Debus Maunglugay membuat Pentas Pekan Seni dan Budaya semakin semarak


HUMAS – PANDEGLANG (07/04)

“Debus Maunglugay membuat Pentas Pekan Seni dan Budaya semakin semarak”


PANDEGLANG, Seusai pementasan Seni Saman, Panggung Terbuka Bale Budaya Kabupaten Pandeglang dimeriahkan dengan pementasan Debus Group Maunglugay dari Kecamatan Mandalawangi dibawah pimpinan Abah Satria hari Rabu (07/04). Dengan iringan kendang penca yang ditabuh penuh semangat oleh nayaga-nya membuat suasana semakin menarik dan hidup.

Mengawali pembukaannya group ini memperlihatkan kemampuan silat seorang anak laki-laki yang dengan lincah memperagakan jurus-jurus dasar dan khas dari group ini. Ibing tunggal yang dibawakannya nyaris sempurna dan membuat penonton semakin tertarik dan enggan beranjak dari tempatnya.

Atraksi pertama seusai Ibing Tunggal, seorang pemain dengan lincah memainkan Almadad (alat khas kesenian Debus) yang dilanjutkan dengan menancapkan ujung besi yang runcing keatas perutnya. Seorang pemain lain menghampirinya dan mulai memukul almadad tersebut dengan sebuah palu besar. Pukulan demi pukulan yang bertubi-tubi membuat pemain yang memegang almadad tersebut tersungkur, disusul dari mulutnya keluar beberapa ekor kalajengking. Pimpinan Group ”Abah Satria” kemudian menghampiri pemain tersebut dan mulai memunguti kalajengking dan memasukannya kedalam gelas bekas air mineral.

Atraksi pembuka yang membuat penonton terkesima ini, dilanjutkan dengan permainan golok (senjata khas Banten). Ia mulai mengayunkan goloknya keseluruh tubuhnya, mulai dari tangan, kaki, leher, perut dan bahkan lidah. Atraksi ini dilanjutkan dengan pemain lain yang turut serta memperlihatkan kekuatan tubuhnya dalam menahan ketajaman golok. Diakhir atraksi ini, seorang pemain menyodorkan beberapa buah pisang kepada penoton dan memakannya bersama-sama, hal ini untuk memperlihatkan kepada penonton bahwa tidak ada pantangan untuk para pemain debus. (ada kepercayaan bahwa pisang akan melemahkan kekebalan dan kekuatan tubuh terhadap senjata tajam semacam golok).

Atraksi dilanjutkan, seorang pemain membawa sebuah Pot Bunga yang berisi tanah, kemudian ia taburkan tanah tersebut diatas sehelai kain. Ia beserta kawan-kawannya kemudian mengambil sikap kosentrasi dan memusatkan pikirannya kekain tersebut. Setelah selesai tanah tersebut kemudian ia masukan kembali ke dalam pot, Pimpinan Group ”Abah Satria” kemudian meminta seorang penonton yang akan menyumbangkan bibit honje berupa biji, membawanya keatas panggung dan menyerahkannya kepada seorang pemain. Pemain yang menerima biji tersebut kemudian memasukannya kedalam pot yang kemudian ditutup oleh kain. Selang beberapa menit saat kain tersebut dibuka maka didalam pot tersebut sudah tumbuh bibit honje yang sudah berdaun. Atraksi ini mendapat applause dari penonton yang hadir ditempat itu.

Atraksi berikutnya seorang pemain membawa sebuah balok panjang, dengan gerakan lincah dan sigap pemain ini disertai pemain lainnya memperagakan jurus-jurus silatnya. Diakhir jurus yang ia tampilkan, balok tersebut ia pukulkan tepat diatas kepala pemain lainnya, balokpun terbagi menjadi dua, pemain yang tadi dipukul kepalanya kemudian melanjutkan dengan mematahkan kayu-kayu yang tersisa dengan tangannya.

Setelah atraksi ini selesai, seorang pemain kemudian membawa sebuah kendi (tempat menyimpan air dari tanah liat), terlebih dahulu ia memperlihatkan kepada penonton bahwa kendi ini kosong. Tak berapa lama ia mengambil sebatang lidi dan kemudian memasukannya kedalam kendi, selang beberapa menit kemudian kendi ini pun diangkat dengan bantuan lidi tersebut.

Sebagai penutup, para pemain memperlihatkan dua buah kelapa dan kemudian mengupasnya. Setelah dikupas ternyata didalam kelapa tersebut berisi Bihun/Mie, sedangkan kelapa yang satunya lagi berisi sebuah kain yang bertuliskan SELAMAT HARI JADI KABUPATEN PANDEGLANG KE-136,  ini disambut dengan tepuk tangan dari para penonton. Atraksi pun berakhir.

Terlepas dari perdebatan bahwa banyak trik yang dimainkan dalam seni Debus, harus kita akui bahwa inilah salah satu kekayaan kesenian khas Banten yang perlu kita lestarikan bersama. Mudah-mudahan dengan penampilan malam ini, akan semakin bertambah minat dan keinginan generasi muda dalam melestarikan kesenian-kesenian khas daerahnya.

Dan untuk mengenal lebih jauh kesenian ini, berikut ini saya kutip sebuah tulisan tentang SENI DEBUS, yang saya ambil dari Blog-nya PERPUSTAKAAN HALWANY.

