Abu Bakar Ba’asyir berikan Tausyiah Maulid Nabi


Pandeglang (06/03)

“Abu Bakar Ba’asyir berikan Tausyiah Maulid Nabi di Kp.Sobong Desa Palurahan Kaduhejo Pandeglang”

Abu Bakar Ba'asyir berikan tausiyah

PANDEGLANG, Abu Bakar Ba’asyir Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki Solo Jawa Tengah hari ini Sabtu (06/03) di Kampung Sobong Desa Palurahan Kecamatan Kaduhejo memberikan tausyiah didepan ratusan jamaah yang menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang  digelar di Mesjid Syech Aliyudin Kampung Sobong Desa Palurahan Kecamatan Kaduhejo Pandeglang. Kiai asal Jawa Tengah ini juga direncanakan akan mengunjungi beberapa tempat ziarah, seperti makam Syekh Mansyur di Cikadueun.

KH. Uus Hamdi selaku Ketua Panitia Peringatan Maulid Nabi SAW yang juga sebagai Dewan Penasehat Front Hizbullah ini mengatakan bahwa kegiatan ini adalah sebagai wujud kecintaan masyarakat Kampung Sobong terhadap Rasulullah, menurutnya cara paling utama menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah dengan meneladani perilaku beliau yang mulia terhadap Allah SWT.

Abu Bakar Ba’asyir yang menjadi penceramah pertama diacara tersebut, tiba di Pandeglang sekitar pukul 13.00 WIB, acara dihadiri oleh puluhan ulama dan Jamaah Pengajian dari 35 kampung disekitar  kampung Sobong,  sedangkan penceramah kedua adalah KH. Abdurahman Sekjen Anshoruttauhid.

”Saya selaku Bupati Pandeglang yang baru menjabat sebagai Bupati selama kurang lebih 4 bulan dengan ini saya mohon doa restunya mudah-mudahan dapat melaksanakan amanah dan juga mempertanggungjawabkan semua yang akan saya laksanakan dan mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi masyarakat Pandeglang. Pada kesempatan yang berbahagia ini saya ucapkan selamat datang di Kabupaten Pandeglang yang mempunyai moto juang Pandeglang Berkah yang merupakan harapan dari masyarakat Pandeglang untuk mencapatkan keberkahan dari Allah SWT. Oleh karena itu  saya mengingatkan bahwa keberkahan itu adalah sesuatu yang harus kita upayakan dan perjuangkan bersama. Keberkahan itu akan sulit kita capai manakala Umaro sebagai Aparatur yang diberikan amanah oleh Masyarakat tidak mampu melakukan BEBENAH dalam arti tidak Bersih, Benar dan Amanah, karena mereka merupakan motor penggerak yang dibimbing, diasuh dan diarahkan para alimil ulama, tokoh masyarakat. Tidaklah mungkin pembangunan di Pandeglang akan berjalan sebagaimana  mestinya, jika seluruh elemen masyarakat tidak dapat bekerjasama mewujudkan Pandeglang yang diberkahi oleh Allah SWT” demikian disampaikan oleh Bupati Pandeglang H.Erwan Kurtubi saat memberikan sambutannya.  Diakhir sambutannya Bupati menyerahkan bantuan uang kepada DKM Mesjid Syech Aliyudin sebagai wujud kebersamaan.

”Nikmat Allah yang paling tinggi yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW kepada kita adalah  Nikmat Dinul Islam,  Rasulullah diutus guna membawa Rahmat bagi alam. Jadi diutusnya Nabi Muhammad itu adalah rahmat bagi seluruh Alam untuk seluruh mahkluk. Maknanya, dunia ini kalau tidak ada Islam nilainya ”Sampah”, manusia kalau tidak ada Islam nilainya “Binatang”, Kalau menceritakan orang kafir yaitu orang yang tidak mau mengaku dan mengatur hidupnya dengan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad selalu disamakan dengan Binatang. Orang kafir itu kerjaaan cuma senang-senang dan makan-makan. Berbeda dengan orang yang beriman dan beramal soleh, mereka akan mendapat pahala yang tidak pernah putus, karena orang beriman itu hidupnya untuk ibadah, oleh karena itu Islam merupaka  kekayaan yang paling mahal, bahkan lebih mahal dari nyawa. Islam memang langsung diturunkan oleh Allah bukan hasil temuan manusia tapi gurunya langsung dari Allah SWT,  itulah arti dari diutusnya Nabi Muhammad SAW dengan membawa nikmat Islam, jadi kalo Islam-nya tidak dpergunakan ya Rahmatnya pun tidak akan ada” demikian disampaikan oleh KH. Abu Bakar Ba’asyir saat memberikan tausyiahnya.

