Perilaku Konformitas Masyarakat Baduy


PERILAKU KONFORMITAS  MASYARAKAT BADUY

Benarkah Masyarakat Baduy termasuk masyarakat yang berperilaku Konformitas ?, Konformitas adalah  sikap mengalah seseorang pada tekanan sosial, baik yang nyata maupun yang dibayangkan.  Pertanyaannya, adalah apakah warga Baduy tidak mengalami “keterpaksaan” dalam melakukan konformitas tersebut ? Bagaimana bentuk-bentuk perilaku konformitas yang dilakukan masyarakat Baduy ? Apakah semua warga Baduy melakukan konformitas ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentunya akan sangat menarik, berikut ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta tentang Perilaku Konformitas masyarakat Baduy, dengan peneliti terdiri dari Mulyanto, Nanik Prihartanti dan Moordiningsih.

Sejak digulirkannya deklarasi Renaisans pada abad pertengahan di Eropa, modernisasi, industrialisasi dan kemajuan teknologi dengan semangat positivisme telah menjadi arus utama yang mengglobal. Bangsa yang tidak menyesuaikan diri (conform) dengan arus utama ini, akan diklaim “ketinggalan zaman”.

Sejalan dengan itu, di Propinsi Banten, meskipun sering disebut juga mengikuti model pembangunan mainstream, namun di selatan ibukotanya masih terdapat komunitas adat terpencil. Sebuah komunitas yang hidup sangat sederhana dengan menggantungkan hidup terutama dari bercocok tanam padi dan tanpa menghiraukan dengan perkembangan zaman. Masyarakat yang sangat tertutup dari pengaruh budaya luar ini, dikenal dengan sebutan Masyarakat Baduy, orang Baduy atau orang Kanekes.


Komunitas ini mendiami lereng pegunungan Kendeng dengan luas wilayah sekitar 5.101,85 hektare. Secara administratif terletak di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Berkisar 160 km sebelah barat Kota Metropolitan Jakarta. Sebutan orang Baduy pada awalnya bukanlah berasal dari warga Baduy sendiri. Penduduk wilayah Banten Selatan yang sudah ber­agama Islam, biasa menyebut ’Baduy’ kepada orang-orang Kanekes yang tidak beralas kaki, pantang naik kendaraan, pantang sekolah formal, dan suka berpindah­-pindah seperti halnya orang Badawi di Arab.

Masyarakat Baduy terbagi atas tiga kelompok, yakni tangtu, panamping dan dangka. Meski demikian pengelompokkan yang sering digunakan oleh masyarakat umum hanya dua, yaitu Baduy Dalam (padanan untuk tangtu) dan Baduy Luar (padanan untuk panamping dan dangka).

Lembaga adat Baduy dipimpin oleh tiga orang puun. Ketiga pimpinan tertinggi ini berasal dari tiga kampung keramat di Baduy Dalam, yaitu Cibeo, Cikeusik dan Cikartawana. Puun adalah orang suci keturunan karuhun (leluhur) yang berkewajiban menjaga kelestarian pancer bumi dan sanggup menuntun warganya berpedoman pada pikukuh atau ketentuan adat mutlak sebagai panduan perilaku.

Keyakinan masyarakat Baduy bersumber dari ajaran Sunda Wiwitan. Ajaran ini melahirkan pikukuh sebagaimana titipan karuhun (leluhur). Pikukuh berdasarkan sistem budaya dan sistem religi Sunda Wiwitan inilah yang menyebabkan masyarakat Baduy memproteksi diri dari pengaruh modernisasi sekaligus menjadi pedoman perilaku orang-orang Baduy.

Prinsip yang dimiliki dan dijalani oleh masyarakat Baduy antara lain: tidak membangun permukiman dari bebatuan, semen, genting, paku atau produk industri modern lainnya. Berkali-kali tawaran pembangunan dari Pemerintah Propinsi maupun Kabupaten berupa pembangunan jalan, listrik masuk desa, balai pengobatan, sekolah hingga pengadaan alat tenun  ditolak masyarakat Baduy karena dianggap bertentangan dengan ketentuan karuhun dan adat.

Apabila puun sudah menimbang dan memutuskan sesuatu, maka keputusan itu pula yang akan dilaksanakan segenap warga Baduy. Akibat penolakan-penolakan terhadap modernisasi diatas, program pemerintah hanya bisa dilakukan sampai perbatasan wilayah Baduy Luar, yaitu sampai Desa Ciboleger.

Gambaran diatas menunjukkan, pada saat keluarnya pernyataan sikap lembaga adat, diwaktu bersamaan muncul pula konformitas warga Baduy. Keputusan lembaga adat, tidak akan memiliki kekuatan apapun tanpa adanya konformitas warga yang mendukungnya. Komunalisme tidak akan terjaga, jika tidak ada konformitas para penganutnya.

DATA DAN FAKTA

Data demografi orang Baduy pertama kali tercatat pada tahun 1888, berjumlah 291 orang yang menempati sepuluh buah kampung. Demografi masyarakat Baduy, sampai dengan perhitungan terakhir tahun 2006 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1 : Demografi Masyarakat Baduy

No

Tahun

Jumlah
1 1888 291 jiwa
2 1889 1.407 jiwa
3 1908 1.547 jiwa
4 1928 1.521 jiwa
5 1966 3.935 jiwa
6 1969 4.063 jiwa
7 1980 4.057 jiwa
8 1983 4.574 jiwa
9 1984 4.587 jiwa
10 1986 4.850 jiwa
11 1994 6.483 jiwa
12 2000 7.317 jiwa
13 2006 9.741 jiwa

(Sumber: Garna, 1993; Permana, 2005; Sapin, 2006)

Tahun 2006, populasi penduduk umumnya di dominasi oleh penduduk Baduy Luar yang mencapai 8.688 jiwa. Penduduk Baduy Dalam yang berdiam di tiga kampung keramat berjumlah 1.053 jiwa, terdiri atas 388 jiwa warga Cikeusik, 507 jiwa warga Cibeo, dan 158 jiwa warga Cikartawana. Populasi penduduk Baduy Dalam hanya 10,8 % dari keseluruhan penduduk Baduy yang mendiami 56 kampung di Desa Kanekes.