DEBUS ORA TEMBUS

Kenali, menggali dan mengembangkan potensi parawisata Banten sangatlah langkah yang tepat dan strategis, karena banyaknya potensi kekayaan parawisata yang dimiliki Banten yang bayak dikenal tetapi kurangnya penanganan yang serius dan terarah dari pemerintah setempat. seperti; potensi wisata kepurbakalaan Banten, potensi wisata pantai, potensi wisata gunung, potensi wisata cagar alam dan hutan lindung, potensi wisata argo serta potensi wisata budaya Banten.

Salah satu potensi seni budaya yang ada di Banten adalah Debus, masyarakat menyadari dan percaya bahwa seni budaya yang dimiliki warga Banten sangat potensial dan dapat dikatakan sejajar dengan seni-seni budaya lainnya yang sudah dikenal. Sehingga diharapkan dengan adanya seni kebudayaan Banten yang di kenalkan akan merubah masyarakat dan pemerintah menjadi perduli terhadap perkembangan seni budaya yang banyak terdapat di Banten, karena seni budaya Banten adalah cerminan atau ciri masyarakat Banten secara keseluruhan.

Debus merupakan kesenian rakyat yang timbul di Banten setelah abad ke 16, setelah Sultan Maulana Hasanuddin mengislamkan daerah Banten maka banyak keajaiban-keajaiban yang timbul dengan kekuatan kebatinan yang didasari atas kepercayaan kepada Tuhan. Selain debus, di Banten Selatan pun terdapat juga kesenian yang menggetarkan hati yaitu gacle, ini hampir sama dengan debus. Seorang pemain dipotong-potong badannya kemudian dibagi-bagikan kepada penonton. Setelah beberapa lama, potongan-potongan tadi dikumpulkan kembali ketengah arena dan titutup dengan daun pisang. Gamelan dipukul gencar, kemudian daun pisang dibuka, potongan-potongan itu kembali utuh bahkan terus berdiri. Namun sekarang ini sudah tidak ada lagi kesenian gacle ini, tidak tahu kenapa kesenian yang sangat membudaya dikalangan masyarakat hilang begitu saja.

Keajaiban pada pemain-pemain debus ataupun gacle bukanlah suatu yang timbul dengan tiba-tiba, mereka telah menyiapkan diri sejak kecil tirakat, puasa Senin – Kamis merupakan hal rutin dilakukannya, sebelum bermain mereka berkonsentrasi dan berdoa sejenak, ini semacam white magic. Pemain debus sampai saat inipun masih banyak terdapat di Banten

Sejarahnya

Asal usul kesenian debus tidak dapat dipisahkan dari penyebaran agama Islam di Indonesia khususnya di daerah Banten. Terutama peyebarannya Islam pada masa Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), digunakan sebagai seni untuk memikat masyarakat Banten yang masih memeluk agama selain Islam dengan cara mempertontonkan kekuatan tubuh terhadap senjata tajam atau benda keras atau yang sering kita dengar dengan sebutan Debus. Pendapat lain mengatakan bahwa pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672) debus dijadikan sebagai sarana untuk berjuang para masyarakat Banten untuk melawan keangkaramurkaan Belanda pada masa itu.

Debus atau Almadad diajarkan oleh seorang ulama yang banyak mengguankan ilmu Hikayat (ilmu Tarekat Qodariah), ada persamaan Debus di daerah Banten dengan debus yang tumbuh di daerah Aceh dengan sebutan Deboah. Kemunginan besar asal kata debus juga dari kata Deboah. Syech Almadad dari Aceh banyak mengajarkan ilmu Hikayat (tarekat) sehingga ilmu ini banyak tersebar di daerah Banten.

Pada abad ke 16 – 17 M. Debus berkembang dikalangan laskar Banten. Kadang – kadang Sultan Abul Fathi Abdul Satah turut memimpin debus di kalangan prajurit Banten. Mereka dipimpin oleh beliau melakukan perang-perangan dengan menggunakan alat yang tajam dan runcing, seperti tombak dan pedang, dengan keyakinan yang kuat mereka percaya tidak ada suatu benda tajam apapun yang dapat melukai kulitnya kalau tidak dikehendaki oleh Allah SWT, kemudian permainan ini teresap pada masyarakat sehingga terciptanya kesenian debus samapai sekaranng.

Alat-alatnya

Alat musik yang digunakan antara lain; satu pasang kendang, dua buah rebana yang besar (disebut terbang gede), dua buah bedug kecil, terompet penca, dan kecrek, sedangkan alat yang digunakan antara lain; gada, palu besar, golok, pisau, jarum, paku, silet, dan lain sebagainya.

Cara Permainannya

Pemimpin rombongan memanjatkan do’a dan berzikir yang isinya memuji-muji Allah dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta pada para sahabatnya dan kerabatnya dengan gabungan suara zikir dan tabuh tabuahan yang sangat harmonis. Dua orang pemain yang masing-masing membawa gada bertangkai besi yang sangat runcing dan palu besar sambil menari mengikuti irama tabuh-tabuhan. Setelah beberapa kali menari berkeliling, terdengar suara Almadad yang dijawab oleh temannya hadir lalu barulah mereka berhadap-hadapan yang seorang menahan gada bertangkai besi yang runcing tersebut pada perut, dada, paha dan yang seorang lagi memalu gada temannya dengan palu besar sekuat tenaganya. Demikianlah selanjutnya permainan ini diulang beberapa kali. Selanjutnya permainan tersebut berkembang dengan menggunakan alat-alat tajam yang lain serta caranyapun mermacam-macam, seperti; mengerat, mengiris dan membacok bagian badan, tiduran diatas paku, menggoreng telur diatas kepala dan banyak lagi atraksi yang lainnya.

——- kembali ke halaman depan ——-

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s