Lahirnya Kebiasaan / Tradisi Maca Syekh di Tatar Banten


PANDEGLANG (19/04)

LAHIRNYA TRADISI MACA SYEH DI TATAR BANTEN

(BAGIAN IV)


PANDEGLANG, Pada bagian ini, kita akan membahas terlahirnya kebiasaan/tradisi Maca Syekh di Banten, berdasarkan Hasil Laporan Akhir Penelitian yang dilakukan oleh Ruby Ach. Baedhawy. Banten, di mata orang luar, sampai kini masih dikenal sebagai daerah yang memiliki penduduk yang religius. Meskipun proses Islamisasi Banten banyak menimbulkan spekulasi di kalangan para ilmuwan dan sering menimbulkan perdebatan yang sengit, tetapi yang jelas proses Islamisasi itu terjadi bukan melalui jalan tunggal. Perdagangan dan aliansi politik antara pedagang dan kesultanan memainkan peran penting di dalamnya. Bahkan di beberapa peristiwa diceritakan, Islam menyebar melalui jalan peperangan. Namun demikian peranan guru-guru sufi melalui jaringan tarekatnya memiliki andil besar dan menentukan dalam proses tersebut.

Tarekat merupakan kelompok spiritual yang dapat menyesuaikan diri dengan tiap kelompok dan juga dengan aneka ragam kebangsaan yang diwakili di dalam Islam. Kemampuannya dalam menyesuaikan diri tersebut, menyebabkan tarekat menjadi sarana yang baik bagi penyebaran agama Islam. Merupakan fakta nyata dan diakui bahwa sebagian besar wilayah di Indonesia dan di berbagai wilayah dunia lainnya seperti Afrika dan Asia Tengah diislamkan oleh para sufi yang tak kenal lelah dan yang didalam kehidupannya mengajarkan tentang kewajiban-kewajiban dasar Islam, seperti cinta kasih, kesederhana dan kepercayaan pada Allah, cinta kasih pada Nabi Muhammad dan sesama makhluk hidup, tanpa mempergunakan pemikiran-pemikiran yang logis atau penerapan yuridis yang ketat. Para sufi juga menggunakan bahasa lokal dan bukannya bahasa Arab kaum terpelajar. Mereka mengajarkan tentang penghormatan, bahkan dalam beberapa hal mirip suatu pemujaan, kepada Nabi Muhammad Saw. Para sufi dalam mengkisahkan Nabi Muhammad sebagai tokoh yang dilingkupi selubung mistis dan kisah mistis, bukan sebagai tokoh sejarah melainkan sebagai kekuatan trans-sejarah, sangat dipuja sebagaimana dibuktikan oleh nyanyian rakyat yang tak terhitung banyaknya, tersebar di seantora nusantara bahkan di seluruh jagat yang telah berhasil diislamkan.

Sebelum Islam masuk secara masal ke Nusantara, penduduk negeri ini memiliki kecenderungan besar kepada hal-hal spiritual. Hal ini terkait kosmologi yang mereka miliki. Penduduk Nusantara pada umumnya memiliki keyakinan bahwa pusat-pusat kosmis, yakni: pusat pertemuan antara dunia fana (kehidupan dunia kita ini) dengan alam supranatural, memainkan peran penting dalam kehidupan mereka. Pusat-pusat kosmis yang diyakini memiliki kekuatan tersebut adalah kuburan para leluhur, gunung, gua dan hutan tertentu serta tempat-tempat lain yang dianggap keramat. Mengunjungi tempat-tempat keramat untuk memperoleh kekuatan spiritual sudah sejak lama menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan di wilayah ini. Tempat-tempat tersebut tidak hanya diziarahi sebagai bentuk ibadah saja tetapi juga dikunjungi untuk mencari ilmu (ngelmu) yakni kesaktian dan legitimasi politik.