Konformitas dalam Bentuk Perilaku


Manifestasi konformitas dalam bentuk perilaku masyarakat Baduy dapat dilihat dari 1) cara berjalan orang Baduy, 2) aktivitas perladangan, 3) upacara ngawalu, ngalaksa, seba dan 4) aktivitas daur hidup.

1) Cara berjalan orang Baduy. Orang-orang Baduy mengenal istilah huyunan yang artinya berjalan beruntun satu per satu. Huyunan menjadi kebiasaan berjalan orang Baduy karena kondisi jalan setapak di lereng pegunungan Kendeng tempat mereka hidup yang lebarnya hanya berkisar 1-2 meter. Menariknya, cara berjalan ini tetap dipertahankan meskipun orang-orang Baduy tengah berjalan di jalan besar perkotaan yang bukan lagi jalan setapak. Tata cara berjalan orang Baduy mensyaratkan orang tua atau orang yang ditokohkan harus berjalan paling depan, artinya menghargai para tetua dan melambangkan dalam setiap aktivitas apapun, masyarakat selalu mengikuti aturan adat. Cara berjalan ini juga memiliki tujuan etis yaitu untuk mencegah orang membicarakan atau menjelek-jelekkan orang lain yang itu tidak dibolehkan oleh adat, karena berjalan berdampingan akan menstimulus seseorang untuk membicarakan keburukan orang lain.

2) Aktivitas perladangan. Orang Baduy merupakan peladang murni. Berladang merupakan tumpuan pokok mata pencaharian mereka. Sistem perladangan yang dikenal berupa per-ladangan berpindah. Aktivitas berladang disebut ngahuma. Bagi warga Baduy yang sudah berkeluarga, wajib memiliki huma sendiri dan mematuhi tata aturan perladangannya.

Tradisi orang Baduy mengenal 5 macam huma berdasarkan fungsinya, yakni huma serang, huma puun dan kokolot, huma tangtu, huma tuladan, serta huma panamping. Huma serang merupakan huma adat milik bersama. Penggarapan huma ini dikerjakan secara bersama-sama oleh segenap masyarakat Baduy, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar, dipimpin oleh pimpinan adat atau puun dengan waktu yang sudah ditetapkan oleh lembaga adat.

Tabel 2 : Sistem Kalender dan Aktivitas Warga Baduy 2006-2007

Bulan Baduy Sunda Masehi Aktivitas
1 Sapar / Kapat Kasa Mei 2006 Seba, narawas, nyacar
2 Kalima Karo Juni 2006 Inisiasi, perkawinan, muja
3 Kanem Katiga Juli 2006 Nukuh,selametan
4 Katujuh Kapat Agustus 2006 Ngaduruk, Ngaseuk serang
5 Kadalapan Kalima September 2006 Ngaseuk huma puun
6 Kasalapan Kanem Oktober 2006 Ngaseuk huma tangtu
7 Kasapuluh Kapitu November 2006 Ngaseuk huma warga
8 Hapit-lemah Kawalu Desember 2006 Mipit
9 Hapit-kayu Kasonga Januari 2007 Semi panen
10 Kasa Kasadasa Februari 2007 Kawalu tembeuy
11 Karo Desta Maret 2007 Kawalu panengah
12 Katiga Sada April 2007 Kawalu tutug, ngalaksa

Narawas, artinya mencari atau memilih lahan untuk dijadikan huma. Nyacar, berarti menebas rumput atau semak belukar. Nukuh, berarti mengeringkan rumput dan hasil tebasan lainnya. Ngaduruk adalah kegiatan membakar sampah yang telah dikumpulkan pada kegiatan nukuh. Ngaseuk, artinya membuat lubang kecil dengan menggunakan aseukan (penugal) untuk mananam benih padi. Menugal dilakukan oleh pria, sedangkan memasukkan benih padi ke dalam lubang tugalan dilakukan oleh perempuan. Ngirab sawan, membersihkan sampah bekas ranting dan daun atau tanaman lain yang mengganggu tanaman padi yang sedang tumbuh.

Mipit adalah kegiatan pertama kali memetik atau menuai padi. Tiga bulan saat pemanenan tersebut sering pula dikenal dengan bulan kawalu. Penelitian ini dilakukan pada bulan kawalu tengah. Dibuat, berarti menuai atau memotong padi (panen). Ngunjal, artinya mengangkut hasil panen padi dari huma ke lumbung padi.

Nganyaran, upacara makan nasi baru atau nasi pertama kali hasil dibuat di huma serang. Seluruh tata urutan perladangan di ikuti oleh masyarakat Baduy.

Berdasarkan uraian aktivitas perladangan, dapat disimpulkan kegiatan yang berpotensi memuncul-kan perilaku konformitas masyarakat Baduy yaitu, segala runtutan kegiatan yang berkenaan dengan huma serang, mulai ngaseuk serang sampai ngunjal. Setelah huma serang, kemudian huma puun dan kokolot. Jika warga tidak terlibat, maka sistem kebudayaan Baduy tidak akan berfungsi dengan baik, karena berangkatnya segala upacara adat di Baduy berawal dari hasil perladangan, terutama huma serang.

