Politik Adu Domba Belanda


Politik Adu-domba Belanda

Seperti kebiasaan yang dilakukan sultan-sultan sebelumnya, Sultan ‘Abulfath Abdul Fattah mengangkat putra pertamanya menjadi putra mahkota. Jabatan ini biasanya dikaitkan sebagai Mangkubumi pembantu atau Mangkubumi kedua dalam struktur pemerintahan.

Wewenang putra mahkota rupanya cukup besar, sehingga semua kebijaksanaan Sultan haruslah hasil musyawarah antara sultan, mangkubumi dan putra mahkota. Oleh karenanya putra mahkota pun mempunyai pembantu-pembantunya sendiri, seperti juga mempunyai pasukan dan sebagainya.

Pengangkatan Abdul Kohar menjadi Pangeran Gusti (Putra Mahkota) terjadi pada tanggal 16 Pebruari 1671, bertepatan dengan datangnya surat dari Syarif Mekkah, yang isinya antara lain bahwa Pangeran Gusti diberi gelar Sultan Abu’n Nasr Abdul Kohar.

Dari perkawinannya Sultan ‘Abulfath Abdul Fattah dikaruniai anak:

  • Dari istri Ratu Adi Kasum, puteri Pangeran Arya Iwardaya, dikarunia anak seorang yaitu
    • Abdul Kohar.
  • Dari istri Ratu Ayu Gede, berputera:
    • Pangeran Arya Abdul ‘Alim,
    • Pangeran Arya Ingayuja Pura dan
    • Pangeran Arya Purbaya.
  • Dari istri Ratu Siti, berputera:
    • Pangeran Sugiri.
  • Dari istri yang tidak disebut namanya. berputra:
    • Tubagus Raja Suta,
    • Tubagus Rajaputra,
    • Tubagus Husen,
    • Raden Mandaraka,
    • Raden Saleh,
    • Raden Arum,
    • Raden Mesir,
    • Raden Muhammad,
    • Tubagus Muhasim,
    • Tubagus Wetan,
    • Tubagus Muhammad ‘Arif,
    • Tubagus Abdul,
    • Ratu Jamiroh,
    • Ratu Ayu,
    • Ratu Kidul,
    • Ratu Marta,
    • Ratu Adi,
    • Ratu Ummu,
    • Ratu Majidah,
    • Ratu Habibah,
    • Ratu Fatimah,
    • Ratu Asyithoh, dan
    • Ratu Nasibah.

Putra Mahkota Sultan Abu’n Nasr Abdul Kohar diberi kuasa untuk mengatur semua urusan dalam negeri, sedangkan urusan luar negeri masih sepenuhnya wewenang Sultan Abdul Fattah.

Semenjak itu Sultan ‘Abulfath Abdul Fattah pindah ke istana yang baru di Pontang (kira-kira 13 km ke arah timur Surosowan, yang sekarang desa Tirtayasa) — karena itu diberi sebutan Sultan Ageng Tirtayasa. Keputusan ini diambil (mungkin) Sultan ingin memusatkan perhatian pada bidang pertahanan di Tangerang dan Angke; karena dari Tirtayasa keadaan di garis depan akan lebih mudah dikontrol, demikian juga keadaan di Surosowan pun akan cepat diketahui karena perhubungan antara kedua daerah sudah cukup baik.

Tapi dengan pindahnya Sultan ‘Abdulfath ke Tirtayasa ini, Belanda semakin mendapat kesempatan baik, karena sewaktu beliau masih di Surosowan, kompeni tidak dapat berbuat banyak karena memang Sultan dikenal dengan keteguhan sikapnya; Sultan ingin supaya kompeni Belanda hancur dan enyah dari bumi nusantara.

Dengan segala rayuan dan bujukan halus, kompeni berusaha mendekati Putra Mahkota, dan akhirnya, Putra Mahkota pun dapat dipengaruhinya. kompeni Belanda men-dapat banyak kemudahan, baik dalam bidang perdagangan maupun bidang lainnya. Bahkan dalam setiap acara penting di istana Surosowan, wakil kompeni selalu diundang hadir.

