Lebak Sibedug : Sebuah Catatan Perjalanan


PANDEGLANG, (16 / 04)

Sebuah Catatan Perjalanan ke : SITUS LEBAK SIBEDUG


PANDEGLANG, Berawal dari sebuah obrolan kecil, saat menghadiri Pekan Seni dan Budaya di Bale Budaya Pandeglang, dengan seorang sahabat dari Komunitas Budaya Pandeglang dan Banten Heritage (Ajie Queen), pembicaraan berlanjut membahas pengalaman perjalanan dirinya bersama-sama kawan-kawannya saat membuat  Film Dokumenter tentang keberadaan Situs Lebak Sibedug di Kabupaten Lebak. Dengan penuh “Semangat 45”.. hehe.. ia menunjukan photo-photo dokumentasi perjalanannya ke Lembah Sibedug, saya pun terpancing dan penasaran ada apa gerangan di tempat tersebut.

Akhirnya, saya coba hubungi kawan lain (Mang Anyunk) yang kebetulan satu rekan tim dengan Kang Ajie, berharap catatan perjalanannya masih tersimpan. Dan “great” ternyata catatan perjalanannya masih tersimpan walau sudah berbentuk file Bulletin Digital. Berikut ini adalah catatan perjalanan Tim ini menuju kawasan Lebak Sibedug.

Lebak Cibedug : Sebuah Catatan Perjalanan

Sejumlah orang yang penulis tanya mengenai Cibedug hampir semua balik bertanya dimanakah Cibedug?

Lebak Sibedug adalah nama sebuah kampung yang masuk dalam wilayah Desa Citorek Barat, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Keterkenalan kampung ini tak dapat dipisahkan dari keberadaan sisa peninggalan zaman megalitik berupa menhir dan punden berundak yang berada dalam satu kompleks yang kini diisolasi dan dinamai situs Lebak Cibedug.

Kesempatan untuk berkunjung ke sana akhirnya datang saat penulis meliput kegiatan pembuatan film dokumenter tentang situs tersebut. Meskipun berada di wilayah Kecamatan Cibeber, namun rute menuju Cibedug ternyata lebih enak ditempuh melalui jalur Pandeglang – Rangkasbitung – Cipanas – Citorek – Cibedug, dibanding menempuh jalur Pandeglang – Bayah – Cibeber – Citorek – Cibedug. Jika dibandingkan dalam hitungan jarak dari Pandeglang, maka rute pertama ini berjarak ± 80 Km sedangkan rute kedua berjarak 2 kali lipatnya. Menghadapi pilihan ini tentu saja kami memilih rute pertama.

Menggunakan 2 buah mobil, kami berangkat kala mentari baru saja menyembul di ufuk timur. Udara pagi Pandeglang yang dingin bersih menerobos masuk jendela pintu mobil yang kami buka lebar. Segar. Begitu pun yang kami rasakan ketika mobil telah berada di rute menuju Cipanas.

Jalanan mulai terasa tidak nyaman ketika kami mulai masuk ke rute perbukitan Cipanas – Citorek. Namun rerimbunan hutan yang tampak hijau yang kadang diselingi oleh areal persawahan luas dalam suasana pedesaan di sepanjang jalanan menuju Cipanas membawa kami pada nuansa yang tidak akan kami peroleh jika berada di kota.

Setelah hampir tiga jam berada di mobil, kami tiba di Desa Citorek Barat. Kami berhenti dan mulai menurunkan ransel serta barang bawaan lainnya. Setelah menitipkan mobil pada penduduk dan mengambil beberapa stock shot kami mulai menyeberangi jembatan gantung pertanda dimulainya rute terberat menuju Cibedug.