Setelah penduduk negeri ini memeluk Islam terjadi perubahan orientasi tentang pusat kosmis. Tempat-tempat suci dalam Islam, seperti Mekkah dan Madinah, dipandang sebagai pusat kosmis utama. Sehingga Makkah dipandang sebagai pusat dunia dan sumber ngelmu, yakni sumber kesaktian, kedigjayaan dan legitimasi politik. Bacaan-bacaan Islam yang ditulis dengan bahasa Arab pun dianggap lebih tinggi tingkat kesaktian dan kemanjurannya dari pada bacaan-bacaan lokal. Sehingga para raja di Nusantara, termasuk Banten, berlomba mengirim utusan ke Makkah untuk mencari pengakuan dari sana dan meminta gelar “sultan”. Para raja tersebut beranggapan bahwa gelar yang diperoleh dari Mekkah akan memberi sokongan supranatural terhadap kekuasaan mereka. Sebenarnya, di Mekkah tidak ada institusi yang pernah memberi gelar kepada penguasa lain. Para raja di Jawa, khususnya di Banten, rupanya menganggap bahwa Syarif Besar, yang menguasai Haramain (Mekkah dan Madinah) memiliki wibawa spiritual atas seluruh negeri muslim. Rombongan utusan dari Banten pulang selain membawa gelar “sultan” juga membawa berbagai hadiah dari Mekkah, diantaranya potongan kiswah, kain hitam yang menutup Ka’bah yang setiap tahun diperbaharui, yang dianggap sebagai jimat yang sangat berharga.

Dalam sejarah Banten pun dikisahkan bahwa pendiri dinasti Islam di Banten, Sunan Gunung Djati dan anaknya Hasanuddin, yang dikemudian menggantikan posisi ayahnya sebagai penguasa Banten, setelah mereka bertapa di berbagai tempat keramat yang selama ini dipandang sebagai pusat kosmis di Banten, pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah.  Kepergian mereka menunaikan ibadah haji tidak hanya semata ibadah, tetapi merupakan suatu perjalanan untuk menuju pusat kosmis, untuk mendapatkan kekuatan spiritual dan kesaktian (ngelmu). Karena itu mereka juga menjadi pengikut suatu tarekat.

“Hai anakku ki mas, marilah kita pergi haji, karena sekarang waktu orang naik haji, dan sebagai pula santri kamu tinggal juga dahulu di sini dan turutlah sebagaimana pekerti anakku”! setelah ia berkata-kata, maka lalulah ia brjalan dengan anaknya dan dibungkusnya dengan syal. Maka tiada beberapa lamanya di jalan lalu ia sampai di Makkah, maka lalu di Masjidul Haram. Sampai di Masjidul Haram maka lalu dikeluarkannya anaknya dari dalam bingkisan, lalu sama-sama ia thawaf ke Baitullah serta diajarkannya pada kelakuan thawaf dan do’anya sekalian, serta mencium pada hajarul aswad, dan ziarat pada segala syaikh, dan diajarkan rukun haji dan kesempurnaan haji. Setelah sudah ia mendapat haji, maka lalu ia ziarat kepada Nabiullah Khidir. Setelah sudah ia ziarat kepada Nabiullah itu, lalu ia pergi ke Madinah serta mengajarkan anaknya ilmu yang sempurna, beserta dengan bai’at. Demikianlah silsilah dan wirid dan tarekat Naqsabandiyah serta zikir dan talkin zikir (dana) khirqah serta syughul…

Para penguasa Banten memakai gelar maulana atau sultan di depan nama mereka. Maulana Makhdum adalah gelar untuk Sunan Gunung Djati, demikian pula dengan Hasanuddin, Yusuf dan Muhammad memakai gelar keagamaan di depan nama mereka. Gelar Maulana biasanya dipakai untuk ulama yang berpengetahuan luas atau gelar untuk para guru sufi. Gelar itu dipakai untuk menunjukan bahwa para penguasa Banten ini memiliki legitimasi bahwa mereka adalah orang yang telah mencapai derajat wali atau memiliki pengetahuan keagamaan yang luas dan kekuatan esotorik (ngelmu).

