Ribuan orang hadiri Haul Kiayi Agung Tubagus Ahmad Kadzim Asnawi


Humas – Pandeglang (28/03)

“Ribuan orang hadiri Haul Kiayi Agung Tubagus Ahmad Kadzim Asnawi ”


PANDEGLANG, Ribuan orang Jamaah dari Majelis Dzikir Al-Qodariyah Wannaqsyabandiyah hadiri haul Kiayi Agung Tubagus Kadzim Asnawi yang digelar di Kampung Kadu Bongkok Desa Cigandeng Kecamatan Menes hari Sabtu (27/03). Jamaah yang datang berbondong-bondong sejak sore ini, datang secara bergelombang dengan menggunakan berbagai kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

Menurut penuturan seorang warga yang menghadiri acara tersebut, biasanya jamaah akan terus berdatangan sampai menjelang malam, mereka datang dari berbagai daerah baik dari Pandeglang maupun luar Pandeglang diantaranya Sumatera, Kalimantan dan bahkan dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapur pun tumpah ruah menghadiri acara ini.

Seorang jamaah yang berasal dari Kampung Halimun Desa Banjarnegara Kecamatan Pulosari yang bernama Abdurrohman (70 Tahun) menuturkan, ”Dirinya pernah belajar langsung dari mama kiayi selama hampir kurang lebih 20 tahun bersamanya. Dan setiap acara haul ini digelar dirinya tidak pernah absen untuk mengikuti acaranya sampai dengan selesai, bahkan untuk haul kali ini, dia telah menginap hampir empat hari ditempat ini. ”Mama Kiayi Tb Kadzim ini memiliki 4 orang murid yang sampai saat ini sangat dihargai oleh murid-muridnya yang lain, diantaranya KH. Sukanta dari Kaduparasi, KH. Jupri dari Sukacai, KH. Anda dari Renggasdengklok Karawang dan Bahrudin dari Kadubaleor. Biasanya acara haul ini akan dilanjutkan dengan Dzikir Bersama yang dipimpin oleh salah seorang dari ke empat orang tersebut” tuturnya.

Kiayi yang mempunyai kharismatik yang luar biasa ini adalah merupakan salah seorang anak dan murid dari kiayi besar di Banten yaitu K.H. Asnawi.  Kyai Tb. Kadzim, yang merupakan putra K.H. Asnawi telah menjadi seorang mursyid dari Tarekat Qodariyah wa Naqsabandiyah dan memiliki silsilah guru-guru tarekat yang memang diakui oleh kyai-kyai lain yang seangkatan dengannya.

Makomnya yang terletak tepat dipinggir jalan di Kampung Kadubongkok ini sering ramai dikunjungi oleh para jamaah yang hendak berziarah kemakamnya. Makamnya yang disekat dengan ukiran kayu sangat menampakan suasana religius yang sangat kental. Diatas sekat terpampang silsilah Nasab yang menggambarkan riwayat dari Kiayi Agung Tubagus Ahmad Kadzim Asnawi ini, Silsilahnya diawali dengan Sayyid Muhammad Ainul Yaqien yang dikenal dengan Sunan Giri, kemudian Nyi Ageng Giri Kidul, Ki Ageng Selo Demak, Ki Ageng Nis, Ki Ageng Pamanahan, Sultan Suta Wijaya atau Mataram I atau Panembahan Senopati, Sultan Raden Mas Jolang (Mataram II / Pangeran Hanyokro Kesumo, Sultan Agung Mataram, Pangeran Adiningrat, Raden Syafan Bumi Agung, Raden Indra Manggala, Raden Wira Daha, Raden Arya Rahantika, Ki Ageng Shohib dari Jasinga, Syekh Daud dari Cigondang, Syakh Ajib dari Sangkan, Syekh Mahdi dari Caringin, Syekh Afifudin, Syekh Qodla Abdurahman,, Kiayi Agung Asnawi dari Caringin dan Kiayi Agung Tubagus Ahmad Kadzim Asnawi.