Partisipasi warga merupakan prasyarat berfungsinya sumber produksi yaitu ladang. Hasil produksi ladang merupakan prasyarat berfungsinya budaya, yaitu upacara adat. Oleh karenanya konformitas menjadi prinsip primer terkait berfungsinya budaya. Sesuai dengan uraian Kaplan (2002), konformitas penganut budaya menjadi keniscayaan berfungsinya sistem ekologi budaya setempat.

3) Upacara ngawalu, ngalaksa, dan seba. Ada tiga kegiatan upacara terkait dengan kegiatan perladangan yang harus diselenggarakan oleh orang Baduy. Ngawalu, adalah upacara dalam rangka “kembalinya” padi dari ladang ke lumbung dilakukan sebanyak tiga kali, masing-masing sekali dalam tiap-tiap bulan kawalu. Kawalu awal disebut kawalu tembeuy atau kawalu mitembeuy, kemudian kawalu tengah, dan terakhir kawalu tutug.

Ngalaksa, berarti kegiatan atau upacara membuat laksa, semacam mi tetapi lebih lebar, seperti kuetiaw yang terbuat dari tepung beras. Keterlibatan warga sangat dijunjung tinggi pada saat upacara ngalaksa karena upacara ini menjadi tempat perhitungan jumlah jiwa penduduk Baduy. Bahkan, bayi yang baru lahir maupun janin yang masih didalam kandungan juga akan masuk hitungan ketika upacara ngalaksa. Oleh karena sifatnya yang sakral, maka upacara ngalaksa dan kawalu tidak boleh disaksikan oleh orang luar, termasuk peneliti.

Seba, berasal dari kata nyaba artinya menyapa yang mengandung pengertian datang mempersembahkan laksa disertai hasil bumi lainnya kepada penguasa nasional. Substansi seba adalah silaturrahmi pemerintahan adat kepada pemerintah nasional seperti camat, bupati dan gubernur yang diadakan setahun sekali.

4) Aktivitas daur hidup. Berdasarkan hasil observasi di perkampungan Baduy, terlihat ke-hidupan sehari-hari orang Baduy berjalan secara rutin, mulai dari bangun tidur, makan, ke huma, sampai tidur lagi. Lebih jelas akan digambarkan dalam tabel berikut:

Tabel 3 : Aktivitas keseharian menurut waktu orang Baduy

Nama Waktu Pukul Kegiatan Kehidupan
Isuk-isuk 06.00-07.00 membereskan rumah, persiapan masak, ada yang mulai berangkat ke huma
Rangsang 08.00-10.00 memasak, mencuci, mengasuh anak, ke huma
Tengari 11.00-13.00 istirahat di huma, pulang ke rumah untuk makan, atau makan di huma
Lingsir 15.00-17.00 akhir kerja di huma, istirahat di huma atau langsung pulang ke rumah
Burit 17.30-18.30 pulang ke rumah dari huma, mandi, makan
Sareureuh budak 19.00-21.00 anak-anak istirahat dan tidur, dewasa masih berbincang-bincang di sosoro rumah
Sareureuh kolot 21.00- orang tua dan dewasa istirahat, mulai tidur
Tengah peuting 24.00- orang dewasa tidur, ronda malam bergerak
Janari leutik 02.00-03.00 bangun tidur bersiap ke huma / masih tidur



Konformitas dalam Bentuk Penampilan

Konformitas dalam bentuk penampilan akan terlihat pada pakaian dan tampilan keseharian orang Baduy, serta permukiman atau rumah orang Baduy.

a) Pakaian dan tampilan keseharian orang Baduy. Pakaian  Baduy Dalam berwarna putih dan hitam. Bahannya dibuat sendiri dari serat daun pelah yang ditenunkan oleh warga panamping. Lelaki tangtu menutupi tubuhnya dengan tiga bagian, yaitu: (1) ikat kepala berwarna putih (kecoklatan) yang sering disebut iket, telekung atau romal terbuat dari kain berbentuk segitiga, (2) baju berwarna putih, (3) sejenis kain sarung dengan panjang sekitar 30-40 cm, berwarna biru tua.

Baju yang dikenakan berlengan panjang, seperti kaos, tanpa kerah dan kancing. Sejenis kain sarung yang berfungsi sebagai penutup tubuh bagian bawah disebut aros, biasa dikenakan dengan cara dililitkan di pinggang kemudian diikat memakai tali dari kain, mirip ikat pinggang dengan ukuran sampai lutut. Lelaki Baduy Dalam (tangtu) tidak mengenakan celana dalam.

Adapun pakaian perempuan tangtu terdiri dari (1) kemben ’sejenis selendang’ yang digunakan untuk menutup tubuh bagian atas atau baju kaos dan (2) lunas atau kain untuk menutupi tubuh bagian bawah. Seringkali di kalangan orang tua, hanya menggunakan kain lunas saja. Perempuan tangtu juga tidak mengenakan pakaian dalam.

Pakaian Baduy Luar juga terdiri dari tiga bagian, (1) ikat kepala, (2) baju, dan (3) kain sarung atau calana komprang, sejenis celana pendek berukuran sebatas lutut. Warna khas pakaian warga panamping adalah hitam dan biru tua bermotif batik atau bergaris putih. Kain pakaian yang digunakan biasanya datang dari luar Baduy, seperti dari pasar Rangkasbitung, Tanah Abang Jakarta atau daerah lain yang kemudian di jahit dan ditenun sendiri.

Pakaian disebut jamang komprang atau mirip dengan baju orang tangtu hanya saja berkancing dan biasa memakai dua lapis, bagian dalam berwarna putih alami, sedangkan bagian luar berwarna hitam atau biru tua. Calana komprang yang dikenakan laki-laki Baduy Luar juga berwarna hitam atau biru tua.

