Kisah Pandeglang menurut Juru Kunci Makam Kibuyut Papak



Kisah Pandeglang menurut Juru Kunci Makam Kibuyut Papak

Selepas mengunjungi seorang pengrajin Bedug di Kampung Parungsentul Kelurahan Karaton Kec/Kab Pandeglang (Sabtu,21/05), saya menyempatkan diri berkunjung kesebuah komplek pemakaman yang tertata rapih dan bersih yang terletak di daerah Cikupa Pandeglang.

Di Gapura yang dicat putih tertulis “ASTANA PANDEGLANG”, akhirnya mendorong saya untuk memasuki komplek pemakaman ini. Seorang ibu yang melintas akhirnya menunjukan bahwa disini terdapat sebuah makam keramat.

Terdorong oleh rasa penasaran, akhirnya saya putuskan untuk masuk kedalam dan melihat makam tersebut. Si ibu, akhirnya bercerita bahwa yang dimakamkan disini adalah Ratu Eyang Jumanten.

Makamnya yang terletak agak menjorok kedalam, berada tepat dibawah pohon Karoya/Beringin, pohonnya terlihat sangat tua dan lebat, sedangkan makamnya terdapat di dalam sebuah bangunan yang berbentuk leter L. Sambil mengantarkan kami, si Ibu akhirnya bercerita tentang keberadaan makam ini.

“Saya adalah istri dari juru kunci atau kuncen dari makam ini. Suami saya lah yang sering mengantarkan para penziarah ketempat ini. Jadi kalau bapak ingin tahu tentang sejarah dan asal-usul makam ini silahkan berbicara dengan suami saya. Rumah kami berada diujung jalan ini, silahkan bapak nanti tanya Amen Hamdani” ujarnya.

Setengah memaksa akhirnya saya bertanya kepada si ibu tentang tokoh yang dimakamkan disini. “Ratu Eyang Jumanten adalah seorang Ratu yang dulu pernah memerintah di Karaton. Dan disebelah kanannya adalah makam dari Ratu Asih Sukaesih yang merupakan adiknya, sedangkan yang ini adalah makam Kibuyut Hanafi” ujar si Ibu sambil menunjuk sebuah batu nisan yang dibalut oleh kain berwarna Kuning dan Putih untuk makam Ratu Asih sedangkan Kibuyut Hanafi nisannya ditutup oleh kain berwarna putih.

Karaton adalah sebutan atau nama lain untuk menyebut Kerajaan. Dan nama Karaton di Pandeglang menunjuk pada  sebuah kampung di Pandeglang, yang dikenal dengan nama Ciekek Karaton, sedangkan nama Karaton-nya sekarang dijadikan nama sebuah Kelurahan di Kabupaten Pandeglang. Terbersit suatu pertanyaan apakah benar dulunya didaerah tersebut terdapat sebuah Kerajaan atau Karaton..??

“Makam ini terkait erat dengan makam-makam yang berada di Pandeglang, misalnya dengan Situs di Ciwasiat dan Makam Kibuyut Papak di Ciherang” ujar si Ibu. Saat didesak ada hubungan apa Ratu Eyang Jumanten dengan Kibuyut Papak, ia tidak bisa menjelaskan lebih rinci.

Akhirnya berdasarkan penjelasan si Ibu yang sepotong-potong itu, saya putuskan untuk langsung berkunjung ke Makam Kibuyut Papak yang terletak di Kampung Ciherang.

Makam Kibuyut Papak di Ciherang

Masuk ke areal pemakaman ini, terlihat jalan yang sangat rapi tersusun dari paving blok, sebuah tugu kecil dan ditengahnya terdapat sebuah prasasti pembangunan, menerangkan bahwa jalan lingkungan ini dibangun pada tahun 2008 yang lalu. Jalan dengan lebar kurang lebih 1,5 meter ini, akhirnya mengantarkan kami ke sebuah bangunan yang disebelah kirinya terdapat sebuah pohon beringin lebat dan terlihat sangat tua, bahkan pohon beringinnya sebagian telah tumbang dan keropos.

