Cerita Kepahlawanan


TERLAHIR DI PANDEGLANG, MENJADI PAHLAWAN DI BOGOR

PANDEGLANG (26/04), Saat anda berkunjung ke Kota Bogor, sempatkan diri anda melintasi sebuah jalan yang menjadi Jalan Protokol di kota itu. Di jalan yang diberi nama Jalan Kapten Tubagus Muslihat itu terdapat sebuah Taman yang bernama Taman Topi. Tampak sebuah patung yang sedang menunjuk, dipinggangnya terselip sebuah pistol dengan nampak gagah. Ia adalah sosok pejuang dan pahlawan bagi masyarakat Bogor, Ia yang terlahir di Pandeglang dan menorehkan catatan sejarah bagi masyarakat Bogor. Berikut ini adalah tulisan yang saya kutip dari blog : http://www.iman-nugraha.net tentang perjalanan hidupnya.

Pindah-pindah Kerja

Kapten Muslihat memiliki nama lengkap Tubagus Muslihat. Anak Tubagus Djahanuddin yang memiliki dua anak. Beliau lahir pada Senin, 26 Oktober 1926, di Pandeglang. Waktu itu sedang ramai-ramainya kaum Komunis memberontak terhadap pemerintah Belanda.

Tubagus Muslihat bersekolah di HIS Rangkasbitung, namun hanya sampai kelas tiga. Selanjutnya beliau pindah ke Jakarta dan meneruskan sekolah HIS-nya hingga tamat tahun 1940. Kemudian melanjutkan ke Taman Siswa bagian MULO sampai kelas dua. Keluarnya Muslihat dari sekolah karena kondisi saat itu yang tidak memungkinkannya melanjutkan sekolah. Beliau kemudian bekerja di Bosbow Proefstation (Balai Penelitian Kehutanan) di Gunung Batu, Bogor. Baru beberapa bulan bekerja terjadilah perang Pasifik.

Tentara dan pemerintah Hindia Belanda menyerah. Kota Bogor saat itu diduduki oleh tentara Jepang. Kapten Muslihat berhenti dari pekerjaan tahun 1942, ketika Jepang sudah menduduki Kota Bogor. Tahun 1943, Muslihat bekerja di Rumah Sakit Kedung Halang sebagai juru rawat. Namun tidak terlalu lama, kemudian pindah lagi ke jawatan Kehutanan.

Masa Berjuang

Saat ada kesempatan dan peluang menjadi Tentara Pembela Tanah Air untuk memperjuangkan Nusantara, Muslihat langsung mendaftar menjadi tentara PETA. Setelah lulus beberapa kali testing, beliau diterima jadi Shudancoo di Bogor bersama dengan Tarmat, Ishak Djuarsa, Abu Umar dan Bustomi.

Tanggal 14 Agustus 1945, tentara Jepang menyerah ke Sekutu, saat kota Hiroshima dan Nagasaki di bom Sekutu. Meskipun hanya sampai di Bogor namun berita tersebut membuat heboh, terutama diantara bangsa Jepang dan tentaranya.

Kalau sebelumnya mereka petantang-petenteng besar kepala, saat itu kelihatannya mereka ketakutan dan banyak yang kebingungan. Semua anggota PETA yang ada dikeluarkan dari asramanya oleh tentara Jepang setelah sebelumnya senjata dan larasnya dilucuti.

Hanya saja Muslihat dengan beberapa orang temannya latihannya bisa keluar dari asrama sembari membawa pistol dan pedang. Selanjutnya bersama anak buahnya aktif berjuang di BKR dan bekerjasama dengan organisasi pemuda lainnya seperti: API, AMRI, KRIS dan Pesindo. Muslihat menjaga keamanan di dalam kota sambil sekalian mengambil barang rampasan dari tangan Jepang.

Selanjutnya merebut kantor dan perusahaan milik Jepang agar menjadi milik Republik Indonesia. Disebabkan memiliki sikap yang tegas, segala perintah dan sikapnya diikuti oleh semua anak buahnya.

Pemerintah RI, secara de jure dan de facto, akhirnya resmi didirikan di Kota Bogor, BKR dibubarkan dan dijadikan TKR oleh Jenderal Urip Sumohardjo. Tubagus Muslihat diangkat jadi Komandan Kompi IV Batalyon II TKR dengan pangkat Letnan Satu (Lettu).

Pada bulan Oktober 1945, keadaan Kota Bogor sangat genting. Tentara Inggris dan Gurkha masuk kedalam kota dan disusupi oleh NICA. Yang pertama kali didatangi adalah tangsi Batalyon XIV bekas Jepang yang memang telah dikosongkan.