Jarak dari Citorek ke Cibedug sebenarnya dekat, sekitar 9 Km. Namun karena Cibedug berada di balik perbukitan, maka rute jalan kaki ini kami rasakan berat. Melewati kebun kebun tradisional , menyusur pematang sawah, dan menerobos hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun kami terseok-seok memanggul barang-barang. Sesekali kami mengaso sambil menikmati pemandangan dari atas bukit, menikmati suara kolecer, menyapa penduduk yang berpapasan, memandangi gagahnya elang yang terbang berkeliling mencari mangsa sambil mereguk nira segar yang kami peroleh dari petani yang baru saja memanennya.

Setelah menempuh kurang lebih dua pertiga perjalanan, kami akhirnya sampai di puncak bukit yang dipenuhi pohon-pohon besar. Tak jauh dari situ terdapat sebuah situ (danau). Danau di puncak bukit? Nyatanya memang ada.Andai saja d anau itu ditata rapi dan tidak dipenuhi gulma, tentu danau itu akan menjadi pesona tersendiri pengobat kelelahan yang kami rasakan. Namun kami tetap dapat menikmati keeksotikannya, terlebih saat serangga hutan dan binatang lain yang saling bersahutan terdengar bagaikan alunan ragam instrumen orkestra yang harmonis. Di tempat itu kami kembali mengambil beberapa adegan.

Jalur yang kami tempuh setelah danau itu adalah jalan setapak yang menurun. Gerimis yang turun ketika kami beranjak dari danau membuat kami harus menghadapi licinnya jalan setapak menuju Cibedug. Tinggal beberapa saat lagi, namun karena kami tidak ingin terpeleset, sekali lagi kami harus berjalan lambat.

Ketika lamat-lamat kami dengar suara anak kecil dikejauhan rombongan pun tersenyum karena akhirnya kami sampai di Cibedug. Lingkungan situs Lebak Cibedug menjadi gerbang pertama ke perkampungan. Terletak di sisi sebelah kiri jalan, situs itu tampak asri dan cukup terawat. Umar, kontak kami, yang datang menyongsong segera menyilakan kami beristirahat di pondoknya. Keramahan yang ditawarkannya membuat kami nyaman beristirahat.

Umar yang telah paham maksud kedatangan kami rupanya telah mengagendakan pertemuan kami dengan kasepuhan yang menjadi pemimpin disana. Selepas magrib, kami pun berkesempatan bertatap muka dengan kasepuhan dimaksud. Rupanya beliau sekeluarga telah bersiap menyambut sehingga ketika kami masuk ke pondoknya, mereka telah tampak berkumpul dan segera menyilakan kami untuk duduk. Kopi panas yang diberi pemanis gula kawung sedikit mengobati dinginnya udara yang kami rasakan. Pak Umar ter senyum mengerti dan membuka percakapan. Kami sampaikan maksud kedatangan kami padanya dengan tak lupa memperkenalkan masing-masing anggota rombongan.

Esok harinya, dengan dipandu langsung oleh Kasepuhan, kami memulai aktivitas utama kami di lokasi situs. Situs yang menjadi obyek film kami memang menakjubkan. Situs ini secara geografis terletak di lereng Pasir Manggu dengan luas areal sekitar 2 hektar. Secara garis besar situs memperlihatkan suatu kompleks bangunan yang terdiri atas 3 bagian halaman, dengan pembagian halaman yang semakin meninggi dari sisi sebelah timur ke barat. Halaman pertama merupakan bagian sebelah timur dan merupakan bagian ruang yang paling rendah dibandingkan dengan halaman kedua dan ketiga. Halaman kedua terletak di bagian tengah, dan halaman ketiga yang merupakan bagian inti terletak di bagian paling barat dan merupakan bagian halaman yang paling tinggi.

