Syekh Maulana Mansyuruddin Cikadueun – Pandeglang


Humas – Pandeglang (21/03)

“Mengenal tokoh Syekh Maulana Mansyuruddin Cikadueun – Pandeglang”

PANDEGLANG, Bila anak bangsa sudah mulai melupakan sejarahnya, maka hilanglah kebesaran generasi bangsanya. Manusia adalah makhluk pelupa. Kemarin seharusnya menjadi sejarah hari ini. Hari ini menjadi sejarah esok hari. Dan esok menjadi sejarah untuk lusa yang lebih baik. Begitu seterusnya tiada berkesudahan. Tapi ternyata tidak berlaku untuk manusia-manusia pelupa. Fakta-fakta sejarah yang menunjukkan betapa signifikannya peran-peran Ulama dan Santri. Para Ulama dan Santri sudah memperhatikan sejarah mereka di esok hari. Tinggal kita sekarang, apakah akan melanjutkannya atau tetap nyaman menjadi manusia-manusia amnesia. Peristiwa sejarah yang terjadi di tengah bangsa Indonesia sampai hari ini, hakikatnya merupakan kesinambungan masa lalu yang mana fondasinya sudah dipancangkan kuat oleh para Ulama dan Santri. Dan tidak akan cukup kalau kita menuliskannya dalam lembaran artikel sederhana ini. Setidaknya, gambaran sederhana di atas bisa memantik kesadaran kolektif kita tentang sejarah.

Berikut ini sebuah tulisan yang dibuat oleh D.Naufal Halwany didalam blognya , mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi referensi bagi generasi-generasi muda.

———————————————————————–

Cerita rakyat yang berhubungan dengan Islamisasi di Banten salah satunya adalah cerita Syekh Mansyuruddin. Menurut ceritanya Sang syekh adalah salah seorang yang menyebarkan agama Islam di derah Banten Selatan. Dengan peninggalannya berupa Batu Qur’an yang sekarang banyak berdatangan wisatawan untuk berzirah atau untuk mandi di sekitar patilasan, karena disana ada kolam pemandian yang ditengah kolam tersebut terdapat batu yang bertuliskan Al-Qur’an.

Syekh Maulana Mansyuruddin dikenal dengan nama Sultan Haji, beliau adalah putra Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa (raja Banten ke 6). Sekitar tahun 1651 M, Sultan Agung Abdul Fatah berhenti dari kesutanan Banten, dan pemerintahan diserahkan kepada putranya yaitu Sultan Maulana Mansyurudin dan beliau diangkat menjadi Sultan ke 7 Banten, kira-kira selama 2 tahun menjabat menjadi Sultan Banten kemudian berangkat ke Bagdad Iraq untuk mendirikan Negara Banten di tanah Iraq, sehingga kesultanan untuk sementara diserahkan kepada putranya Pangeran Adipati Ishaq atau Sultan Abdul Fadhli. Pada saat berangkat ke Bagdad Iraq, Sultan Maulana Mansyuruddin diberi wasiat oleh Ayahnya, ”Apabila engkau mau berangkat mendirikan Negara di Bagdad janganlah menggunakan/ memakai seragam kerajaan nanti engkau akan mendapat malu, dan kalau mau berangkat ke Bagdad untuk tidak mampir ke mana-mana harus langsung ke Bagdad, terkecuali engkau mampir ke Mekkah dan sesudah itu langsung kembali ke Banten. Setibanya di Bagdad, ternyata Sultan Maulana Mansyuruddin tidak sanggup untuk mendirikan Negara Banten di Bagdad sehingga beliau mendapat malu. Didalam perjalanan pulang kembali ke tanah Banten, Sultan Maulana Mansyuruddin lupa pada wasiat Ayahnya, sehingga beliau mampir di pulau Menjeli di kawasan wilayah China, dan menetap kurang lebih 2 tahun di sana, lalu beliau menikah dengan Ratu Jin dan mempunyai putra satu.