Merasa sudah kuat, lama kelamaan dan lambat laun mereka mulai mempertontonkan kekuasaannya. Salah satunya, Kota Paris, tempat nyonya-nyonya dan anak-anak Belanda (RAPWI) berkumpul, seterusnya direbut dan jadi wilayah kekuasaannya.

Keadaan didalam Kota Bogor tambah kacau, tingkah laku Inggris ternyata lebih congkak daripada Belanda. Mereka ingin merebut istana yang saat itu dijaga oleh para pemuda kita.

Perundingan antara petinggi kita dan Inggris gagal, dengan berat hati para pemuda meninggalkan istana dengan perasaan kecewa sekali.

Akibat sikap Inggris yang terlalu menyakitkan hati bangsa kita, akhirnya terjadi peperangan pada tanggal 6 Desember 1945 antara bangsa kita dengan tentara Inggris. Meski hanya menggunakan bambu runcing dan peralatan perang seadanya, istana Bogor dan Kota Paris jadi tempat peperangan yang sangat dahsyat.

Siang dan malam pasukan kapten Muslihat terus menyerang kedua tempat tersebut seperti tidak kenal lelah dan kata mundur. Satu malam sewaktu Kapten Muslihat bersama keluarganya, seperti sudah mendapatkan firasat, Kapten Muslihat bercerita bahwa dirinya tidak bisa terus berjuang.

Ke orangtuanya beliau menuturkan bahwa sekiranya anaknya yang masih dalam kandungan lahir supaya diberi nama Gelar Merdeka.

Gugur Di Medan Laga

Suatu saat, tanggal 25 Desember 1945, Kapten Muslihat diikuti dengan beberapa anak buahnya, salah satunya adalah adiknya yaitu Gustiman (Muslihat tidak mengetahui bahwa adiknya ikut dalam rombongannya) menggempur kantor polisi yang ada di Jalan Banten (sekarang jadi nama Jalan Kapten Muslihat).

Kedua belah pihak baku tempat di tempat persembunyian. Merasa kesal karena perang tidak ada hasilnya, Kapten Muslihat berdiri lantas menembak, terlihat beberapa musuh berjungkalan. Namun sebaliknya tidak tahu datangnya darimana, salah satu peluru musuh menembus perutnya.

Namun demikian Kapten Muslihat tetap berdiri sambil menembak meski tak terhitung lagi berapa butir peluru menembus badannya. Peluru tersebut (hasil bedah memperlihatkan bahwa peluru yang menembus Muslihat berjenis dum-dum) menyobek kulit perutnya hingga bersimbah darah.

Melihat keadaan Muslihat, Gustiman menghampirinya sembari memeluk, akan tetapi Kapten Muslihat memerintahkan adiknya agar segera menyingkir, khawatir jumlah korban bertambah.

Tanpa diketahui satu peluru mengenai punggungnya, Kapten Muslihat roboh, tubuhnya bersimbah darah. Kaos yang tadinya putih berubah jadi merah. Membasahi tubuh dan tanah air. Akhirnya dengan susah payah lantaran terus menerus dihujani tembakan, jasad Kapten Muslihat bisa diangkat dan dibawa kerumahnya di Panaragan (salah satu nama kelurahan di Bogor Tengah. Letaknya sejajar dengan jalan Veteran) oleh barisan PMI dan dibantu anak buahnya.

Sebelum sekaratul maut, Muslihat berpesan ke orangtuanya agar uang simpanannya yang berjumlah Rp 600 supaya diinfaqkan ke fakir miskin.

Kepada teman-teman kerjanya dan anak buahnya yang gugur memerdekakan negeri beliau memberikan pesan untuk meneruskan perjuangan. Urang pasti meunang jeung Indonesia bakalan merdeka (Kita pasti menang dan Indonesia bakalan merdeka).

Meninggalnya Kapten Muslihat disaksikan oleh Dr. Marzoeki Mahdi (sekarang menjadi salah satu nama rumah sakit di kawasan Cilendek). Sambil mengucapkan takbir “Allahu Akbar” tiga kali, dalam keadaan tenang, pasrah, Kapten Tubagus Muslihat menghadap ke Yang Menciptakan, Yang Mewafatkan dan Yang Merajai Alam Dunia, kembali ke asal. Keesokan harinya jasadnya dikuburkan dalam keadaan masih perang dan meninggalkan istri yang sedang mengandung.

————– kembali ke halaman awal ————–

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s