Legitimasi masyarakat atas adanya kekuatan sakti dan pengetahuan keagamaan yang luas yang dimiliki oleh para sultan Banten merupakan salah satu faktor yang menjadi sumber kekuasaannya. Hal ini bisa dipahami karena rakyat mentaati kekuasaannya atas dasar keyakinan bahwa kesaktian atau kekeramatan sultan dapat menimbulkan bencana atau memberikan pertolongan. Keyakinan seperti ini, sampai kini masih bisa ditemukan dalam tradisi tarekat dan debus yang berkembang di Banten. Sunan Gunung Djati dan Maulana Hasanuddin adalah nama-nama yang sering disebut dalam setiap pembacaan wasilah dan do’a ketika ada acara tertentu.

Penggunaan tarekat sebagai jaringan sosial dan sumber kesaktian dan ilmu kedigjayaan juga sangat menonjol pada saat-saat melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Wilayah Banten dikenal sebagai daerah di pulau Jawa yang paling sering terjadi kerusuhan menentang pemerintah Hindia Belanda semenjak aneksasi kesultanan Banten. Para penggerak perlawanan tersebut adalah para tokoh agama, yakni para kiyai dan guru-guru tarekat. Para kiyai dan guru-guru tarekat itu sering menganjurkan kepada para muridnya untuk melakukan dzikir dan membaca do’a-do’a tertentu, dengan tujuan untuk mendapatkan kesaktian atau ilmu kedigjayaan agar kebal terhadap senjata, tidak terlihat oleh musuh dan sebagainya.

Pengaruh tasawuf atau tarekat dalam masyarakat hingga kini masih sangat terasa. Salah satu tarekat yang hingga kini terkenal di Banten adalah Qadiriyah wa Naqsybandiyah. Pengikut tarekat ini pun tersebar secara luas di masyarakat. Pembacaan manaqib Abd al-Qadir al-Jaelani masih dapat dengan mudah ditemukan di hampir seluruh penjuru di Banten. Pembacaan manaqib ini dikenal dengan wawacan seh, yang memuat tentang cerita-cerita penuh teladan dan perbuatan ajaib sang wali. Tradisi pembacaan manaqib ini di Banten telah ada semenjak paruh pertama abad ke-17. Hal ini terlihat pada abad itu sudah adanya adaptasi pembacaan manaqib tersebut dalam versi Jawa yang menggunakan dialek Banten-Cirebon.

Pembacaan manaqib dilakukan tidak hanya di lingkungan para pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsybandiyah, tetapi juga di lingkungan masyarakat umum. Pembacaan manaqib tersebut tidak hanya berfungsi untuk mengenalkan, mensosialisasikan atau tindakan pemujaan tentang sosok Abd al-Qadir al-Jaelani, tetapi juga dipercayai memiliki pengaruh dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Pembacaan manaqib tersebut percayai dapat menolak bala, memohon perlindungan, atau mengusir setan. Karena itu, pada setiap acara pembacaan manaqib tersebut tidak hanya dilakukan pada peringatan hari kematian sang wali, pada tanggal 11 Rabi ‘al-Akhir, tetapi juga pada saat-saat tertentu, seperti akan melakukan pesta pernikahan atau khitanan, membangun gedung atau membuka usaha baru.

Pembacaan manaqib ini juga sering dipakai oleh para pemain debus. Selain memakai ratib Riffa’iyah, pemain debus juga sering mengiringi dengan pembacaan manaqib ini. Fungsinya adalah untuk memohon perlindungan para wali, terutama dari Abd al-Qadir al-Jaelani, yang dianggap memiliki kekuatan dan kesaktian.

———————————-

Sejarah Masuknya Tarekat Qadiriah ke Banten

Para ahli sejarah (tarekat), selalu mengidentifikasi kemunculan tarekat qadiriah ke Banten dengan hubungan spiritual-intelektual antara Mekah dan Banten yang telah terjalin sejak tahun 1630-an, ketika Sultan Ageng Tirtayasa melakukan kontak keagamaan dan politik dengan penguasa Mekah dan beberapa ulama di Timur Tengah. Disamping untuk mendapatkan legitimasi politik-keagamaan dari Mekah, kontak tersebut Sultan jalin untuk mendapatkan bimbingan spiritual-keagamaan dari sejumlah ulama besar yang tinggal di Mekah. Salah satu ulama yang membimbing dan mengajarkan berbagai ilmu-ilmu keislaman adalah Syeikh Yusuf al-Makassari, guru tarekat yang merupakan satu mata rantai dalam silsilah tarekat Qadiriah.

