara pernikahan), atau juga karena ada seseorang yang bernadzar yang kemudian terkabul. Mengenai lamanya waktu pembacaan, menurutnya, disesuaikan dengan permintaan tuan rumah itu sendiri. Tetapi khusus untuk acara walimatunnikah, biasanya mulai setelah sholat ‘isya sampai jam 03.00 pagi.

Pada setiap selesai acara, Misra mengaku bahwa tidak ada tarif khusus yang ditentukan olehnya. Menurutnya, meskipun ia selalu mendapatkan sejumlah uang pada setiap kali selesai membaca manaqib, namun jumlahnya tidak pernah pasti, sesuai dengan kemurahan hati dan kemampuan orang yang memintanya. Karena itu, menurutnya, berapapun diterima. Terkadang ia menerima seratus ribu, lima puluh ribu, atau bahkan ia hanya dibawakan atau diberi cukup makanan dan buah-buahan saja. Menurutnya hal itu bukan menjadi masalah karena, tujuannya adalah untuk syi’ar Islam, membantu masyarakat yang sedang dirundung masalah atau duka, dan mengagungkan perjalanan dari seorang syeikh.

Untuk menjadi pembaca wawacan syeikh, menurut penuturannya, tidak ada persyaratan khusus selain bersih diri (lahir dan bathin) dan haqqul yaqin (tidak boleh ragu). Yang terpenting, menurutnya, memiliki niat yang tulus lillahita’ala. Selain itu dii’tikadkan bahwa dirinya untuk menghormati, mengagungkan kalamullah, kalam rasul dan waliyullah, serta lebih-lebih untuk mendapatkan barokah (ngalap berkat, Sunda) dan karomah dari seorang Wali Qutub: Syeikh Abdul Qadir. Pada saat membaca Wawacan Syeikh, seorang pembaca disarankan untuk menghadap kiblat.

Berdasarkan hal itu, Misra bin Sulaiman mengaku bahwa ia tidak pernah menjadi pengikut atau pernah mempelajari aliran Tarekat Qadiriyah. Meskipun ia mengetahui tentang adanya praktek manaqib dalam tarekat. Menurutnya, untuk menjadi penganut tarekat harus ada kesiapan khusus baiuk modal lahir (dana dan waktu) tapi juga bathin (niat dan percaya), dan dirinya mengaku bahwa ia belum siap untuk mengamalkannya, selain itu harus siap bekal, baik secara materi maupun non materi.

Pada setiap penyelenggaraan acara wawacan syeikh, menurut Misra, hendaknya tuan rumah atau ‘pengguna’ menyediakan beberapa persyaratan, yakni: air putih (cai herang) atau wajar syeikh, air susu, air kopi manis dan pahit, air teh manis dan pahit, rujak haseum (air asem), telor matang, garam, cabe merah/lombok, garam, beras, nasi liwet (yang berkerak) atau liwet syeikh dan ayam panggang (bakakak ayam). Kebutuhan tersebut sebenarnya untuk kepentingan acara itu berlangsung, tidak untuk sesajen, yang pada gilirannya pula sesaji tersebut dimanfaatkan (dimakan) oleh jama’ah yang menghadiri atau tuan rumah itu sendiri.

Sedangkan irama lagu ‘pupuh’ yang beliau nyanyikan dalam membaca wawacan syeikh, diantaranya asmarandana, dangdanggula, kinanti dll.

2. Sarmin atau Budin (65 tahun)

Sarmin atau Budin yang oleh masyarakat di lingkungan Baros dikenal sudah lama sebagai pembaca manaqib Syeikh Abdul Qodir. Karena itu, pengalaman tentang praktek pembacaan ini sangat luas. Ia pernah melakukan pembacaan manaqib di berbagai daerah di Banten, bahkan sampai ke Lampung dan Jakarta. Menurutnya, ia telah melakoni kegiatan selama 30 (tiga puluh) tahun, yakni semenjak tahun 1977.

Sarmin, yang bertempat tinggal di Sukamanah, Baros, mengaku bahwa dirinya tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Meskipun demikian, ia pernah menjadi santri di Pesantren Cangkudu Baros dibawah bimbingan KH. Abuya Abad dan Pesantren Cadasari Pandeglang. Kehidupan sehari-harinya ia menggantung pada tanah pertanian yang ia miliki. Ia beserta keluarganya menggarap sejumlah tanah pertanian miliknya. Selain menjadi petani, ia pernah menjadi pedagang buah-buahan, tetapi menurut pengakuannya, usahanya itu gagal karena seringnya mendapatkan kerugian. Meskipun, ia hanya petani, namun berkat tanah yang digarapnya cukup luas, ia mampu hidup berkecukupan. Ia memiliki dua orang isteri dengan 8 orang anak dan sejumlah cucu.