Selama Sultan Maulana Mansyuruddin berada di pulau Menjeli China, Sultan Adipati Ishaq di Banten terbujuk oleh Belanda sehingga diangkat menjadi Sultan resmi Banten, tetapi Sultan Agung Abdul Fatah tidak menyetujuinya dikarenakan Sultan Maulana Mansyuruddin masih hidup dan harus menunggu kepulangannya dari Negeri Bagdad, karena adanya perbedaan pendapat tersebut sehingga terjadi kekacauan di Kesultanan Banten. Pada suatu ketika ada seseorang yang baru turun dari kapal mengaku-ngaku sebagai Sultan Maulana Mansyurudin dengan membawa oleh-oleh dari Mekkah. Akhirnya orang-orang di Kesultanan Banten pun percaya bahwa Sultan Maulana Mansyurudin telah pulang termasuk Sultan Adipati Ishaq. Orang yang mengaku sebagai Sultan Maulana Mansyuruddin ternyata adalah raja pendeta keturunan dari Raja Jin yang menguasai Pulau Menjeli China. Selama menjabat sebagai Sultan palsu dan membawa kekacauan di Banten, akhirnya rakyat Banten membenci Sultan dan keluarganya termasuk ayahanda Sultan yaitu Sultan Agung Abdul Fatah. Untuk menghentikan kekacauan di seluruh rakyat Banten Sultan Agung Abdul Fatah dibantu oleh seorang tokoh atau Auliya Alloh yang bernama Pangeran Bu`ang (Tubagus Bu`ang), beliau adalah keturunan dari Sultan Maulana Yusuf (Sultan Banten ke 2) dari Keraton Pekalangan Gede Banten. Sehingga kekacauan dapat diredakan dan rakyat pun membantu Sultan Agung Abdul Fatah dan Pangeran Bu`ang sehingga terjadi pertempuran antara Sultan Maulana Mansyuruddin palsu dengan Sultan Abdul Fatah dan Pangeran Bu`ang yang dibantu oleh rakyat Banten, tetapi dalam pertempuran itu Sultan Agung Abdul Fatah dan Pangeran Bu`ang kalah sehingga dibuang ke daerah Tirtayasa, dari kejadian itu maka rakyat Banten memberi gelar kepada Sultan Agung Abdul Fatah dengan sebutan Sultan Agung Tirtayasa.

Peristiwa adanya pertempuran dan dibuangnya Sultan Agung Abdul Fatah ke Tirtayasa akhirnya sampai ke telinga Sultan Maulana Mansyuruddin di pulau Menjeli China, sehingga beliau teringat akan wasiat ayahandanya lalu beliau pun memutuskan untuk pulang, sebelum pulang ke tanah Banten beliau pergi ke Mekkah untuk memohon ampunan kepada Alloh SWT di Baitulloh karena telah melanggar wasiat ayahnya, setelah sekian lama memohon ampunan, akhirnya semua perasaan bersalah dan semua permohonannya dikabulkan oleh Alloh SWT sampai beliau mendapatkan gelar kewalian dan mempunyai gelar Syekh di Baitulloh. Setelah itu beliau berdoa meminta petunjuk kepada Alloh untuk dapat pulang ke Banten akhirnya beliau mendapatkan petunjuk dan dengan izin Alloh SWT beliau menyelam di sumur zam-zam kemudian muncul suatu mata air yang terdapat batu besar ditengahnya lalu oleh beliau batu tersebut ditulis dengan menggunakan telunjuknya yang tepatnya di daerah Cibulakan Cimanuk Pandeglang Banten di sehingga oleh masyarakat sekitar dikeramatkan dan dikenal dengan nama Keramat Batu Qur`an. Setibanya di Kasultanan Banten dan membereskan semua kekacauan di sana, dan memohon ampunan kepada ayahanda Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa. Sehingga akhirnya Sultan Maulana Mansyuruddin kembali memimpin Kesultanan Banten, selain menjadi seorang Sultan beliau pun mensyiarkan islam di daerah Banten dan sekitarnya.