Hubungan kedua pribadi tersebut begitu kuat dan akrab. Hal itu terefleksi dalam fakta bahwa ketika Syeikh Yusuf kembali dari Mekah, ia tinggal di Banten dan bukan di tanah kelahirannya, diwilayah Kesultanan Gowa yang saat itu dibawah pengaruh kekuasaan VOC. Meskipun fakta ini sering dikaitkan dengan kebencian perenial Syeikh Yusuf kepada penjajah yang ketika itu memiliki pengaruh kuat di Gowa, kedatangannya ke Banten dan bukan ke kesultanan lain di Nusantara, menegaskan kedekatannya secara personal dengan Sultan Ageng Tirtayasa.

Bahwa keduanya memiliki hubungan yang akrab makin dipertegas oleh fakta bahwa Syekh Yusuf al-Makassari kemudian diangkat sebagai penasehat resmi kesultanan Banten masa Sultan Ageng Tirtayasa yang berkuasa 1651-1682. Pengaruhnya sedemikian dalam dan luas, sehingga Sultan Ageng sendiri merasa perlu ‘mengikat’ Syeikh Yusuf dengan menikahkan putrinya kepada ulama besar tersebut.

Setelah meninggalnya Syekh Yusuf al-Makassari dan Sultan Agung Tirtayasa, tidak ada data sejarah yang dapat diandalkan untuk mengidentifikasi fakta apakah tarekat qadiriah masih memiliki perkembangan dinamis dan memiliki pengaruh kuat dikalangan elit aristokrat Banten. Karenanya masuk akal bila tidak ada satupun studi dilakukan untuk meneliti apakah tarekat qadiriah masih dipraktekan pada masa pemerintahan Sultan Haji (1676-1687), Sultan Abulfath Muhammad Yahya (1687-1690), Sultan Abulmahasin Muhammad Zainul Abidin (1690-1733), Sultan Abulfath MuhammadSyafei Zainul Arifin (1733-48), dan Sultan Abul Mahali Muhammad Wasi Zainul Halimin (1752-1753). Periode 70 tahun ini bisa disebut sebagai historiographical gap dalam sejarah tarekat qadiriah di Banten. Miskinnya data sejarah pada periode ini telah menyebabkan indikasi bahwa Sultan Haji sendiri adalah murid tarekat Syeikh Yusuf1 dibiarkan tanpa ada elaborasi.

Tujuh puluh tahun setelah Sultan Agung Tirtayasa, Historiographical gap tersebut teratasi dengan ditemukannya sebuah manuskrip dari Banten yang ditulis tahun 1186/1772 di Perpustakaan Universitas Leiden. Manuskrip tersebut disimpan di bagian koleksi naskah timur (cod.or. 1842). Naskah ini dirujuk oleh Voorhoeve dengan ‘Risalah Qadiriah.’ Dalam manuskrip tersebut dijelaskan berbagai makna istilah-istilah tasawuf, metode zikir, dan signifikansi ketaatan kepada para shaykh sufi. Paragraf akhir dalam teks manuskrip tersebut berisi anjuran kepada pembaca untuk memberikan hadiah fatihah kepada para sheikh silsilah. Dalam kolofon teks tersebut, tertera bahwa bahwa seorang Shaykh Mekah memberikan otoritas kepada Sultan Arif Zain al-Ashiqin (berkuasa 1753-1777) untuk mengajarkan isi ajaran dalam manuskrip tersebut. Dalam pemberian ijazah tersebut, sultan dirujuk oleh penulisnya dengan al-khalifah al-sultan ibn al-sultan abu an-nasr Muhammad arifin al-ashyiqin al-qadiri al-alwani al-rifa’i al-bantani al-shafi’i. Gelar yang diberikan oleh penulis naskah tersebut menjelaskan tidak hanya posisi spiritual sultan Arif Zain al-Ashiqin dalam silsilah tasawuf sebagai khalifah tarekat qadiriah, tetapi juga tingkat pengaruh tarekat tersebut di Banten.

