Pengaruh Pertukangan Cina pada Bangunan Mesjid Kuno di Jawa


Bentuk awal mesjid kuno di Jawa (abad 15-16), sangat menarik. Banyak teori yang mengatakan bahwa bentuk dari mesjid kuno Jawa ini berasal kebudayaan Hindu-Jawa maupun dari penduduk Jawa sendiri . Tapi jarang sekali tulisan yang membahas tentang peran pertukangan Cina yang sangat besar dalam pembangunan mesjid-mesjid kuno Jawa (terutama yang terletak di pantai Utara Jawa). Berikut ini adalah Tulisan yang dibuat oleh Handinoto dan Samuel Hartono Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Jurusan Arsitektur, Universitas Petra, Surabaya.

Kajian terhadap unsur-unsur Cina dalam khazanah kebudayaan Islam di Jawa tidak hanya dihadapkan pada realitas minimnya data-data sejarah berupa situs situs kepurbakalaan yang tersedia, tetapi juga berhadapan dengan persepsi publik Muslim selama ini yang meyakini bahwa proses islamisasi di Jawa itu datang langsung dari Arab atau minimal Timur Tengah, bukan dari Cina. Kalaupun sebagian mereka ada yang menganggap adanya pengaruh Gujarat- India, namun Gujarat yang sudah ‘diarabkan’. (Qurtuby, 2003:177)

Mesjid kuno di Jawa abad 15 dan 16 mempunyai bentuk yang sangat spesifik. Arsitektur abad ke 15 dan 16 merupakan arsitektur transisi dari arsitektur Jawa-Hindu/Budha ke arsitektur Jawa-Islam. Masa transisi tersebut melahirkan bentuk bentuk bangunan mesjid yang sangat spesifik. Mesjid Kuno Jawa sebagai tempat ibadah kaum Muslim, tentunya sangat erat hubungannya dengan awal masuk dan berkembangnya agama Islam di Nusantara. Dewasa ini ada tiga buah teori tentang awal masuknya Islam ke Nusantara, yaitu :

  • Pertama, adalah Teori Arab. Teori ini menyatakan bahwa Islam yang datang ke Nusantara, dibawa oleh pedagang yang berasal dari Arab (tepatnya Hadramaut) atau Timur Tengah. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Crawfurd (1820), Keyzer (1859), Niemann (1861), de Hollander (1861) dan Veth (1878). Crawfurd (1820) menyatakan bahwa Islam datang langsung dari Arab, meskipun ia menyebut adanya hubungan dengan orang-orang ‘Muhamedan’ di India Timur. Neimann (1861) dan de Hollander (1861) menyebut Hadramaut sebagai sumber datangnya Islam.
  • Kedua adalah Teori India. Teori ini menyatakan bahwa Islam yang datang ke Nusantara berasal dari India. Pelopor mahzab ini awalnya adalah Pijnapel (1872), berdasarkan terjemahan Perancis tentang perjalanan Suleiman, Marco Polo dan Ibnu Battuta, ia menyimpulkan bahwa orang-orang Arab yang bermahzab Syafi’i dari Gujarat dan Malabar di India yang membawa Islam ke Asia Tenggara. Kemudian diperkuat oleh Snouck Hurgronje yang menunjuk Dakka di India Selatan sebagai pembawa Islam di Nusantara. Kemudian Marrison menyebut Koromandel sebagai pelabuhan tempat bertolaknya pedagang Muslim dalam pelayaran mereka menuju Nusantara (lihat G.J.W.Drewes, ‘New Light on the Coming of Islam to Indonesia’, dalam Ahmad Ibrahim, Sharon Siddique & Yasmin Husain (ed.), Reading Islam in Southeast Asia (Institute of Southeast Asia Studies, 1985).
  • Ketiga adalah Teori Cina. Teori ini menyatakan bahwa Islam yang masuk ke Nusantara (terutama di P. Jawa), dibawa oleh komunitas Cina-Muslim. Teori ini dipelopori oleh Sumanto al Qurtuby(2003), yang data datanya diperkuat antara lain dari H.J. De Graaf & Pigeaud (1985,1998), Amen Budiman (1979) dan Denys Lombard (1994,1996) serta Slamet Muljana (cetakan kedua th. 2005).

Teori Cina yang menyatakan masuknya Islam ke Jawa abad ke 15 dan 16, didukung oleh Sumanto Al-Qurtuby (2003), dimana pada abad-abad tersebut disebutnya sebagai jaman Sino-Javanese Muslim Culture dengan bukti di lapangan seperti: Konstruksi Mesjid Demak (terutama soko tatal penyangga mesjid), ukiran batu padas di Mesjid Mantingan, hiasan piring dan elemen tertentu pada mesjid Menara di Kudus, ukiran kayu di daerah Demak, Kudus dan Jepara, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik. Sunan Giri wafat pada th. 1506. Pintu makamnya di Gresik dihiasi dengan ukiran kayu yang sangat indah dengan motif gaya Cina yang kuat sekali (Lombard, 2, 1996:48).

—————————————————————————-

PENGARUH PERTUKANGAN CINA PADA BANGUNAN MESJID KUNO

DI JAWA ABAD 15-16 (Handinoto, et al)

Gambar 1A. Peta perjalanan orang Cina ke Asia Tenggara pada abad ke 15 & 16, dengan route Barat route Timur Mereka ini pada umumnya berangkat dari tiga kota utama di Cina Selatan yaitu :Quanzh Xiamen dan Guangzhou (Canton). Kota-kota pantai Utara Jawa seperti :Tuban, Jepara, Lasem, Gre Semarang, Banten dsb.nya menjadi tujuan utama mereka. (sumber: Reid, Anthony (2001), Flows Seepages in the Long-term Chinese Interaction with Southeast Asia, dalam Sojourners and Settlers, Univer of Hawaii, Honolulu)