Pintu masuk menuju kompleks bangunan ini terletak di sebelah barat, bersisian langsung dengan aliran Kali Cibedug. Jalan masuk ke situs Lebak Cibedug melalui tangga yang terbuat dari susunan batu andesit dan bongkahan batu lempung yang terdiri dari 33 anak tangga. Pada bagian tengah pintu masuk terdapat menhir dengan ukuran besar dalam posisi tegak. Menhir ini adalah satu-satunya menhir terbesar dibandingkan dengan beberapa temuan menhir lainnya yang terdapat di situs ini. Ukuran tinggi menhir adalah 236 sentimeter dengan diameter 336 sentimeter.

Berdasarkan pengamatan bentuk bangunan secara keseluruhan, tampak bahwa kompleks megalitik Lebak Cibeduk merupakan perpaduan bentuk bangun batur-batur punden yang kadangkala dilengkapi dengan menhir, batu datar, dan batu kursi dengan punden berundak sebagai bagian yang paling sacral.

Berdasarkan informasi pustaka disebutkan bahwa tinggalan bangunan megalitik yang tersebar di kawasan Lebak Cibeduk secara lokasional semua tinggalan didirikan tidak jauh dari aliran sungai. Bahan-bahan yang digunakan untuk menyusun bangunan megalitik baik berupa bangunan berundak atau batur punden yang disebut masyarakat lokal dengan isitilah batu tukuh yang hampir semuanya menggunakan dua jenis batuan yaitu batu andesit dan tufa yang berbentuk bongkahan. Kedua jenis bahan batuan itu terdapat pada aliran sungai yang berada tidak jauh dari situs. Para peneliti menarik kesimpulan bahwa bahan untuk pendirian bangunan-bangunan megalitik yang banyak ditemukan di kawasan Lebak Cibeduk diperoleh dari bongkahan-bongkahan yang tersingkap di aliran-aliran sungai yang ada disekitar situs.

Hari-hari kami habiskan di Cibedug tanpa sinyal ponsel. Pun jangan berharap dapat santai menonton acara di stasiun televisi karena meskipun terdapat aliran listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik tradisional, alirannya tak dapat memasok listrik yang dibutuhkan peralatan besar seperti televisi. Walau begitu, kami sangat menikmati suasana di sana. (*)

——————————————-

PROFIL LEBAK SIBEDUG

Berikut ini adalah Profil Situs Lebak Sibedug yang saya kutip dari : wisatalebak.awardspace.com dan http://www.bantenculturetourism.com. Mari kita lestarikan kekayaan Budaya Banten….

Secara geografis Desa Citorek Kecamatan Cibeber di sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Muncang, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bayah, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Panggarangan dan di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi. Sedangkan, lokasi Situs Lebak Sibedug menempati areal seluas kurang lebih 2 Ha terletak di lereng Gunung Pasir Manggu dengan orientasi Situs Timur – Barat yang berbatasan di sebelah Utara dengan Kali Cibedug, di sebelah Timur dengan Gunung Pasir Manggu, di sebelah Selatan dengan Kali Cibedug dan di sebelah Barat dengan Kali Cibedug dan Dusun Cibedug

Untuk mencapai lokasi tersebut dapat ditempuh melalui 2 jalur, yaitu :

  • Rangkasbitung – Citorek melalui Kec. Cipanas – Ciparasi Kec. Muncang kurang lebih 50 km dan berjalan kaki sekitar 12 km.
  • Rangkasbitung – Cikotok – Warungbanten – Citorek Kec. Cibeber melalui Malingping – Bayah sekitar 170 km dan berjalan kaki sekitar 12 km.

Secara umum dilingkungan Situs tersebut beriklim tropis penghujan dengan curah hujan rata – rata 4.000 – 6.000 mm / tahun dengan suhu berkisar 18º Celcius.

Masyarakat Dusun Sibedug Desa Citorek Kec. Cibeber mayoritas beragama Islam, namun adat istiadat yang berhubungan dengan religi dari zaman Pra Islam masih nampak melalui pemujaan berkaitan dengan masalah bercocok tanam.