Dalam perjalanan menyiarkan Islam beliau sampai ke daerah Cikoromoy lalu menikah dengan Nyai Sarinten (Nyi Mas Ratu Sarinten) dalam pernikahannya tersebut beliau mempunyai putra yang bernama Muhammad Sholih yang memiliki julukan Kyai Abu Sholih. Setelah sekian lama tinggal di daerah Cikoromoy terjadi suatu peristiwa dimana Nyi Mas Ratu Sarinten meninggal terbentur batu kali pada saat mandi, beliau terpeleset menginjak rambutnya sendiri, konon Nyi Mas Ratu Sarinten mempunyai rambut yang panjangnya melebihi tinggi tubuhnya, akibat peristiwa tersebut maka Syekh Maulana Mansyuru melarang semua keturunannya yaitu para wanita untuk mempunyai rambut yang panjangnya seperti Nyi mas Ratu Sarinten. Nyi Mas Ratu Sarinten kemudian dimakamkan di Pasarean Cikarayu Cimanuk. Sepeninggal Nyi Mas Ratu Sarinten lalu Syekh Maulana Mansyur pindah ke daerah Cikaduen Pandeglang dengan membawa Khodam Ki Jemah lalu beliau menikah kembali dengan Nyai Mas Ratu Jamilah yang berasal dari Caringin Labuan. Pada suatu hari Syekh Maulana Mansyur menyebarkan syariah agama islam di daerah selatan ke pesisir laut, di dalam perjalanannya di tengah hutan Pakuwon Mantiung Sultan Maulana Mansyuruddin beristirahat di bawah pohon waru sambil bersandar bersama khodamnya Ki Jemah, tiba-tiba pohon tersebut menjongkok seperti seorang manusia yang menghormati, maka sampai saat ini pohon waru itu tidak ada yang lurus.

Ketika Syekh sedang beristirahat di bawah pohon waru beliau mendengar suara harimau yang berada di pinggir laut. Ketika Syekh menghampiri ternyata kaki harimau tersebut terjepit kima, setelah itu harimau melihat Syekh Maulana Mansyur yang berada di depannya, melihat ada manusia di depannya harimau tersebut pasrah bahwa ajalnya telah dekat, dalam perasaan putus asa harimau itu mengaum kepada Syekh Maulana Mansyur maka atas izin Alloh SWT tiba-tiba Syekh Maulana Mansyur dapat mengerti bahasa binatang, Karena beliau adalah seorang manusia pilihan Alloh dan seorang Auliya dan Waliyulloh. Maka atas izin Alloh pulalah, dan melalui karomahnya beliau kima yang menjepit kaki harimau dapat dilepaskan, setelah itu harimau tersebut di bai`at oleh beliau, lalu beliau pun berbicara “Saya sudah menolong kamu ! saya minta kamu dan anak buah kamu berjanji untuk tidak mengganggu anak, cucu, dan semua keturunan saya”. Kemudian harimau itu menyanggupi dan akhirnya diberikan kalung surat Yasin di lehernya dan diberi nama Si Pincang atau Raden Langlang Buana atau Ki Buyud Kalam. Ternyata harimau itu adalah seorang Raja/Ratu siluman harimau dari semua Pakuwon yang 6. Pakuwon yang lainnya adalah :

1. Ujung Kulon yang dipimpin oleh Ki Maha Dewa
2. Gunung Inten yang dipimpin oleh Ki Bima Laksana
3. Pakuwon Lumajang yang dipimpin oleh Raden Singa Baruang
4. Gunung Pangajaran yang dipimpin oleh Ki Bolegbag Jaya
5. Manjau yang dipimpin oleh Raden Putri
6. Mantiung yang dipimpin oleh Raden langlang Buana atau Ki Buyud Kalam atau si pincang.

Setelah sekian lama menyiarkan islam ke berbagai daerah di banten dan sekitarnya, lalu Syekh Maulana Manyuruddin dan khadamnya Ki Jemah pulang ke Cikaduen. Akhirnya Syekh Maulana Mansyuruddin meninggal dunia pada tahun 1672M dan di makamkan di Cikaduen Pandeglang Banten. Hingga kini makam beliau sering diziarahi oleh masyarakat dan dikeramatkan.

Keterangan :

  • Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa dimakamkan di kampung Astana Desa Pakadekan Kecamatan Tirtayasa Kawadanaan Pontang Serang Banten.
  • Cibulakan terdapat di muara sungai Kupahandap Kecamatan Cimanuk Kabupaten Pandeglang Banten
  • Makam Cicaringin terletak di daerah Cikareo Cimanuk Pandeglang Banten
  • Ujung Kulon Desa Cigorondong kecamatan Sumur Kawadanaan Cibaliung kebupaten Pandeglang Banten
  • Gunung Anten terletak di kecamatan Cimarga Kawadanaan Leuwi Damar Rangkas Bitung
  • Pakuan Lumajang terletak di Lampung
  • Gunung Pangajaran terletak di Desa Carita Kawadanaan Labuan Pandeglang, disini tempat latihan silat macan.
  • Majau terletak didesa Majau kecamatan Saketi Kawadanaan Menes Pandeglang Banten
  • Mantiung terletak di desa sumur batu kecamatan Cikeusik Kewadanaan Cibaliung Pandeglang.
  • Ki Jemah dimakamkan di kampong Koncang desa Kadu Gadung kecamatan Cimanuk Pandegang Banten.
About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di 01 Sejarah. Tandai permalink.