Adapun pakaian perempuan Baduy Luar adalah kebaya berwarna biru dan kain dengan warna yang sama. Bahan pakaiannya juga diperoleh dari luar daerah. Namun, pakaian pada orang panamping baik lelaki maupun perempuan, hampir serupa dengan pakaian yang digunakan oleh masyarakat pedesaan di Banten umumnya. Keseragaman orang Baduy dalam berpakaian ini dilakukan karena:

Pertama, merupakan ajaran dari leluhur harus seragam. Kedua, ciri khas kelompok, kalau tidak seragam nanti tertukar antara orang Baduy dengan orang non Baduy dan intinya jangan sampai menyerupai penampilan orang luar. Ketiga, warna hitam-putih sebagai lambang dari waktu malam dan siang. Artinya manusia itu jangan terlalu banyak pikiran, sebab alam saja hanya ada dua pilihan: malam atau siang; ada senang, ada susah; ada gelap ada terang, dan itu abadi.

Baik orang tangtu maupun panamping tidak beralas kaki, hal ini dilakukan karena:  Pertama, ketentuan mutlak leluhur jadi harus seragam. Kedua, kalau pakai alas kaki, nanti menghilangkan ciri khas Baduy. Ketiga, kondisi geografis dapat membuat alas kaki cepat putus, dan karena hutan, pakai alas kaki juga percuma karena kaki akan tetap kotor. Keempat, merasakan alam karena menggambarkan keseimbangan dan kelestarian alam

b) Permukiman orang Baduy. Berdasarkan observasi, rumah orang Baduy nampak seragam. Semua terdiri dari kayu, bambu, kiray “daun rumbia”, ijuk pohon aren, rotan dan batu yang diperoleh dari alam sekitar.

Permukiman masyarakat Baduy berbentuk panggung, oleh karenanya terdapat kolong antara lantai rumah dan tanah dengan ketinggian antara 50-70 cm untuk rumah di panamping dan 70 cm-1,5 meter untuk rumah di tangtu. Rumah orang Baduy besarnya sekitar 7X5 meter pada umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu sosoro dan tepas ’bagian luar’, imah dan musung ’bagian tengah’, serta parak ’bagian dapur’. Semuanya disekat dengan bilik. Lebih jelasnya rumah orang Baduy memeiliki ciri: 1) selalu menghadap utara-selatan, 2) tidak menggunakan tembok, kaca, dan paku, 3) tidak ada jendela. Untuk sirkulasi udara dan penerang ruangan, hanya terdapat lubang kecil pada bilik dinding rumahnya, 4) tidak memiliki pagar pembatas halaman rumah, 5) di tangtu atau Baduy Dalam, lahan yang digunakan membangun rumah tidak diratakan terlebih dahulu sehingga konstruksinya disesuaikan dengan struktur tanah. 6) di panamping atau Baduy Luar, tanah yang digunakan untuk membangun rumah, diratakan terlebih dahulu.

Pemakaian paku dilarang dan tanah tidak boleh diratakan, karena Baduy berprinsip melestarikan alam, maka segalanya harus mengikuti kehendak alam, semua bentuk rumah seragam karena agar tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, jadi semuanya sama. Adapun teknis pembuatan rumah dikerjakan secara gotong royong.

Konformitas dalam Bentuk Pandangan

1) Pandangan tentang sekolah. Sekolah formal dilarang oleh adat, alasan pertama, karena menurut jaro Cibeo, cukup bagi orang Baduy mengurus wiwitan, sekolah formal itu untuk mengurus negara, biarkan orang luar yang mengurus negara. Kedua, kalau orang sudah sekolah, nanti pintar, kalau sudah pintar nanti akan berbuat semaunya yang itu tidak etis.

Meskipun tidak berpendidikan formal, sebagian masyarakat bisa membaca, menulis, dan berhitung. Hal tersebut dipelajari dari pengunjung yang datang ke Baduy. Bukti tulisan masyarakat Baduy terlihat pada kayu-kayu di rumahnya, yang ditulis menggunakan arang. Tulisan yang ditulis yaitu nama mereka sendiri.  Selain belajar dari interaksi dengan pengunjung, orang Baduy juga mengenal huruf dari abjad hanacaraka dan kolenjer (huruf-huruf sunda kuno).

2) Pandangan tentang penggunaan alat transportasi. Selain sekolah, keseragaman pandangan orang Baduy juga ada ketika merespon transportasi modern, seperti mobil, motor atau kereta. Namun, konformitas terhadap larangan penggunaan alat transportasi ini, hanya ada di Baduy Dalam saja. Bagi orang Baduy Dalam naik kendaraan merupakan salah satu pantangan, karena hal itu sudah melanggar adat dan akan dihukum adat. Larangan tersebut membuat para tokoh adat, termasuk puun melarang pula orang-orang tangtu berjalan terlalu jauh, seperti ke Jakarta atau ke Tangerang, karena khawatir jika nanti lelah kemudian naik mobil, lalu akhirnya terjadi pelanggaran adat. Meskipun tidak diikuti oleh para tokoh adat, orang Baduy akan mengaku sendiri jika dirinya melakukan kesalahan dengan naik kendaraan.

3) Pandangan tentang menjual padi. Prinsip dari orang Baduy adalah dari pada menjual lebih baik membeli. Padi dari huma tidak difokuskan untuk makan sehari-hari tapi untuk antisipasi hari tua. Adanya konformitas pada prinsip ini membuat ketahanan pangan masyarakat Baduy menjadi sangat kuat.

4) Pandangan tentang larangan memelihara binatang berkaki empat. Adat Baduy melarang memelihara binatang berkaki empat. Alasannya karena hewan tersebut perilaku seperti maling, dapat merusak alam, kebun atau tanaman milik orang lain yang selama ini dijaga kelestariannya.