Berdasarkan pengakuannya, Sarmin memiliki kemampuan membaca wawacan syeikh diperoleh dari KH. Samsuddin Cadasari Pandeglang, dan KH. Samsuddin memperoleh ijazah dari KH. Jamsari Warunggunung Rangkasbitung. Menjadi pembaca wawacan syeikh, menurutnya, bertujuan untuk mengagungkan Kalamullah dan Waliyullah yaitu Syeikh Abdul Qadir al-Jilani. Lebih jauh ia menjelaskan bahwa mencari ilmu harus melalui empat tahap, yakni; belajar membaca al-Qur’an, belajar membaca Hadits, belajar membaca syeikh, belajar membaca marhaba. Belajar membaca syeikh maksudnya adalah belajar membaca wawacan syeikh (manaqib), sementara marhaba adalah membaca shalawat Syeikh Abdul Qadir al-Jilani.

Seperti halnya Misra, Sarmin juga memiliki jadwal rutin pembacaan manaqib di rumah warga-warga di sekitar Baros. Berdasar pengakuannya, bahwa ia menjadi pembaca wawacan syeikh, sebagai berikut: setiap hari Senin jam 19.00 di rumah Bpk. Sihabuddin Kp. Jeungjing, setiap hari Selasa jam 21.00 s.d jam 01.00 di rumah KH Sonhaji di Cangkudu Baros, setiap hari Kamis jam 21.00 di rumah H Ending Pasar Baros dan beberapa rumah lainnya. Selain itu ia juga sering dipanggil untuk mengisi kegiatan serupa di beberapa tempat. Ia dipanggil untuk kegiatan khitanan, selamatan rumah atau gedung dan sebagainya.

Sama halnya seperti yang dituturkan oleh Misra bahwa tidak ada persyaratan khusus untuk menjadi pembaca wawacan syeikh, selain hanya ia diharuskan untuk menanamkan niat yang tulus pada dirinya bahwa dengan membaca ia akan lebih dekat dengan Allah, rasul dan para Wali khususnya Wali Qutub (Syeikh Abdul Qadir), dan tidak ada keharusan menjadi pengikut Tarekat Qadiriyah.

Meskipun tidak menjadi pengikut Tarekat Qodiriyah, menurutnya, bathinnya sudah menjadi (murid bathin) pengikut Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, karena dalam benaknya menjadi murid atau pengikut tarekat itu tidak musti harus belajar secara langsung (vis to vis) tapi lewat hubungan bathin (kontak bathin) antara guru-murid. Alasan selanjutnya, walaupun tidak terikat menjadi pengikut tarekat, baginya rasa untuk berusaha (hasrat dunia) sudah tidak ada, yang ada melakukan ritual untuk kepentingan dan kebutuhan ukhrawi dengan tetap berusaha hanya untuk mengisi kebutuhan keluarga sehari-hari saja, tidak untuk yang lain.

Sarmin memberikan syarat lebih banyak kepada para tuan rumah yang berniat menyelenggarakan acara wawacan syeikh. Menurutnya ada beberapa jenis makanan, minuman dan wangi-wangian yang mesti disiapkan oleh seseorang yang ingin menyelengggarakan acara manaqiban, khususnya untuk tahap pertama, yakni: buhur (pewangi dari Arab) atau wangi-wangian atau kemenyan, buah-buahan, daun seureuh (sirih), daun kelor, dinar atau uang Rupiah, bumbu 12 (samara dua belas), beras satu mud, air putih satu baskom (bak), kembang tujuh warna (tujuh rupa), air putih/herang atau wajar syeikh (satu gelas), air susu (satu gelas), air kopi manis dan pahit (satu gelas), air teh, telor matang, garam, cabe merah/lombok, garam, nasi liwet (yang berkerak) atau liwet Syeikh dan ayam panggang (bakakak hayam).

Menurut Sarmin, membaca wawacan syeikh memiliki beberapa manfaat yang akan dirasakan oleh tuan rumah atau penggunanya dan masyarakat sekelilingnya. Menurutnya, seseorang yang sering menyelenggarakan acara macan syeikh akan terhindar dari marabahaya (malapetaka) baik secara lahir maupun batin, menenangkan hati dan pikiran, mempermudah turunnya rizki dan ilmu serta membawa barokah dalam harta kekayaan.

3. Sihabuddin (43 tahun)

Sihabuddin bukan seorang yang mampu membaca manaqib, tetapi ia merupakan salah seorang dari warga yang sering menyelenggarakan acara manakiban di rumah setiap minggu sekali dan terkadang pula ketika akan menyelenggarakan acara slametan, seperti acara khitanan dan tujuh bulanan isterinya yang diselenggarakan beberapa bulan yang lalu. Sihabuddin beserta isterinya tinggal disebuah rumah sederhana yang terbuat dari bilik bambu di kampung Jeungjing Desa Padasuka Kecamatan Baros. Ia seorang petani yang menggarap sebidang tanah yang tidak begitu luas untuk menghidupi tujuh orang anaknya. Selain itu, ia juga menjadi guru ngaji bagi anak-anak di sekitar rumahnya. Pada hari tertentu ia juga memberikan pengajian kepada bapak-bapak dan ibu-ibu, warga desa Padasuka.