Bupati Pandeglang H,Erwan Kurtubi yang didampingi AA.Chaer penasehat DPD Golkar Kabupaten Pandeglang yang turut hadir dalam acara ini, dalam sambutanya mengatakan bahwa ” Semua kekuatan yang ada di masyarakat harus bekerja sama membangun daerah ini, termasuk menjaga hubungan baik antara umaro dan ulama. Jika kedua kekuatan ini bersatu, program-program yang diarahkan untuk membangun daerah akan semakin mudah dilakukan. Hubungan ulama dan umaro harus sinergis. Ulama adalah tiang umat, umaro adalah tiang negara. Umat-ulama dan umaro harus bersatu,” paparnya. (iim-humas)

SEKILAS TENTANG TAREKAT :

Secara etimologi, kata ‘tarekat’ berasal dari bahasa Arab, tariqah, yang berarti jalan atau petunjuk dalam melakukan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan oleh Nabi, dikerjakan oleh para sahabat, tabi’in dan seterusnya secara turun-temurun (Atceh 1985: 67).

Jadi tarekat adalah suatu metode atau cara yang harus ditempuh seorang salik (orang yang meniti kehidupan sufistik), dalam rangka membersihkan jiwanya sehingga dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Metode semula dipergunakan oleh seorang sufi besar dan kemudian diikuti oleh murid-muridnya, sebagaimana halnya mazhab-mazhab dalam bidang fiqh dan firqah-firqah dalam bidang kalam. Pada perkembangan berikutnya membentuk suatu jam’iyyah (organisasi) yang disebut dengan tarekat.

Adapun tarekat, sebagai gerakan kesufian popular (massal), sebagai bentuk terakhir gerakan tasawuf, tampaknya juga tidak begitu saja muncul. Kemunculannya tampak lebih dari sebagai tuntutan sejarah, dan latar belakang yang cukup beralasan, baik secara sosiologis, maupun politis pada waktu itu.

Ada dua faktor yang menyebabkan lahirnya gerakan tarekat pada masa itu,yaitu factor cultural dan structural. Dari segi politik, dunia islam sedang mengalami krisis hebat,seperti: wilayah Palestina, Syiria, dan Mesir menghadapi serangan orang kristen Eropa, yang terkenal dengan perang salib. Selama lebih kurang dua abad (490-656 H./1096-1258 M.) telah terjadi delapan kali peperangan dahsyat, serta situasi politik kota Baghdad karena terjadi perebutan kekuasaan di antara para Amir (Turki dan Dinasti Buwaihi).

Kerunyaman politik dan krisis kekusaan ini membawa dampak negatif bagi kehidupan umat islam di wilayah tersebut, dan ini mengalami masa dis-integrasi sosial yang sangat parah, pertentangan antar golongan banyak terjadi, seperti antara golongan Sunni dengan Syi’ah, Turki dengan Arab, akibatnya kehancuran umat islam terasa dimana-mana.

Dan dalam situasi ini umat islam berusaha mempertahankan agamanya dengan berpegang pada doktrinnya yang dapat menentramkan jiwa, dan menjalin hubungan yang damai dengan sesama muslim.

Masyarakat islam memiliki warisan kultural dari ulama sebelumnya yang dapat digunakan, sebagai pegangan yaitu doktrin tasawuf, yang merupakan aspek kultural yang ikut membidangi lahirnya tarekat-tarekat pada masa itu. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kepedulian ulama sufi, memberikan pengayoman masyarakat islam yang sedang mengalami krisis moral yang sangat hebat. Dengan dibukanya ajaran-ajaran tasawuf kepada orang awam, maka kemudian berbondong-bondonglah orang awam memasuki majelis-majelis zikirnya para sufi, yang kemudian berkembang menjadi suatu kelompok tersendiri yang disebut tarekat.

Menurut Harun Nasution sejarah perkembangan tarekat secara garis besar melalui tiga tahap, yaitu: tahap khanaqah, tahap tariqah, tahap ta’ifah.

  • Tahap Khanaqah

Tahap khanaqah (pusat pertemuan sufi), dimana syekh mempunyai sejumlah murid yang hidup bersama-sama di bawah peraturan yang tidak ketat, syekh menjadi mursyid yang dipatuhi. Ini terjadi sekitar abad X masehi dan masa ini merupakan masa keemasan tasawuf.