5) Pandangan tentang pengobatan modern. Pada dasarnya tidak ada larangan dalam masyarakat Baduy untuk mengobati penyakit pada pengobatan modern, hanya saja penulis ingin mengungkap mengapa warga bersikap konform terhadap pandangan lembaga adat yang menolak program pemerintah untuk mendirikan puskesmas atau sejenisnya di perkampungan Baduy. Menurut para informan, karena sudah ada pengobatan tradisional maka, medis modern menjadi sekunder peranannya. Lagi pula di Baduy belum pernah ada wabah penyakit. Terbukti pada saat penelitian, tidak sedikit para pendatang dari luar yang sengaja datang ke perkampungan Baduy untuk mengetahui ramuan dari akar tertentu untuk obat-oabatan.  Seperti reumatik, asam urat dan sebagainya. Banyak para tokoh Baduy yang mengerti tentang obat-obatan. Bahkan umumnya warga yang telah berkeluarga, tidak asing dengan pucuk-pucuk daun yang mujarab menyembuhkan penyakit.

Berdasarkan paparan tentang perilaku konformitas yang terurai dalam bentuk aktivitas, penampilan, dan pandangan masyarakat Baduy diatas maka terlihat jelas konformitas dalam masyarakat Baduy merupakan konformitas yang memiliki kedalaman makna dan mengandung kearifan lokal nilai-nilai hidup. Konformitas menjadi perilaku yang dianjurkan, bahkan dipandang penting sebagai prasyarat berfungsinya tatanan kehidupan, tatanan budaya dan hubungan interpersonal warga Baduy.

Dalam budaya-budaya tertentu, konformitas tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang baik, hal itu bahkan menjadi prasyarat keberhasilan berfungsinya kebudayaan, kelompok dan hubungan interpersonal anggota budaya tersebut.

Adapun kondisi psikologis yang menyertai pelaku konformitas adalah:

  1. Konformitas dilakukan berdasarkan kehendak pribadi dan bukan paksaan.
  2. Warga tidak akan ikut campur bila ada yang nonkonformitas.
  3. Warga tidak merasa tertekan, bahkan konformitas adalah ekspresi aktualisasi diri.
  4. Warga betah tinggal di Baduy, meskipun aturan adat ketat namun bertujuan baik.
  5. Warga tidak ingin berbeda dengan ketentuan adat.
  6. Orang Baduy akan jujur, bila melakukan pelanggaran adat.

Berdasarkan data kondisi psikologis dan uraian sebelumnya, maka dapat disimpulkan sekurangnya ada empat faktor yang mempengaruhi konformitas dalam masyarakat Baduy. Yaitu 1) kepercayaan orang Baduy terhadap kelompok sebagai sumber kebenaran, 2) rasa takut orang Baduy terhadap penyimpangan dan pelanggaran, 3) kekompakan warga Baduy dan 4) besarnya ukuran warga Baduy yang sependapat. Keempat faktor yang diusung oleh psikologi sosial arus utama berdasarkan temuan-temuan riset tradisional dari budaya Barat atau Amerika (Sears, 1994; Brigham, 1991; Baron dan Byrne, 2000) diatas, berlaku pula daya terapnya dalam konteks masyarakat Baduy.

Faktor Lembaga Adat dan Faktor Budaya

Matsumoto (2004) mensinyalir, kendati psikologi arus utama ada beberapa aspek yang memiliki daya terap universal, namun dalam analisisnya terdapat bias negatif terhadap topik konformitas. Hal ini disebabkan karena perhargaan kultural orang Amerika pada nilai-nilai individualisme. Ada faktor-faktor utama lain yang tercerabut dari keempat faktor yang diusung psikologi mainstream diatas, yaitu faktor lembaga adat dan nilai-nilai khas budaya.

Lembaga adat. Keberadaan lembaga adat sebagai perangkat sistem berfungsinya mekanisme budaya, turut mempengaruhi terbentuknya konformitas dalam masyarakat Baduy. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, pada masyarakat Baduy terdapat beragam tokoh adat. Namun, pucuk pimpinan yang paling besar kekuasaan dan wewenangnya yaitu puun.

Puun tidak turun langsung mengawasi masyarakat Baduy yang jumlahnya hampir mencapai 10.000 jiwa, namun para tokoh adat selalu berperan aktif dalam mengontrol dan membina agar aturan adat tetap dilaksanakan oleh segenap warga  biasanya berupa anjuran dan nasehat.

Sangsi keras dikenakan bagi pelanggaran-pelanggaran berat, seperti berjinah, mencuri, merusak, mabuk dan berjudi. Bagi warga yang melakukan ini, akan diproses di lembaga adat dan biasanya akan dihukum antara 40-100 hari di dangka-dangka (Baduy Luar). Setelah dikucilkan dan di beri kesempatan bertaubat, baru bisa di kembalikan ke Baduy Dalam atau ke kampung semula. Selama masa hukuman 40-100 hari akan di didik, dibina, dikurung kain putih lalu di sumpah-sumpah adat, agar tidak melakukan kesalahan kembali.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan adanya faktor lembaga adat yang didalamnya terdiri dari puun beserta jajaran pejabat adat lain, turut mempengaruhi konformitas dalam masyarakat Baduy, hal ini diperkuat dengan sikap warga yang selalu membiarkan bila ada salah seorang diantara mereka nonkonform dengan aturan adat, karena bagi warga setiap perilaku nonkonformitas, itu sudah menjadi wewenang para tokoh adat.