Bangunan tersebut dikelilingi oleh makam-makam yang tersusun rapi, terlihat makam-makam tua dengan batu nisan berbahan batu mengelilingi bangunan ini. Didinding depannya terpasang sebuah prasasti yang menerangkan bahwa bangunan ini dibangun pada tahun 2004. Makam Kibuyut Papak sendiri terletak pada bangunan sebelah dalam, disisinya terdapat sederetan makam yang terlihat sangat tua. Makam Kibuyut Papak sendiri nisannya ditutup oleh kain putih, sayang sekali saat saya ingin masuk kedalam, sang juru kunci sedang tidak berada dilokasi. Seorang penduduk akhirnya menunjukan sebuah gubug yang biasa dipakai juru kunci untuk beristirahat, setelah mengambil beberapa gambar akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi rumah sang juru kunci.

Setelah mengucapkan salam, akhirnya sang juru kunci keluar tapi ia keberatan kalau dirinya diambil gambarnya, akhirnya setelah saya menjelaskan maksud dan tujuan saya datang kesini dan bersepakat untuk tidak mengambil gambar dirinya, ia pun mau menghampiri saya.

Saat bertemu dengan Sang Juru Kunci

Dengan menggunakan sebuah baju koko dan sarung yang melekat ditubuhnya, ia mempersilahkan saya duduk. Di awal pembicaraannya ia memohon maaf kalau dirinya sedang menjalankan puasa. Bentuk tubuhnya yang kurus dan memelihara janggut serta kumis yang agak panjang, memberikan kesan tersendiri bagi saya. Tubagus Mohammad Rafiudin demikian ia menyebut nama dirinya.

Obrolan saya awali dengan menanyakan keberadaan dirinya yang menjadi kuncen atau juru kunci di komplek pemakaman ini. Ia menjelaskan bahwa dirinya sudah menjadi kuncen atau juru kunci dimakam ini sejak 9 tahun yang lalu. Sebelumnya tugas mengurus makam ini dipegang oleh kakeknya Abdul Rojak yang kemudian diteruskan oleh Abdul Jawad, dan sekarang dirinyalah yang menjadi kuncen di makam ini.

Kibuyut Papak menurutnya mempunyai nama lengkap Raden Purba Jaksa Papak Agung Medang Singa Jaya Gumelar adalah murid dari Syekh Abdul Jabar yang makamnya terletak di Jalan AMD sekarang ujarnya mengawali pembicaraan. “Untuk mengetahui siapa tokoh Kibuyut Papak, saya harus menceritakannya dari awal, sehingga akan nampak keterkaitannya dengan nama Pandeglang yang sekarang digunakan untuk daerah ini” lanjutnya.

————————————————————

Sebelum membaca kisah ini, saya perlu jelaskan bahwa kisah ini hanyalah merupakan cerita yang disampaikan oleh Sang Kuncen atau Juru Kunci yang mungkin akan jauh dari Fakta Sejarah. Oleh karena itu, saya perlu mengingatkan bahwa kisah ini adalah hanya sekedar mitos dan legenda yang dipercaya oleh masyarakat, Bukan Fakta Sejarah yang didukung oleh  bukti-bukti sejarah.

————————————————————

Konon di Pandeglang terdapat sepasang suami istri yang memiliki kesaktian yang luar biasa, ujarnya mengawali cerita. Kedua orang tersebut adalah Ki Jagur dan Nyi Amuk, saking saktinya kedua orang ini, sehingga menarik perhatian Sultan Hasanudin yang saat itu menjabat sebagai Sultan Banten untuk meng-Islamkan mereka. “Saking saktinya orang ini, akhirnya Sultan Hasanudin pun meminta bantuan bapaknya Syarif Hidayatullah. Akhirnya dibantu dengan Syarif Hidayatullah, ia dapat menandingi kesaktian suami istri tersebut, akibat tidak tahan dengan perlawanan yang diberikan Sultan Hasanudin, kedua orang tersebut menyingkir dan kabur ke daerah Pantai Carita sekarang” ujarnya.

Tahun berganti tahun, akhirnya kekuasaan Kesultanan Banten pun semakin terjaga. Saat Banten akan diserang oleh Belanda, tiba-tiba dari arah Barat Kesultanan Banten terdengar dentuman keras yang berbunyi secara terus menerus. Sultan yang saat itu mendengar suara tersebut awalnya mengira Belanda telah memulai serangannya. Tapi berdasarkan keterangan penasehat-penasehatnya, mereka mengatakan bahwa Belanda tidak akan mungkin menyerang Kesultanan Banten dari Pantai Carita, ini terlalu jauh ujarnya.