Pengalaman pendidikan yang pernah ia lalui seluruhnya di pesantren. Ia mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Pada tahun 1986, ia masuk Pesantren Riyadlul ‘Awamil Cangkudu Blok Kebon Desa Sukamanah Baros, kemudian tahun 1987 masuk Pesantren di Kadukawang Pandeglang dibawah pimpinan KH. Abuya Sanja tetapi hanya 40 hari dan terakhir masuk pesantren Cangkudu pada tahun 1988.

Menurut pengakuannya, ia melaksanakan acara pembacaan wawacan syeikh secara rutin sudah berlangsung tiga tahun dengan jadual setiap Rabu malam atau malam Kamis. Ia melakukan hal itu dengan motivasi mencari ketenangan bathin dan untuk menasehati diri sendiri. Menurutnya, setiap kali dihadapkan suatu masalah, ia akan menyelenggarakan acara manaqiban. Dengan melaksanakan acara tersebut, ia memohon kepada Allah dengan karomah Syeikh Abdul Qodir al-Jilani dapat memberikan berkahnya kepadanya (kecipratan berkah) . Karena itu ia pula menyelenggarakan acara macan syeikh pada acara salamatan rumah, tujuh bulanan atau hajatan seperti perkawinan, khitanan (sunatan) dan yang lainnya, termasuk kalau ia punya nadzar

Menurutnya, ia mengadakan pembacaan wawacan syeikh dengan tujuan bertawassul kepada Allah melalui karomah syeikh, mengabadikan tradisi, agar tidak salah jalan dan salah pemakaian, agar hati tidak terjerumus kepada kebathilan, ingin mendapatkan keberkahan dari para wali (wali Qutub), dan “mancing” atau minta petunjuk dari perjalanan Syeikh Abdul Qadir”.

Setiap kali menyelenggarakan acara wawacan syeikh, Sihabuddin mengaku bahwa ia menyiapkan sejumlah makanan dan minuman sebagai prasyarat sebelum acara tersebut dilangsungkan. Menurutnya makna dari makanan dan minuman yang dihidangkan itu untuk disodaqohkan kepada warga (jama’ah) yang hadir. Dengan sodakoh itu, ia dan jama’ah yang hadir berharap kecipratan barokah dan diberi kajembaran hati atau ketenangan jiwa. Makan dan minuman yang disajikan pada acara manaqiban seperti yang disampaikan oleh para pembaca manaqib di atas sepeerti : buhur (pewangi dari Arab) atau wangi-wangian, daun seureuh (sirih), daun kelor, uang, beras, air putih dan sebagainya.

Sihabudin mengaku bahwa dirinya adalah pengikut Tarekat Qadiriyah yang mendapat ijazah dari mursyidnya, K.H. Udi yang bertempat tinggal di Cadasari Pandeglang. Karena itu sering mengikuti acara manaqiban yang diselenggarakan oleh para pengikut tarekat lainnya.

4. KH. Sonhaji bin KH. Abad (31 tahun)

Ia adalah pemimpin pesantren Riyad al-Awamil Cangkudu Desa Sukaman Baros. Ia meneruskan kepemimpinan ayahnya yang mendirikan pesantren itu. Pesantren tersebut merupakan pesantren tradisional (salaf) yang hanya mengajarkan kitab kuning kepada para santrinya. Selain memimpin pesantren, K.H. Sonhaji juga memberikan beberapa pengajian kepada para warga yang ada di sekitarnya.

Menurut pengakuan, masa pendidikan ia habiskan di pesantren yang dipimpin oleh ayahnya tersebut. Pendidikan formal yang ia pernah alami hanya SD sampai kelas 5. selain itu ia pernah menjadi santri di Pesantren Kadukaweng milik K.H. Abuya Sanja selama 40 hari dan beberapa pesantren di Jawa Barat.

Meskipun banyak waktunya dihabiskan di pesantren, K.H. Sonhaji nampak terpelajar. Ketika ditanya tentang seputar manaqib. Ia mengetahui isi manaqib yang sering dibaca oleh sebagian warga Baros. Bahkan mengetahui tentang asal dan keluarga Syeikh Abdul Qodir al-Jilani. Namun demikian, ia tidak pernah menjadi pengikut Tarekat Qadiriyah, karena bagi dirinya menjadi pengikut salah satu tarekat harus didukung tidak saja oleh kesiapan bathin tapi juga lahir, layaknya naik haji.

Menurutnya bahwa Syeikh Abdul Qadir bin Abu Salih disebut sebagai Quthub Auliya’. Lahir di desa Naif kota Gilan pada tahun 470/1077 di kota Baghdad. Ibunya bernama Fathimah binti Abdullah al-shama’i al-Husaeini. Selanjutnya, ada beberapa keutamaan yang sudah terlihat sejak dalam kandungan. Ketika bayi, Syeikh Abdul Qadir tidak mau menyusu di siang hari kepada ibunya selama bulan puasa Ramadhan, dan ini menunjukkan awal waktu tibanya bulan Ramadhan. Menurutnya bahwa jumlah jenggotnya 6666 helai rambut sesuai dengan jumlah ayat al-Qur’an.