Nilai-nilai Emik Baduy. Nilai-nilai emik adalah produk budaya yang bersifat khas budaya setempat (Matsumoto, 2004). Dalam konteks masyarakat Baduy, teridentifikasi ada beberapa nilai yang mempengaruhi masyarakatnya untuk menghargai perilaku konformitas. Seluruh nilai-nilai emik yang tercermin disetiap ajaran dan peribahasa Baduy tidak ada yang tertulis, karena orang Baduy menyakini lebih dulu cerita daripada tulisan. Oleh karenanya semua ajaran Baduy tercatat dalam memori para tokoh adat dan sebagian warga. Nilai-nilai tersebut adalah:

  • Kebermaknaan hidup. Orang Baduy menganggap hidup harus dijalani dengan sederhana, semampunya, dan sewajarnya. Pertama, hidup adalah untuk mencari kebahagian, bukan untuk mengejar materi. Kedua, tercukupi kebutuhan fisik; makan cukup, pakaian ada, dan bisa berbakti kepada orang tua. Ketiga, untuk mencari bahagia maka harus jujur, benar, dan pintar. Pintar saja tapi tidak benar, hal itu tidak indah. oleh karenanya jangan ada syirik, licik, jangan memfitnah, jangan berbohong, jangan selingkuh. Percuma hidup kalau hanya jadi tukang menipu dan menindas orang lain.
  • Makna hidup diatas adalah kualitas penghayatan yang bersumber dari nilai-nilai pikukuh sapuluh atau yang dikenal dengan ‘dasa sila’ Baduy. Pikukuh sapuluh berisi 10 prinsip hidup yang berfungsi sebagai panduan perilaku orang-orang Baduy. Isinya antara lain:
  1. tidak akan sewenang-wenang membinasakan makhluk hidup
  2. tidak akan mencuri dan merampas milik orang lain
  3. tidak akan ingkar tidak akan menipu
  4. tidak akan melibatkan diri pada minuman yang memabukkan
  5. tidak akan menduakan hati kepada orang lain (poligami / poliandri)
  6. tidak akan menikmati makanan jika matahari sudah terbenam
  7. tidak akan memakai bunga-bunga dan harum-haruman
  8. tidak akan melelapkan diri dalam tidur.
  9. tidak menyenangkan hati dengan tari, memainkan tabuhan, bersenandung atau bernyanyi yang bisa melupakan diri
  10. tidak akan memakai emas atau permata yang dapat membuat orang lain syirik dan dengki.

Makna hidup orang Baduy yang sederhana namun memiliki kualitas penghayatan yang dalam, kemudian menjadi satu panduan perilaku komunal.  Pada saat bersamaan mengarah pada kesetaraan dan saling menghargai antara sesama. Adanya dorongan untuk mempertahankan identitas kelompok menjadi kekuatan munculnya perilaku konformitas.

  • Konsep tanpa perubahan. Konsep keagamaan dan adat terpenting yang menjadi inti pikukuh Baduy adalah “tanpa perubahan apa pun”, sebagaimana tertuang dalam buyut titipan karuhun sebagai berikut:

gunung teu meunang dilebur

lebak teu meunang diruksak

larangan teu meunang dirempak

buyut teu meunang dirobah

lojor teu meunang dipotong

pendek teu meunang disambung

nu lain kudu dilainkeun

nu ulah kudu diulahkeun

nu enya kudu dienyakeun

Terjemahan bebas:

gunung tak boleh dihancur

lembah tak boleh dirusak

larangan tak boleh dilanggar

buyut tak boleh diubah

panjang tak boleh dipotong

pendek tak boleh disambung

yang bukan harus ditiadakan

yang lain harus dipandang lain

yang benar harus dibenarkan

Adat Baduy mengajarkan “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung” ’panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung’. Pikukuh tersebut menyiratkan bahwa segala sesuatu harus dijaga sebagaimana adanya, tidak boleh terjadi “rekayasa” yang akhirnya menyebabkan sesuatu berubah dari yang sesungguhnya. Ajaran inilah yang menjadi tonggak keseragaman perilaku, pandangan dan penampilan masyarakat Baduy. Terjadi penambahan dan pengurangan akan mengakibatkan ketidakharmonisan.

  • Konsep kebersamaan. Hubungan antar sesama manusia, bagi orang Baduy penting untuk menjujung tinggi harkat dan martabat. Rumah, pakaian dan pakaian sehari-hari menunjukan kesamaan. Tidak ada perbedaan antara “penguasa” dan “rakyat biasa” dan tidak ada perbedaan pula antara yang “kaya” dan yang “miskin”. Tidak ada perselisihan dan permusuhan. Sebagaimana nilai kebersamaan dibawah ini:

teu meunang pajauh-jauh leungkah

pahareup-hareup ceurik

pagaet-gaet lumpat

Terjemahan bebas :

tidak boleh berjauh-jauh langkah

berhadapan nangis

berdekatan lari

undur nahan tembong pundung

datang nahan tembong tarang

Terjemahan bebas:

pergi jangan perlihatkan kekecewaan,

datang jangan perlihatkan kesombongan

Kebersamaan telah menjadi cita-cita bersama masyarakat Baduy. Hal ini terlihat dalam kegiatan gotong royong yang selalu dilaksanakan, mulai dari membuat jembatan, membuat rumah, membuat saung lisung, ronda malam, bahkan aktivitas perladangan, seperti ngaseuk serang, dan upacara adat lainnya.

  • Konsep saling menghargai. Perilaku saling menghargai antar sesama warga sangat dijaga. Sekalipun tidak ada aturan tertulis, namun etika publik selalu dikedepankan.

mipit kudu amit

ngala kudu menta

nyaur kudu diukur

nyabda kudu diunggang

ulah ngomong segeto-geto

ulah lemek sadaek-daek

ulah maling papanjingan

Terjemahan bebas :

memetik harus ijin

mengambil harus meminta

bertutur haruslah diukur

berkata harulah dipertimbangkan

jangan berkata sembarangan

jangan berkata semaunya

jangan mencuri walau kekurangan

Komunalisme Baduy tidak berarti wilayah individu yang privat tercerabut. Baduy mengakui kepemilikan individu harus dihargai dan dijunjung tinggi, sehingga kemerdekaan orang lain diberi ruang sekaligus menjadi batas kemerdekaan individu. Seperti dalam bait: jangan berkata sembarangan karena akan menyakiti orang lain, jangan mencuri walaupun kekurangan, jika butuh lebih baik meminta baik-baik. Kekompakan kelompok akan terjaga dengan adanya penghargaan antara satu sama lain.