Gambar 1A. Peta perjalanan orang Cina ke Asia Tenggara pada abad ke 15 & 16, dengan route Barat route Timur Mereka ini pada umumnya berangkat dari tiga kota utama di Cina Selatan yaitu :Quanzh Xiamen dan Guangzhou (Canton). Kota-kota pantai Utara Jawa seperti :Tuban, Jepara, Lasem, Gre Semarang, Banten dsb.nya menjadi tujuan utama mereka. (sumber: Reid, Anthony (2001), Flows Seepages in the Long-term Chinese Interaction with Southeast Asia, dalam Sojourners and Settlers, Univer of Hawaii, Honolulu)

Elemen-elemen yang terdapat di keraton Cirebon beserta Taman Sunyaragi, Taman Sunyaragi (sunya=sepi, ragi=raga), arsiteknya adalah seorang Cina Muslim bernama Tan Sam Cay yang pernah menjadi orang penting di Istana Cirebon. Taman atau Goa tersebut dijadikan tempat bertapa bagi bangsawan Cirebon yang sekaligus digunakan sebagai bunker militer dari serbuan musuh. Tempat ini kemudian dihancurkan oleh Belanda pada tahun 1787. Arsitekturnya dikatakan menyerupai ‘Istana terlarang’ (forbiden city) istana raja raja dinasti Cina. Ada hubungan antara Keraton Cirebon dengan Cina, yakni ketika Sunan Gunungjati menikahi Putri Cina yang bernama Tan Hong Tien Nio  Putri Ong Tien), yang makamnya sampai sekarang masih ada, semuanya ini menunjukkan adanya pengaruh pertukangan Cina yang kuat sekali.

Selama ini relatif jarang dibahas tentang pengaruh pertukangan (terutama batu dan kayu) Cina terhadap  bangunan mesjid-mesjid kuno (abad 15 dan 16) di Jawa. Tulisan ini merupakan studi awal yang mencoba meneliti sampai sejauh mana pengaruh pertukangan Cina ini terlibat dalam pembangunan mesjid-mesjid kuno di Jawa abad 15 dan 16. Kesaksian pelaut Belanda pada abad ke 17 Gambaran yang paling kuno tentang bentuk mesjid di Jawa secara tertulis di dapat dari buku: Oost Indische Vojage (1660), Der Mooren Tempel in Java” yang ditulis oleh Wouter Schouten (Graaf, 1998:157; Lombard, 1994:122). Schouten menggambarkan bangunan mesjid di Jepara6 pada abad 17 tersebut sebagai bangunan konstruksi kayu, lima lantai, dan diikelilingi oleh parit. Atapnya runcing dan  dihiasi oleh ornamen. Tiap lantainya bisa dicapai dari dalam dengan tangga kayu. Di buku tersebut juga terdapat gambar dari kota Jepara dilihat dari arah laut, dimana bangunan mesjid tersebut merupakan bangunan yang tertinggi di Jepara waktu itu (lihat Gb.no.1D, 2).

Mesjid Jepara didirikan pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat di Jepara abad 16. Menurut sumber setempat yaitu ‘Serat Kandaning Ringgit’ Naskah KBG no.7 Koleksi bagian naskah Museum Pusat Jakarta, yang dibaca oleh Amen Budiman(1979:23-30), tertulis bahwa Pangeran Hadliri (suami ratu Kalinyamat) adalah seorang juragan Cina yang datang dari Tiongkok ke Jawa untuk berdagang. Selanjutnya disebut dengan nama Juragan Wintang, yang akhirnya menjadi suami Ratu Kalinyamat yang memerintah Jepara. Lihat juga Graaf (1985:126). Jadi kemungkinan adanya pengaruh pertukangan Cina pada mesjid tersebut sangat kuat.

Sayang sekali bahwa dalam tulisan Wouter Schouten tidak dijelaskan secara mendetail tentang mesjid kuno tersebut. Bangunan mesjid kuno di Jawa pada umumnya dikelilingi oleh kolam. Kolam tersebut biasanya juga digunakan untuk air wudu ketika akan sembahyang. Gambaran secara garis besar mesjid kuno Jawa yang dibangun pada abad 15 dan 16 mempunyai ciri-cri sbb:

  • atapnya bersusun lima, Menurut Graaf (1985:158), atap tersebut kemudian menjadi bersusun tiga setelah abad ke 17. Asal-usul dari atap bersusun ini sering menjadi perdebatan antara para ahli.
  • bentuknya segi empat dan simetri penuh
  • denahnya dikelilingi oleh kolam, yang digunakan
  • sebagai air wudhu ketika akan sembahyang.
  • Prototipe denahnya dapat digambarkan seperti dibawah ini :

Denah Mesjid

  1. Mihrab:Tempat kecil pada pusat tembok sebelah Barat dipakai oleh Imam mesjid
  2. Ruang utama mesjid : Ruang yang dipakai untuk sembahyang oleh kaum pria. Di ruang utama inilah terdapat 4 buah sokoguru yang memikul atapnya. Sistim konstruksi mesjid kuno Jawa ini selanjutnya dipakai sebagai dasar sistim konstruksi rumah Jawa, lengkap dengan penanggap dan emperannya.
  3. Serambi10: Beranda sebuah mesjid. Adanya ’serambi’ ini datangnya baru belakangan
  4. Pawestren: Tempat sembahyang bagi wanita.
  5. Kolam: Tempat berisi air yang digunakan untuk wudhu.
  6. Garis axis menuju Mekah: Garis maya sebagai orientasi pada pembangunan sebuah mesjid.
  7. Makam: Kuburan.
  8. Pagar Keliling: Pagar pembatas komplek mesjid.
  9. Gerbang: Pintu masuk utama di komplek mesjid atau makam