Akhirnya Sultan Hasanudin menugaskan beberapa orang kepercayaannya untuk menyelidiki suara apakah itu. Maka berangkatlah utusan-utusan sultan ini kearah Carita, ketika sampai ditempat itu, rombongan terkaget-kaget karena suara yang menghasilkan suara dentuman yang sangat keras ini, ternyata berasal dari sebuah benda yang tidak berwujud. Mereka tidak dapat menjelaskan benda apakah itu, rombongan kemudian kembali kesultanan Banten sambil menceritakan hal ini kepada Sultan.

Akhirnya Sultan meminta bantuan Syekh Abdul Jabar (tokoh penyebar agama Islam didaerah Pandeglang) dan 40 orang kepercayaannya untuk mendampinginya membawa kedua benda itu. Dengan dibantu Syekh Abdul Jabar akhirnya Sultan Hasanudin berhasil membawa kedua benda tersebut. Ada kisah unik saat Sang Sultan dan Syekh Abdul Jabar diperjalanan, mereka sering berhenti ditengah perjalanan untuk istirahat, anehnya saat rombongan istirahat semua pohon yang berada disekitar tempat tersebut tiba-tiba mendadak mati, sekarang daerah tersebut dinamakan Kadu Paeh (paeh=mati). Perjalanan dilanjutkan dan saat rombongan istirahat lagi, kejadian terulang lagi, kali ini pohon-pohon yang terletak dikedua barang tersebut tumbang dengan tiba-tiba, tempat tersebut sekarang disebut orang dengan Kadu Bungbang (Bungbang=tumbang).

Akhirnya dengan usaha Syekh Abdul Jabar, diketahuilah bahwa sebenarnya kedua barang itu adalah merupakan penjelmaan dari Ki Jagur dan Nyi Amuk. Setelah berkomunikasi secara gaib, Syekh Abdul Jabar , maka diketahuilah bahwa Ki Jagur akan rela dibawa ke kesultanan Banten jika Hasanudin memberikan sebuah gelang untuk istrinya Nyi Amuk. Maka disepakatilah bahwa Sultan akan memberikan gelang tersebut sesaat setelah sampai di Keraton Kesultanan Banten.

Setibanya di Keraton Kesultanan Banten, Sultan Hasanudin mengumpulkan beberapa pandai besi (pande) untuk membuat gelang permintaan tersebut, tapi tidak satupun yang sanggup membuat gelang pesanan itu. Akhirnya atas saran Syekh Abdul Jabar, Sultan menugaskan seorang murid dari Syekh Abdul Jabar yang bernama Kibuyut Papak untuk membuat gelang itu.

Kibuyut Papak pun menyanggupi perintah ini, Ia sanggup melaksanakan tugas yang diberikan Sultan dan gurunya ini. Awalnya ia mencari bahan untuk membuat gelang tersebut di sebuah rawa yang sekarang disebut Sawah Ranca oleh masyarakat, letaknya di daerah Kampung Kabayan Cikole.

Batu Ngamprak

Setelah ia temukan bahannya, Kibuyut Papak segera membakar bahan tersebut pada sebuah batu yang oleh masyarakat disebut Batu Ngamprak, batu bekas membakar bahan itu pun dipercaya lokasinya terdapat di daerah Kampung Kabayan Cikole.

Batu Belah

Kemudian setelah bahan tersebut dibakar, Kibuyut Papak mencoba untuk mulai memukul-mukulnya, layaknya seorang pande. Bahan yang telah dibakar tersebut diletakan pada sebuah batu, untuk dibentuk menjadi sebuah gelang, karena kekuatan bahan gelang tersebut,  batu itu tidak dapat menahannya, oleh karena itu sampai sekarang batu tempat meletakan bahan gelang itu oleh masyarakat disebut dengan Batu Belah.

Citaman

Proses berikutnya, Kibuyut Papak memerlukan tempat yang terdapat cukup air untuk mendinginkan gelang yang telah dibuatnya. Dan untuk mencelupnya, Kibuyut Papak menuju ke daerah Citaman yang masih terletak di Kelurahan Kabayan.