”Oleh karena itu Allah SWT, yang menjadikan ukuran kalau Allah akan memberikan kebaikan kepada hambanya ukurannya tidak diberikan dengan  Nikmat Dunia, orang yang diberikan Nikmat Dunia belum tentu itu akan diberikan kebaikan, bahkan nikmat dunia  baik itu harta, anak, jabatan, Ilmu pengetahuan Dunia kalau diberikan kepada orang kafir sama sekali itu bukan kebaikan, hal ini tidak berarti Allah memberikan kebaikan kepada orang kafir” lanjutnya. (iim-humas)


Profil Mesjid : Syech Aliyudin Kp. Sobong Desa Palurahan Kaduhejo

Kubah Mesjid yang Unik

Mesjid yang terletak di Kampung Sobong Desa Palurahan Kecamatan Kaduhejo Pandeglang ini, menurut masyarakat adalah mesjid yang sudah cukup tua. Mesjid yang dibangun oleh Syech Aliyudin ini diperkirakan dibangun pada tahun 1700 ini mempunyai arsitektur yang cukup unik. Dengan Kubah yang terdiri dari 4 undak berbentuk segi empat.

Syech Aliyudin adalah merupakan generasi kedua dari Wali Songo  bersama Syeh Maulana Ishaq, Syeh Maulana Ahmad Jumadil Kubra, Syeh Maulana Muhammad Al Maghrobi Syeh Maulana Aliyuddin., Syeh Maulana Hasanuddin, Syeh Subakir, Raden Rahmat Ali Rahmatullah yang datang ke pulau Jawa pada tahun 1421     Masehi menggantikan ayahnya (Syeh Maulana Malik Ibrahim) wafat pada tahun 1419 Masehi, Raden Rahmat yang berasal dari Campa beliau dikenal dengan nama Sunan Ampel, Sayyid Ja’far Shodiq dari Palestina, datang ke pulau Jawa tahun 1436     Masehi menggantikan Syeh Maulana Ali Akbar yang wafat pada tahun     1435 Masehi. Beliau dikenal dengan sebutan Sunan Kudus karena beliau     tinggal di Kudus, Syarif Hidayatullah berasal dari Palestina, menggantikan Maulana Ali     Akbar yang wafat pada tahun 1435 Masehi, datang di pulau Jawa pada     tahun 1436 Masehi.

Dari periode kedua Wali Songo ini telah mengadakan sidang di Ampeldenta Surabaya, para wali kemudian membagi tugas sebagai berikut : Syeh Maulana Ishaq, Syeh Jumadil Kubro dan Sunan Ampel bertugas di Jawa Timur, Maulana Muhammad Al Maghrobi, Syeh Subakir dan Sayyid Ja’far Shodiq bertugas di Jawa Tengah dan Syeh Maulana Aliyuddin, Syeh Maulana Hasanuddin dan Syarif Hidayatullah bertugas di Jawa Barat dan Banten.

Keunikan Arsitektur Mesjid ini hampir sama dengan mesjid-mesjid tua yang berada dipulau jawa lainnya, menurut peneliti Belanda G.F. Pijper menyebutkan bahwa tipe bentuk masjid di Indonesia berasal dari Masjid Jawa. Menurutnya ada enam karakter umum tipe Masjid Jawa itu yakni: 1) berdenah bujur sangkar, 2) lantainya langsung berada pada fundamen yang masif atau tidak memiliki kolong lantai sebagaimana rumah-rumah vernakular Indonesia atau tempat ibadah berukuran kecil seperti langgar (Jawa), tajug (Sunda), dan bale (Banten), 3) memiliki atap tumpang dari dua hingga lima tumpukan yang mengerucut ke satu titik di puncaknya, 4) mempunyai ruang tambahan pada sebelah barat atau baratlaut untuk mihrab, 5) mempunyai beranda baik pada sebelah depan (timur) atau samping yang biasa disebut surambi atau siambi (Jawa) atau tepas masjid (Sunda), dan 6) memiliki ruang terbuka yang mengitari masjid yang dikelilingi pagar pembatas dengan satu pintu masuknya di bagian muka sebelah timur.

Hal inilah yang menjadikan Mesjid Syech Aliyudin memiliki keunikan tersendiri, selain itu keunikan yang lain adalah terdapatnya sumber mata air yang melimpah. Menurut masyarakat dikampung ini, air yang melimpah ini dialirkan kepada rumah-rumah yang berada disekitar mesjid, sekurangnya ada 150 rumah penduduk yang mengambil air dari mesjid, merekapun dipungut biaya pemeliharaan sebesar 15 ribu per-rumah, uangnya diserahkan kepada DKM atau pengurus mesjid untuk digunakan berbagai kebutuhan dalam rangka pemeliharaan mesjid. (iim-humas)

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s