Fr. Valentijn dalam karya monumentalnya ‘Oud en Niew Oost Indiën’ menegaskan bahwa semua mesjid yang ia lihat pada awal abad ke 18 di Jawa pada prinsipnya mempunyai bentuk yang sama. Kesimpulan ini mungkin disebabkan karena dari pengamatannya secara sekilas saja. Karena seperti di jelaskan oleh Lombard (jilid 2, 1996:219), bahwa tidak ada satu model tunggal mesjid kuno sepanjang pesisir Utara Jawa. Sebagai contoh denah ruang sembahyang (liwan), pada dasarnya berbentuk bujur sangkar, tapi di mesjid Agung Cirebon denahnya berbentuk persegi panjang. Atap mesjid biasanya mempunyai susunan yang jumlahnya ganjil (tiga, lima), tapi bentuk atap mesjid Jepara bersusun lima, lebih menyerupai pagoda. Pada prinsipnya juga tidak ada menara pada mesjid Jawa kuno, tapi itu tidak berlaku bagi mesjid Banten. Pada mesjid biasanya juga tedapat kolam yang terletak di bawah tangga yang menuju ke ruang salat, akan tetapi ada kalanya seperti di Jepara , kolam itu mengaliri suatu saluran air yang mengelilingi bagian dasar mesjid. Tapi ada yang selalu hadir pada mesjid Jawa kuno yaitu ‘serambi’ yang cukup lebar di depan ruang untuk salat, dan kentongan atau bedug yang terbuat dari kulit kerbau atau kentongan dari kayu nakus.

Minaret atau menara tidak dikenal dalam arsitektur mesjid kuno Jawa. Sebagai gantinya untuk memanggil jemaah untuk salat, dipergunakan ‘bedug’. Pada umumnya bedug terbuat dari sebatang pohon yang dikeruk, dengan rentangan kulit kerbau pada satu atau kedua sisinya , Selain waktu salat, pukulan bedug juga menandai awal dan akhir puasa, serta hari raya hadji. Orang Arab tidak menemukan istilah yang cocok dalam kamus mereka untuk bedug mesjid. Akhirnya mereka menamai ‘nâqŭs’ yang mirip dengan genta kayu pada gereja kuno di Timur Tengah (Lombard, jilid 2, 1996:456)

Jadi bedug merupakan ciri khas mesjid Jawa kuno. Amen Budiman (1979:40) bahkan mengatakan asal usul dari bedug yang diletakkan di serambi-serambi mesjid Jawa, merupakan pengaruh dari arsitektur Cina, dimana bedug diletakkan tergantung di serambii kelenteng. Tapi di mesjid menara Kudus, bedugnya justru diletakkan dibagian atas Menara (lihat Gb. no.1B).

Yang cukup menarik pada mesjid kuno Jawa adalah adanya makam, yang diletakkan pada bagian belakang atau samping mesjid. Jadi selain arsitektur religius, uniknya, hampir tidak jauh dari komplek mesjid kuno Jawa selalu terdapat makam-makam yang disakralkan dan dimitoskan. Pengeramatan tersebut tidak hanya terjadi di mesjid-mesjid yang terletak di desa seperti misalnya mesjid Sendang Duwur di Paciran Lamongan atau mesjid Mantingan di Jepara, tapi juga mesjid-mesjid kuno yang ada di Kudus (mesjid Menara Kudus), Surabaya (mesjid Sunan Ampel), mesjid Agung Demak, mesjid Agung Banten dsb.nya. Bentuk seperti ini merupakan ciri khas dari mesjid kuno di Jawa.

Gambar 1C. Bedug yang ada diserambi kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, Semarang. Foto diatas diambil oleh penulis pada bulan Pebruari 2006.

Gambar 1D. Lukisan yang dibuat oleh juru gambar atas instruksi dari Wouter Schouten (1660), yang menggambarkan pemandangan kota Jepara dari arah laut. Dimana silhouettenya terlihat bangunan mesjid berlantai 5, yang merupakan ‘focal point’ dari pemandangan kota Jepara tersebut.

Gambr 2. Gambar yang lebih detail dari mesjid Jepara yang diambil pada abad ke17. Atapnya bersusun 5.

Gambar 3. Gambar lain yang agak lebih jelas dari mesjid di kota Jepara pada abad ke17, yang dilukis oleh seorang pelaut Belanda yang kebetulan melintas di kota Jepara pada abad ke 17. Bangunannya berlantai 5, dengan atap yang bersusun 5 juga. Bentuk dari mesjid mengingatkan kita pada bentuk pagoda yang banyak terdapat di Tiongkok. Diperkirakan mesjid ini didirkan oleh Ratu Kalinyamat, yang menurut banyak sumber (Budiman, 1979, Qurtuby, 2003) ada hubungannya dengan Cina Muslim yang menyebarkan agama Islam mahzab Hanafi di P.Jawa.

Gambar 4. Mesjid Banten, yang menurut cerita tutur setempat dibangun oleh Sultan Maulana Jusuf pada th. 1580. Bangunan sebelah kiri dikenal dengan sebutan Tiamah, yang dibangun oleh Henderik Lucasz Cardeel, seorang pelarian VOC, yang kemudian menjadi Islam dan menetap di Banten. Terlihat bahwa atap dari mesjid kuno ini masih bersusun lima meskipun dua susun diatasnya hanya merupakan tambahan saja. Foto diatas diambil pada th. 1874 oleh studio foto Inggris terkenal Woodbury & Page.

Gambar 5. Mesjid kuno di Padang, Sumatra Barat yang masih terdapat kolam disekelilingnya seperti mesjid-mesjid awal di Jawa. Mesjid tersebut beratap susun tiga, merupakan replika dari mesjid-mesjid kuno yang ada di Jawa. Disamping mesjid juga terdapat menara. Foto diatas diambil oleh Jean Demmeni juru foto Belanda yang terkenal pada th. 1900 an.

Gambar 5A.Pura Bali dekat Jimbaran. Atapnya bersusun sebelas.

Pertukangan kayu dan batu orang Cina di Jawa.