Berangkat dari uraian nilai-nilai emik diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku konformitas merupakan suatu perilaku yang dianjurkan oleh adat istiadat Baduy. Berdasarkan analisis diatas, maka adanya nilai-nilai emik yang lebih menghargai konformitas dibanding kemandirian, menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku konformitas dalam masyarakat Baduy.

Demikian faktor-faktor yang mempengaruhi konformitas dalam masyarakat Baduy berjumlah 6, yaitu:

  • 1) Adanya lembaga adat yang membina dan mengawasi perilaku warga Baduy,
  • 2) Adanya nilai-nilai yang lebih menghargai konformitas dibanding nilai-nilai kemandirian,
  • 3) Adanya kepercayaan orang Baduy terhadap kelompok sebagai sumber kebenaran,
  • 4) Adanya rasa takut orang Baduy terhadap penyimpangan,
  • 5)  Adanya kekompakan warga Baduy, dan
  • 6)  Besarnya ukuran warga Baduy yang sependapat.

Dinamika Terbentuknya Perilaku Konformitas Masyarakat Baduy

Pada bagian sebelumnya, telah ditemukan ada pengaruh nilai-nilai lokal dan “politik” (lembaga adat) yang melatarbelakangi terbentuknya perilaku konformitas dalam masyarakat Baduy. Artinya, perilaku ini tidak muncul dalam ruang-waktu yang kosong, melainkan lahir di tengah konteks ekologis yang turut membentuk entitas perilaku tersebut. Brofenbrenner (1989) berpendapat bahwa perilaku dipenga-ruhi oleh faktor-faktor dari luar. Faktor-faktor atau rangsang- rangsang dari luar itu tersusun dalam lingkaran- lingkaran yang  berlapis.

Berbeda dengan Chaplin (2002) yang berpendapat konformitas merupakan ciri pembawaan kepribadian yang cenderung membiarkan sikap dan pendapat orang lain untuk menguasai dirinya. Brofenbrenner tidak mengakui determinitas pembawaan kepribadian semata. Lewat pandangan ekologiknya (yang dipublikasikan tahun 1979-1989), Brofenbrenner berpendapat rangsang-rangsang dari luar dapat mempengaruhi perilaku. Rangsang itu tersusun dalam lingkaran yang terdiri dari 4 lapis dalam 1 lingkupan besar:

Lingkaran chrono-sistem:

Orang Baduy berkeyakinan dirinya sebagai masyarakat wiwitan ’pertama’ dalam sejarah jagat raya, sehingga keseragaman dan kesatuan mem-pertahankan wiwitan menjadi ide yang sudah berakar-urat dalam nadi kosmologi Baduy. Piranti-piranti mempertahankan kesadaran sejarah tersebut adalah lembaga adat dan para tokoh adat yang bertanggung jawab mengingat pesan-pesan leluhur atau cerita-cerita leluhur dalam bentuk ingatan.

Lingkaran makro-sistem:

Basis ideologi Baduy tercermin dalam setiap doktrin-doktrin turunan Sunda Wiwitan yang terdiri dari pikukuh sapuluh, konsep tanpa perubahan, nilai-nilai kebersamaan, dan saling menghargai yang semuanya mempengaruhi bagaimana cara orang-orang Baduy memandang kehidupan. Dalam doktrin tersebut terkandung nilai-nilai yang lebih menghargai konformitas dibanding nilai-nilai yang mendorong kemandirian, sehingga perilaku konformitas menjadi suatu produk yang niscaya, pirantinya masih para tokoh dengan cara:

lingkaran exo-sistem:

Adanya pewarisan budaya untuk menyampaikan pesan-pesan makro- sistem dan kesadaran chrono-sistem pada anak. Pirantinya adalah ’sakola pangertian’ bagi anak-anak Baduy, atau penyuluhan dari lembaga adat yang memupuk nilai-nilai konformitas dalam bentuk tutur maupun laku

lingkaran meso-sistem:

Adanya sistem kekerabatan antar keluarga dan hubungan interpersonal yang kuat sesama warga, contohnya dengan kebiasaan berkumpul antar tetangga di rumah salah seorang warga mulai siang hari sampai malam, dan begitu terus setiap harinya. Pola interaksi antar keluarga ini membentuk memori konformitas tersendiri dalam masyarakat Baduy.

lingkaran mikro-sistem

Adanya pewarisan nilai-nilai konformitas dalam keluarga. Anak lelaki harus seperti Bapaknya, anak perempuan harus seperti Ibunya. Keluarga adalah pusat pembinaan dalam menanamkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Baduy. Selain keluarga, terlihat pula sesama anak-anak Baduy yang saling bermain bersama-sama ke ladang, ke sungai, dan para remaja yang ‘nganjang’ beramai-ramai bertandang ke rumah seorang gadis bersama-sama.

Menggunakan pendekatan ecologi-cal psychology Bronfenbrenner, akhirnya dapat dipahami jika seorang anak dibesarkan dalam lingkungan mikro, meso, eko, makro, dan chrono sistem seperti diatas, maka akan sukar untuk menolak memiliki sifat dan kepribadian yang cenderung konformitas.