Apakah tarekat tersebut memiliki pengaruh terbatas dilingkungan kaum elite istana banten atau juga memiliki ribuan pengikut loyal dan militan yang berasal dari masyarakat biasa? Sejumlah argumen historis menyatakan bahwa organisasi masa tarekat dengan jalinan hubungan guru murid yang hirarkis dan normatif serta jaringan masa pengikut tarekat merupakan sarana komunikasi dan mobilisasi masa efektif.

Dalam historiografi pemberontakan menentang penjajah, kita temukan berbagai indikasi jelas peran tarekat dan para pengikutnya yang militan dalam pemberontakan tersebut. Ribuan masa militan yang loyal dan turut berjuang dibelakang Sultan Ageng Tirtayasa menentang penjajah disebut-sebut adalah pengikut fanatik tarekat, murid-murid Syeikh Yusuf al-Makassari. Loyalitas dan militansi aktivis perjuangan menentang penjajah pada peristiwa Geger Cilegon tahun 1888 adalah buah motivasi dan agitasi spiritual khalifah tarekat Qadiriah, Kyiai Marjuki, murid tarekat yang mendapatkan ijazah dari Khalifah tarekat kenamaan dari Tanara, Syeikh Abdul Karim. Bahkan dibawah pengaruh Abd al-Karim, tarekat ini menjadi luar biasa populernya di Banten. Hal yang sama juga berlaku untuk perjuangan Muslim banten tahun 1926 yang dipelopori oleh Achmad Khotib yang disebut-sebut telah menggunakan jaringan luas pengikut tarekat seorang khalifah qadiriah dari Caingin dan sekaligus mertuanya, Syaikh Asnawi Caringin, murid Syeikh Abdul Karim dan seorang kyiai yang paling berpengaruh di Banten pada perempat pertama abad 20.

Apakah ini berarti bahwa para anggota kesultanan banten adalah pengikut taat tarekat Qadiriah? Jawaban afirmatif terhadap pertanyaan ini haruslah dianggap sebagai sebuah premis bahwa pengamalan ajaran tarekat didasarkan pada tujuan untuk mendapatkan kekuataan spiritual dari sejumlah orang suci (awliya), sehingga menegaskan posisi eksklusif mereka di mata rakyatnya.

———————————-

Khalifah-khalifah Tarekat dan Peranannya dalam Penyebaran Ajaran Tarekat Qadiriah di Banten

Sejumlah literatur dan individu (yang diwawancara-i), menominasikan sejumlah nama dibawah ini sebagai khalifah-khalifah tarekat qadiriah di Banten. Diskusi prosofografis (biografi dan karya) tokoh-tokoh ini sangat bergantung pada literatur dan data yang tersedia. Diskusi ini akan dilakukan secara kronologis:

(1) Syekh Yusuf al-Makassari (1626-1699)

Salah seorang ulama Indonesia pertama yang secara eksplisit mengakui bahwa dirinya adalah pengikut, pengamal dan pengajar tarekat qadiriah adalah Shaykh Yusuf al-Makassari. Meskipun ia lahir di Gowa, kiprah intelektual dan spiritualnya sebagian besar didedikasikannya bagi kesultanan dan masyarakat Banten. Ulama besar ini masuk dalam lima silsilah tarekat sekaligus

(2) Syekh Abd al-Karim dari Tanara (1830- )

Menurut Martin, kharisma Syekh Abdul Karim menyebabkan tarekat qadiriah wa Naqsyabandiah berkembang dengan sangat cepat di Banten.