Yang dimaksud dengan pertukangan kayu disini termasuk:

  • Sistim konstruksi bangunan dari kayu (termasuk sambungan kayu, cara merekatkan kayu dengan lem dsb.nya)
  • Semua ragam hias bangunan dari kayu (termasuk hiasan pada interior dan ukir-ukiran dari kayu)
  • Perabotan dari kayu (termasuk meja, kursi serta perabotan lain dari kayu)

Tidak seperti pengaruh Hindu, pengaruh peradaban Cina terhadap peradaban Jawa dan Bali kurang diketahui. Namun ada kemungkinan seni rupa Jawa dan Bali jaman pra Islam memiliki lebih banyak unsur dan motif China daripada yang diungkapkan hingga kini (Graaf, 1985:10) Berita pertama mengenai masyarakat Cina Muslim di Jawa berasal dari Haji Ma Huan, seorang sekretaris dan juru bahasa Cheng Ho (Zheng He). Cheng Ho (Zheng He) adalah laksamana kaisar Cina pada jaman dinasti Ming(1368-1644) yang mendapat tugas memimpin misi muhibah mengunjungi negeri-negeri di seberang lautan.

Ma Huan sedikitnya telah mengikuti tiga kali misi muhibah Cheng Ho. Masing-masing muhibah keempat (1413 1415). keenam (1421-1422) dan yang ketujuh (1431-1433). Dari perjalanan muhibahnya tersebut Ma Huan berkesempatan melihat dari dekat keadaan masyarakat di Jawa waktu itu. Ma Huan selanjutnya menjelaskan bahwa di Jawa terdapat tiga golongan masyarakat. Pertama adalah orang Islam yang berasal dari kerajaan asing yang terletak di sebelah Barat dan telah datang ke Majapahit sebagai pedagang. Kedua Orang Cina yang berasal dari dinasti Tang (618-960), yang berasal dari propinsi Guangdong, Zhangzhou, Quanzhou dan daerah Cina Selatan yang berdekatan. Banyak diantara mereka ini yang memeluk agama Islam, sembahyang dan melakukan puasa. Sedangkan yang ketiga orang orang setempat yang berkaki telanjang, dan masih memuja hantu-hantu.

Dari sumber-sumber berita diatas dapat diambil kesimpulan bahwa:

  • Orang Cina Muslim pada abad ke 15 sudah banyak terdapat dikota-kota pelabuhan, terutama di Pantai Utara P. Jawa.
  • Sudah banyak terdapat suku bangsa Cina dari propinsi Guangdong yang terdapat di Jawa. Hal ini penting karena sebagian besar suku Konghu (asal Guangdong) secara turun menurun berprofesi sebagai tukang yang sangat ahli dalam pengerjaan kayu dan batu.

Sebagian besar suku Konghu (asal Guangdong) biasanya secara turun menurun menjadi tukang kayu. Mereka ini bahkan sampai mempunyai kelenteng khusus yang dipersembahkan pada ‘Lu Ban’ (Kelenteng Lu Ban-Lu Ban Gong) yang mereka anggap sebagai dewa pelindung para tukang kayu (lihat : Cl. Salmnon & Denys Lombard (1985) Kelenteng-Kelenteng Masyarakat Tionghoa di Jakarta, Yayasan Cipta Loka, Jakarta).

Jasa pertukangan kayu dan batu dari suku Konghu (asal Guangdong) ini terus digunakan oleh orang-orang Belanda dalam

membangun gedung-gedung kolonial di seluruh Hindia Belanda. Sebagai contoh misalnya bangunan ‘Gedung Sate’ yang terkenal sebagai bangunan monumental yang terindah di Indonesia, juga memakai jasa keahlian tukang-tukang kayu dan batu orang suku Kwang Tung ini untuk pekerjaan kayu dan ukiran dari batunya.

Seperti dikatakan oleh Haryoto Kunto dalam bukunya, Balai Agung di Kota Bandung, PT. Granesia , Bandung (1996: 113), bahwa: “Pembangunan Gedung Sate mengerahkan paling sedikit 2000 orang kuli dan tukang. Diantara pekerja tersebut terdapat kurang lebih 150 orang Cina Konghu (Kwang Tung-Guangdong) atau Kanton. Bekas jamahan tukang kayu dan batu bangsa Cina itu masih bisa disaksikan sampai sekarang pada bangunan gedung Sate”

Selain itu tercatat bahwa daerah-daerah pesisir yang paling dulu di Islam-kan seperti Demak, Kudus, Jepara tercatat bahwa kerajinan ukiran kayu bertahan sampai abad ke 20. Bahkan juga daerah seperti Madura terdapat ukiran kayunya dengan pengaruh Cina sangat kental.

Mengenai pengaruh pertukangan dan ukiran kayu di Madura, terdapat nama-nama seperti Lauw Pia Ngo (arsitek mesjid Agung dan Keraton Sumenep), Lauw Kun Thing pelopor ukiran kayu di daerah Madura ( baca Kompas, Jumat 7 April 2006: Antara Sulur Daun dan Belitan Sang Naga). Tentang komunitas orang Cina– Islam di Madura lihat Ong Hok Ham (2005), Masyarakat Peranakan di Madura Keyakinan Islam dan Asimilasi, dalam ‘Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa’, hal. 15-31.