Ia mengaku bahwa secara rutin mengadakan acara pembacaan wawacan syeikh yang sudah berlangsung dua tahun. Acara manaqiban dilaksanakan di rumahnya pada setiap Selasa malam atau malam Rabu. Menurutnya acara tersebut ia laksanakan semata-mata untuk mencari ketenangan bathin, memperoleh hasil maksud, dan mendapatkan berkah dari karomah Syeikh.

Tradisi Wawacan Syeikh di Gunung Kaler, Kecamatan Kresek Kabupaten Tangerang.

Pada acara-acara semacam khitanan/sunatan, kawinan, pergi haji, biasanya sebelum membaca Yasin dan surat-surat lain, merekla terlebih dahulu membaca manaqib Syeikh Abdul Qadir al-Jilani. Mereka berkeyakinan dengan dibacakan wawacan tersebut acaranya menjadi lancar dan untuk mendapat keberkahan dari karomah Syeikh Abdul Qadir. Beberapa orang yang kami wawancarai, baik sebagai pembaca, yang mempunyai hajat, atau pun tokoh agama mereka hampir berpendapat demikian. Berikut beberapa orang yang mewakili ketiga responden yang kami ambil secara acak dari lima kampung di tiga desa, yaitu Gunung Kaler, Ranca Gede, dan Cipaeh.

1. Maski bin Kunen

Maski bin Kunen ( 52 tahun) bertempat tinggal di kampung Cipaeh Tengah Desa Gunung Kaler, selama ini masyarakat menganggapnya “tukang maca syeikh . Bapak dari tiga orang anak dengan dua cucu ini sehari-hari bekerja sebagai petani, sudah berpisah dengan isterinya sepuluh tahun yang lalu dan sampai sekarang masih melajang. Ia juga sebagai pengurus Masjid yang bersebelahan dengan rumahnya. Selain sering dipanggil untuk maca syiekh, terkadang setiap selesai sholat Jum’at, ia juga diminta oleh beberapa warga di sekitarnya untuk menjadi juru doa (muzawir) bagi orang yang beziarah ke kuburan yang terletak di belakang rumahnya.

Menurutnya, ia belajar membaca wawacan syeikh sejak masih usia remaja sambil belajar ngaji Qur’an bersama teman-temanya. Biasanya mereka beramai-ramai membaca sambil saling memperbaiki. Setelah dianggap mampu, mereka memperdengarkannya ke guru ngaji atau orang yang dianggap bisa membacanya.

Menurutnya tidak ada syarat pertama kali orang untuk belajar membaca manaqib. Ketertarikan pada wawacan syeikh pada mulanya karena kebiasaan para pemuda di kampung itu selain belajar membaca al-Qur’an juga biasanya mereka belajar juga “maca syeikh”. Bagi yang mempunyai bakat dan ketertarikan biasanya cepat bisa kemudian kalau ada acara-acara dengan sukarela menyumbangkan bacaan itu. Sebenarnya, menurutnya, banyak yang bisa kalau hanya sekedar saja. Ia sering diminta untuk membaca manaqib pada acara-acara hajatan atau selametan, misalnya acara khitanan, nujuh bulan, ngruwat rumah, selamatan haji, atau ada tujuan tertentu, misalnya pada pemilihan kepala desa. Menurutnya, kalau dulu, setiap orang yang mengharapkan keselamatan pasti menagadakan acara selamatan, yang di dalamnya pasti dibacakan wawacan syeikh, misalnya mau merantau keluar cari pekerjaan, beli kendaraan baru, tolak bala’ (paprahan).

Sebelum membaca, menurutnya tidak ada persiapan khusus, tidak perlu berwudhu tetapi kalau berwudhu dianggap lebih baik. Dalam membaca juga tidak ditentukan lamanya, tergantung permintaan yang punya hajat. Karena biasanya, yang membaca juga tidak sendirian, terdiri dari beberapa orang, tiga, lima, atau tujuh orang, tergantung permintaan yang mengundang.

Membaca wawacan syeikh tidak dipastikan bayarnya, hanya diberi sekedarnya yang biasa disebut uang salawat. Biasanya yang punya hajat untuk pelaksanaan wawacan syeikh, mereka menyiapkan semacam sesajen yang terdiri atas, kopi pahit, kopi manis, kembang tujuh macam, kue tujuh macam atau perwanten, rokok beberapa batang, kemenyan, kemudian bak kecil berisi air yang di dalamnya diletakkan beberapa uang logam. Ini semua sebagai syarat, agar tidak terjadi gangguan apa-apa dalam pelaksanaan pembacaan manaqib.