(3) KH.Tb. Muhammad Asnawi dari Caringin (1846-. 1956)

Syeikh Asnawi adalah putra pasangan KH. Mas Abd al-Rahman dan Nyai Ratu Syabi’ah. Ia mendapatkan pendidikan agama tingkat dasar dari ayahnya yang wafat saat Syeikh Asnawi berusia 15 tahun. Oleh keluarganya, ia dikirim ke Mekah untuk melanjutkan studinya dibawah bimbingan Syeikh Nawawi al-Bantani, Syeikh Hasbullah al-‘Ama, dan Syeikh Abd al-Hamid al-Makki. Ia juga mendapatkan pengajaran tarekat dari dua tokoh tarekat terkenal Syekh Ahmad Khatib al-Sambasi dan Syeikh Abdul Karim al-Tanahari.

Otoritasnya dalam dunia tarekat tidak hanya tercermin dalam pengakuan yang diterimanya sebagai khalifah tarekat qadiriah wa ‘l-naqsabandiah dari gurunya, Syekh Abdul al-Karim, tetapi juga dalam karya yang disusunnya, al-Salasi al-Fadiyah fi Bayan Kaifiyyah al-A’mal bi ‘l-Tariqatayn al-Masyhuratayn: al-Qadariyyah wa al-Naqsabandiyyah (Cibeber, 1354 H.)

Syeikh Asnawi disebut-sebut sebagai Kiai paling kharismatis tahun 1920-an yang memiliki jaringan murid yang sangat luas di Banten, Sebagian dari mereka mendapatkan ijazah dan menjadi khalifahnya diberbagai daerah di Banten: Abd al-Latif ibn Ali di Cibeber, Ahmad ibn Asnawi di Menes, Ki Armin dari Cibuntu.

(4)  Syaikh Abdul Hamid Muhammad Moekri al-Quty dari Karabohong, Labuan (1870-1959)

Menurut cicitnya, Buya Moekri mendapatkan ijazah sebagai khalifah tarekat di Banten dari Syaikh tertinggi tarekat Qadiriah wa Naqsabandiah Syaikh Abdul Karim dari Tanara dan KH. Safiuddin. Ia juga mendapatkan gelar al-Quty ketika ia belajar di Mekah dari seorang ulama Magribi terkenal, Sayyid Fahanni al-Maghriby.

Buya Moekri berperan sentral dalam mengkonsolidasi masa pengikutnya yang loyal dan militan untuk terlibat aktif dalam pemberontakan menentang kekuasaan kolonial di Banten. Seorang cucu pengikut tarekat Syaikh Moekri dari Petir, juga menegaskan bahwa keterlibatan kakeknya dalam pemberontakan tersebut karena militansi dan loyalitasnya sebagai pengikut tarekat Syaikh Moekri tersebut.

Peran Buya Moekri dalam mengkonsolidasi masa pemberontak itu terefleksi misalnya dalam cerita berikut. Pada malam tanggal 12 November 1926, 800 petani (baca: pengikut tarekat) dikumpulkan oleh Syaikh Moekri di daerah Bama. Berpakaian serba putih dan dengan mengibarkan panji bertuliskan ‘Dengan Pertolongan Allah segala sesuatu dapat dicapai,’ mereka melantunkan doa, wirid, dan amalan tertentu, sebelum melakukan penyerangan ke tempat-tempat yang mereka sudah targetkan

———————————-

Tarekat Qadiriah dan Tradisi Pembacaan Manaqib (Wawacan/Hikayat Seh) di Banten

Meskipun keberadaan tarekat qadiriah di Banten tidak serta merta menjelaskan keberadaan praktek pembacaan manaqib, namun kedua fakta itu seperti hubungan antara pelangi dan sinar matahari. Mengidentifikasi keberadaan titik-titik air saja tidak cukup untuk mengidentifikasi keberadaan dan faktor-faktor yang menimbulkan pelangi tanpa idenfitikasi faktor sinar matahari. Analognya bahwa tidak mungkin tradisi pembacaan manaqib abdul qadir jaelani muncul di Banten tanpa didahului oleh tradisi mengagungkan, memuliakan dan memelihara ajaran-ajaran tokoh dan pendiri tarekat Qadiriah ini.