Sejarah tutur disekitar daerah mesjid Menara Kudus, menyebutkan nama Kyai The Ling Sing, sahabat karib Sunan Kudus (Ja’far Sodiq – abad ke 15) dan sekaligus sebagai peletak dasar pertukangan dan seni ukir kayu di daerah Kudus dan  sekitarnya. Beberapa ratus langkah dari mesjid Menara Kudus sampai sekarang terdapat makam Kyai Telingsing (The Ling Sing), dan ada jalan disekitar mesjid tersebut yang sampai sekarang dinamakan sebagai Jalan Telingsing. Sejarawan Denys Lombard mendukung kebenaran sejarah tutur setempat tersebut (Lombard, 2, 1996:316). Tentang Kyai The Ling Sing ini juga terdapat pada buku Graaf (1985: Bab V, Sejarah Kerajaan Kecil di Pantai Utara Jawa Tengah pada abad ke 16: Kudus, hal. 108-122)

Disamping itu ada juga nama Sun Ging An pada abad ke15, yang ahli dalam bidang seni ukir di Kudus. Karena itu daerah Sunggingan dulu merupakan daerah ukir di Kudus. Gaya seni ukir Sunggingan ini berkembang pesat yang selanjutnya menjadi salah satu unsur pokok bagi perkembangan arsitektur rumah tradisional Kudus. Hal ini dapat dilihat pada bentuk dan motif krobongan rumah adat Kudus, bentuk regol, kongsel dan ornamen ukiran yang bercirikan ular naga. (Qurtuby, 2003:138). Kongsel atau ‘sanggahan’ adalah tiang-tiang penyangga emperan depan yang berjumlah sembilan buah dengan bentuk/ciri khas Kudus.

Tokoh Sunan Sungging sebagai ayah The Ling Sing ini diketemukan di dalam manuskrip yang ditulis Kyai Zawawi Mufid, ulama kharismatik Kudus (20 Desember 1985), yang berjudul “ Sekelumit Sejarah Mbah Kyai The Ling Sing” yang dihimpun dari cerita lisan yang beredar dimasyarakat. Perlu dicatat disini bahwa sejarah lisan sekarang mulai menjadi perhatian para sejarawan. Lihat buku “Sejarah Lisan Di Asia Tenggara” teori dan metode oleh P. Lim Pui Huen et.al.(2000), LP3ES.

Juga tercatat nama Tjie Wie Gwan, yang menurut sejarah tutur di Jepara merupakan seorang Cina Muslim yang ahli dalam pertukangan kayu dan seni ukir pada masa Ratu Kalinyamat (abad ke 16). Tjie Wie Gwan dijuluki sebagai Sungging Badar Duwung (ahli pemahat batu). Makam Tjie Wie Gwan terdapat diantara makam Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat (penguasa Jepara abad ke 16). Berkembangnya seni ukir Jepara ini tidak luput dari jasa Tjie Wie Gwan (Qurtuby, 2003: 137). Catatan sejarah lisan/tutur tersebut diatas merupakan bukti bahwa seni pertukangan batu dan

kayu Cina sudah berkembang di kota-kota pelabuhan pantai Utara Jawa (Jepara, Kudus, Demak, dsb.nya) sejak abad ke 15 dan 16, bahkan pada jaman sebelum itu.

Bangunan Mesjid Kuno di Jawa.

Untuk mengaji ada tidaknya unsur-unsur ‘asing’ kaitannya dengan ’kebudayaan Islam’ biasanya yang dijadikan ukuran/acuan pertama adalah mesjid (Pijper, 1985:14-15). Sebagai studi kasus pengaruh  petukangan Cina pada mesjid kuno Jawa dipilih mesjid- mesjid yang dibangun pada abad ke 15 dan 16 :

  • Mesjid Demak (1474)
  • Mesjid Kudus (1537)
  • Mesjid Mantingan (1559)

Mesjid Demak (1479)

Mesjid Demak merupakan salah satu mesjid yang terpentng dan tertua di Jawa (1479). Mesjid ini telah mengalami renovasi berulang-ulang sehingga menjadi wujudnya seperti yang sekarang kita saksikan. Mesjid Demak didirikan pada masa kerajaan Demak yang diperintah oleh R. Patah pada abad ke 15. Hampir semua sumber historiografi lokal menyebutkan bahwa R. Patah atau Panembahan Jinbun (dalam bahasa Cina dialek Yunan berarti ‘orang kuat’) adalah seorang Cina Muslim. Perbedaannya hanya terletak pada identifikasi genealogi R. Patah. Pendapat ini kemudian diperkuat oleh banyak sejarawan antara lain seperti: H.J. de Graaf & Pigeaud (1985:42-43), Denys Lombard (1994, 1996:44), Budiman (1979:16) dan Sumanto al Qurtuby (2003:39-40, 214).

Hikayat Hassansudin menyebut moyangnya bernama Cek Ko Po dari ‘Munggul’. Sajarah Banten menyebut Raden Patah dengan Cu Cu , Cina keturunan Monggol. Teks lokal Jawa Tengah seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kandha atau Tembang Babad Demak menyebut R. Patah sebagai anak Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit , yang menikah dengan putri Cina yang bernama Siauw Ban Tjie.

Yang menjadi kontroversial sampai sekarang adalah fenomena sokotatal, yang merupakan konstruksi utama (sokoguru) pada mesjid Demak tersebut. Menurut sumber yang dikutip Graaf (2004:23), juga Muljono (2005:199) dari Malay Annals (Catatan Tahunan Melayu)26 dikatakan bahwa pembangunan mesjid Demak pada jaman R. Patah alias Panembahan Jinbun tersebut tidak selesai selesai disebabkan karena adanya kesulitan untuk mendirikan atap dari konstruksi kayu dengan luas 31×31 M, sebab sebelumnya pertukangan setempat tidak pernah membangun bangunan dengan sistim

konstruksi kayu dengan bentang sebesar yang ada di mesjid tersebut. Itulah sebabnya Bong Kin San (Pang Jinshan), yang disebutkan sebagai ipar R. Patah, penguasa di Semarang menyediakan diri untuk menyelesaikan sistim konstuksi kayu dimesjid Demak yang tak kunjung selesai tersebut. Kin San membawa ahli-ahli pembuat kapal Cina dari pelabuhan Semarang, untuk membangun mesjid Demak tersebut. Itulah sebabnya sokotatal tersebut konsruksinya sangat mirip dengan teknik penyam bungan pertukangan kayu pada tiang-tiang kapal Jung Cina27 (Graaf, 2004: 23, Qurtuby, 2003:180).