33 Balasan ke Syekh Maulana Mansyuruddin Cikadueun – Pandeglang

  1. DerajatM berkata:

    Cerita yg berbau mistik, kalo boleh tau sumbernya dari mana?
    Saya ingin tahu silsilah Syekh Mansyur dan keturunannya hingga sekarang, ada info?

  2. ansori,serang banten berkata:

    Assalammu’alaikum Wr.wb.
    Punten kang, sy dulu pernah Ziarah di Batu petilasan/ Batu Qur’an Cibulakan,sy pernah mengalamihal yang aneh dalam diri sy pada saat itu, ketika sy berusaha untuk mengelilingin batu yang ada di tengah2 air yang konon katanya jika kita bisa mengelilingi batu tsb sbyk 7 kali,akan mendaptkan barokah atau hidayah atau sejenisnya,namun pada saat itu sy tidak kuat.dan ketika itu pula sy mengambil sesuatu ( Batu kerikil ), dan seketika sy tercebur kedalam dalam air yang tadi sy kelilingi,sehingga akhirnya aku di bawa oleh beberapa orang yang ada disekitar itu,termasuk salah seorang kuncen disekitar itu dalam keadaan pingsan ( kurang sadar ).dan setelah sy sadar sy ditanya sama Beliau (kuncen ) ini Siapa dan dari mana asalnya,dan sy jawa sy Ansori dari serang. Dan akhirnya beliau membuka telapak tangan kanan sy ,dan Beliau( Kuncen ) mengatakan bahwa : ini belum bisa dibawa/ambil karena kamu belum kuat,dan kalaupun kamu sudah kuat kamu bisa datang lagi kemari,dan akhirnya sy tidak banyak bertanya lalu aku langsung pulang, dan sesampainya aku dirumah aku termenung dengan kejadian itu,
    Kejadannya dah lama sekitar 12 tahun yang silam dan sekarang aku teringat lagi akan kejadian itu,bahwa sy disuruh datang lagi ke sana ( batu Petilasan )red.
    yang aku tanyakan kang adakah kaitanya syech maulana manshurudin ama prabusiliwangi,karena pada saat kejadian itu saya masih dalam bimbingan orang tua yang menganut ilmu aliran yang di bawa oleh prabusiliwangi,mohon penjelasannya pada semua teman yang melisah blok ini

    Terimakasih
    hatur nuhun kang
    an’s

    • Dasuki berkata:

      Aslmlkm.. Mhn maaf sblmnya sy mncba mnjwb prtnyaan dr saudara ansori apkh syeh mansyurudin msh ada sangkut pautnya dngn prabu siliwangi? Jwbnnya adalh “ya” bhkn ikatn beliau kpd prabu siliwangi adalh cicit.krn dilht dr nasab putri prabu siliwngi yg brnama nyi rara santang(syarifah mudaim) dr ibu nyi subang larang,menikah dngn sayid abdulah khan dr mesir dan dikaruniakn anak yg brnm syeh syarif hidayatilah(cirebn).syeh syarif mempunyai anak yg brnma maulana hasanudin(banten).syeh mansyurudin sndri anak dr sultan agung(bnten) tirtayasa.jd kuat ikatn drhnya,skian pnjlsn dr sy.mhn maaf klo ada kekurngn dan kelancangn sy…

  3. lukman berkata:

    saya mau tanya,, apakah benar cerita yg di ceritakan kuncen di batu Qur’an,,,Katanya kuncen tersebut keturunan dari Syekh maulana mansyur…..dan dia bercerita bahwa sykh maulana mansyur keturunannya syekh abdul Qodir albagdadi,,dan kalo boleh tahu benarkah kuncen tersebut pemilik atau pengurus batu Qur’an

  4. Dahliya berkata:

    Gbtan sya namany maulana mansyuruddin, sy tau kalau trnyt maulana mansyuruddin itU slh satU nama walialoh, dr bpak sy yg ktUrunan bnTen, trnyta crtany menarik.