———————————-

Tradisi Pembacaan Manaqib di Banten

Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai kapan tradisi pembacaan Manaqib di Banten muncul dan berkembang. Drewes dan Poerbatjaraka berargumen bahwa tradisi membaca manaqib sudah muncul di Banten sejak abad ke-17. Mereka mendasarkan argumennya pada pembacaan mereka terhadap bahasa sejumlah teks manaqib yang tersebar di beberapa tempat di Banten dan Cirebon. Menurut mereka, bahasa yang digunakannya adalah bahasa jawa kuno abad ke-17.

Martin van Bruinessen menyanggah argumen tersebut dan mengidintifikasinya sebagai argumen yang berlebihan dan sangat spekulatif. Menurut Martin van Bruinessen, tradisi pembacaan Manaqib menjadi popular di Banten sekitar tahun 1880-an seiring dengan intensitas penyebaran tarekat Qadiriah.

Ketika menjelaskan proses bagaimana tradisi pembacaan manaqib tersebut popular di Banten, Martin merujuk kepada praktek popular para Shaykh tarekat Qadiriah yang menterjemahkan dan mengadaptasi berbagai teks manaqib kedalam beberapa dialek lokal tempat para pengikutnya tinggal.

Argumen Martin van Bruinessen menyisakan sejumlah persoalan misalnya kapan teks manaqib pertama kali diterjemahkan dan diadaptasi kedalam bahasa lokal Banten; Shaykh siapa yang mengambil inisiatif untuk melakukannya?

Cukup sulit untuk mencari jawaban dua pertanyaan tersebut dalam karya-karya Drewes dan Poerbatjaraka maupun dalam karya-karya Martin sendiri, karena premis sejarah apakah kemunculan tarekat Qadiriah berbanding lurus dengan perkembangan tradisi pembacaan Manaqib.

Meskipun tidak lepas dari spekulasi, J.P. Millie (2006) mencoba mengajukan jawaban eksplisit terhadap dua pertanyaan tersebut.11 Menurutnya, istana kesultanan Banten adalah tempat penterjemahan teks-teks Arab kedalam bahasa lokal. Tak terkecuali teks yang menceritakan karamat, kemuliaan dan perjuangan imam tarekat para sultan Banten, Syaikh Abd al-Qadir al-Jilani.

Millie menjelaskan bahwa dalam katalog naskah yang disusun oleh Voorhoeve, terdapat sebuah naskah terjemahan Hikayat Syekh Abdul Qadir Jaelani. Teks naskah ini adalah kutipan dari Khulasat al-Mafakhir al-Yafi’i. Manuskrip naskah khulasat al-Mafakhir berasal dari koleksi perpustakaan Istana Banten yang dihancurkan oleh Deandels (1913). Naskah itu dibawa ke Jakarta (Batavia) dan menjadi salah satu koleksi the Bataviaasch Genootschap pada tahun 1835. Menurut Voorhoeve seperti dikutip Millie, naskah itu ditulis pada abad ke-18.

Untuk menegaskan argumennya diatas, Millie menyatakan bahwa Istana Banten merupakan tempat yang sangat penting dalam transmisi manaqib Syaikh Abdul Qadir Jaelani. Istana Banten juga merupakan lingkungan yang ideal dimana teks-teks Arab berotoritas diterjemahkan dan diadaptasi kedalam bahasa lokal untuk kepentingan ilmu dan keagamaan.13

Singkat kata, teks manaqib tertua di Banten ditulis dalam bahasa jawa pada tahun 1789. Teks manaqib dalam bahasa sunda tertua ditulis tahun 1882. Teks manaqib dalam bahasa sunda disebut-sebut adalah salinan dan terjemahan dari teks manaqib berbahasa jawa.