Dalam kaitannya dengan kepercayaan atau mitos masyarakat sekarang, komplek bangunan di Situs Lebak Sibedug deanggap sebagai suatu bangunan kuno peninggalan nenek moyang yang sangat dikeramatkan, khususnya yang berkaitan dengan masalah kesuburan dalam bercocok tanam dan pelepasan nadar (permohonan sesuatu).

Masyarakat setempat masih memegang teguh memegang adat istiadat yang diwariskan leluhur mereka dan diyakini bahwa arwah leluhur sebagai penghunu alam gaib yang mengendalikan kehidupan. Hal ini terlihat dari tata cara mereka memonon restu kepada leluhur sebelum penanaman padi dilaksanakan agar diberikan hasil panen yang melimpah atau dijauhkan dari hama penyakit.

Pelepasan nadar (permohonan sesuatu) yang berhubungan dengan nasib dan keberuntungan dilakukan oleh masyarakat melalui suatu upacara kecil (selamatan) yang dilaksanakan didalam salah satu halaman komplek bangunan Situs pada bagian susunan kelompok menhir yang diberi pagar dan atap.

Komplek bangunan Situs merupakan salah satu Monumen Tradisi Megalitik (Mega = besar, lithos = batu) dari masa Pra Hindu. Kompek bangunan pemujaan (keagamaan) ini dilihat secara umum berbentuk Punden Berundak (bangunan utama) dengan disertai beberapa menhir dan dolmen dalam pola mengelompok maupun tunggal.

Jenis bahan dasar Situs Lebak Sibedug menggunakan batuan Andesit yang cukup banyak dijumpai disekitar Situs yang terjadi sebagai akibat dari magma yang keluar dari perut bumi ketika terjadinya letusan gunung api yang menghasilkan 3 jenis batuan, yakni :

  • Krekel Silika (Bom) tersiri dari Obsidian, Opal dan Panitik
  • Tufa Andesit (debu gunung)
  • Flow Andesit / Andesit leleh (lahar) yang kemudian menjadi batuan Andesit setelah membeku (batuan beku)

Jalan masuk menuju Situs dari arah Barat melewati Trap (tangga masuk) sebanyak 33 tingkatan, pada bagian pintu masuk terdapat sebuah menhir berukuran besar dalam posisi tegak berdiri dan merupakan menhir yang terbesar dengan ukuran tinggi 235 cm dan berdiameter 336 cm.

Dilihat dari fungsi letak menhir ini, kemungkinan dimaksudkan sebagai penjaga / pelindung dimana bagian dalam Situs dibagi atas 3 bagian, yaitu :

Bagian Depan

  • Bagian depan bebentuk persegi panjang dengan menggunakan batuan Andesit sebagai bahan utamanya. Penataannya hanya menggunakan 2 lapis susunan batu dengan ukuran panjang 582 cm dengan lebar 395 cm.
  • Bagian depan ini, terdapat semacam teras yang menyatu dengan ruang utama bagian depan berukuran panjang 105 cm, lebar 104 cm terletak ke Utara sebelah kiri tangga masuk dan dibagian ini pula terdapat menhir roboh.

Bagian Tengah

  • Antara bagian depan dan bagian tengah dibatasi oleh gundukan tanah memanjang dari Utara ke Selatan dengan ukuran panjang 19,5 m dan tinggi gundukan tanah 1,30 m.
  • Untuk masuk kebagian ini melewati trap bersusun 3 dengan lebar 140 cm memotong gundukan tanah, sebelah kiri dan kanan bagian atas trap terdapat 2 menhir dalam posisi roboh.
  • Menhir sebelah kanan trap (tangga) panjangnya 118 cm berdiameter 117 cm dan menhir sebelah kiri trap (tangga) panjangnya 135 cm dan berdiameter 112 cm.