Kibuyut Papak akhirnya dapat menyelesaikan tugasnya, gelang yang telah ia buat, ia serahkan kepada Sultan. Atas jasanya Sultan Hasanudin akhirnya mengangkat Kibuyut Papak sebagai penasehatnya. Dan tempat dimana ia membuat gelang tersebut sekarang dikenal dengan nama Pandeglang yang berasal dari dua suku kata Pande dan Gelang.

Itulah kisah atau cerita yang disampaikan Juru Kunci atau Kuncen Makam Kibuyut Papak. Banyak pertanyaan yang belum terjawab dari kisah atau cerita ini, misalnya apakah kedua barang yang dibawa oleh Sultan dari Pantai Carita tersebut adalah sebuah Meriam yang sekarang dijuluki Meriam Si Jagur atau Si Amuk yang sekarang disimpan di bekas reruntuhan kesultanan Banten ? Apakah Gelang yang dibuat Kibuyut Papak itu adalah gelang yang sekarang dipasang di meriam itu ?

Obrolan kami akhiri dengan pertanyaan-pertanyaan menyangkut banyaknya makam-makam keramat yang berada di sekitar Pandeglang. Menurut penuturan Rafiudin, hal ini terkait dengan tugas Sultan pada saat memerintahkan orang-orang kepercayaannya menyelidiki suara dentuman yang berasal dari Pantai Carita itu ujarnya.

Jumlah orang yang saat itu diperintahkan berjumlah 40 orang, dan kebanyakan dari mereka akhirnya menetap di Pandeglang sampai akhir hayatnya. Oleh karena itu wajar kalau sampai sekarang Pandeglang menyandang Status Kota Santri lanjutnya. Ada kepercayaan unik masyarakat didaerah ini, yaitu jika seseorang mencoba menelusuri keempat puluh orang ini, maka umurnya akan pendek, Wallahu a’lam bish-shawabi….

Terkait dengan makam yang terletak di Cikupa, Makam Ratu Eyang Jumanten, Rafiudin menjelaskan bahwa sebenarnya Ratu Eyang Jumanten bukanlah seorang Ratu yang memerintah di sebuah Kerajaan, melainkan ia adalah seorang Istri dari keempat puluh orang kepercayaan sultan tersebut. Suaminya bernama Ki Gelebeg petilasannya sekarang berada di Kampung Ciwasiat ujarnya.

Sedangkan nama Karaton sendiri awalnya adalah terjadi pada saat Kesultanan Banten diserang oleh Belanda, untuk mempertahankan kekuasaanya, pada saat itu Sultan memerintahkan agar Pemerintahan dialihkan ke daerah pedalaman dan menjalankan pemerintahannya dari sana. Maka dipilihlan daerah yang sekarang disebut dengan nama Karaton.

Keberadaan makam Kibuyut Papak menurut penjelasan Rafiudin adalah merupakan Pusat bagi makam-makam yang sekarang berada di Pandeglang ujarnya. Dan inilah diantaranya makam-makam yang menurut penuturan Rafiudin merupakan bukti dari kisah ini :

  • Makam Kibuyut Papak terletak di Kampung Ciherang
  • Makam Kisumedang terletak di belakang Lembaga Pemasyarakatan (LP)
  • Makam Aliyudin terletak di Cilautburung
  • Makam Kigelebeg terletak di Ciwasiat
  • Makam Ratu Eyang Jumanten terletak di Cikupa
  • Makam Entong Gumelar
  • Makam Ki Jaga Sakti di Kadubanen
  • Makam Ki Jaya Sakti di Pasir Kalapa
  • Makam Syekh Aksam
  • Makam Syekh Maulana Magribi di Kumalirang
  • Dan sederet makam-makam lainnya yang tidak sempat ia sebutkan.

——————————————–

Sederet pertanyaan yang belum terjawab pun akhirnya muncul dibenak saya, Kisah yang dituturkannya sangat jauh berbeda dengan buku-buku sejarah yang telah saya baca.

Akhirnya saya pun berkesimpulan apapun pertanyaannya, itulah kisah yang dituturkan juru kunci kepada kami.