Seperti halnya mesjid Jawa Kuno lainnya konstruksi utama mesjid Demak juga disangga oleh 4 buah tiang kayu raksasa yang dinamakan sebagai ‘sokoguru’. Salah satu dari tiang kayu tersebut tidak terbuat dari kayu utuh, melainkan dari kayu potongan (tatal) yang diikat menjadi satu. Dalam tradisi lisan versi lain (Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha), disebutkan bahwa sokotatal tersebut dibuat oleh Sunan Kalijaga dengan kesaktiannya yang hanya memakan waktu satu malam. Sementara 3 tiang lainnya masing-masing dipersembahkan kepada Sunan Ampel, Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati.

Kayu-kayu gelondongan yang dipakai untuk membangun mesjid Demak dibawa dari Semarang, tepatnya dari kampung Sekayu (asalnya tempat pengumpulan kayu, letaknya di depan gedung Bappeda Jawa Tengah sekarang). Di kampung sekayu ini juga terdapat mesjid kuno, yang populer dengan sebutan Mesjid Sekayu. Dalam Mesjid Sekayu ini banyak sekali terdapat lukisan dan tulisan aksara Cina (sampai sekarang masih bisa disaksikan dengan cara memanjat atap dan membuka eternit). Tradisi setempat mengatakan bahwa mesjid ini pembangunannya lebih awal dari mesjid Demak. Sistim struktur mesjid sekayu ini sama dengan sistim yang dipakai di mesjid Demak (memakai 4 buah tiang atau sokoguru).

Dari pengamatan Qurtuby (2003:188),  juga dijelaskan ada kesamaan bahan bangunan yang digunakan pada kelenteng Talang (1428) di Cirebon, dengan bahan bangunan yang digunakan di mesjid Demak. Bahan-bahan tersebut antara lain tegel bata kuno ukuran 40×40 cm, bata merah kuno ukuran 28×14 cm, serta banyak paku kuno segi empat. Selain itu juga cara penyelesaian hubungan antara kolom kolom struktur utama mesjid dengan tanah dipakai batu alam sebagai perantara. Batu tersebut disebut sebagai ‘umpak’ (dalam ilmu konstruksi perletakan seperti itu disebut sebagai perletakan sendi).

Precies deze meloenvormige, neute vindt men de klenteng’s aan de Noordkust en …. In Chinese moskeën van Canton” (Persis dengan batu umpak yang dijumpai di kelenteng-kelenteng yang tedapat di pesisir Utara Jawa). Sedangkan mengenai adanya serambi-serambi pada mesjid kuno Jawa Stutterheim pendapat nya adalah sbb: “zo typisch voor de kelenteng’s van Java” ( W.F. Stutterheim , De Kraton van Majapahit, Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor de Taal en Volkenkunde van Nederlandsch Indië VII, 1949, hal. 114).

Penyelesaian seperti itu menurut Stutterheim (1948:114), mengingatkan kita tentang batu umpak yang ada di kelenteng-kelenteng sepanjang pantai Utara Jawa, serta mesjid-mesjid Cina di Kanton tempat asal sebagian orang Cina yang menetap di Jawa. Juga menurut Qurtuby (2003:129), bentuk mustoko (hiasan yang ada di puncak atap mesjid), berbentuk bola dunia yang dikelilingi oleh 4 ekor ular jelas terinspirasi oleh tradisi Cina.

Hal lain misalnya tepatnya di “mihrab”(yang dianggap sebagai bagian yang paling tua di mesjid tersebut, yang belum banyak mengalami perubahan) di dalam temboknya terdapat gambar kura-kura.Lambang kura-kura ini mempunyai banyak makna. Menurut tradisi Cina jaman itu, lambang kura-kura merupakan simbol kemenangan dinasti Ming (1368-1644), saat berhasil mendirikan dinastinya. Tapi menurut S. Wardi (1950), gambar kura-kura tersebut bermakna tahun saka 1401 atau 1479 M (kepala=1, kaki=4, badan=0, ekor=1) atau candrasengkala“ Sarira Sunyi Kiblating Gusti” (Qurtuby, 2003:182).

Ada yang menafsirkan lambang kura-kura tersebut diimport dari dinasti Ming, sebagai simbol kemenangan Demak yang mampu menggulingkan Majapahit pada th. 1478.

Mengapa para sejarawan mempunyai kesimpulan yang berbeda, padahal benda yang dianalisis sama? Semuanya ini karena berangkat dari sudut pandang yang berbeda. Itulah sebabnya sah-sah saja kalau kita mempunyai pandangan yang berbeda pada suatu benda yang sama. Misalnya seperti gambar kura-kura pada mihrab mesjid Demak yang dibahas pada tulisan diatas.

Biasanya di belakang atau dilingkungan sekitar mesjid terdapat kampung yang dinamakan sebagai ‘kauman”. Mesjid Demak juga terletak di kampung Kauman.

“Kaum” berasal dari bahasa Arab : kwn, yang berarti suku bangsa, penduduk atau golongan. Pada awalnya terdapat  golongan masyarakat pedagang Islam di kota-kota Pesisir (Kudus, Pekalongan, Cirebon, dsb.nya) dan juga dipedalaman (Solo, Jogja dsb.nya) yang berdiam disekeliling mesjid Agung. Mereka yang bertempat tinggal di permukiman yang merangkap unit adminstratif itu disebut sebagai orang “kaum”. Lama kelamaan, daerah ‘khusus’ tersebut disebut sebagai “kauman”. Lihat Denys Lombard (1996), dalam buku Nusa Jawa Silang Budaya, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta , hal.112-113.

Daerah kauman merupakan daerah pedagang kelas menengah Muslim yang bermukim disekitar mesjid. Dulu daerah ini banyak dihuni oleh pedagang dan tukang Cina Muslim, yang bercampur dengan pedagang muslim setempat. Keluarga Cina–Jawa yang masuk Islam bergabung dengan masyarakat Kauman. Lihat: Graaf  H.J. De & Th.G. Th. Pigeaud (1998:183,186), Cina Muslim Di Jawa Abad XV dan XVI Antara Historis Dan Mitos (terjemahan dari: Chinese Muslim In Java in The 15 th And 16 th Centuries: The Malay Annals Of Semarang And Cerbon) , PT. Tiara Wacana Yogyakarta.