  5. teguh berkata:

    mohon maap sy mau tanya sy pernah dengar cerita apa benar syekh mansyurrudddin pernah menikah dgn putri jin sy mohon maap apabila pertanyaan sy krang berkenan

    • Ajie Quinn berkata:

      Mungkin itu hanya legen alias cerita dongen. karena fitrahnya, manusia harus menikah dengan manusia. Memang banyak sekali kita dengan dongeng2 tentang kejayaan dimasa lalu bahkan terkadang dongen itu ga masuk akal. Para pendahulu kita adalah juga sama manusia, yang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dan yang paling harus kita hargai, beliau2 para pendahulu kita itu, adalah para ulama penyebar agama islam, bukan menghargai cerita2 anehnya. terima kasih.

  6. Andy Afonk berkata:

    Malam Jum’at yang lalu sy kedesa gunung anten dan Ziarah di sana. Terdapat 41 makam leluhur disana (karena gelap saya hanya melihat sebagian dari makam-makam tersebut ; batu nisan)
    apakah ada hubungan dengan cerita diatas dan apakah saya bisa tahu ke 41 nama leluhur yg dimakamkan disitu.

  7. john berkata:

    wah–wah info ttg banten lagi perlu contakan ni kita..karena membicarakan sejarah gk baka habisnya dan rasa penasaran besar

  8. miftah berkata:

    aslmkum?…..giman kabarnya taeman”?…..saya mau tanya berati pangeran shogiri tanah baru bogor yg di makamkan di keramat jati jakarta dan syeh mansur cikadueuun bersaudara adekakak?…..mohon di jwab
    soalna temen” n guru” ana mondok di ashogiri tanah baru!

  9. LUKMAN berkata:

    hanya Allah yang tau…….

  10. R Tamrin berkata:

    Saya turunan ke 7 dari Raden Mad Nurhasyim..yang ingin saya tanyakan apakah R Mad Nurhasyim ada hubungannya dengan keturunan prabu Siliwangi ke 2

  11. much.thevil berkata:

    asslmkum
    allhmdullhirbillalamin. Crita’y bsa mnjdi plajaran bgi urang sararea. Amiin

  12. abdullah sam berkata:

    keturunan skeh maulanan Manshuruddin Banyak tersebar di jawa timur, termasuk beberapa bukti sisilah dan kitab kuno samapai sekarang ada di Sumber Pucung Kab. Malang yang menurut ahli filologi usianya sama dengan kehidupan Sekh Manshuruddin. termasuk pendiri Pesantren Rakyat Al-Amin, Pengasuh Pesantren Soerjo Alam Gunung Kawi juga keturunan dari Maulana Manshuruddin dari Pangeran Thohir tebuseren Sidoarjo Jawa Timur, Pangeran Thohir ini bersaudara dengan Raden Fadluddin atau Mbah Jalalain di Kasin Malang salah satu makam yang di tuakan di Kota Malang, Letakkanya persis di belakang Masjid Monumen Hisbullah,. Raden Fadluddin ini kemudian banyak menurunkan Habib-habiab yang ada di malang. sedangkan Pangeran Thohir Keturunnanya banyak tersebar di Sumberpucung, Pakissaji dan Kepanjen Malang. cerita-yang di tulis di atas sesuai dengan cerita dari kakek saya dan jika cerita-cerita tersebut dari berbagai sumber memang sama dan bukti sejarahjnya memang ada maka bisa di percaya. jika ingin bukti kitab-kitab tuanya silahkan datang di Pesantren Rakyat Sum berpucung Malang. Penulis alhamdulillah juga memiliki silsislah lengkap. trimakasih

  13. adicarita berkata:

    MENGECEWAKAN:
    Wisata Batu Quran, hati2 pemalakan di tempat parkir… ! Sebelum parkir tanya dulu, berapa harganya dan minta karcisnya.
    Kemarin ketika kesana, dimintai uang Rp 5.000, padahal hanya 1 jam saja, dan anak muda yg jd “petugas” bilang harusnya Rp 10.000, ketika kita minta mana karcisnya, dia masuk ke “pos” dan ambil karcis yg tertera Rp 10.000 .. Karcis Cetakan palsu??
    Di dalam sendiri, pemandangan kurang bagus, berhubung di sekitar kolam sudah dikepung rumah penduduk …
    Cukup tau aja dan tidak interest sama sekali utk balik lagi …