Dalam bagian tengah ini terdapat susunan batuan Andesit berbentuk segi empat dapat dibagi dalam 2 bagian :

  • Merupakan susunan batuan Andesit yang belum dipahat membentuk persegi empat, tersusun satu tingkat dengan ukuran panjang 382 cm dan lebar 380 cm.
  • Merupakan susunan batuan Andesit yang belum dibentuk oleh tangan manusia berbentuk persegi empat panjang, terdiri dari 3 tingkatan dengan ukuran :
    • Undakan I : Panjang = 1.445 cm ; Lebar = 864 cm
    • Undakan II : Panjang = 1.157 cm ; Lebar = 597 cm
    • Undakan III : Panjang = 171 cm ; Lebar = 161 cm

Bagian sisi kiri arah Selatan, terdapat susunan batu berbentu segi empat dimana setiap sisinya terdapat 4 buah menhir. Oleh masyarakat setempat dianggap keramat sehingga atas inisiatif mereka dibuatkan cungkup dan pagar pengaman terutam menhir yang terletak dibagian depan sisi kiri.

Keempat menhir tersebut, 3 diantaranya berbentuk bulat dalam posisi berdiri tegak sedangkan lainnya berbentuk persegi empat dalam posisi miring kearah barat.

Bagian Inti

Terletak dibagian belakang kearah Tenggara berbatasan dengan Kali Sibedug tersiri atas 3 bagian, yaitu :

Bagian depan (pelataran) merupakan susunan batu Andesit berbentuk persegi panjang dan memiliki 5 undakan. Dibagian kiri terdapat 5 buah menhir, 4 buah dalam posisi berdiri dan satu lainnya dalam posisi roboh.

Dibagian tengah sebelah Barat terdapat trap jalan menuju kepuncak berukuran 180 cm. Undakan berbentuk persegi empat berukuran panjang 11 m dan lebar 33,1 m.

Bagian tengah punden, terdiri dari 5 tingkatan (undak). Jalan menuju kebagian atas bangunan undakan tengah dapat dilalui dari 2 arah yaitu arah Barat dan arah Utara.

Dipuncak bangunan bagian tengah terdapat 3 buah menhir, 2 diantaranya roboh dan 1 berdiri dalam posisi agak miring ke Utara dan dolmen berjumlah 2 buah. 1 buah dolmen terletak ditengah dalam susunan batu yang berbentuk persegi empat panjang dan 1 buah dolmen terletak didepan menhir.

Tiap undakan memiliki :

  • Undakan I : Panjang = 43,6 m ; Lebar = 33,1 m
  • Undakan II : Panjang = 41,3 m ; Lebar = 30,8 m
  • Undakan III : Panjang = 34 m ; Lebar = 28,5 m
  • Undakan IV : Panjang = 34 m ; Lebar = 23,5 m
  • Undakan V : Panjang = 10 m ; Lebar = 23,5 m

Bagian atas (inti) merupakan susunan batu Andesit berbentuk persegi panjang memiliki 7 undakan, tiap undakan memiliki ukuran :

  • Undakan I : Panjang = 18 m ; Lebar = 18,3 m
  • Undakan II : Panjang = 16,3 m ; Lebar = 15,3 m
  • Undakan III : Panjang = 14 m ; Lebar = 13 m
  • Undakan IV : Panjang = 12 m ; Lebar = 11 m
  • Undakan V : Panjang = 9,5 m ; Lebar = 9 m
  • Undakan VI : Panjang = 7,4 m ; Lebar = 6,5 m
  • Undakan VII : Panjang = 5,3 m; Lebar = 4,4 m


About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

4 Balasan ke Lebak Sibedug : Sebuah Catatan Perjalanan

  1. mang anyunk salam kenal dari murid blog tolong dong kunjungi blog saya agar dikeritik. ok juga situs lebak sibedugnya sy jadi tertarik kesana

  2. Ping-balik: Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, The Largest Tropical Rain Forest In Java | Bayt al-Hikmah Institute

  3. Elna_DaSKA berkata:

    Mantap euy !!
    Cibeber tea !

    postingan sae pisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s