Seperti mesjid-mesjid Jawa yang dibangun pada abad ke 15 dan 16, di mesjid Demak pun terdapat hiasan piring dan hiasan lainnya yang ditempel di tembok yang bergaya Cina. Tentang bentuk atap yang bersusun dari mesjid Jawa Kuno (termasuk mesjid Demak) sudah lama menjadi perdebatan. Pijper (1947) dan Stutterheim (1948) menunjuk atap bertingkat seperti pada arsitektur Bali yang didasari atas kosmologi Hindu, sebagai ide dasar dari bentuk atap bersusun di arsitektur Jawa. Graaf (2004) dan Lombard (1996), menganggap adanya pengaruh Cina (atap pagoda) yang kuat pada mesjid-mesjid kuno Jawa, mengingat pada abad ke 15 dan 16 adalah jaman dimana para pedagang Cina Islam merupakan pedagang yang dominan dan banyak yang menetap di pantai Utara Jawa sambil menyebarkan keagamaannya.

Sumber: Sukmono, 1973. Gambar 7. Mesjid Demak yang diambil pada th. 1810, serambi depan belum ada, demikian juga dengan minaret atau menaranya.

Gambar 7A. Mesjid Demak pada akhir abad ke18, ketika mesjid dikelilingi oleh pagar dan gerbang pintu masuknya masih ada.

Mesjid Kudus (1537)

Mesjid Menara yang dulu dikenal dengan nama Al-Aqsa ini, juga terletak di daerah Kauman di Kudus. Menurut sejarah setempat, pendiri mesjid Menara (th.1537) ini adalah Kyai Ja’far Sodig atau Sunan Kudus. Pengaruh arsitektur Hindu terlihat jelas pada Menaranya serta gerbang-gerbang yang dipakai sebagai pintu masuk. Mungkin hanya Menara ini yang mempunyai bentuk asli atau sedikit mengalami perubahan. Tentang bangunan mesjidnya sendiri, berapa kali mengalami perubahan, tidak dicatat dengan jelas. Seperti mesjid Demak dan mesjid Kudus juga terdapat makam keramat.(letak makam lihat gb. dibawah). Atapnya juga bersusun 3 terdiri dari konastruksi kayu layaknya arsitektur mesjid Jawa Kuno.

Kudus dulunya bernama “Tajug” . Secara harafiah tajug berarti bangunan diatas makam yang beratap perisai dengan satu puncak. Nama Tajug, terdapat dalam ‘Serat Kandha’, yang diikhtisarkan oleh Brandes (Brandes, Pararaton, hal. 224-225), Graaf (1985:115)

Pengaruh Cina yang mencolok pada mesjid ini antara lain adalah hiasan-hiasan piring porselen Cina pada dinding-dinding mesjid. Bahkan di dinding Menaranya terdapat piring-piring yang berasal dari negeri Cina. Sebagai mesjid yang lebih muda dari mesjid Demak sistim konstruksi kayunya yang juga menggunakan 4 buah soko guru seperti halnya konstruksi kayu mesjid Demak. Merupakan suatu hal yang umum apabila konstruksi kayu yang digunakan mencontoh dari sistim konstruksi yang lebih dulu ada (mesjid Demak). Kalau benar sistim, konstruksi kayu mesjid Demak menurut sumber dikerjakan oleh tukang-tukang kayu Cina dari galangan kapal di Semarang, maka dapat disimpulkan bahwa sistim ini kemudian diadopsi oleh tukang-tukang setempat.

Di perkampungan Kauman dibelakang mesjid Menara Kudus sampai sekarang masih terdapat beberapa rumah tradisional Kudus yang penuh  dengan ukiran-ukiran. Menurut cerita tutur setempat ilmu pertukangan dan ukiran kayu di daerah Kudus adalah warisan dari Kyai The Ling Singa, yang makamnya terletak tidak jauh dari mesjid Menara Kudus dan tahun kematiannya diperingati setiap tanggal 15 suro (Muharam). Jadi jelas disini akan adanya pengaruh pertukangan kayu Cina di mesjid  dan rumah tradisional Kudus.

Denah Mesjid

Denah Mesjid

Gambar 11. Rumah tradisional Kudus yang letaknya tidak jauh dari komplek Mesjid Menara Kudus. Mesjid Menara terletak di daerah kampung Kauman. Daerah kauman merupakan daerah pedagang kelas menengah Muslim yang bermukim disekitar mesjid. Dulu daerah ini banyak dihuni oleh pedagang dan tukang Cina Muslim, yang bercampur dengan pedagang muslim setempat. Keluarga Cina–Jawa yang masuk Islam bergabung dengan masyarakat Kauman. Lihat: Graaf H.J. De & Th.G. Th. Pigeaud (1998:183,186), China Muslim Di Jawa Abad XV dan XVI Antara Historis Dan Mitos (terjemahan dari: Chinese Muslim In Java in The 15 th And 16 th Centuries: The Malay Annals Of Semarang And Cerbon), PT. Tiara Wacana Yogyakarta.

Mesjid Mantingan (1559), Jepara

“Mesjid Mantinan didirkan dengan lantai tinggi ditutup dengan ubin bikinan Tiongkok , dan demikian juga dengan undak-undakannya. Semua didatangkan dari Makao. Bangunan atap termasuk bubungan adalah gaya Tiongkok. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru. Sedang dinding sebelah tempat imam dan khatib dihiasi dengan relief-relief persegi bergambar margasatwa, dan penari-penari yang dipahat pada batu cadas kuning tua. Pengawas pekerjaan baik di Welahan maupun Mantingan tidak lain adalah babah Liem Mo Han” (Pramudya Ananta Toer – Arus Balik)

Bentuk mesjid Mantingan juga merupakan tipologi mesjid kuno Jawa (seperti konstruksi atap yang menggunakan sokoguru, atapnya bersusun tiga, adanya serambi didepan, denah yang berbentuk segi empat dsb.nya). Mesjid ini didirikan pada th. 1559 pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat. Th 1559 sesuai dengan ‘condro sengkolo’yang diketemukan di daerah mihrabnya.