  14. hasbihamami berkata:

    Asalamualaikum Kang, sy terus terang sgt tertarik dengan sejarah Banten khususnya Syeh Mansyur. cuma setelah saya baca cerita di atas dan pernah dengar cerita dari orang-orang juga, “rada ngahul’eng” . pasalnya apakah cerita ini benar? soalnya menurut logika susah dimengerti. saya percaya memang ada ilmu nyata dan ada ilmu ghoib. nah, dari cerita diatas dapatkah dibuktikan kebenaran sejarahnya? adakah sumber yang bisa memastikan kebenaran cerita ini? kalo misalnya Syeh Mansyur itu Keturunan Sultan Hasanudin maka berarti masih keturunan Syeh Syarif hidayatullah Cirebon, pernah saya baca dari buku kalau Syeh Sarif hidayatullah itu masih keturunan Rasulallah. berarti Syeh mansur juga keturunan Rasulallah. lalu bagaimana nilai seorang keturunan Rosul yang menikah dengan ratu jin? intinya sumber cerita ini siapa yang bisa dibenarkan kebenarannya. haturnuhun
    Wasalam..

  15. dedih pasar kemis berkata:

    sejarah islam yang ada di banten.
    kbnyakan orang ada yang percaya dan ada yang tdk percaya.

  16. tubagus agung berkata:

    sultan maulana mansyur,seorang aulia ALLAH SWT
    dari keturunan sultan maulana hassanudin bin sunan gunung jati
    atau syarif hidayatullah al khan yang bernasab kapada ROSULLAH SAW
    melalui imam HUSAIN RA.

  17. tubagus agung berkata:

    kang anshori:kalau yang saya tau tidak ada hubunganya antara
    sultan maulana mansyur
    dengan prabu siliwangi,
    kalaupun ada itu berasal dari
    kake buyut beliau
    sunan gunung jati yang merupakan cucu dari prabu siliwangi
    karena ayahanda sunan gunung jati sayyid Abdullah menikah dengan putri prabu siliwangi nyi rara santang adik dari raden kian santang
    (EYANG ROHMAT) garut.. mohon maaf apa bila terjadi kekeliruan silsilah.

  18. Hazizi berkata:

    Mohon ma,af, saya pernah membaca sejarah kesultanan banten, disitu tertera bahwa sultan haji telah berhianat terhadap ayah kandungnya sendiri, sultan agung tirtayasa, dan saya baru tau kalau ada sultan haji (sultan mansyur) yg palsu, jadi pertanyaan saya apakah bisa dibuktikan bahwa yg berkhianat itu adalah sultan palsu

  19. Lili berkata:

    Assalamualaikum sahabat semua, dari semua pertanyaan yg tampil rata-rata menanyakan kejelasan sejarah syeh maulana mansyur, baik petilasan maupun kisah/cerita mistisnya, sedikit saya tambahkan, menurut silsilah garis keluarga saya hanyalah salah satu garis keturunan yang sangat jauh sekali dengan silsilah keturunan syeh maulana mansyur, namun entah faktor kebetulan/hidayah dari Allah SWT, saya bisa mendapatkan salah satu karomah dari jutaan bahkan tak terhingga karomah beliau, wawllahhualam bisawap……

  20. Muhammad Haikal berkata:

    Barangkali ada yang tahu keturunan syeh maulana Mansyuruddin anak2nya sampai ke cicitnya atau seterusnya mohon minta informasinya, terimakasih.

  21. faisal berkata:

    ada yg punya foto syech maulana mansyur??

  22. achmad rohim berkata:

    saya mau tanya mohon penjelasan turunan dari syehk maulana mansyur hingga sekarang

  23. Ajat berkata:

    Nurullah Afatullah Jatullah saya masih keturunan Syeh Sultan Maulana Mansyur Cikaduen

  24. miftah farid berkata:

    apakah akang tau sampai sekarang silsilah keturunan syeh maulana mansyuruddin

  25. deni berkata:

    apa sih yang dipelajari oleh umat islam dari ilmu segala ilmu?

