Sebanyak 14 Desa ikuti Peningkatan Kemitraan dengan Masyarakat Sekitar Kawasan TNUK


Humas – Pandeglang (06/04)

“Sebanyak 14 Desa ikuti Peningkatan Kemitraan dengan Masyarakat Sekitar Kawasan TNUK “

PANDEGLANG, Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) selenggarakan kegiatan Peningkatan Kemitraan dengan Masyarakat Sekitar dalam rangka Konservasi Taman Nasional Ujung Kulon dan Perlindungan Badak Jawa di Hotel Kharisma hari Selasa (06/04).

Kegiatan yang diikuti oleh 2 Kecamatan, Cimanggu dan Sumur ini dihadiri oleh para Kepala Desa dan tokoh masyarakat. Desa-desa di Kecamatan Sumur yang wilayahnya berdekatan dengan kawasan lindung diantaranya Desa Ujungjaya, Tamanjaya, Cigorondong, Kertajaya, Kertamukti, Sumberjaya. Sedangkan di Kecamatan Cimanggu adalah Desa Rancapinang, Cibadak, Tugu, Kramatjaya, Mangkualam, Padasuka, Cimanggu dan Citangkil.

Beberapa materi yang akan disampaikan dalam kegiatan ini diantaranya adalah Kondisi Faktual dan Tantangan dalam Sistem Pengelolaan Kawasan Konservasi yang disampaikan oleh Dr.Ir.Rachman Upe, MM. Pemberdayaan Masyarakat
Adalah Sarana Menjalin Keharmonisan antar Masyarakat dan  BTNUK  yang disampaikan oleh Mumu Muawalah, Konservasi Berbasis Masyarakat & Masyarakat Madani Berbasis Konservasi  serta Peran Desa dalam Mendukung LKD oleh Kepala Desa Cibadak.

Pemberdayaan Masyarakat adalah salah satu upaya untuk memberdayakan Masyarakat dan bukan memperdaya masyarakat dengan berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. Pemberdayaan Masyarakat adalah merupakan Kegiatan yang Berperoses dan memerlukan Tahapan yang panjang. Pemberdayaan Masyarakat dapat dikatakan berhasil ketika Masyarakat sudah bisa  menggali Potensi Sumberdaya yang dimilikinya dan  dikelola sebesar-besarnya untuk kepentingan bersama yang berlandaskan pada azas berkelanjutan dan bukan untuk kepentingan sesaat.

Pemberdayaan yang telah dilakukan oleh Balai Taman Nasional Ujung Kulon diantaranya Bantuan Usaha Ekonomi, Budidaya, Peningkatan SDM, Pembentukan PAM Swakarsa dan Pembinaan lokal dengan dilandasi oleh Kesepakatan Pengelolaan Hutan Partisipasi (KPHP) yang dilaksanakan oleh Lembaga Konservasi Desa (LKD).

Implementasi kegiatan Lembaga Konservasi Desa dan Taman Nasional Ujung Kulon diantaranya melalui Patroli Bersama, Sosialisasi Bersama, Penyuluhan Bersama dan Kegiatan Sosial Kemasyarakatan Bersama. Dampak LKD terhadap TNUK Terjalinnya hubungan yang harmonis antara masyarakat dengan TNUK, Terbangunnya kesadaran masyarakat untuk melindungi dan mengamankan kawasan TNUK, Berkurangnya tingkat ganguan pelanggaran bidang kehutanan, dan lembaga ini dapat berfungsi sebagai lembaga kontol terhadap aktipitas perambahan.

Sedangkan hambatan dan permasalahan dalam pengembangan LKD diantaranya adalah belum konsistennya dalam pelaksanaan rencana kegiatan yang telah dibuat, belum adanya Rencana Tata Ruang Kesepakatan yang jelas (RTRK), belum adanya persamaan presepsi dan sudut pandang yang sama tentang LKD, belum terintergrasinya berbagai kegiatan, belum adanya pembimbingan yang khusus secara konsisten, belum memiliki sarana dan prasarana yang memadai dan masih lemahnya SDM (pengurus).

Oleh karena itu perlu rekomendasi dan Tindak Lanjut dari LKD ini melalui pengarahan dan pendampingan dalam melaksanakan berbagai kegiatan, perlu dibuat Rencana Tata Ruang Kesepakan  (RTRK) melalui Zona Khusus atau Zona lainya, perlu didorong terbentuknya Perdes/Perda dan Permenhut atau Peraturan Pemerintah, perlu Pengembangan  Forum  Multi Pihak untuk Penguatan LKD (Forum Motipator Terpadu), perlu adanya  Pendampingan Khusus, perlu adanya  Pengembangan Usaha lain disekitar Daerah  Penyangga TNUK, perlu adanya Penguatan Kelembagaan melalui  Pendampingan, Pendidikan dan Pelatihan serta Studi Bading.

Sementara itu Bupati Pandeglang H.Erwan Kurtubi disela-sela kegiatan ini  mengatakan bahwa pengelolaan hutan berkelanjutan harus didahului dengan pemberdayaan masyarakat. Memberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk memampukan dan memandirikan dengan mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran terhadap potensi yang dimilikinya untuk lebih berdaya guna dan berhasil guna. Hal ini dapat dimaknai bahwa pemberdayaan masyarakat itu salah satunya adalah bagaimana merubah mind set seseorang dari perasaan tidak mampu, tidak bisa dan tidak mungkin menjadi merasa mampu, bisa dan sangat mungkin untuk melakukan perubahan” ujarnya.

“Adanya pencerahan pada masyarakat sekitar hutan akan kekuatan dan potensi yang dimiliki dapat memberikan kesadaran bersama bahwa perubahan menuju kesejahteraan adalah sebuah keniscayaan. Pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk kelompok miskin. Sebagai tujuan pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial, yaitu masyarakat menjadi berdaya, mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup, memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan mandiri dalam melaksanakan kehidupan” lanjutnya.  (iim-humas)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s