Bukti naskah sejarah lokal, maupun sejarah tutur tentang arsitektur mesjid Mantingan dan keterlibatan pertukangan Cina cukup banyak. Mengapa hal ini jarang diungkapkan? Sejarah adalah sebuah interpretasi atas peristiwa masa lampau. Kalau latar belakang si penafsir berbeda maka hasil interpretasinya pun bisa berbeda. Malah dikatakan bahwa sejarah selalu ditulis oleh pihak yang menang. Itulah sebabnya Graaf (1985) menganjurkan ada penulisan sejarah Jawa dari sudut pandang ‘pesisir’ bukan hanya dari sudut pandang ‘pedalaman’ saja.  Dalam hal ini Graaf (1995:301-304) menunjukkan adanya peperangan antara daerah pesisir dan pedalaman pada sepanjang abad ke 17, yang akhirnya dimenangkan oleh kerajaan Mataram dari daerah pedalaman

Ukiran pada dinding mesjid yang terbuat dari batu padas kuning jelas bermotif Cina, merupakan salah satu bukti adanya campur tangan pertukangan Cina di mesjid ini. Bahkan R.A. Kartini (pahlawan wanita nasional yang asal Jepara) pernah menulis dalam kumpulan catatannya (Kartini, Door duisternis), mengatakan bahwa dia pernah mengunjungi tempat permakaman Sultan Mantingan (Pangeran Hadliri), dimana di dalamnya banyak terdapat ukir-ukiran dan serta rumah-rumahan yang bercorak Cina (Graaf, 1985:131).

Tokoh pertukangan kayu yang berperan besar di daerah Jepara adalah Tjie Wie Gwan. Menurut cerita tutur setempat makam Tjie Wie Gwan terletak diantara makam pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat. Bahkan ukir-ukiran kayu yang indah bergaya Cina di makam dalam komplek mesjid Mantingan tersebut diperkirakan orang setempat sebagai karya Tjie Wie Gwan, karena ia meninggal bertahun-tahun kemudian setelah meninggalnya Ratu Kalinyamat. (Qurtuby, 2003:137).

Tidak seperti halnya keahlian dalam membuat keramik, orang Cina lebih rajin menurunkan ilmunya kepada tukang tukang kayu setempat. Seperti dugaan Graaf (1985:133), bahwa pembuatan perabot serta ukiran ukiran kayu Jepara yang halus ini berasal dari orang orang Cina abad 15 dan 16 yang lampau.

Tjie Wie Gwan, yang menurut sejarah tutur di Jepara merupakan seorang Muslim China yang ahli dalam pertukangan kayu dan seni ukir pada masa Ratu Kalinyamat (abad ke 16). Tjie Wie Gwan dijuluki sebagai Sungging Badar Duwung (ahli pemahat batu). Makam Tjie Wie Gwan terdapat diantara makam Sultan Hadliri dan Ratu Kalinyamat (penguasa Jepara abad ke 16). Berkembangnya seni ukir Jepara ini tidak luput dari jasa Tjie Wie Gwan (Qurtuby, 2003: 137). Lihat juga Graaf (1985:133), tentang pengaruh pertukangan China terhadap ukiran-ukiran Jepara, sampai abad ke 20.

Sumber: Mesjid: Demak-Kudus-Jepara (Ismudiyanto, Parmono Atmadi) Gambar 13. Letak mesjid Mantingan tidak jauh dari kota Jepara.

Gambar 14. ukiran diatas batu padas kuning di mesjid Mantingan yang bercorak Cina, dengan gambar teratai. Tampak pada silhouete ukiran tersebut gambar gajah..

Gambar15. Denah komplek mesjid Mantingan dengan makam Ratu Kalinyamat dan Suaminya Pangeran Hadliri, yang terletak diatas perbukitan dipinggir jalan desa Mantingan yang menuju kearah kota Kudus. Di depan komplek mesjid tersebut terdapat sebuah kolam (yang konon dulu terdapat banyak sekali kura-kura jinak disana) dan sebuah pohon beringin

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

4 Balasan ke Pengaruh Pertukangan Cina pada Bangunan Mesjid Kuno di Jawa

  1. ml-embun berkata:

    askum…..btw…ak mau ngopi gambar peta dan lokasi makam mantingan boleh gak….? ini untuk dokumen di kantor, karena di kantor kami sangat membutuhkan keterangan dan gambar yang ada ini. terima kasih sebelumya…? mulyono kantor arsip jepara.

  2. fenny sulaiman berkata:

    Assalamu’alaykum wr wb.
    Kisah yg bpk tulis disini panjang sekali.
    Sy imohon izin utk berbagi di fb di kemudian hari yah Pak Iim.
    InsyaAllah sy balik lg berkunjung kesini.
    Terima Kasih.
    Jazak’Allah.

  3. bunda Ariz berkata:

    Aslm, Informasi yg sangat berharga. kalau boleh saya tambahkan tentang Gambar KURA_KURA pada Masjid Demak; menurut seorang “ustads Sepuh” yg pernah saya temui: Maknanya agar kita mengambil pelajaran dari perilaku kura-kura, mereka datang tengah malam (sunyi,sepi) kepantai lalu bertelur (memberi manfaat) sangat banyak, lalu menimbun telurnya ( jangan Riya’), setelah itu kembali kelaut dan meninggalkan telurnya dengan kepasrahan penjagaannya pada Allah (tawakal/berserah diri pada Allah). dengan kata lain: Berusaha, bekerja, memberi manfaat, Jangan Riya dan hasilnya berserah diri pada Allah.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s