Pembacaan manaqib syeikh biasanya berkaitan dengan pengamalan Tarekat Qadiriyah. Namun demikian,. Maski sendiri tidak pernah mempelajari dan mengikuti tarekat ini. Dia hanya membaca hanya ingin mendapatkan berkah dan sebagai salah satu syarat pada acara-acara slametan atau hajatan. Maski mengaku bahwa ia hanya tahu riwayat Syeikh Abdul Qodir dari manaqib yang dibaca dan dari keterangan para kiayi yang pernah berceramah menjelaskan kehebatan dan keagungan Syeikh Abdul Qadir.

2. Supyan

Supyan (57 tahun) tinggal di kampung Pasir Semut Desa Ranca Gede. Pekerjaannya sebagai seorang petani, dengan lima orang anak yang semuanya sudah berkeluarga. Di kampungnya ia merupakan pembaca wawacan syiekh yang sudah terkenal dan paling senior, bahkan sering dipanggil ke beberapa desa, bahkan pernah ke Cilegon, sampai ke Rangkasbitung. Ia menguasai hampir semua lagu yang ada di manaqib syeikh, dengan dukungan suaranya yang lumayan enak didengar. Karena itu, apabila ada acara-acara hajatan atau slametan yang di dalamnya dibacakan manaqib syeikh, ia selalu diminta untuk menjadi pembacanya. Menurut pengakuan beberapa warga di Ranca Gede; “rasanya kurang afdol kalau ia tidak membacanya”.

Ia mulai belajar maca syeikh sejak masih remaja berbarengan dengan belajar membaca al-Qur’an bersama teman-temanya. Karena membaca maca syeikh sudah menjadi kebiasaan di kampungnya, maka biasanya yang berbakat dan berminat pada awalnya belajar sendiri, dengan melihat dan mendengar bacaan syeikh di acara-acara slamatan atau hajatan. Sedangkan masalah gaya lagunya, ia belajar pada guru SD-nya, yaitu lagu Sunda. Karena lagu-lagu wawacan syeikh, misalnya asmarandana, dangdanggula, kinanti, itu adalah lagu-lagu Sunda, kemudian dijadikan lagu dalam wawacan syeikh

Kemudian setelah lancar dan menguasai beberapa lagu dasar, baru menghadap seorang guru, untuk diminta menilainya apakah sudah layak belum tampil di acara-acara tertentu. Kalau sudah dianggap layak, berarti sekaligus merupakan pemberian kewenangan (ijazah) dari seorang guru kepada muridnya. Menurutnya, bagi orang yang pertama kali belajar, membacanya tidak boleh dari awal atau pembukaan, yaitu dimulai dari pembacaan hadharat disambung dengan pujian kepada Allah, tetapi langsung ke hikayat pertama (hikayat ing kang karihin). Menurutnya kalau membacanya dari awal maka si pembaca harus menyiapkan semacam sesajen seperti layaknya pada acara-acara resmi.

Pak Supyan ini nampaknya lebih banyak mengetahui seluk beluk dari kebanyakan pembaca wawacan syeikh di beberapa desa sekitar kecamatan Gunung Kaler. Ia juga mengatakan bahwa dalam membaca manaqib syiekh tidak diperlukan persiapan khusus, berwudhu juga tidak menjadi syarat. Ketika seorang yang mengadakan wawacan syekh, maka menurut Supyan, sebelumnya harus menyediakan semacam sesajen, seperti kopi pahit dan manis, kueh tujuh rupa (perwanten), bunga tujuh rupa dan air dalam baskom, rokok dua batang dan kemenyan. Ia menyatakan bahwa menyajian “sesajen” itu secara lengkap meruapak suatu keharusan untuk kelancaran acara. Ketidaklengkapan sesajen bisa menganggu acara yang akan dilaksanakan. Menurutnya, ketika dia diundang di desa kampung tetangga, sesajennya ada yang kurang, begitu dibacakan wawacan syiekh, speaker (pengeras suara) jatuh berulang-ulang. Ia meyakini hal itu terjadi karena kurang lengkap sesajen yang disediakan. Bahkan kalau kurang lengkap sesajen dapat membahayakan bagi yang mengadakan acara wawacan syiekh.

Dalam acara-acara semacam sunatan, kawinan atau apa saja yang berkaitan meminta keselamatan, dan keberkahan, biasanya yang punya hajat tidak menentukan sampai selesai atau hanya beberapa lembar saja dari buku manaqib mempunyai halaman hampir mencapai 200. Kecuali dalam acara slametan (ruwatan) rumah, maka harus sampai kayat kang kaping sanga (hikayat sembilan). Menariknya lagi, pada ruwatan rumah, ada acara menancapkan paku (mantek paku) di pintu rumah, pada bacaan “pantek paku kang tumanjeb ing saroja”. Maka paku ditancapkan di bagian kusen pintu. Tujuannya adalah untuk keselamatan rumah tersebut.