  26. alung al husein berkata:

    pkok’a saya bngga mnjdi wrga banten, dn sngt kgum mmpunyai pmimpin umt sprti bliau

  27. abdul muhyi berkata:

    assalamualaikum .. wr,wb saya abdul muhyi bapak saya habulloh dan ibu yayah mardiyah nenek dari ibu keturunan uyut sarinten cimanuk dan setelah dirunut garis keturunan ibu dan bapak ternyata bertemu pada satu garis keturunan kakek saya dari bapak bernama saban klo punya buku garis ketyrynan dari nyi sarinten boleh saya minta

  28. ALAM SURGA WISESA FIRDAUS AL BAJIGUR berkata:

    Wah seru neh Sejarahnya …. saya mau tanya apa ada hubungannya antara batu Qur’an yang ada di cikoromoy dengan Batu Qur’an yang ada di sanghiang sirah ??? pleas informasinya dan sejarahnya … karena mengingat di banten sebenarnya adalah pusat peradaban sejarah yang sangat berharga serta bisa menjadi sumber rujukan… sejarah peradaban manusia khusunya di wilayah banten

  29. Hendra Gunawan, SS berkata:

    Punten, numpang nimbrung nih, Batu Qur’an yang di Cikaromoy adalah tempat pulangnya Syekh Maulana Mansyur-Banten dari tanah Arab sedangkan Batu Qur’an yang di Sanghiyang Sirah adalah tempat pulangnya Prabu Kiansantang/ Sunan Rohmat Suci-Godog dari tanah Arab. Wali ketiga yang punya ilmu karomah seperti ini adalah Syekh Abdul Muhyi-Pamijahan, tapi karena Beliau mengamalkan dzikirnya sambil merokok maka Beliau pulang dari tanah Arab sampai di Gua Pamijahan dengan terbatuk-batuk. Dikemudian hari Syekh Abdul Muhyi memfatwakan haram hukumnya berziarah ke makamnya sambil merokok!. Kisah Ki Buyut Kalam kejepit Kima/ kerang juga ada legendanya. Dahulu ada pertapa Sakti dari Tibet bernama Ki Mas Jong/ Yong datang ke Taruma negara, Di Taruma Negara Ki Mas Jong punya dua istri, salah satunya dengan jin putri bangsawan Segara Kidul. Hasil pernikahan dengan Ki Mas Jong/ Yong dengan jin tersebut melahirkan seorang putri cantik bernama Neng Sari. Neng Sari bertemu dengan Ki Buyut Kalam dan mereka saling jatuh cinta. Ki Buyut Kalam berjanji kelak setelah menuntut ilmu/ melanglang buana dan belajar agama Islam ia akan kembali dan menikahi Neng Sari. Ki Buyut Kalam merantau terlalu lama. Neng Sari bersama Ibunya kembali ke Segara Kidul. Ketika kembali ke Sempu/ Serang-Banten Ki Buyut Kalam hanya bertemu dengan Ki Mas Jong. Ki Mas Jong yang berumur lebih dari 1.000 tahun marah-marah dan mengambil kerang pusaka/ Kima kemudian menjepitkannya dikaki Ki Buyut Kalam. Ki Mas Jong wafat tidak lama setelah mengucapkan syahadat dihadapan Syekh Maulana Hasanuddin (abad ke-16). Ki Buyut Kalam kemudian minta bantuan Syekh Maulana Hasanuddin agar melepaskan Kima tersebut, maka dengan karomah Syekh Maulana Hasanuddin, Ki Mas Jong dihidupkan kembali dan Beliau berfatwa bahwa Kima tersebut akan lepas dari kakinya Ki Buyut Kalam bila Ki Buyut Kalam bertobat dan minta doa pada keturunan Syekh Maulana Hasanuddin yang bernama Syekh Maulana Mansyur. Ki Mas Jong wafat kembali, makanya kalau kita ziarah ke Sempu-Serang akan menemukan dua makam Ki Mas Jong disana. Woullohua’lam.

  30. ade baehaqi berkata:

    asslmkm… waduh ceritanya amat menarik,sampai2 saya dibuat terlena karenanya.. thank’s buat penulis.. dan buat semua yang ikut nimbrung disini salam kompak selalu,dan jaga kerukunan walaupun kita sedikit berbeda faham,..wassalam..

  31. Muhamad arieef berkata:

    waaahh makin tau jah sya sejarah Banten yg belum luas pengetahuan nya tengtang sejarah Banten padahal saya Orang Bnten terima kasih atas pengetahuan nya wasalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s