Kedekatan hubungan dengan kompeni ini sampai-sampai mempengaruhi cara pikir dan tingkah laku Putra Mahkota. Dalam kehidupan sehari-hari, cara berpakaian, makanan dan sebagainya, Putra Mahkota banyak meniru kebiasaan-kebiasaan orang Belanda, yang dirasa asing oleh rakyat Banten. Sehingga tidaklah aneh apabila sebagian besar rakyat dan pembesar kerajaan tidak menyenanginya.

Melihat keadaan demikian itu, Sultan Ageng Tirtayasa sangatlah prihatin. Dibujuknya Putra Mahkota untuk menu-naikan ibadah haji ke Mekkah, yang nanti pulangnya meninjau beberapa negara Islam. Diharapkan dengan cara demikian, kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak selaras dengan adat keislaman sedikit banyak dapat dihilangkan.

Di samping itu pula Putra Mahkota dapat memperluas wawasan berpikirnya, demi kemajuan Kesultanan Banten. Maka pada tahun 1674 berangkatlah Putra Mahkota Sultan Abu’nasr Abdul Kahar beserta rombongannya ke Mekkah, sekalian melawat ke negeri-negeri Islam lainnya. Perjalanan ini memakan waktu dua tahun pulang pergi.

Selama Putra Mahkota pergi ke Mekkah, pemerintahan di Surosowan dipercayakan kepada adiknya, Pangeran Purbaya. Mengingat sifat Pangeran Purbaya yang jauh lebih baik dari kakaknya, Sultan Ageng Tirtayasa banyak menyerahkan tanggung jawab kerajaan ke pundaknya.

Sehingga begitu Putra Mahkota pulang dari Mekkah, didapatinya Pangeran Purbaya lebih banyak mendapatkan kekuasaan dari ayahnya. Karena itulah terjadi adanya ketegangan hubungan antara Putra Mahkota (yang kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Haji) dengan Pangeran Purbaya. Demikian juga antara Sultan Haji dengan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa.

Keadaan demikian dimanfaatkan oleh kompeni untuk menghasut Sultan Haji dan berusaha mengadu-dombakan antara ayah dan anak. Sehingga timbullah keberanian Sultan Haji untuk menentang kebijaksanan ayahnya. Dan karena dianggapnya semua orang di istana memusuhinya, Sultan Haji lebih percaya kepada kompeni yang dianggapnya sebagai kawan sejati, dan dijadikannya orang-orang Belanda itu sebagai penasehatnya.

Dalam situasi yang demikian itu, datanglah tiga orang pangeran dari Cirebon. Mereka adalah Pangeran Martawijaya, Pangeran Kartawijaya dan Pangeran Wangsakerta. Ketiganya diterima baik oleh Sultan dan dijanjikan untuk menjadikan mereka sultan di Cirebon yang merdeka atas jaminan Banten.

Dengan bantuan beberapa prajurit pilihan dari Banten, mereka ditugaskan untuk menyusun kekuatan rakyat Cirebon yang nanti disiapkan menyerang kompeni dari arah timur. Tindakan Sultan membantu ketiga pangeran Cirebon itu ditentang oleh Sultan Haji, yang dianggapnya mencampuri urusan kompeni, dan ini berbahaya bagi rakyat Banten.

Biar pun perjanjian persahabatan telah ditandatangani, Sultan masih melihat adanya usaha kompeni untuk memaksakan monopoli perdagangan di Banten; bahkan mereka pun berusaha mengadu-domba antara rakyat dan pembesar istana. Karena itulah, secara diam-diam, Sultan membantu perlawanan rakyat terhadap kompeni Belanda.

Sultan membina hubungan baik dengan Trunojoyo di Jawa Timur dan Sultan Hasanuddin di Makasar. Dan, setelah perlawanan Trunojoyo dan Hasanuddin dapat dikalahkan Belanda, Sultan menerima prajurit-prajurit mereka bergabung untuk bersama-sama memerangi kompeni. Sultan membantu mereka dalam mengadakan kekacauan-kekacauan di perbatasan Batavia.

Pasukan ini pun berkali-kali mengadakan serangan gerilya pada pos-pos kompeni antara Cirebon dan Citarum, bahkan juga menyerang benteng kompeni di Tanjung Pura dekat Krawang.

———— kembali kehalaman pertama ————

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s