Pada pelaksanaan wawacan syiekh, ada acara jarah (ziarah), yakni orang-orang yang hadir berkumpul mengelilingi pembaca manaqib syiekh, kemudian orang yang berziarah itu meletakan uang di halaman buku manaqib yang sedang dibaca. Uang itu letaknya di mana saja, kemudian apabila si uang tadi kebetulan diletak pada bagian cerita Syeikh Abdul Qadir sedang dicegat perampok, maka menurut Supyan, orang yang ziarah tadi diprediksi bahwa dalam menempuh hidupnya apa yang ia usahakan selalau direbut atau diinginkan orang lain sehingga sering gagal. Kalau misalnya kebetulan uangnya di halaman manaqib yang bercerita tentang sedang berangkat bersama kafilah dagang, maka uang itu dijadikan semacam jimat untuk berdagang, supaya mendapatkan keuntungan dan kesuksesan.

Karena tidak semua pembaca manaqib syiekh mampu memahami bahasanya, maka acara ziarah ini hanya bagi yang mengerti saja. Bahasa yang dipakai dalam manaqib syeikh itu, menurut Supyan, adalah bahasa Jawa Pekalongan. Jadi kemungkinan banyak orang yang membaca lancar dan bisa beberapa lagunya namun belum tentu bisa memahami bahasanya. Pak Supyan belajar menafsirkan bacaan itu dengan belajar dari Kyai Mustaya dari Binuang Serang, seorang ulama yang terkenal bagi sebagian masyarakat Binuang dan sekitarnya.

3. Rohani

Masyarakat yang menyelenggarakan acara wawacan syiekh berkeyakinan bahwa dengan dibacakan manaqib akan mendapatkan keselamatan, keberkahan dan keinginannya tercapai. Ritual maca syeikh yang mereka lakukan pada berbagai acara bertujuan meminta keselamatan dan tolak bala’. Acara-acara slametan yang sering dibacakan manaqib adalah khitanan, kawinan, naik haji, membangun dan ruwatan rumah, membuka warung atau toko baru, beli kendaraan, atau bertujuan agar terlaksana cita-cita dan tujuan, misalnya mau jadi kepala desa.

Pada beberapa bulan yang lalu beberapa desa di kecamatan Gunung Kaler menyelenggarakan pemilihan kepala Desa. Salah satunya desa Cipaeh, yang mempunyai calon empat orang. Dari pengamatan kami semuanya menyelenggarakan maca syiekh pada setiap malam Jum’at hingga hari pelaksanaan pemilihan. Salah seorang yang kami temui adalah Rohani (39 th) yang berpendidikann SMU. Ia merupakan kepala kuli (mandor) di Jakarta, yang merupakan calon kepala desa Cipaeh. Ketika ditanya tujuannya, ia menuturkan bahwa membaca wawacan syekh adalah tradisi yang sudah melekat di kampungnya, selain itu ia mengharapkan keselamatan dan tercapai tujuannya, yaitu menjadi kepala desa.

Dalam pelaksanaannya, wawacan syekh dibacakan oleh siapa saja yang datang dan mau menyumbangkan bacaannya, dan mereka tidak dibayar. Rohani dan keluarganya hanya menyediakan minuman dan makanan kecil secukupnya. Ketika ditanya tentang Syiekh Abdul Qadir dan tarekat Qodiriyah, pada umumnya mereka tidak mengetahui. Yang mereka ketahui bahwa Syekh Abdul Qadir adalah seorang wali yang mempunyai kehebatan dan karomah yang sering didengar dari para kiayi dan ustadz di kampungnya.

4. H. Sanwani

Salah seorang warga masyarakata lain yang kami wawancarai adalah H. Sanwani (50 th), yang memiliki pekerjaan sehari-hari sebagai petani. Pada masa jeda di sawah, ia menjadi kepala kuli (mandor) di Jakarta, dan mempunyai dua mobil angkutan umum. Ia mempunyai anak empat dengan isterinya yang sekarang ini. Anak yang pertama sekarang tengah kuliah di Fakultas Kedokteran di salah satu universitas swasta di Lampung memasuki tahun ketiga, anak yang kedua dan ketiga duduk di bangku SMA, sementara yang kecil baru berumur lima tahun. Ia merupakan salah satu masyarakat yang selalu mengadakan bacaan wacan syekh pada acara-acara yang dianggap perlu mengharapkan keselamatan, terhindar dari malapetaka dan ingin mencapai maksud tertentu.

Ia bercerita, ketika anaknya hendak masuk kuliah ke Fakultas Kedokteran pada tahun 2005 agar berhasil dalam belajarnya, ia menyelenggarakan acara wawacan syiekh pada setiap malam Jum’at sampai sekarang yang sudah dua tahun lebih. Bahkan, menurut pengakuannya bahwa ketika ia pergi haji beberapa tahun yang lalu, ia memerintahkan keluarganya untuk mengadakan pembacaan wawacan syiekh selama tujuh puluh kali tiap malam Jum’at. Waktu ruwatan/selamatan rumahnya, ia menyelenggarakan acara wawacan syeikh selama setahun pada setiap malam Jumat. Menurutnya, setiap apa saja yang mengharapkan keselamatan dan keberkahan ia pasti menyelenggarakan acara maca syekh. Misalnya khitanan, bahkan ketika dia beli kendaraan roda dua atau motor, ia menyelenggarakan maca syeikh.