Banyak Kisah, Cerita, Mitos atau Legenda yang dipercaya oleh masyarakat di suatu daerah, dengan berbagai versi dan penuturan yang berbeda, meski kisah-kisah tersebut jauh dari fakta sejarah, harus kita akui bahwa kisah-kisah ini sebagai kekayaan khasanah budaya kita.

——————————————–

kembali kehalaman pertama

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

15 Balasan ke Kisah Pandeglang menurut Juru Kunci Makam Kibuyut Papak

  1. Badri berkata:

    Wah mantap, makin nambah ni pengetahuan kita…

  2. Teguh berkata:

    Tantangan buat para sejarawan Pandeglang, banyak yang belum terungkap. Dengan tulisan di atas paling tidak bisa menjadi pelengkap untuk mitos/legenda yang populer di masyarakat…

  3. wardoyo berkata:

    Menarik sekali, Pak. Cerita rakyat – yang dibungkus mitos – biasanya memiliki kebenaran tersendiri. Upaya menuliskan kembali cerita rakyat dan mitos yang berkembang patut dihargai. Mungkin tidak sekarang tetapi barangkali suatu saat nanti akan bisa diungkapkan kisah sejarah sesungguhnya.
    Terimakasih untuk postingan ini.

  4. mohammad berkata:

    menurut silsilah ana keturunan ke 7 dari ki buyut papak, cuma ana blum tahu kebenarannya, tolong yang punya silsilah ki buyut papak ini di shared atau kirim email ke ana, tujuannya cuma satu menjaga hubungan silaturahmi saja, sukhron katsier

  5. muslim berkata:

    saya sangat mengharapkan buku sejarah geger cilegon yang saat ini belum saya miliki dan saya sangat senng dengan sejarah itu.

  6. nungky cihuy berkata:

    Cerita yang bagus dan mendidik mengenai sejarah pandeglang untuk generasi anak muda khususnya orang pandeglang,,,,,,,

  7. anugrah ilahi berkata:

    saya sangat senang mendengar cerita daerah saya sendiri.
    dan saya ingin tau lebih banyak dengan kota saya….

  8. rohmat berkata:

    alhamdulillah mohammad masih ada silsilah keturunannya..insyallah cerita tidak akan pudar klo sluruh keturunannya tahu..

  9. Cerita sejarah fiktif kang iim menambah wawasan kita tentang sejarah PANDEGLANG khususnya dan sejarah ini mungkin masih banyak lagi yang belum terungkap seperti sumur tujuh, syeh mansyur cikaduen dan masih banyak lagi. terus ya terus kang iim.’

  10. unariah berkata:

    saya baru tahu cerita asal usul pandeglang, walopunn sy sendiri orang pandeglang

  11. Adjie SaXa Langlangbuana berkata:

    saya dan segenap keluarga besar saya yg ada di kampung pasirkuntul,cikondang,dan juhud beterima kasih telah memuat dan mngabadikan pusara kakek buyut kami,,,,semoga allah memberikan petunjuk jalan yg lurus dan menjadikan anda orang yg selalu berbuat baik,,,

  12. wah wahh wahhhh
    saya orang kabayan cibunutt lama saya tinggal di sna tp baru skarang kisah kampung saya,,,
    dn sya berharap dengan ada nya cerita ini akan banyak sejarawan sejarawan yang lahir untuk mengungkap sejarah kota pandeglang

  13. Achmad Satibi berkata:

    Saya sangat senang msh ada org” yg mau menelusuri jejak para Ambiya,krn atas jasa”nya lah kita org pandeglang ini ada.
    yg jadi pertanyaan saya ada hubungan apa Ki Buyut papak dengan daerah yang ada di karoeng (Tegal Papak) ?
    yg tau riwayat mohon shared…haturnuhun>>>

  14. Rd Arman Kartasasmita berkata:

    Menarik sekali…..cerita Kibuyut Papak ini….cuma belum lengkap. Apakah ada hubungan dengan Pangeran Papak yang makamnya terletak di Cinunuk Garut ? Syech Abdul Jabar adakah cerita lengkapnya dan ajarannya? Dimanakah makam nya ? APakah sama dengan Syech Abdul Jabar yang makamnya berlokasi di Cibiuk Garut ? Mohon penjelasannya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s