———————————-

Teks Manaqib: Asal usul dan Variasi

Cerita tentang biografi, kehebatan, kesalehan, keajaiban dan kemuliaan Abdul Qadir al-Jaelani terekam setidaknya dalam enam karya:

1. Bahjah al-Asrar karya Ali bin Yusuf al-Syattanaufi (w. 713/1314)

2. Ta’rikh al-Islam karya al-Dhahabi (w. 1348)

3. Khulasah al-Mafakhir fi Ikhtisar Manaqib al-Syaikh Abd al-Qadir karya ‘Afifuddin al-Yafi’i (w. 1367)

4. Lujjayn al-Dani karya Ja’far bin Hasan al-Barzinji (w. 1766)

5. Tafrikh al-Khatir karya Muhammad Shadiq al-Syihabi dan Abd al-Qadir bin Muhyiddin al-Arbili

6. ‘Uqud al-La’ali fi Manaqib al-Jayli karya ?

Penelitian terhadap teks-teks manaqib yang dibaca diberbagai acara ritual keagamaan di Banten akan difokuskan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Dari keenam kitab tersebut diatas, mana yang paling sering diterjemahkan dan disadur kedalam bahasa sunda dan jawa Banten?

Teks-teks Manaqib terjemahan yang akan diteliti adalah:

  1. Kitab wawacan syaikh abdul qadir al-jaylani yang disalin oleh Ahmad Khayr al-Din ibn Muhammad Salwan dari Kampung Bagawati, Serang Banten. Kitab ini memiliki dua versi teks: Tebal dan tipis.
  2. Manaqib al-Shaykh Abdul Qadir al-Jaylani billugat al-sundawiyyah yang disalin oleh Ahmad Khayruji dari Kampung Cikande Tenjo, Serang Banten
  3. Tijan al- Jawahir fi Manaqib al-Sayyid Abd al-Qadir yang disalin oleh H. Muhammad Juwayni bin Haji Abd al-Rahman dari Parakan Salak, Cianjur
  4. al-Nur al-Burhani fi Tarjamat al-Lujjayn al-Dani karya Muslih ibn Abd al-Rahman al-Maraqi

Dari 4 sampel teks manakib tersebut, 2 teks adalah terjemahan bahasa jawa dan sunda Khulashah al-Mafakhir karya al-Yafi’i. Satu teks, adalah terjemahan dan saduran bahasa sunda dari Tafrikh al-Khatir karya al-Arbili dan ‘Uqud al-La’ali, Yang lainnya adalah terjemahan bahasa Jawa (tengah) kitab al-Lujjayn al-Dani karya al-Barzanji. Tidak satupun teks terjemahan bahasa jawa/sunda disadur dari Bahjat al-Asrar karya al-Shattanaufi dan Ta’rikh al-Islam karya al-Dhahabi.

Judul saduran dan terjemahan teks manaqib tersebut bervariasi. 1 teks berjudul Kitab wawacan syaikh abdul qadir al-jaylani, 3 lainnya masing-masing berjudul Manaqib al-Shaykh Abdul Qadir al-Jaylani, Tijan al-Jawahir fi Manaqib al-Sayyid Abd al-Qadir, dan al-Nur al-Burhani fi Tarjamat al-Lujjayn al-Dani.

Jumlah episode cerita (hikayat) yang dipaparkan dalam teks manaqib yang diterjemahkan dari Khulasat al-Mafakhir bervariasi. Satu teks Manaqib memaparkan 7 hikayat, yang lainnya masing-masing 10, dan 40 hikayat. Sementara teks manaqib yang diterjemahkan dan disadur dari Tafrikh al-Khatir dan ‘Uqud al-La’ali memaparkan 53 episode biografi (hagiografi) Abdul Qadir al-Jaylani.

Selain al-Nur al-Burhani, semua teks manaqib diatas berbentuk prosa dengan melodi pupuh: (1) asmarandana, (2) kinanti, (3) dangdanggula, (4) sinom, (5) pangkur, (6) lambang dan (7) durma. Melodi yang dipakai dalam narasi episode cerita (mankabah) di semua teks manaqib selalu sama. Berapapun jumlah episode cerita (hikayat), melodi yang dipakai selalu tujuh pupuh tersebut.

———————————-

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s