Menurutnya, maca syiekh sudah menjadi tradisi dan kebiasaan baginya:”kita mah pokone ngjaluk slamet dunia akherat, iku doang, dudu kanggo apa-apa”. Namun ketika ditanya siapa itu Syeikh Abdul Qadir Jailani, ia menjawab tidak tahu. Ia menjalankan semua itu hanya nasehat yang dikemukakan para kyai. Ketika mempersiapkan acara wawacan syeikh, yaitu makanan tujuh warna (juwadah warna pitu), kopi pahit dan manis, air dalam baskom, dan kembang tujuh macam.

5. K.H. Hamzah

KH Hamzah ( 67 th) merupakan tokoh agama di Gunung kaler. Ia merupakan lulusan beberapa pesantren tradisional di sekitar Kresek. Ia merupakan warga asli Gunung Kaler. Kini ia memiliki isteri dua orang dengan 13 anak. Selain sebagai petani, sehari-hari ia sering berceramah, dan mengisi berbagai pengajian diantaranya di Masjid Kecamatan Kresek sebagai kyai sepuh yang memberikan pengajaran kepada para ustad dan kyai muda. Ketika ditanya bagaimana pandangannya tentang praktek wawacan syeikh. Ia menjawab bahwa itu adalah sebagai sarana atau wasilah untuk berhubungan dengan Allah. Karena menurutnya, kita berhubungan atau mendekatakan diri kepadanya di antaranya kita disuruh mencari wasilah. Wasilah itu di antaranya dengan perantaraan para wali. Karena para wali mempunyai kedudukan yang tinggi dan dekat dengan Allah. Sementara orang awam tidak seperti wali, dalam ibadahnya, sehingga untuk mendekatkan kepada Allah harus dibantu melalui perantaraan orang yang dekat dengan-Nya, yaitu para wali. Ia mengibaratkan kehidupan di dunia ini, misalnya rakyat mau bertemu dengan pejabat tinggi, seperti presiden, maka si orang tersebut tidak bisa langsung menghadap prseiden. Ia harus menjalani prosedur protokoler. Mulai ia membawa surat pengantar dari desa, kecamatan, kabupaten, dan seterusnya menyampaikan kepada orang yang dekat dengan presiden barulah ia diperbolehkan menghadap prseiden. Demikian pula manusia, seperti kita orang yang banyak dosa, maka untuk menghadap-Nya perlu perantara.

Salah satu wali yang dianggap mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia itu adalah Syekh Abdul Qadir al-Jaelani, yang ajaran tarekatnya mempunyai pengaruh besar di kalangan umat Islam di Banten. Menurut KH Hamzah, ada ucapan Syekh Abdul Qadir bahwa barang siapa yang menyebut atau memangil namanya ketika sedang kesusahan maka dihilangkan kesusahan tersebut: “man nadani fi karobatin kusyifat ‘anhu” atau perkatan yang lainnya: “wa man dhakarani fi hajatin qudhiyat lahu”

Perkatan tersebut bermakna “barang siapa yang menyebut namaku ketika ada suatu keperluan maka dipenuhi kebutuhan orang tersebut”. Menurutnya menyebut atau memangil namanya bisa dilakukan dengan cara membaca manaqibnya.

Ketika ditanya bahwa dalam pelaksanaan ada beberapa sesajen yang mesti disediakan, semacam kembang tujuh, air dalam baskom, beberapa macam makanan kecil dan minuman, bahkan kemenyan, ia menjawab bahwa dalam pelaksanaannya memang bercampur dengan adat istiadat setempat.

Masalah air dalam mangkok, menurut pak kyai ini, ada rujukan pada riwayat Syekh Abdul Qadir. Menurutnya ada salah satu cerita, bahwa pada suatu masa di zaman Syekh Abdul Qadir, terjadi wabah penyakit menular (tha’un) sehingga banyak orang yang terjangkit. Orang-orang kemudian minta pertolongan kepada Syeikh. Akhirnya dengan diberikan minuman dari tempat wudhunya, orang-orang yang kena penyakit tersebut sembuh. Dengan mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut, maka setiap membaca wawacan syeikh diletakan air dalam mangkok, tujuannya adalah untuk mendapatkan berkah dari Syekh Abdul Qadir. Maka air itu diusapkan pada muka, diminum atau disiramkan pada sesuatu agar mendapatkan keberkahan dan keselamatan.

————– bersambung ————–

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

7 Balasan ke Mengenal Tradisi Maca Syekh (Bagian I)

  1. Adin berkata:

    Saya masih kurang mengerti..
    tapi di kampung saya juga sering bgt mengadakan acara itu..
    sebener nya seh Abdul Qodir Jaelani itu siapa ya???
    mohon jawaban nya..
    trus apa kah ada ritual pake sesajen dalam agama islam??