  • Tahap Tariqah

Sekitar abad XII M, disini sudah terbentuk ajaran-ajaran, peraturan, dan metode tasawuf. Pada masa ini  muncul pusat-pusat pengajaran tasawuf dan juga tasawuf telah mencapai kedekatan diri kepada Tuhan, dan disini pula tasawuf telah mengambil bentuk kelas menengah.

  • Tahap Ta’ifah

Terjadi sekitar XV masehi, disini terjadi transmisi ajaran dan peraturan kepada pengikut.pada masa ini muncul organisasi-organisasi tasawuf dan pada tahap ta’ifah inilah tarekat mengandung arti lain, yaitu organisasi sufi yang melestarikan ajaran syekh tertentu. Tarekat-tarekat seperti Tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyyah, dan lain-lain.

PERKEMBANGAN TAREKAT DI INDONESIA

Jumlah Tarekat di Indonesia sangat banyak, akan tetapi yang memiliki anggota yang cukup banyak tersebar di banyak negara di seluruh dunia sampai kini ada tujuh, yaitu:

  • Tarekat Khalawatiyah
  • Tarekat Naksyabandiyah
  • Tarekat Qadiriyah
  • Tarekat NaksyabandiyahQadiriyah
  • Tarekat Rifa’yah
  • Tarekat Sammaniyah
  • Tarekat Syaziliyah
  • Tarekat Tijaniyah

TAREKAT QADARIYAH WA NAQSYABANDIYAH

Tarekat ini didirikan oleh sufi dan syekh besar masjid Al – Haram di Makkah Al – Mukarramah. Ia bernama Ahmad Khatib Ibn Abd Ghaffar Al – Sambasi Al – Jawi. Beliau adalah seorang ulama besar dari Indonesia, yang tinggal sampai akhir hayatnya di Makkah. Beliau adalah seorang mursyid Tarekat Qadariyah, disamping itu ada juga yang menyebutkan beliau dari Tarekat Naqsyabandiyah..

Sebagai seorang mursyid yang sangat alim dan arif billah, beliau memiliki otoritas unutk membuat modifikasi tersendiri bagi tarekat yang dipimpinnya. Kemudian beliau menggabungkan kedua ajaran tersebut. Beliau menggabungkan kedua tarekat tersebut atas pertimbangan logis dan strategis bahwa kedua ajaran tersebut bersifat melengkapi, terutama dalam hal jenis zikr dan metodenya. Tarekat Qadariyah menekankan ajarannya pada zikir jahr nafi isbat, sedangkan Tarekat Naqsyabandiyah menekankan model zikr sirr ismu zat, atau zikit lataif. Dengan penggabungan ini diharapkan para muridnya dapat mencapai derajat kesufian yang lebih tinggi, dengan cara yang efektif dan lebih efisien.

Syekh Ahmad Khatib memiliki banyak murid dari beberapa daerah di kawasan nusantara, dan beberapa orang khalifah. Di anatara khalifah – khalifah yang terkenal dan kemudian menurunkan murid – murid yang banyak sampai sekarang ini, yaitu :

1.  Syekh Abd. Karim Al – Bantani

2.  Syekh Ahmad Thalhah Al – Cireboni ( Cirebon )

3.  Syekh Ahmad Hasbu Al – Maduri ( Madura )

4.  Muhammad Isma’il  ibn Abd. Rachim ( Bali )

5.  Syekh Yasin ( Kedah – Malaysia )

6.  Syekh Haji Ahmad  Lampung (Lampung – Sum –Sel )

7.  M. Ma’ruf ibn Abdullah Al – Khatib ( Palembang )

Syekh Muhammad Isma’il  ibn Abd. Rachim menetap dan mengajar di Makkah. Sedangkan Syekh Yasin setelah menetap di Makkah, belakangan menyebarkan tarekat ini di Mempawah daerah Kalimantan Barat. Adapun Haji Lampung dan M. Ma’ruf masing – masing turut membawa ajaran tarekat ini ke daerah masing – masing. Penyebaran ajaran tarekat ini didaerah Sambas ( asal daerah Syekh Ahmad Khatib ), dilakukan oleh kedua khalifahnya, yaitu Syekh Nuruddin dari Philipina dan Syekh Muhammad Sa’ad putera asli dari Sambas.