KESIMPULAN

  • Masyarakat Baduy, berdiam di sekitar pegunungan Kendeng (Banten Selatan), merupakan masyarakat peladang yang masih menjunjung tinggi kelestarian alam di atas segala-galanya. Gagasan memelihara pancer bumi dari bencana dan eksploitasi, menjadi pusaran bermuaranya perilaku, sikap, maupun pandangan komunal masyarakat Baduy. Hal ini tercermin dari pikukuh Baduy yang berbunyi “gunung tak boleh dihancur, lembah tak boleh dirusak.” Gambaran tersebut menampilkan salah satu sosok kekayaan budaya leluhur Nusantara, terutama yang berkaitan dengan pentingnya menjaga persatuan dan kebersamaan di atas visi kemakmuran bumi.
  • Konformitas masyarakat Baduy, tercermin dari tiga bentuk. Yaitu  perilaku, penampilan dan  pandangan. Setiap bentuk konformitas memiliki kedalaman makna berdasarkan kearifan lokal budaya Baduy. Pada budaya ini, konformitas tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang baik. Konformitas bahkan menjadi prasyarat keberhasilan berfungsinya tatanan budaya, tatanan kelompok dan hubungan interpersonal warga Baduy.
  • Ada 6 kondisi psikologis yang menyertai warga Baduy ketika melakukan konformitas terhadap aneka pikukuh adat wiwitan:
  1. Konformitas dilakukan berdasarkan motif internal
  2. Warga tidak akan ikut campur, bila ada yang nonkonformitas,
  3. Warga tidak merasa tertekan, bahkan merasa konformitas adalah ekspresi aktualisasi diri,
  4. Warga betah tinggal di Baduy, meskipun aturan adat ketat namun bertujuan baik,
  5. Warga tidak ingin berbeda dengan ketentuan adat, sebagaimana falsafah hidup “panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung”,
  6. Orang Baduy akan jujur mengakui, bila melakukan pelanggaran adat.
  • Ada enam faktor yang melatar-belakangi munculnya konformitas dalam masyarakat Baduy:
  1. Adanya nilai-nilai yang lebih menghargai konformitas dibanding nilai-nilai kemandirian,
  2. Adanya lembaga adat,
  3. Tingginya kepercayaan orang Baduy terhadap kelompok sebagai sumber kebenaran,
  4. Adanya rasa takut orang Baduy terhadap penyimpangan,
  5. Adanya kekompakan warga Baduy, dan
  6. Besarnya ukuran warga Baduy yang sependapat.

SARAN

  • Untuk masyarakat umum: ditengah beruntunnya bencana alam yang tengah menimpa negeri ini, layak dicermati makna di balik perilaku konformitas masyarakat Baduy, seperti penghargaan terhadap lingkungan dan pantangan mengeksploitasi alam, sebagai wujud kesadaran bertindak preventif daripada reaktif.
  • Untuk pemerintah: baiknya intesifitas dialog dengan para tokoh di lembaga adat harus lebih ditingkat-kan, dengan terlebih dahulu melepas atribut penilaian stereotip bahwa masyarakat Baduy “inferior“ “terbelakang“ atau harus di modernisasi, karena tidak sama istilah “pembangunan” dengan “modernisasi”.
  • Untuk masyarakat Baduy: mengenai kuatnya benteng aturan adat, secara tidak langsung telah mematahkan hegemoni kekuatan neoliberalisme yang telah meng-global. Namun, ada baiknya setiap niat baik yang direncanakan dan ingin dilakukan pemerintah nasional, direspon dahulu secara terbuka dan positif tanpa mengedepankan ke-curigaan di awal.
  • Untuk peneliti selanjutnya: sebaiknya penelitian dilakukan di kampung yang masih sangat sakral di Baduy Dalam, yaitu kampung Cikeusik, ini adalah kampung tertua di kawasan Baduy, karena tebalnya batasan adat, tidak banyak peneliti yang melakukan penelitiannya di sana secara langsung.

—————— kembali kehalaman pertama ——————

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

17 Balasan ke Perilaku Konformitas Masyarakat Baduy

  1. Tisan berkata:

    Sae pisan euy artikelna lengkap. disedot ku abdi yeuh, Hatur nuhun nya.. kang.

  2. m. Rahman berkata:

    Kok tulisannya sama dengan yg di PAHOMAN?

  3. politicosos berkata:

    Suatu deskripsi sempurna penggambaran masyarakat Baduy yang penuh dengan nilai luhur kejujuran dan konformitas, patut diteladani.

  4. lengkap sekaliii.. terimakasih.. btw saya juga baru saja mengunjungi Kampung Baduy Luar dan Baduy Dalam

  5. imam pekalongan berkata:

    sebenarnya saya pengen belajar lebih dalam tentang metode pertanian yang masyarakat baduy lakukan.

  6. iin kamaliddin berkata:

    Bagus mang……kami menta artikelna nyah….nuhun

  7. iin kamaluddin berkata:

    Bagus mang……kami menta artikelna nyah….nuhun

  8. irvan berkata:

    haturnuwun pisan, numpang sedot yah

  9. Riana berkata:

    kangen pak Narja di Cibeo..
    hatur nuhun peneliatiannya. saved.

  10. dede batubara berkata:

    Terima kasih atas info yang begitu lengkapa dan penting. Saya berencana akan meneliti kesehatan reproduksi di Baduy, kiranya berkenan jika ada yang ditanyakan.
    wass

  11. sukarno berkata:

    sikap mengalah menghasilkan kebaikan…

  12. hendi berkata:

    wahh menarik bgt… ijin saya share ya pak…

  13. gayung berkata:

    mantap sekali gambar gadisnya ahahay

  14. gayung berkata:

    nuhyun kang mantap

  15. azeemapontang berkata:

    minat cr anti peluru di baduy…..

  16. Syaefullah berkata:

    Hadir utk meramaikan!!
    :)

  17. ahmad sihabudin berkata:

    Terimakasih artikel hasil penelitiannya…sangat bermanfaat

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s