  2. Iim Mulyana berkata:

    Sesajen hanya merupakan peninggalan budaya bangsa Indonesia dahulu, Sosok Syehkh Abdul Qodir Jaelani akan kita bahas pada Bagian Akhir….

  3. muhammad hamdan berkata:

    saya pernah mengikuti acara wawacan dibekasi … alhamdulillah saya banyak dapat pelajaran dan sejarah islam dari acara tersebut

  4. Teguh berkata:

    Kbetulan sumber yg mmbaca wawacan syeikh itu dikampung saya, saya mo tanya klo sejarahnya mmbaca syeikh itu sepeti apa?Mohon jwbnya.Trmksh.

  5. Guntur Maulana berkata:

    Content nya banyak yang menarik, menggali budaya lokal dengan baik..semoga terus dapat dikembangkan.

    Salam

  6. asep saepullah berkata:

    semoga tradisi klasik dari para ulama banten senantiasa menjadi ghiroh bagi umat untuk memperkuat akidah dalam memnghadapi zaman moderenisasi

  7. asep saepullah berkata:

    Abdul Qadir Al-Jailani

    Biografi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani termuat dalam kitab Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali. Tetapi, buku ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

    Beliau adalah seorang ulama besar sehingga suatu kewajaran jika sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjungnya dan mencintainya. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau berada di atas Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka hal ini merupakan suatu kekeliruan. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul yang derajatnya tidak akan pernah bisa dilampaui di sisi Allah oleh manusia siapapun.

    Ada juga sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah (perantara) dalam do’a mereka. Berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaraannya. Ini juga merupakan kesesatan.

    Menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara tidak ada syari’atnya dan ini sangat diharamkan. Apalagi kalau ada yang berdo’a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do’a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Allah melarang makhluknya berdo’a kepada selainNya. Allah berfirman, yang artinya:

    “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al Jin:18)

    Kelahirannya
    Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang ‘alim di Baghdad yang lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan atau disebut juga Kailan. Sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliy.

    Pendidikannya
    Pada usia yang masih muda beliau telah merantau ke Baghdad dan meninggalkan tanah kelahirannya. Di sana beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthath, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Mukharrimi sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.

    Pemahamannya
    Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau. Beliau adalah seorang alim yang beraqidah ahlus sunnah mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak pula orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, “thariqah” yang berbeda dengan jalan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan lainnya.

    Syaikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, “Dia (Allah) di arah atas, berada di atas ‘ArsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu. “Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits, lalu berkata, “Sepantasnya menetapkan sifat istiwa’ (Allah berada di atas ‘ArsyNya) tanpa takwil (menyimpangkan kepada makna lain). Dan hal itu merupakan istiwa’ dzat Allah di atas ‘Arsy.

    Dakwahnya
    Suatu ketika Abu Sa’ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil di sebuah daerah yang bernama Babul Azaj dan pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada Syaikh Abdul Qadir. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memeberikan nasehat kepada orang-orang yang ada di sana, sampai beliau meninggal dunia di daerah tersebut.

    Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasihat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau. Sehingga sekolah ini tidak kuat menampungnya. Maka diadakan perluasan.

    Imam Adz Dzahabi dalam menyebutkan biografi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, menukilkan perkataan Syaikh sebagai berikut, “Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”

    Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Ibnu Qudamah penyusun kitab fiqh terkenal Al Mughni.

    Wafatnya
    Beliau Wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj.

    Pendapat ulama
    Ketika ditanya tentang Syaikh Abdul Qadir Al jailani, Ibnu Qudamah menjawab, “Kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian kepada kami. Kadang beliau mengutus putra beliau Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Terkadang beliau juga mengirimkan makanan buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu.”

    Ibnu Rajab di antaranya mengatakan, “Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syaikh, baik ulama dan para ahli zuhud. Beliau memiliki banyak keutamaan dan karamah. Tetapi ada seorang yang bernama Al Muqri’ Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri (orang Mesir) mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya). Cukuplah seorang itu dikatakan berdusta, jika dia menceritakan segala yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tenteram untuk meriwayatkan apa yang ada di dalamnya, kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari kitab selain ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh (dari agama dan akal), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak terbatas. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. Kemudian aku dapatkan bahwa Al Kamal Ja’far al Adfawi telah menyebutkan bahwa Asy Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.”

    Ibnu Rajab juga berkata, “Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang banyak berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang pada sunnah. ”

    Imam Adz Dzahabi mengatakan, “intinya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya, dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang-orang beriman). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.” (Syiar XX/451).

    Imam Adz Dzahabi juga berkata, “Tidak ada seorangpun para ulama besar yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi.”

    Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Makhdali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil, hal.136, “Aku telah mendapatkan aqidah beliau (Syaikh Abdul Qadir Al Jailani) di dalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. Maka aku mengetahui dia sebagai seorang Salafi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj salaf. Beliau juga membantah kelompok-kelompok Syi’ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.

    _________
    Diringkas dari artikel : Siapakah Syeikh Abdul Qadir Al Jailani?
    Majalah As-Sunnah edisi 07/VI/1423H-2002M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s