Setelah wafatnya Syekh Ahmad Khatib, maka kepemimpinan tarekat ini dipegang oleh Yekh Abd. Karim Al – Bantani. Tetapi setelah Syekh Abd. Karim meninggal dunia, maka para khlaifah tersebut melepaskan diri.

Khalifah Syekh Thalhah di Cirebon mengembangkan tarekat ini secara mandiri. Kemudian tarekat ini dilanjutkan oleh Abdullah Mubarak ibn Nur Mubarak ( Abah Sepuh ). Beliau mendirikan pusat penyebaran ini di Tasikmalaya. Dan didirikanlah sebuah pondok pesantren yang bernama Suryalaya. Abah Sepuh kemudian digantikan oleh anaknya sendiri yang bernama Shahibul Wafa Tajul Arifin ( Abah Anom ). Abah Anom mengembangkan metode Riyadah ( psikoterapi alternatif ).

Pusat penyebaran tarekat ini tidak kalah penting adalah Pondok Pesantren Futuhiyah Mranggen ( Jawa Tengah ). Tarekat ini berkembang melalui Syekh Abd. Karim Al – Bantani. K.H. Muslih, adalah pendiri dari pondok pesantren tersebut. Setelah itu kepemimpinan diberikan kepada puteranya yang bernama M. Lutfil Hakim sampai saat ini. (iim-humas)

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

12 Balasan ke Ribuan orang hadiri Haul Kiayi Agung Tubagus Ahmad Kadzim Asnawi

  1. Mawardi berkata:

    Terima kasih informasinya .. .. ..

  2. TUBAGUS AJIB berkata:

    Assalamu’alaikum Warrahmatullahi wabarakaatuh….
    Insya Allah Ta’ala….
    Seiring salam dan do’a Semoga Para Syaihk, Kiyai, Ulama, Asatid dan Umat Islam yang perduli dengan umat..
    Semoga semuanya dipanjangkan umurnya, ditambahkan ilmunya, bermanfaat untuk umat dimudahkan rizqinya dan selalu ada pada lindungan Allah SWT..Aamiin.

  3. irwan berkata:

    aq ingin mndalamin azaran torikoh….
    yg d ajar kn olh mama sukanta….
    kodriyah naksbandiyah………………………………………………………….
    sehk abdul muyyi
    mama kadim……
    muhad driyah

  4. Ntus berkata:

    Banten bersatu, majulah….!!!

  5. Aslmlkm Wr. Wb. terutama sekali kami dari sekalian anak mureed dari Singapura ingin mengucapkan setinggi tinggi penghargaan yang sangat disanjungi kepada yang mewawarkan article berkenaan Haul Akhbar yang telah berlangsung di Madrasah Almarhum Mama Menes baru baru ini iaini pada tanggal Maret kelmarin,kami sangat berasa bershyukur dan tumpang gembira kerana jarang sekali berita mengenai aktivitas yang berhubung dengan amalan Dzikir atau kegiatan ahli Sufi setempat terutama sekali yang berkaitan dengan acara acara kesufian,dari pihak kami juga berharap agar artikal berita yang mengharumi nama para Ulama’ sufi serta sejarah sejarah yang belum pernah diketahui dapat disampaikan melalui ruang seperti ini,Alhamdulillah Shyukran.Jazakumullah Khairan.

  6. Zaenal berkata:

    Pak humas, kok sejarah syeh asnawi_nya nggak ada?

  7. Moch Noor berkata:

    untuk konfirmasi bisa lewat hp.putranya ust.maman….085219301964
    pengirim berita 081910978779

  8. bambang berkata:

    assalamu’alaikum wr.wb.

    dmn saya bisa mendapatkan informasi keturunan KH. ASNAWI CARINGIN BANTEN yg lainnya selain mama Kadzim.

  9. athen adi berkata:

    semoga para guru guru dan ulama selalu mendapatkankeridhoan ALLAH SWT.. Amiiin Ya Rob..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s