Pekan Seni dan Budaya Pandeglang Pentaskan Seni SAMAN


Humas – Pandeglang (07/04)

“Pekan Seni dan Budaya Pandeglang Pentaskan Seni SAMAN”

PANDEGLANG, Masih dalam rangkaian Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pandeglang yang ke-136, dua kesenian tradisional khas Banten, Saman dan Debus dipentaskan malam ini (Rabu, 07/04) di Panggung Terbuka Bale Budaya Pandeglang. Kesenian Saman dipentaskan oleh Group Layungsari Pimpinan Surya dari Kampung Sawah Desa Wanagiri Kecamatan Saketi.

Kesenian ini ternyata cukup unik serta  menghibur para penonton yang hadir ditempat itu. Selain tidak menggunakan alat musik, semua kelompoknya pandai melantunkan lagu berisikan pesan-pesan kepada penonton. Kelompok penari Saman ini semuanya laki-laki yang rata-rata usianya mencapai 40 hingga 50-an tahun. Hebatnya, meski para penarinya para orang tua, namun gaya dan semangat mereka disaat pentas, persis seperti anak-anak muda.

Sebelum pementasan berlangsung, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan pimpinan Group Saman Layungsari Surya yang dengan penuh semangat menceritakan perkembangan kesenian ini. Group Saman Layungsari, menurut penuturannya merupakan warisan dari orang tuanya dahulu, dan sampai saat ini dirinya adalah merupakan turunan ketujuh ujarnya.

Kurang lebih hampir 25 Tahun group ini berdiri, sudah banyak tempat yang dia dan kawan-kawannya kunjungi untuk mementaskan kesenian ini. Kebanyakan event  yang biasanya mementaskan kesenian ini adalah pada saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Peresmian Mesjid, Hajatan baik Pernikahan maupun Khitanan dan bahkan pada saat event-event resmi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang maupun Pemerintah Provinsi Banten ujarnya.

Saat ini, meskipun di Kecamatan Saketi terdapat 20 Group Saman, namun ia berusaha terus konsisten berjuang mempertahankan dan melestarikan kesenian ini, meski terkadang ia juga suka dihinggapi perasaan khawatir akan keberadaan seni saman ini. Seni ini jangan sampai tenggelam tergerus dengan seni-seni modern yang sekarang sudah masuk kepelosok-pelosok desa tuturnya. ”Saya berserta kawan-kawan, terkadang mengalami kesulitan untuk mencari anak-anak muda yang mau belajar dan mencintai kesenian ini. Dulu pernah saya mempunyai anak-anak muda yang saya anggap cukup untuk naik pentas, akan tetapi karena terdesak kebutuhan ekonomi, mereka malah memilih bekerja di ibu kota” ujarnya.

Ketika ditanya apakah ada syarat-syarat khusus untuk mempelajari kesenian ini, ia menjawab, pada dasarnya tidak ada, yang penting ia bisa mengucapkan huruf-huruf Al-Qur’an dengan baik, dia pasti bisa. Karena pada dasarnya kesenian Saman adalah seni melantunkan shalawat, jadi ya harus benar pengucapan lafalnya. Dan untuk menghasilkan suara yang khas, biasanya pemain saman juga harus melewati proses Gurah selama 3 hari tuturnya.

”Proses Gurah adalah proses menghilangkan kotoran baik dari tenggorokan maupun hidung, biasanya dengan memasukan semacam ramuan yang berasal dari Daun Kacapi, Daun Ela dan Daun Dadap. Proses yang biasanya dilakukan selama 3 hari ini, akan mengeluarkan kotoran dari hidung dan tenggorokan yang biasanya berupa lendir” lanjutnya.

Diakhir perbincangan kami, Dia sempat melontarkan harapannya, ia berharap agar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dapat memfasilitasi terhadap pelestarian kesenian-kesenian khas semacam ini, meskipun ia akui bahwa selama ini perhatian dari instansi ini sangat besar sekali, tapi kedepan ia berharap agar lebih ditingkatkan lagi. (**)

Mengenal lebih dekat Kesenian Dzikir Saman

Dzikir Saman disebut juga Dzikir Maulud yaitu kesenian tradisional rakyat Banten khususnya di Kabupaten Pandeglang yang menggunakan media gerak dan lagu (vokal) dan syair-syair yang dilantunkan mengagungkan Asma Allah dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan literatur disebut Dzikir Saman karena berkaitanarti Saman yaitu Delapan dan dicetuskan pertama kali oleh Syech Saman dari Aceh.

Tari Saman berasal dari Kesultanan Banten yang dibawa para ulama pada abad 18 sebagai upacara keagamaan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Maulud, namun pada perkembangan selanjutnya dapat pula dilakukan pada upacara selametan khitanan, pernikahan atau selametan rumah.

Pemain Dzikir Saman berjumlah antara 26 sampai dengan 46 orang. 2 sampai 4 orang sebagai vokalis yang membacakan syair-syair Kitab “Berjanji:, sementara 20 sampai 40 orang yang semuanya laki-laki mengimbangi lengikngan suara vokalis dengan saling bersahutan bersama (koor) sebagai alok.

Pola permainan seni Dzikir Saman dilakukan sehari penuh dengan tiga Babakan, yaitu: Babakan Dzikir, Babakan Asroqol, dan Babakan Saman. (iim-humas)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

2 Balasan ke Pekan Seni dan Budaya Pandeglang Pentaskan Seni SAMAN

  1. AHMAD FAUZI berkata:

    saya senang dengan tarian ini karna saya asli putra desa wanagiri,maka itu saya berharap agar tariaan ini agar lebih di perhatikan lagi,meski saya tinggal di bekasi saya terus lihat perkembangan tarian ini,maka itu saya berharap pemerintah kota agar terus memperhatikan tradisi ini..

  2. muel bike bohier berkata:

    sip sip… bagus lah desa wanagiri.. dan seluruh kec saketi.. punya kesenian.. yang tidak di miliki daerah lain.. patut kita banggakan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s